Bening Pertiwi

Book, Love, Life and Friendship

Jumat, 27 Oktober 2017

Apa Kabar GAMMA?

Apa kabar GAMMA? Majalah sekolah zaman SMA dulu. Jadi, nggak sengaja nemu majalah lama ini saat bongkar lemari. Bukan berarti saya hidup di masa lampau lho ya. Cuma seneng aja, ternyata salah satu karya zaman SMA dulu masih ada.

 
Jadi, zaman SMA, saya tergabung dalam tim redaksi majalah sekolah yang namanya GAMMA—Ganesha Muda Magazine—Ganesha adalah identitas SMA dulu. Sebagai tim redaksi, selain mengisi beberapa kolom, saya juga ikut aktif menjadi reporter dan membuat reportase. Sayangnya, untuk urusan cerpen, tulisan saya masih kalah jauh dengan teman-teman lain.
 Majalah ini terbit satu tahun tiga kali. Terlalu lama ya? Karena levelnya adalah majalah sekolah, jadi nggak terlalu lama kali ya. Nggak mungkin juga kan majalah terbit tiap bulan. Memangnya kami nggak ada pe-er atau tugas sekolah yang harus dikerjakan.

 
Oh ya, di covernya itu ada dua orang sahabat saya. Keduanya jagoan biologi tingkat nasional. Salah satunya sekarang jadi dokter .

Apa kabar GAMMA? Setelah sekolah yang dipermak luar biasa dan berubah sama sekali, bagaimana dengan majalah ini? Apakah masih tetap terbit seperti biasa atau bahkan jadi lebih luar biasa? Mungkin kalau sempat mampir ke sekolah, saya perlu buat bawa pulang juga GAMMA edisi terbaru. Semoga kebiasaan baik ini tetap diteruskan ya, tentu selain sederet prestasi lainnya yang selalu jadi langganan SMA tercinta.


Sabtu, 21 Oktober 2017

Jalan-jalan – Taman Wijaya Kusuma

Jadi, ceritanya hari libur, Minggu malah diminta buat nemenin anak-anak yang lagi pada refreshing. Sempat waswas juga, kalau anak-anak pada kecewa lantaran tempatnya nggak sesuai harapan. Lah niat awal outbond eh malah pada minta jalan-jalan aja. Belum lagi nama tempatnya mirip sama judul lapangan. Tapi ... mereka tertipu.

 
Akhirnya tiba di tempat yang dituju. Tempat ini dulunya adalah pabrik yang kemudian berubah jadi gudang. Nah sekarang sebagiannya dijadikan tempat wisata. Lebih tepatnya tempat outbond, kolam renang anak dan resto.

 

Wahananya? Bisa dibilang cukup banyak. Ada banyak rumah pohon yang dihubungkan dengan sejumlah jembatan tali-kayu. Ada juga ayunan dan beragam panjatan dari tali. Sebenarnya, wahananya cukup lengkap dan menantang. Tapi karena sudah cukup lama, jadinya memang beberapa spot sudah kurang optimal. Tapi overal masih asyik sih buat dinikmati.

 

Buat anak-anak kecil ada kolam khusus anak. Buat yang pengen foto-foto di tempat yang ‘jadul’, masih ada sebagian sisa bangunan pabrik yang bisa dijadikan latar belakang foto yang keren.

 

Nah, kalau ini sih anak-anak aja, para santri putri yang ternyata ... seterong-seterong. Iya lah, meski tampilan pakai rok dan kaos kaki, ternyata mereka punya nyali juga untuk naik panjatan tali yang cukup tinggi. Duh, dek. Untung nggak ada santri putra yang ngeliatin ya. Kalau ada, yakin deh kalian nggak bakalan berani.

 
Narsis? Jelas lah, pasti itu dan nggak boleh ketinggalan. Alhasil, waktu sekitar dzuhur akhirnya baru bisa pulang. Capek? Semoga refreshing kali ini bisa memperbaharui semangat kalian lagi ya. Fighting! Ajja! Ajja!


Rabu, 18 Oktober 2017

Another Rainy Day

Sebenarnya, saat ini bukan bulan Januari. Yang sering dianggap sebagai momen ‘hujan sehari-hari’. Ini bahkan masih awal bulan Oktober. Tapi rasa Januari. Entah memang musimnya yang sedang tak menentu atau ... memang curah hujan di sini tinggi. Padahal bukan Bogor atau Puncak.

Enaknya hujan sehari-hari adalah ... bisa punya banyak momen di rumah. Bisa menikmati minuman hangat dan selimut. Dan yang paling penting, bisa tidur nyenyak di malam hari. Buat yang lagi ngegalau, hujan juga bisa jadi rahmat tersendiri. Bisa jadi backroud kegalauan kamu.


Beda cerita buat buk-ibuk. Hujan sehari-hari itu ... #eeeeeeerrrgggg. Kenapa? Pertama, cucian makin menumpuk, karena keluar rumah sedikit, pulangnya baju jelas kotor. Kedua, hujan itu membuat jemuran—yang cuciannya sudah numpuk—nggak kering-kering juga. Nah ini masalah banget. Belum lagi setelah ini artinya seterikaan makin numpuk dan tidak terduga. Huuuum, makin repot kan?

Nggak cukup cucian, rumah pun makin kotor. Hujan memang nggak membawa debu. Tapi ... kotor karena becek itu lebih nyebelin dibandingkan dengan kotornya debu. Hujan dan becek ... iuuuuh.

Nah, tadi waktu berangkat, nggak sengaja lihat ada sekumpulan ayam lagi ngumpul di teras rumah orang. Nah ini nih yang paling bikin bete. Kenapa? Pertama, dari segi pemandangan jelas ini sama sekali nggak keren. Kedua, ayam kan suka tuh ngasih hadiah seenaknya. Dan saya paling sebel harus membersihkan hadiahnya si ayam ini, iuuuuuuh. Bisa nggak sih, di tempat lain aja. Di tanah misalnya, jauh-jauh deh dari halaman apalagi teras gue.

Ya ampun, buk ibuk banget sih gue, hehehe

Iya, hujan itu sebenarnya adalah rahmat. Banyak hal baik yang bisa muncul dari hujan. Kalau nggak ada hujan, maka manusia yang akan repot. Tidak ada tanaman yang tumbuh. Tanah pun akan jadi kerontang, pecah-pecah hingga kesulitan air.

Dari sekian banyak hujan yang ada, Cuma ada satu hujan favorit saya. Yakni hujan pertama setelah panas. Kenapa? Karena masih ada banyak sekali aroma hujan—aroma tanah basah—petrichor—yang enak banget buat dibaui. Aromanya menenangkan dan bisa bikin pikiran lebih fresh dan segar.

Ok, itu postingan tentang hujan hari ini.

Btw, saya kangen hujan pertama di area kampus Solo. Kangen pepohonan yang berubah menguning karena bunga angsana-nya yang bermekaran. Kangen saat bunga berguguran terkena angin di saat pulang kampus. Dan kangen disambut karpet kuning di sebagian besar area kampus setelah bunga angsana-nya berguguran.

Oh ya, satu lagi. Selamat ulang tahun untuk pria-pria bulan Oktober #ehe

Selamat hari hujan sehari-hari ^_^

Jumat, 13 Oktober 2017

Jalan-jalan – Kemit Forest, Sidareja Cilacap

Yatta! Jalan-jalan lagi, #ehe. Habis pusing ngurus UTS, saatnya jalan-jalan. Ehm, lebih tepatnya sih rapat rutin bulanan, tapi tempatnya luar biasa. Kalau biasanya siang itu hujan, hari itu, Jumat ternyata cukup terang. Dan alhamdulillah-nya, terang sampai sore.

Jadi, sekitar jam setengah dua siang, mobil pun beranjak melaju di jalanan. Perjalanan diperkirakan setengah jam, eh molor jadi hampir satu jam. Ehm kali ini tujuannya adalah Kemit Forest atau hutan Kemit yang terletak di kecamatan Sidareja, kabupaten Cilacap. Lebih tepatnya, ada di jalur Karangpucung Sidareja. Jadi, kalau dari arah timur maupun arah barat, bisa ikut jalur utama selatan Jawa Tengah. Nah sampai di terminal Karangpucung, belok ke arah selatan atau masuk jalur Karangpucung-Sidareja, melewati hutan Jati. Perjalanan sekitar setengah jam sampai penanda Kemit Forest. Dari jalan raya, masuk sekitar 1,5 km ke dalam, sayangnya dengan jalan aspal yang sudah banyak rusak. Kalau selama perjalanan Karangpucung-Sidareja tadi disuguhi hutan Jati yang gersang, maka masuk kawasan Kemit forest akan disambut dengan rimbun, lebat dan sejuknya hutan pinus. Nggak sulit kok untuk sampai ke obyek ini, karena memang jalannya Cuma satu itu.

 

Sampai di area wisata, mobil diparkir di sebelah kiri jalan masuk. Tempat parkirnya sudah diberi batas tapi masih berupa tanah. Jadi hati-hati ya. Tiket masuknya pun murah meriah, cukup 3000k per orang. Parkir motor 1000k dan parkir mobil 3000k.

 
Turun dari mobil, disambut dengan pemandangan hutan pinus yang cukup sejuk tetapii masih lapang. Area ini awalnya memang hutan pinus. Tetapi karena tempatnya yang agak tinggi dengan pemandangan lumayan seru, makannya kemudian diubah menjadi tempat wisata. Masih banyak area lapang di bawah pohon pinus yang bisa dipilih dan digunakan buat duduk-duduk atau bahkan ngumpul. Dan karena kami datang bareng-bareng, maka terpal pun jadi tempat lapang untuk duduk santai menikmati suasana.

 
Selain bisa duduk santai, area wisata ini juga sudah dilengkapi sejumlah wahana yang sudah siap pakai maupun masih dalam proses pengembangan. 


Contohnya adalah area menembak? Ehm ... bahasanya gmana ya? Ya gitu deh. Jadi nanti bisa beli peluru dan belajar menembak ke sasaran yang ada di seberangnya. 

Di dekat area tembak juga ada area khusus anak-anak. Di area ini dibangun rumah-rumahan dari kayu lengkap dengan jembatan dan rumput sintetis. Jadi, anak-anak bisa bermain dengan bebas di sini dan aman. Orang tuanya? Boleh lah duduk santai di sebelah sambil mengamati anak-anak bermain perosotan dan berguling-guling di rumput. Di sebelahnya lagi sebenarnya ada juga area outbond berupa jembatan titian. Tapi sepertinya masih dalam proses penyelesaian, jadi belum dibuka.

 

Nah ini dia yang nggak kalah seru, sesi foto-foto. Trend festival payung rupanya diadaptasi juga oleh pengelola Kermit forest. Jadi, ada satu spot dengan banyak payung tergantung di atas. Bisa jadi salah satu latar belakang foto yang seru.

 
Selain area payung, ada juga spot foto berupa jembatan kayu. Bentuknya pun bermacam-macam. Salah satu yang paling banyak diminati yakni yang berbentuk love. Tapi dii sini, kami foto bareng-bareng #ehe. Sebenarnya ada beberapa spot serupa love ini. Ada love versi kecil dan juga jembatan yang cukup tinggi. Sayangnya, salah satu jembatan kayunya sudah rusak dan belum diperbaiki lagi.

 
Masih belum cukup? Boleh lah sesi foto dilanjut di tempat lain. Tidak jauh dari area payung juga ada kain yang dibentangkan di antara dua pohon. Daaaan ... spot yang lagi favorit akhir-akhir ini adalah ayunan terbang. Yup, ayunan ini dibuat agak tinggi di sisi area Kemit, persis di atas batas bukitnya. Jadi, kalau pinter2 ambil gambar, bisa dipastikan akan memberikan kesan terbang. Ecieeeeh

Sebenarnya ada satu wahana lagi, yakni sepeda di atas tali. Berhubung di wahana ini antri dan agenda rakor pun sudah memanggil, nggak bisa naik deh. Pun nggak bisa ambil gambar, ihikkkk

Jadi, bisa dipastikan ada banyak spot asyik yang bisa dijadikan latar belakang foto. Eits, tapi tetap harus hati-hati dan jaga diri ya. Jangan sampai lalai. Sakinga asyiknya foto sampai lupa keamanan diri.

Oh ya, area wisata ini masih dalam tahap proses penyempurnaan wahana. Jadi memang masih ada wahana yang belum selesai atau dalam proses perbaikan. Tips saat main ke sini, pastikan kalau kendaraan kamu kuat. Jalannya nggak nanjak2 banget sih. Cuma karena jalannya jelek, jadi harus hati-hati banget di 1,5 km terakhir menuju obyek. Tips kedua, bawa tissue basah soalnya fasilitas toilet di sini masih kurang representatif. Buat yang mau sholat, sudah disediakan mushola sih. Cuma memang tempatnya kecil, jadi antri. So, jangan lupa juga untuk bawa perlengkapan sholat sendiri. Terus, kalau perlu bawa bekal makanan sendiri dari rumah. Memang sih, sudah ada beberapa warung yang menyediakan makanan di sekitar obyek. Tapi jumlahnya masih terbatas dan belum beragam. Kalau bawa makanan sendiri, bisa lebih bebas milih kan ya? Pun lebih hemat. #ehe

 
Dan kegiatan terakhir sebelum pulang adalah ... menikmati sunset. (kalau kata teman kerja saya, sunslep atau matahari yang mingslep--tenggelam). Jangan lupa ambil foto keren berlatar matahari tenggelam. Cieeeee ...

Sampai jumpa di jalan-jalan lainnya.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Jalan-Jalan – Hutan Mangrove Pantai Kadilangu

Harusnya ini postingan beberapa bulan silam. Ya, ya mau ngambek juga boleh kok. Jadi, seperti tahun lalu (jalan-jalan ke keraton Ratu Boko, Klaten), jadwal sehari sebelum Lebaran adalah jalan-jalan. Awalnya sih Cuma pengen ke kota aja, agak bosen di gunung terus. Itung-itung memanfaatkan sinyal 4G yang melimpah dan berburu clorot (makanan khas Purworejo), eh malah nyasar sampai ke timur.

Berbekal gps ponsel, akhirnya sampai juga di perbatasan Purworejo-Yogya. Pantaii lagi? Nggak apa lah, kan kali ini nuansanya beda. Kalau pantai Congot atau Glagah udah biasa, kali ini nyasarlah ke pantai Kadilangu.

Area pantai Kadilangu terletak di perbatasan kab.Purworejo dengan kodya Yogya, dan sudah masuk area Yogya. Pantai ini bisa dijangkau dari arah Yogya, lewat jalur pantai selatan atau jalan Daendels, tepat setelah jembatan perbatasan belok kiri. Masuk jalan kampung sekitar 800m-1km. Nggak jauh kan ya? Nggak usah takut nyasar, karena di sini sudah ada banyak petunjuk arahnya yang gede-gede banget. Ya kalau nyasar, penduduk juga nggak akan keberatan ditanya soal tempat ini. Tempat ini juga bisa dijangkau sekitar 30-45 menit dari pusat kota Purworejo. Ke arah timur, lalu belok ke arah Purwodadi dan ikuti jalan menuju jalur pantai selatan.

Untuk masuknya murah meriah, euy. Cuma 5000k saja dan parkir 2000k untuk motor, 3000k untuk mobil. Tempat parkirnya nggak terlalu jauh kok dari pantai, meski waktu saya datang, tempat parkirnya belum wah banget sih, tapi aman karena selalu ada penjaganya. Dii dekat tempat parkir juga sudah ada toilet serta mushola kecil yang bisa digunakan. (btw, yang pada dateng kebanyakan anak muda, pasangan huehehehe)

Dari tempat parkir, area pantai dicapai dengan melewati jalan setapak alias jalan kaki. Di sebelah kiri dan kanannya ada tambak garam dan juga kolam ikan. Kalau yang pengen ke area pantai, bisa jalan terus sekitar 100-150 m lagi ke arah laut. Tapi kali ini, saya Cuma pengen jalan-jalan di area mangrove-nya saja, jadi belok deh.

 
Memasuki area mangrove atau hutan bakau, saya disambut oleh jembatan dari bambu yang dibuat keren. Nggak Cuma bawahnya saja, tetapi juga dibuat bagian atasnya seperti menara. Duh, udah makin nggak sabar buat foto-foto. Habis jembatan, saya disambut dengan petunjuk arah. Ada dua area utama mangrove ini, ke kanan dan ke kiri. Kali ini saya memutuskan untuk ke sebelah kanan dulu alias bagian barat.

 
Perjalanan ke bagian barat makin seru lewat jembatan dari bambu. Nggak usah takut, karena ada pengaman di kanan dan kirinya. Nah yang paling keren, ada jembatan yang berada tepat di bawah area mangrove. Nggak Cuma keren tapi juga sejuk. Ehe ... saatnya ambil gambar dong.

Setelah lewat area bawah mangrove, akhirnya tiba di spot foto-foto nih. Seperti penunjuk arah di awal, ada beberapa spot foto keren yang bisa dijadikan tempat foto yang instagramable banget. Bisa dipakai sendirian maupun pasangan.

 
Ada tempat duduk dengan latar belakang love (ini cocok buat pasangan). Nah favorit saya di sini adalah sebuah jembatan berbentuk love dengan ukuran besar. Pengen foto lengkap kelihatan keseluruhan jembatan? Jangan khawatir. Di sisi jembatan love ini ada semacam gardu tinggi yang bisa digunakan untuk naik dan mengambil gambar. Jadi, gambar love-nya lengkap dong ya. (sayang Cuma sendirian, uhukkk)

 
Puas jalan-jalan di area barat, saya beranjak ke area timur. Nggak kalah keren dengan area barat, di area timur juga ada beberapa spot foto menarik. Dari kerang, sarang burung, love terbalik sampai doraemon. Sebenernya saya juga pengen foto-foto di sini. 
 
 
Cuma, karena saya datang siang hari, lebih tepatnya hampir tengah hari, jadi foto yang didapat nggak bagus-bagus amat. Ya udah deh, foto spot-nya aja ya.

 

Selain keempat obyek tadi, ada juga obyek berbentuk sayap burung. Nah ini nih, salah satu spot favorit kaum cowok. Iye kaaaaan, berasa kayak lagi di anime gitu. Tips foto di sayap ini, ambil foto dari jarak dekat supaya bagian bawahnya nggak kelihatan. Dan taraaaaa ... bisa dapat efek seperti terbang.

Oh ya, kalau yang bosen jalan-jalan, bisa juga naik perahu dan berkeliling area mangrove serta pantai. Buat yang pengen rehat atau makan-makan, juga ada tempat cem aula yang cukup luas buat kumpul. Asyik nih, bisa rapat sambil refreshing #bilangBOS. Kebersihan tempat ini juga terawat, karena disediakan bak sampah di tiap belokan jembatan bambu. Toilet? Nggak mungkin di atas air kan? iya, buat yang mau ke toilet, balik lagi ke arah jalan masuk area mangrove tadi atau dekat penanda arah. Tuh ada di sebelahnya.

 

Capek? Capek tapi seneng. Berhubung sudah terlalu terik dan lagi masih bulan puasa serta masih harus perjalanan balik ke gunung 2 jam, akhirnya saya pun pulang. Eits, tapi nggak lupa dong narsis dulu di salah satu spot tertinggi di area mangrove ini.

 
Ada cem menara tinggi yang dibuat mirip dengan menara Eiffel di Paris. Asyiiiiiik. Selain narsis ria, dari menara ini juga bisa melihat area mangrove yang lebih luas. Puas? Puaskan hatimu dulu!

Kali ini beneran pulang.

Ehm ... besok kemana lagi ya?

(semua foto dalam postingan ini adalah koleksi pribadi. mohon maaf dengan kulitasnya yang masih ... ehm banget)

(ini tulisan kok kaku banget ya? Duh, efek lama nggak nulis, jadi gini deh)

Sabtu, 30 September 2017

Mars SMA Negeri 1 Purworejo

Berawal dari ikut suatu acara, membuat kenangan akan sekolah lama pun kembali muncul di permukaan. Nggak bisa memungkiri, rasa kangen itu membuncah. Memang baru beberapa bulan lalu numpang lewat depan sekolah. Tapi nggak masuk juga.

Jelas, bangunan yang ada sekarang sudah sangat jauh berbeda dengan sekian tahun silam saat saya masih menapaki lantainya tiap pagi. Guru-gurunya juga sudah banyak berubah, pun siswanya. Tapi ternyata masih ada beberapa sudut sekolah yang tetap dipertahankan sama seperti dulu.

 
Salah satu yang masih tetap sama, lagu mars yang selalu dikumandangkan pada banyak event dan kesempatan. Tu kan, baper jadi makin kangen deh.

Lagu ini diciptakan oleh salah seorang guru musik senior di sekolah. Beliau adalah seorang guru luar biasa dan sangat berbakat. Seorang guru yang begitu kuat, setelah bertarung dengan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Ya, beliau kini sudah tenang di tempat yang lebih baik. Apa yang ditinggalkannya tetap abadi, meski beliau-nya sudah tidak ada. Terimakasih, Ibu.

Rasanya, cerita soal SMA nggak pernah ada habisnya ya. Meski saya Cuma bagian kecil dalam sebuah sistem dan lingkungan yang luar biasa besar ini. Tapi, saya merasakan menjadi bagian yang berarti.

Guna Wicaksana Weweka, itu kalimat yang tertulis di logo SMA. Artinya? Mungkin lain kali ya dibahasnya #ehe

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Bening has read 1 book toward her goal of 24 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.