Bening Pertiwi

Book, Love, Life and Friendship

Senin, 18 September 2017

Will U Miss Me?

Yes, I do. I do miss them so much. Its such a long time, last time posting about jdrama in my other blog. Well, there so many reason, I can’t even write or posting on that blog. Maybe, just my laziness? Yeah, that one of them. I do love writing, i do love watching drama and of course i do love reading some novel. I do love blogging. And it give me more energy.

 
An article from my blog buddy a bit ... funny and make me exciting at same time. Its about love, but not ‘that’ love. Its about love for bias or an actor who make your heart flutter more and more, ehe. Yeah, she write love’s categories, based on who’s actor she likes. And my fangirl heart just really tickled. Should I wrote some kind of article? And ... here I am, writing something from my bottom heart.

I do really miss them so much, writing and blogging. Something to release my anger, something to expressed my feeling. And something to make my heart happy. And I will more happy, if my writing can make other people happy to.

(pardon my poor gramar and typo. I just trying make myself more comfy writing in english. Enjoy ^_^ )

Kamis, 14 September 2017

You called it pasion, but I called it ...

Everytime I had a headache, I just can do one thing, sit in front of my laptop and start make sound like ... tuk, tuk, tuk. Yeah, i just in to writing. It’s like a ... some amazing medicine. It can make my headache go away. It can make my tears flow and than dissapear. It can make my smile comeback in no time. It can ... ah there aro so many thing I can get in my writing time.

 
When I scan my twitter acc, I have read some interesting word or maybe sentence. I’m not sure the certain sentence, but she told, ‘not every pasion can be ballance with the life. Because, sometimes something you called it passion can’t make money for you’. Yeah, there are so many work that’s not really everyone’s passion. But, why they still like to do it in their entire life? Maybe because, they need to life. They need to make a life for their family. As the result, they must put away that passion of their life. It’s common.

What about me? Right now, yes. There no difference for me. I just do it, everything around me. And make some tiny time to exspressed my feeling or just do something stupid. I just love to do it.

For me, the ultimate happiness is ... do something based on my passion and can make a live from that. So, I can work like a playing around the entire time.

(pardon my poor grammar and typo. Enjoy ... hehehe)

Rabu, 06 September 2017

“What do you think about marriage?” He asked Me.

What will you do? What your answer, when someone ask you “What do you think about marriage?” Marriage is complicated things, I think. Marriage isn’t just about two people in love. Marriage is ... story about two family with difference background. Will the family accept the other or not? Or, how about life after marriege?

Man will ask his GF about marriage, usually. Some of them will accept it in no time. And the other will have a difficult time to find the answer. Its common that ‘the question’ can lead a breakup.

 
Me? Long time ago, there is a man who ask me to marriage him. Back than, I’m still to young. Of curse, I reject him. And then, another man come with same question. But, I haven’t difference answer. Why? Not sure. Just ... marriage is complicated think. Don’t ask about my age, ok?

One of my blogger-buddy told me, marriage is more complicated to a man. I’m not sure. When I ask him, he promise me a story at his blog. It make me even more curious.

I ask my female friend about marriage. They agree to marriage their man, but why? And yeah, there aren’t solid answer. Its still make me more curious. And, maybe there are difference answer if I ask my male friend, isn’t it?

So, I ask you, man, what do you think about marriage?

(ini artikel kedua gue dalam bahasa inggris. Hmmm ... Cuma berdoa aja, semoga gue nggak panen rambutan gegara banyak misspelling atau grammarnya kacau, hahahaha. Feel free give your comment below or just tell me some mistake in this article)

Minggu, 03 September 2017

Maaf, Saya bukan Sekum yang Baik

Sebenarnya, ini bukan yang pertama kali juga. Ada kawan yang tetiba menghubungi dan bertanya soal ke-sekretarian. Iyalah, sebagai mantan sekretaris umum alias sekum semasa aktif di organisasi masa kuliah, ternyata saya masih dicari. Hehe

Tapi maaf, ternyata saya bukan sekum yang baik.

 
Meski sudah bertahun berlalu, ternyata masih saja ada yang mencari dan menanyakan file ke-sekretarian pada saya. Hmmm ... padahal saya sudah pensiun jadi sekum bertahun lalu lho. Apalagi ‘sekum’ yang satu lagi. Satu hal yang saya yakini, ternyata administrasi dan pengarsipan itu hal yang sangat penting.

Haloooo, masa kampus sudah lama berlalu. Jadi, bukan hal aneh kan kalau saya sudah tidak lagi menyimpan atau punya file-file kestari? Alasannya nggak banget sih. Jadi, suatu waktu di ujung masa kuliah, setelah pensiun dari jabatan sekum, komputer pribadi saya rusak. Dan jelas file di dalamnya pun ikut hilang tanpa sisa. Saat itu saya belum punya laptop dan tidak pernah berpikir hal seperti itu akan terjadi. Jadi saya tidak punya backup data di sana. Beruntung, data seminar dan skripsi masih ada di flashdisk. Dan Cuma itu yang tersisa. Miris? Tragis? Jelas lah.

Data-data kestari dan bidang lainnya sebenarnya nggak Cuma ada di komputer pribadi saya. Ada juga di komputer organisasi di kampus. Saya punya backup untuk itu. File kestari selama masa jabatan kami sempat saya backup dalam bentuk CD dan saya serahkan pada sekretaris di masa jabatan setelah kami. Itu dia masalahnya, saya nggak punya backup lain. Jadi saat sekarang dibutuhkan, jelas tidak ada. Hmmmm ...

Ini salah saya ya? Saya bukan sekretaris yang baik.

Saya tahu, bertanya dan minta file pada saya jelas lebih efisien dibanding harus minta file dari anak-anak yang sedang memegang jabatan sekarang di kampus. Selain karena selisih tahun kami tidak dekat lagi, karena jelas data-data milik anak-anak jabatan sekarang adalah rahasia mereka.

Duh, kok jadi ribet gini ya.

Well, saya Cuma mau bilang maaf kalau tidak bisa jadi sekretaris yang baik. Ini jadi pelajaran buat saya sendiri, sekarang, nanti dan kapan saja untuk selalu membuat backup data. Jangan menyimpannya hanya pada satu tempat saja. Entah itu disimpan dalam HDE ataupun disimpan di cloud (kalau perlu).

Oh ya, hampir lupa. Selamat Idul Adha, met Lebaran Haji ... mohon maaf lahir batin. Hehehehe


Rabu, 23 Agustus 2017

Duhai, hati. Bisakah kita berdamai saja?

Masih saja ada sesak bergumul di dada, entah kenapa. Bahkan meski telah ribuan senja terlewati setelahnya, tapi masih saja.

Kisah ini tak pernah diawali. Jadi, jelas tidak pernah ada akhirnya. Tapi tetap saja, masih saja hati sulit menerima. Bukan karena kehilangan rasa syukur. Hanya ... ah, bagaimana mengatakannya? Hati manusia selemah-lemahnya hati. Masih saja menolak untuk beranjak. Dan tetap memilih berhenti, melihat ke belakang lagi dan semakin enggan.

 
Tidak ada yang bisa dilakukan, jelas. Hanya terlantun doa, pelan dalam diam. Hanya terkenang kebersamaan yang bahkan tak pantas disebut kebersamaan. Hanya menitip rindu pada angin malam yang terbang entah kemana. Masih dengan udara yang sama, kita bernapas. Masih dipijak bumi yang sama kita terpisah. Tapi tidak ada lagi ‘masih’ dalam kisah ini sekarang. Tidak ada lagi kita, untuk kamu dan aku.

Berapa banyak malam pun, tak akan pernah sanggup untuk menghentikan semua ini. Sebesar apapun selimut gelap yang menggantung, masih belum cukup menghalangi tiap celah kenangan yang dengan mudah dipanggil lagi. Lembaran yang jadi kisah ini tak terhitung lagi banyaknya. Dan berderet file yang menyimpan semuanya dalam kode-kode tak bernama, tetap saja membuat semuanya terasa dekat sekaligus jauh dan tak terjangkau lagi. Seperti itu, lagi dan lagi. Tetap saja sulit dimengerti pun diterima dengan lapang hati.

Duhai, hati. Bisakah kita berdamai saja? Tak perlu melupakan kisah itu. Pun semua kenangan ataupun aktor yang pernah ada di dalamnya. Tapi, mulailah untuk menyimpannya dalam deretan file yang rapi di dasar hati. Biasakan untuk merasakan perih hingga perih itu jadi kawan sehari-hari dan hilang rasanya. Dan kali ini, sepakat dengan status salah seorang penulis. Menjadi dingin dan keras pada diri sendiri itu ... kadang memang perlu.

(btw, ini gue nge-screencapt status orang di twitter nggak salah kan ya? Sumbernya masih jelas tercantum kok)

Rabu, 16 Agustus 2017

Turunan Mas

Daebak! Keren! Emejing!

Ok, semua kata itu masih belum cukup buat gue sebutkan setelah sebagian kecil saja dongeng itu akhirnya sampai ke telinga gue. Jadi, ceritanya gue baru aja didongenin sama emak, soal kisah masa muda mereka. errrr ... yakinlah, tiap anak pasti suka penasaran kan ya, sama masa muda bapak-emaknya. Tanya aja gih! :-P

Meski Cuma sebagian kecil saja, alias belum lengkap semuanya, tapi gue udah merasa itu semua ... emejing. Rasanya masih ada lebih banyak hal lagi yang gue belum tahu dan masih ingin gue denger dari cerita emak. Dan kisah mereka ternyata ... nggak sesederhana bayangan gue. Nggak semulus jalan tol dalam kepala gue. Dan nggak semudah dijalani ...


Gue nggak akan cerita lengkapnya, karena memang belum semua ceritanya gue denger secara utuh. Tapi, dari sana ada beberapa hal yang gue pelajari.

Pertama, darah selalu lebih kental daripada air. Hubungan saudara seringkali bisa dengan mudah renggang Cuma karena masalah uang. Iya, masalah satu ini. Hal yang selama ini paling gue benci dan selalu gue hindari. Gue paling males ngurusin uang, karena gue Cuma bisa ngabisinnya #ups. (tolong jangan dianggap serius). Uang bisa membuat saudara jadi dekat pun sebaliknya bisa membuat perang saudara. Ini yang merepotkan. Dan uang bisa membuat saudara saling benci, karena hubungan saudara (darah) jauh lebih kental daripada air (pernikahan).

Kedua, soal keturunan. Seperti orang jawa pada umumnya, urusan bibit, bebet, bobot dan engngng ... apa lagi ya (?) adalah hal yang sangat penting dan diperhatikan. Gue Cuma bisa cengo denger curhatan emak, kalau dulu nggak semua anggota keluarga sepakat dengan pernikahan emak dan bapak. Dan ternyata, emak dan bapak gue, berhasil melewati semua masa sulit itu bersama. Nggak usah dibayangin ya, kalau misal aja mereka dulu menyerah, bisa dipastikan gue nggak akan pernah ada.

Masih soal keturunan (lagi). Soal siapa orang tua dan siapa keturunan siapa, adalah topik paling hangat dalam hubungan sosial masyarakat di pedesaan. Siapa yang dihormati karena apa. Siapa yang dinggap biasa saja hanya karena apa. Semuanya begitu ... gimana nyebutnya ya? Soal keturunan begitu diagung-agungkan. Bahkan katanya, nggak jarang soal beda ‘kasta sosial’ jadi penghalang pernikahan. Gue nggak tahu, apakah itu masih terjadi sampai sekarang atau nggak di lingkungan gue.

Soal ‘trah’ atau keturunan itu adalah hal yang rumit. Gue besar dan hidup di masa sekarang ini, yang nggak terlalu merasakan efek dari hal itu. Gue tumbuh di lingkungan yang jauh lebih beragam, jauh dari semua anak-pinak-sanak-saudara, karena ikut ortu gue merantau. Jadi, sampai sekarang gue masih sulit memahami soal ‘trah’ ini. Rasanya, merepotkan.

Memang sih, dalam agama memang ditegaskan kalau soal ‘trah’ alias keturunan itu harus jelas. Jadi, bisa dibedakan mana mahrom dan mana bukan mahrom. Mana yang boleh dinikahi dan mana yang tidak boleh dinikahi. Sebatas itu. Karena kalau di masyarakat, soal ‘trah’ bukan Cuma soal mahrom-bukan mahrom. Tapi hal yang lebih rumit lagi. Apalagi kalau bukan soal ‘status sosial’ dan ‘harta’ atau ‘warisan’.

Ada satu istilah unik yang gue denger dari emak, ‘Turunan Mas’. Ini digunakan untuk menyebut anak-pinak yang berasal dari keluarga terpandang di kampung. Ini saja status sosialnya sudah dianggap tinggi dan penting dalam stratifikasi sosial masyarakat masa itu. Bayangkan saja, kalau sampai pada embel-embel ‘Raden Mas’ atau Raden Ajeng’ ataupun ‘Raden Ayu’. Tentu mereka punya status berbeda lagi.

Apa komentar elo? Unik, rumit atau ...

Obrolan dan cerita dari masa lalu ini dimulai dari kumpulan uang logam lama yang masih gue simpan. Kata bapak, itu punya simbah. Uang logam dengan satuan sen dan dipatri sehingga berbentuk kancing baju. Bentar ya, gue inget-inget masa lalu bukan karena baper atau ogah move on lho ya. Gue Cuma pengen belajar tentang apa yang ada di masa lalu. Dan ternyata itu berhubungan dengan masa sekarang. Karena cerita soal ‘trah’ alias keturunan dan warisan, nggak akan pernah hilang dari peradaban manusia. Sejarah akan terjadi lagi dan terulang lagi, di masa yang berbeda, dengan tema yang sama dan detail yang berbeda saja.

Semoga kalau gue nikah besok, emak bapak gue nggak ribet harus ngitung tanggal-weton dan sebagainya yang ribet dan ogah gue mengerti itu deh, amin. Karena semua hari pada dasarnya baik. Hmmmm ...


Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Bening has read 1 book toward her goal of 24 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.