Bening Pertiwi

Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 19 Mei 2018

Karena Dewasa itu Rumit – Komentar Buku

Sebenarnya dari kemarin-kemarin udah pengen banget nulis dan posting komentar buku lagi. Eh tapi baru kesampaian kali ini. Dan entah kenapa, tetiba stok tulisan di bulan Mei ini udah cukup banyak, hehe.

Buku kedua di tahun 2018 yang akan gue bahas kali ini adalah novel. Judulnya adalah ‘Rubrik Kata Katya’, terbitan elfbook 2013. Ini buku pertama Primadonna Angela yang gue baca dan akhirnya gue buat komentarnya di sini.

Jujur ya, gue beli buku ini bukan di tahun terbitnya. Lebih tepatnya, buku ini gue beli dengan sedikit terpaksa, dari sebuah toko alat tulis yang kebetulan menyediakan buku, di kota tempat tinggal gue, lantaran buku yang gue cari nggak ada. Jadi, jangan tanya harga aslinya ya, karena gue dapet pun dengan harga festival #eh

Meski gue dapat dengan harga festival, nyatanya buku ini bukan buku festival. Sebelum gue baca, buku ini sempat terdiam lama di atas rak buku, nggak tersentuh. Hingga akhirnya di sore yang nyatai, gue pun menjangkau buku ini dan mulai membaca.

Entah apa yang membuat gue ambil buku ini dari rak di toko buku. Yang gue pikirkan pertama kali, judulnya ‘Rubrik Kata Katya’ Cuma permainan kata untuk meningkatkan nilai jual buku ini. Nyatanya gue salah besar. Karena judul ini menunjukkan isinya. #ehem

Novel—gue ganti istilah jadi novel ya—ini adalah kategori novel remaja yang ringan. Bahasanya pun super ringan. Meski begitu, gue nggak ngerasa kalau buku ini main-main. Bahasanya yang ringan ternyata nggak mengurangi bobot isi novel ini. #mujiterus

Iya, masih pengen muji aja sih. Cerita sebenarnya sih simpel, tentang seorang remaja yang ingin melepaskan diri dari imaje ‘anak kecil’ dalam dirinya agar diakui sebagai orang dewasa. Sementara orang-orang di sekitarnya menentang hal itu. Hingga akhirnya kesempatan pun datang, dan Katya—tokoh utama novel ini—pun ditantang untuk menjadi dewasa. Awalnya ia merasa kesal, karena menjadi dewasa ternyata benar-benar merepotkan. Katya sempat kehilangan semua ‘fasilitas’ yang selama ini ia nikmati dari orang-orang di sekitarnya. Tapi keinginan untuk dianggap dewasa ternyata lebih besar dibanding rasa takut kehilangan rasa nyaman.

Lika-liku menjadi dewasa pun dirasakan Katya. Bahkan ia pun harus bertemu dengan tanggungjawab yang selama ini tidak pernah diduganya. Belum lagi fakta masa lalu yang tidak pernah dipikirkan sama sekali olehnya. Udah ya, spoilernya cukup, #ehe

Yang jelas, Primadonna Angela menggambarkan kisah Katya ini dengan gaya khas remaja. Pesan-pesan moral pun disampaikan dalam kisahnya, tanpa terkesan menggurui. Jelas enak dinikmati.

Kalau ditanya, apa ada yang kurang dari novel ini, gue nemu satu. Pada nama karakter Katya. Pada nama lengkap Katya di halaman 56, tertulis Katya Kasumi Kirana. Tapi pada halaman lain, sempat tertulis Katya Kasumi Kelana. Well, sebenarnya sih bukan prinsip banget ya. Cuma agak lucu aja, kok bisa nama orang yang sama berbeda. Tapi menurut gue sih itu nggak ganggu banget.

Well, secara keseluruhan novel ini asyik banget. Nggak nyangka aja, bisa nemu novel remaja yang seasyik ini. Dan ini membuat gue mikir lagi, kira-kira, bisa nggak ya, gue nulis novel remaja kayak gini? Semengalir dan seasyik ini? Ya, semoga aja gue bisa nulis sekeren ini ya. Ehm ... kalau nggak keren ya, minimal naskah gue bisa selesai, hehehe. Amiiiin

Rabu, 16 Mei 2018

Buku Bagus dan Tulisan Keren

Kadang Cuma mikir aja sih, kenapa membaca dan menulis rasanya tidak sama seperti dulu lagi? Kemana rasa yang dulu pernah ada? #nyanyi

Kenikmatan membaca bukan lagi ketika menutup halaman terakhir tulisan. Bukan seperti itu lagi. Entah gimana caranya supaya bisa menikmatinya lagi, tanpa harus ‘mengkritik’. Entah gimana caranya untuk meng-off-an mode ‘kritik’ di kepala ini. Tiap kali ada salah ketik, tulisan tidak logis atau cacat logika cerita, langsung aja mengernyit malas. Duh, kenapa jadi begini sih?

Dan kalau baca tulisan-tulisan lama, yang kebetulan pernah terbit, rasanya ingin tenggelam ke dalam jurang dalam deh. Terus mikir ... “Ya ampun, tulisan gini banget ancurnya. Kok dulu gue bisa bangga ya? Kok dulu ngerasa keren ya?”. Meski sekarang pun rasanya belum keren. Tapi ngelihat tulisan lama itu rasanya maluuuuu banget. Ya Rabb, kenapa bisa sih dulu gue nulis kayak gitu.

Nggak Cuma membaca. Belakangan gue juga kehilangan kenikmatan menulis. Rasanya menulis seperti nggak ada nyawanya lagi. Rasanya nggak puas meski sudah menuliskan ‘selesai’ di halaman terakhir. Entah kenapa, selalu ada saja yang kurang. Selalu ada saja yang nggak pas. Selalu ada saja yang—gue rasa—perlu untuk diperbaiki, dibongkar ulang dan dipulas lagi.

Tangan ini pun nggak selincah dulu lagi, menjelajahi setiap bagian keyboard. Entah kenapa. Ide yang biasanya mengalir deras tanpa diminta pun, seperti memilih bersembunyi dan enggan menyapa. Entah kenapa bisa seperti ini. Entah bagaimana menyelesaikannya.

Kalau rindu itu obatnya ketemu.

Kalau kangen itu, solusinya ya bersua.

Tapi, bagaimana kalau kangen dengan ‘perasaan puas’ setelah membaca buku bagus?

Bagaimana kalau kangen dengan ‘perasaan puas’ setelah menyelesaikan tulisan keren?

Ada yang bilang, mungkin ‘kamu lelah’. Rehatlah sejenak. Kosongkan kepala dan ringankan hati. Ada waktu untuk rehat dari semua itu. Ada waktu untuk nggak terus menerus memaksa dirimu untuk perfect—sempurna. Ada saatnya kamu harus berani dan siap menerima situasi, apapun itu.

Tapi kalau mau nekat, juga nggak masalah kok. Kalau rehat bukan solusi, mungkin buat kamu, nekat adalah solusinya.

Gue Cuma pengen membaca dan menikmati membaca. Gue Cuma pengen menulis dan bisa menikmati menulis. Dengan rasa yang adil. Tanpa perlu ada penyesalan sudah menyia-nyiakan waktu membaca buku nggak keren atau menyelesaikan tulisan yang bikin pengen ngumpet di bawah pohon kencur. Oh ayolah.

Tuhan, terimakasih sudah menghadirkan cokelat di dunia ini. Dia penyelamat dalam banyak situasi, hahaha

Sabtu, 12 Mei 2018

Nurul Huda, Masjid Kampus

Namanya masjid kampus. Fungsinya masjid kampus. Tapi lebih dikenal sebagai NH, dari kata Nurul Huda, nama masjid ini. Letaknya ada di dekat gerbang belakang kampus, persis di sisi jalan utama belakang kampus. Berdiri kokoh di antara rimbun hijau pepohonan, menaranya menegaskan keagungan yang dipancarkannya.

foto : koleksi pribadi

Kok jadi kaku banget gini ya?

Masjid ini sudah mengalami perubahan luar biasa dibanding saat dulu zaman saya jadi mahasiswa baru. Jelas beda jauh, sudah bertahun-tahun-tahun silam. Desainnya kini benar-benar luar biasa baru dan megah. Tapi bukan itu poin utama tulisan ini.

NH selalu punya cerita untuk sebagian besar anak kampus, terutama yang muslim. Bukan Cuma sebagai tempat melakukan kewajiban apel lima kali sehari. Tapi juga jadi tempat : janjian temu, mengerjakan tugas, diskusi, menikmati wifi kampus, rapat organisasi, hingga numpang mandi saat air di kos kering. Eits ... bukan area utamanya ya. Tapi area terasnya yang nggak kalah sejuk dengan area utamanya.

Setidaknya itu pengalaman saya.

Kalaupun hanya sekadar numpang duduk, menikmati sejuknya lantai masjid dan dinginnya udara di sekitar, ternyata bisa juga memberikan efek ‘healing’, menyembuhkan. Duduklah saja di teras atau serambinya. Melihat orang-orang lalu lalang. Memerhatikan setiap hal yang mereka lakukan. Dari shalat, menekuri baris demi baris kitab suci, sekadar numpang berburu listrik karena baterai ponsel sekarat, diskusi, mengerjakan tugas atau apapun. Semuanya sudah cukup menenangkan.

Entah sih. Tapi efek healing-nya memang luar biasa. Cuma duduk saja, hati jadi adem dan nyaman. Pikiran jadi lebih jernih. Masalah yang ruwet pun pelan-pelan bisa diuraikan dengan mudah. Hanya duduk saja. Jelas efeknya akan makin terasa kalau dilanjutkan juga dengan dua rakaat dhuha atau menekuri baris-baris Quran.

Setidaknya, itu alasan yang membuat tempat ini selalu punya magnetnya tersendiri. Yang membuat siapapun ingin kembali dan datang lagi.


Rabu, 09 Mei 2018

Pada (suara)-nya Hatiku Tersenyum

Kekaguman nggak selalu harus melulu dibangun dari fisik dan penampilan. Kadang, kekaguman justru meruah hanya karena suara. Pernah mengalaminya? Aku pernah, dua kali bahkan. Dan ini secuil kisahnya.

 
Kekaguman yang pertama berasal dari seorang penyiar radio. Yang ternyata, juga seorang guru. Tadinya beliau ini bukan guru di SMA-ku. Tapi kemudian menjadi salah satu guru di SMA-ku. Sebenarnya tidak ada alasan khusus untuk selalu mendengarkan suaranya. Hanya saja, acara yang dipandunya di salah satu stasiun radio saat itu adalah acara favoritku. Acara yang menemaniku begadang berkencan dengan soal-soal matematika hingga lewat tengah malam.

Dan kebiasaan itu pun bergeser, tidak hanya acaranya saja yang kukagumi. Tapi suara penyiarnya yang ... membuat betah belajar hingga lupa waktu. Hingga setelahnya kami—para pendengar—pun dimanjakan dengan atensi yang selalu dibacakan di awal acara. Bonus lagu-lagu yang selalu diputarkan.

Dari suara seorang penyiar radio, kekaguman ini meruah. Dari sana pula, membuatku berpikir untuk belajar jadi pembaca acara. Menirunya adalah hal pertama yang kulakukan setelahnya. Tidak pernahku belajar secara khusus untuk bicara di depan forum. Tapi darinya, keberanian itu muncul. Dan setelahnya, kunikmati dunia kampusku dengan berkali tangan ini memegang mic di depan forum.

Terimakasih, Pak guru.

Kekaguman kedua ada di masa jas biru telor asin, kampus. Yang ini lebih parah. Karena aku bahkan tidak yakin tahu seperti apa wajahnya. Yang kutahu, hanya nama dan suaranya. Suara merdunya yang membuat jamaah tarawih betah mengikuti sebelas rakaat di malam-malam panjang Ramadhan.

Lucunya, aku hanya tahu nama dan suaranya. Tidak tahu seperti apa wajahnya. Tapi memang, tidak terpikir juga untuk mencari tahu wajahnya. Cukup saja kukagumi suaranya. Cukup saja, suara itu bisa membuat sujud panjang selama tarawih selalu terasa kurang. Cukup ... ah. Semoga hati ini tidak terkotori oleh motivasi lain selama ikut tarawih ya, #ehe

Sebentar lagi Ramadhan. Untuk yang masih sempat ikut tarawih di maskam, semoga bisa menikmati suara merdu sang imam ya. Nikmati dan syukuri saja. Kagumi saja, jangan sampai jatuh cinta apalagi ingin tahu wajah dan wujudnya. Nanti repot kau, Dek.

(menghitung hari menjelang Ramadhan)

Sabtu, 05 Mei 2018

Non Fiksi dan Fiksi

Waktu ada yang bahas soal novel non fiksi, sebenarnya gue pengen ketawa sih. Dan ternyata, ketika googling, kok ya ada artikel yang bahas itu. Entah ilmu gue yang belum setara dengan mereka, entah memang gue yang ketinggalan informasi baru. Karena setahu gue, novel itu masuk kategori fiksi. Mau sedetail apapun isinya, senyata apapun isinya, yang namanya novel ya tetap fiksi. Kalaupun di novel itu disajikan hal-hal yang aktual, nyata dan benar-benar ada serta terjadi, maka novel itu masuk kategori novel ilmiah, artinya cerita fiksi yang didasarkan pada data atau fakta ilmiah.

 
Ah sudahlah, obrolan seperti ini nggak akan selesai. Kalau menurut ilmu gue yang masih cetek ini, ya pemahaman gue segitu aja. Mungkin gue emang perlu baca lagi, hehehe. Tapi kali ini gue nggak akan bahas soal ‘novel non fiksi’ kok. Gue Cuma mau bahas soal fiksi dan non fiksi.

Setelah dua naskah non fiksi di tahun 2018 ini (dan beberapa naskah non fiksi lainnya di tahun-tahun sebelumnya), gue jadi kepikiran untuk membuat naskah fiksi. Iya, nulis fiksi. Karena memang sebenarnya, dari awal, pasion gue ya di fiksi. Tapi tuntutan ekonomi dan kesempaan (tsaaaah) yang membuat gue akhirnya justru lebih dulu menyelesiakan naskah non fiksi dibanding naskah fiksi.

Jadi nih, resolusi gue di tahun mendatang adalah menyelesaikan naskah fiksi yang sudah lumutan dari folder lama.

Sebenarnya, gue punya beberapa proyek naskah fiksi. Cuma banyakan nggak selesainya alias mentok di tengah jalan. Ada beberapa yang sudah sampai bab 7, eh berhenti. Padahal rencana gue 20 bab. Nggak jarang juga, draft sudah selesai hingga cerita finish, eh tapi ternyata mentok juga ketika gue berusaha mengembangkannya dalam versi lengkap tiap bab.

Oh ya, salah seorang kawan blogger gue juga belum lama ini menerbitkan novelnya. Selama ini tulisan itu jadi serial di wattpad. Dan setelah selesai, akhirnya terbit juga. Nah, gue kan kepikiran gitu ya. Sebenarnya sih punya akun wattpad dan storial. Tapi, dasar gue. Cuma punya akun aja, tapi nggak diurus.

Well ... rencana gue terdekat sih, pengen bisa nulis sinopsis lagi di blog satu lagi. Dan menyelesaikan naskah fiksi. Kalau tahun-tahun lalu punya resolusi ingin punya naskah solo, insyaAllah, itu akan segera terwujud. Maka resolusi dan harapan gue pun bertambah dong. Saatnya berharap bisa punya naskah fiksi, hehe.

Aminkan dong.

Nggak akan gue suruh retwet kok dan nggak akan gue ancam kok.


Sabtu, 21 April 2018

Dan Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan

Lama nggak nulis di sini rupanya. Dan masih belum pulih dari galau nih. Bulan lalu, gue sempat nulis kan, kalau lagi butuh ngegalau untuk menyelesaikan tulisan galau. Masalahnya, setelah tulisan selesai, eh ternyata galau-nya masih berlanjut. Dasar gue!

Tapi gue nggak akan bahas soal galau kok di sini. Biarlah itu jadi rahasia gue aja #whooooops

Kali ini gue akan bahas tulisan yang kemarin ini baru saja gue kerjakan. Cerita dari mana nih? Dari awal ya? oke deh. Cerita dimulai dari bulan Januari.

 
Di tanggal-tanggal awal Januari, ada sebuah tawaran mampir di grup untuk menggarap sebuah tema. Nah, kan mumpung saat itu gue lagi belum banyak kesibukan menjelang anak-anak ujian, gue pun bilang kalau gue tertarik. Dan gue pun diminta untuk menyiapkan rancangan awal naskah. Dari gambaran sementara naskah yang Cuma seuprit separagraf, gue diminta untuk mengembangkannya jadi sebuah rancangan draft lengkap dan utuh. Waktunya pun nggak lama. Karena sudah terlanjur bilang, ya gue iyakan aja kan. Tapi eh tapi, ternyata gue butuh waktu sedikit lebih lama untuk membuat rancangan awalnya. Meski akhirnya, editor pun setuju dengan rancangan awal yang gue buat. (terimakasih editorku, hahaha)

Setelah konsep sudah sepaham, nah saatnya merangkainya jadi lembaran tulisan. Gue diberi waktu 40 hari untuk menyelesaikan 150 halaman. Hosh! Saatnya bekarja. Tapi ya, dasar gue, ternyata 40 hari itu nggak cukup buat menyelesaikan naskah. Bukan karena tulisan gue keren banget. Tapi karena seringnya gue mentok, nggak ada ide dan bahkan nggak tahu mesti nulis apa. Bahkan meski gue sudah punya draf yang sudah gue susun sebelumnya.

Editor gue masih sabar banget. Akhirnya gue dikasih perpanjangan waktu 15 hari alias dua minggu. Dengan pede-nya, gue mengiyakan aja tuh tawaran. Tapi kenyataan nggak selalu seindah rencana, Bro. Dalam dua minggu masa perpanjangan itu pun, banyak banget kendala yang terjadi. Sebagian besar karena gue. Karena ada aja yang bikin gue mentok, hehe

Dua minggu habis, Sodara. Ternyata belum kelar juga. Dengan sisa-sisa tenaga, akhirnya tiga hari setelah waktu tambahan habis, naskah pun berhasil gue kirim dengan salamat ke meja editor. #sungkemSamaEditor

Ada kelegaan luar biasa di sana. Dan akhirnya otak gue bisa orgasme juga #ups. Maksudnya, gue bisa merasakan kepuasan luar biasa setelah menyelesaikan tulisan. Karena perasaan puas dan lega ternyata ada di kata ‘selesai’ yang ditulis di halaman terakhir naskah. Huaaaa ...

Setelah malam-malam panjang ditemani kopi dan camilan. (sepertinya bobot gue agak nambah nih #duh). Setelah rebutan otak antara menyelesaikan tulisan dengan ngoreksi hasil ujian anak-anak. Rebutan tubuh juga, karena gue pagi harus tetap berangkat awal dan malam gue habiskan lewat tengah malam masih kencan dengan si laptop. Tapi Alhamdulillah banget sih, selama ngerjain naskah kali ini gue nggak sakit. Lebih tepatnya, cuma pegal leher, pegal tangan dan pusing seharian. Nggak sampai benar-benar ambruk seperti yang sudah-sudah. Soalnya, pengalam yang dulu-dulu, tiap kali ngerjain naskah, gue pasti kebagian sakit hingga nggak sanggup ngetik, hehe

Tapi dari semua rasa sakit itu, yang paling gue banggakan (sakit kok bangga) adalah pegal tangan. Soalnya besoknya, gue bisa pakai koyo di pergelangan tangan. Dan orang-orang pasti akan tanya, “Elo kenapa tuh?” kemudian gue dengan cantiknya akan memberikan jawaban, “Ah biasa nih, lagi nyelesaiin naskah.” Huahahahaha ... kemudian gue tertawa dengan bangganya. #ups

Cukup ngelawaknya. Nggak lucu tauk!

Oh ya, saat ini naskah masih ada di meja editor. Dan gue masih punya tanggungan untuk melakukan revisi—jika diperlukan—jadi masih belum final ya. Nanti deh, gue akan cerita juga proses revisi hingga naskah kali ini juga terbit.

See U, di tulisan lainnya ^_^

Rabu, 11 April 2018

Ditipu – part 2

Nggak ngerti apakah muka gue terlalu polos atau gimana, kok ya ada aja yang menargetkan gue jadi sasaran empuk mereka. #hfth

Kisah ini juga terjadi di awal masa kuliah gue. Kali ini lebih parah, karena kejadiannya di kampus.

Hari itu hari Jumat, gue kebetulan habis praktikum di laboratorium, sekitar jam 3-an sore. Gue pulang sendirian dan lewat jalan nggak biasanya, lupa sih mau ngapaian. Mau mampir perpus dulu atau gimana.

 
Di perempatan jalan kampus, ada motor berhenti. Dia tanya fakultas kedokteran. Cewek, rambut sebahu, direbondong, dan pakai motor matic. Ngakunya dia janjian sama temen di fakultas kedokteran. Secara gue waktu ini masih mahasiswa baru, jadi belum terlalu ngerti wilayah kampus. Gue Cuma tunjukin arah ke fakultas kedokteran. Nah si cewek ini terus ngeluarin hp, ngehubungin temennya. Eh ternyata baterai hp-nya habis. Dia kemudian pinjem hp ke gue, buat ngehubungin temennya.

Saat itu, kebetulan juga pulsa di hp gue lagi habis. Gue belum sempat beli, niatnya sih pulang kampus sekalian beli pulsa. Nah si cewek tadi nawarin buat beliin pulsa. Dan gimana ceritanya, hp gue kasih aja ke tu cewek. Gue percaya aja gitu. Tu cewek bilangnya mau beliin pulsa di belakang kampus. Gue nggak ngerti itu gue kena gendam atau gimana, yang jelas hp dengan mudahnya gue kasihkan sama orang yang bahkan nggak gue kenal sama sekali.

Setelahnya, tu cewek pergi ke arah belakang kampus. Gue tungguin, kok nggak balik-balik? Setelah beberapa lama, perasaan gue jadi nggak enak. Jangan-jangan ... tapi gue masih berusaha positif thinking sih. Hari makin sore. Ada teman gue beda fakultas kebetulan lewat, dan tanya gue lagi ngapain. Ya gue bilang lagi nunggu temen. Ya udah, temen gue ini terus pergi.

Setelah hampir satu jam nunggu, cewek itu tetap nggak balik. Akhirnya gue sadar, kalau gue udah ditipu sama dia. Gue langsung lari pulang ke kos. Hampir nangis rasanya. Terus gue pinjem hp tetangga kamar, sms ke ortu minta ditelepon. Akhirnya ortu telepon. Dan gue ceria kalau hp gue baru aja dibawa orang. Gue nangis waktu cerita itu ke ortu. Gue takut banget dimarahi ortu. Tapi ortu gue ternyata nggak marah. Ortu Cuma memastikan kalau gue nggak kenapa-kenapa alias baik-baik aja.

Setelahnya, gue beli nomer baru. Gue pinjem hp temen dan dengan nomer baru tadi untuk hubungi ortu, sementara. Ortu janji belikan hp baru.

Waktu gue nangis, anak-anak kos heran, tapi gue belum cerita. Baru hari berikutnya, gue cerita sama anak-anak dan bilangin mereka untuk hati-hati, terutama kalau jalan sendirian.

Waktu itu gue sempat sakit lumayan parah juga, sampai di rumah sakit seminggu. Itu kira-kira beberapa bulan sebelum kejadian hp hilang. Nah ternyata, ada semacam santunan kan dari kampus karena sakit gue itu. Gue masih proses buat ngurus santunan itu.

Hari berikutnya, gue ke kampus untuk ngurus santunan itu. Gue ketemu dengan ibu yang ngurus ajuan itu di klinik kampus. Waktu periksa berkas yang gue ajukan, si ibu tanya soal nomer hp gue. Gue bilang kalau saat ini gue nggak punya hp, karena hp gue hilang ditipu orang. Lah si ibu cerita, kalau beberapa bulan sebelumnya, anaknya juga mengalami hal yang sama kayak gue. Kira-kira ceritanya persis lah, orangnya juga persis, modusnya juga persis. (jadi ngerasa sama susahnya, hehehe). Bedanya, kalau anak si ibu ini kemudian lapor polisi. Si ibu juga menyarankan agar gue lapor polisi. Gue Cuma mengiyakan aja saran si ibu ini.

Waktu balik kos dan cerita sama ortu, kata ortu gue, nggak usah lapor polisi. Nanti malah jadi tambah panjang masalahnya. Lagian juga gue nggak punya bukti apapun soal si cewek penipu itu. CCTV waktu itu belum booming juga. Dan hp gue pun nggak bisa dilacak. Hp model lama kan kalau nomer ganti udah nggak bisa dilacak ya. Akhirnya gue ikhlaskan lah hp yang ilang itu.

Sempat sedih juga. Karena itu hp pertama gue. Dibeli dari uang tabungan semasa SMP, ditambahi ortu sebagai hadiah masuk SMA. Karena SMA pun gue jadi anak kos yang jauh dari ortu, otomatis butuh hp.

Kira-kira seminggu setelahnya, ada kiriman datang dari ortu. Ternyata hp baru dari ortu gue. Syukur banget lah, ortu masih baik beliin hp lagi. Karena emang butuh kan ya, kan gue jauh dari ortu.

Sejak kejadian itu, gue berusaha untuk nggak pernah pulang dari kampus sendirian lagi. Paling nggak, ada barengan lah. Trauma gue harus ketemu yang beginian ini. Di area kampus aja dia berani beraksi, apalagi di luar kampus.

Minggu, 08 April 2018

Ditipu - part 1

Beberapa hari belakangan, temlen penuh dengan threads drama. Iya, drama. Dari yang pacaran dengan orang yang entah ada wujudnya entah enggak, threads serem, info soal depresi, info obat, dan masih banyak lagi. Dan itu membuat naluri bercerita gue pun terusik. #tsaaaah. Tapi gue nggak akan buat thread di temlen ah. Gue akan nulis di sini aja, blog sendiri. #prinsip nggak usah protes.

 
Cerita ini adalah kisah cukup lama. Kalau mungkin ada beberapa hal yang nggak terlalu detail atau nggak pas ceritanya, ya mohon diterima dengan lapang dada saja ya. #maksa

Saat itu gue masih mahasiswa baru, sekitar tahun 2008. Awal bulan sudah pasti ditunggu sama anak kos lah ya, menunggu transferan. Gue adalah mahasiswa di sebuah universitas negeri di Surakarta/Solo. Tapi nggak ngerti gimana, ternyata rekening yang biasa buat transfer bermasalah. Alhasil, transferan nggak terkirim juga. Akhirnya gue memutuskan untuk memblokir rekening lama dan berniat buka rekening baru.

Nah yang namanya anak baru, belum banyak ngerti daerah-daerah Solo kan, jadi gue buat rekening baru lewat kantor pos. Berhubung stok benar-benar sudah menipis, gue pun pinjem uang ke temen untuk buka rekening. Rencananya sih nanti setelah ditransfer, uang akan segera gue kembalikan.

Dari depan kampus, gue naik bis menuju kantor pos. Nggak lama, ada bapak-bapak yang juga naik dan duduk di sebelah gue. Saat itu posisi gue di kursi yang deket pintu bis. Awalnya si bapak Cuma tanya-tanya gue kuliah di mana. Saat tahu tempat kuliah gue, si bapak bilang kalau anaknya juga kuliah di sana. Setelah obrolan sana sini, eh si bapak cerita kalau saat ini anaknya lagi sakit dan butuh uang. Saat itu dia di Solo buat ngerawat anaknya (ngakunya rumahnya Jawa Timur, gue lupa nama daerahnya). Dia nunjukin buku tabungannya juga (nggak gue perhatikan valid atau nggaknya). Nah dia menarik simpati gue, karena gue satu kampus sama anaknya.

Dan di sana, terbitlah rasa kasihan gue. Cuma masalahnya, gue lagi nggak pegang uang. Di dompet Cuma ada selembar seratus ribuan (buat buka rekening) dan dua lembar lima ribuan (buat naik bis). Dengan halus, gue coba menolak dan minta maaf karena nggak bisa bantu. Tapi nih ya, si bapak ini kok lama-lama kayak maksa gitu. Terganggu banget kan ya? Karena udah bener-bener nggak nyaman, akhirnya gue ngacir turun meski masih agak jauh dari kantor pos tujuan gue. Dan gue pun akhirnya harus jalan kaki sampai kantor pos tujuan.

Kejadian itu sudah gue lupain. Nggak pernah gue pikirkan lagi. Ya, lagian kan udah lama. Dan meski ngerasa bersalah karena nggak bisa bantu, gue bisa apa. Cuma anak kos.

Cerita selesai? Belum. Justru ceritanya baru dimulai.

Beberapa bulan setelahnya, gue naik bis lagi. Kalau nggak salah, dari terminal balik ke kos di belakang kampus. Bis yang sama dengan bis yang pernah gue naiki waktu mau ke kantor pos di cerita di atas. Bis lumayan ramai waktu itu. Nah dua kursi di belakang kursi seberang, kok gue kayak lihat si bapak yang pernah minta uang ke gue? Kan aneh. Di sebelahnya ada mas-mas, nggak tahu siapa.

Penasaran, gue berkali-kali ngeliat ke arah si bapak tadi. Tapi kayaknya bapak itu nggak tahu. Dan karena bis ramai, gue nggak bisa denger apa yang dia omongin sama si mas. Tapi waktu dia ngeluarin buku tabungan, gue langsung ... melotot. Ya ampun, kok sama kayak gue waktu itu ya?

Dari sana gue langsung ngerti, kalau ternyata si bapak ini punya modus tersembunyi, buat mendapatkan uang dari mahasiswa. Duh pak, nggak ngerti apa kalau mahasiswa itu kere. Kesel banget gue. Rasanya udah hampir mendidih ini kepala. Berkali-kali gue mengumpat dalam hati. Ingin rasanya seisi kebun binatang gue absen semua.

Gue pengen bangun terus deketin tu bapak dan teriakin ‘penipu’. Gue juga khawatir sama si mas-mas tadi. Cuma sayangnya, bis benar-benar ramai. Jadi berdiri aja susah. Dan lagi kos gue udah deket. Sebelum sampai depan kos, eh bis berhenti. Waktu gue tengok, ternyata si mas-mas tadi turun. Begitupula si bapak. Nggak tahu gimana kelanjutannya, karena bis jalan lagi. Gue nggak tahu apa si bapak ini berhasil atau nggak, menipu si mas tadi. Dari depan kos, gue coba liatin arah tadi si mas turun, tapi nggak keliatan apapun. #duhMas

Sayangnya, gue Cuma bisa kesel dalam hati melihat semua itu. Gue berharap banget si mas-mas yang tadi duduk di sebelah bapaknya nggak kena tipu deh.

Setelah yang kedua itu, gue nggak pernah lagi lihat si bapak ini. Dan lagi bis yang biasanya lewat belakang kampus pun udah pindah trayek. Gue nggak tahu gimana nasib si mas yang tadi duduk di sebelah si bapak penipu itu. Gue juga nggak tahu gimana nasib si bapak ini. Yang jelas, gue kesel banget kalau ada orang yang memanfaatkan rasa kasihan ini untuk melakukan penipuan kayak si bapak.

Oh ya, kembali sama gue. Untung pas gue pertama ketemu sama si bapak, duit di dompet gue benar-benar terbatas. Jadi gue nggak ngasih apapun sama si bapak. Gue masih inget banget, waktu gue turun dari bis, sebelum kantor pos, gue denger si bapak ngomel-ngomel dan bilang kalau gue nggak punya hati karena nggak mau nolong orang. Suer ya, saat itu rasanya sakit banget. Gue nggak bantu karena nggak bisa, bukan nggak mau. Tapi setelahnya gue bersyukur, karena itu artinya gue nggak ditipu sama bapaknya.

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.