Bening Pertiwi

Book, Love, Life and Friendship

Selasa, 14 Agustus 2018

14 Agustus dan Cerita Lainnya

Selamat datang Agustus. Selamat datang kegiatan. Selamat datang sibuk dan capek.

Cukup lama nggak apdet blog pun. Banyak kegiatan. Ehm, well ... itu bukan alasan sih sebenarnya. Tapi ya tetap jadi cerita, haha

Sudah sangat lama sejak terasa begitu bersemangat. Hmmmm

Bulan Agustus memang selalu menyimpan cerita. Salah satunya yang paling luar biasa menggores di hati adalah kemah. Ya, tahun ini kemah kembali diadakan di bulan Agustus tepat menjelang dan sebelum peringatan hari pramuka pada 14 Agustus.

Api unggun, malam 14 Agustus 2018, kemah di lapangan Wijayakusuma, Majenang, Cilacap

 
Aroma basah tanah perkemahan yang terkena percik air, petrichor yang selalu dan pasti membawa kembali pada sebuah waktu di masa lampau. Api unggun yang menyala terang di tengah lapangan. Saat sebuah kisah pernah terjadi kala itu. Kisah yang tidak pernah kembali tetapi akan tetap memanggil kenangan yang serupa. Kisah yang tidak pernah meminta awal apalagi perlu untuk diakhiri. Kisah yang hanya layak untuk dikenang dan terus dinikmati oleh kesendirian.

Dan seorang kawan lama yang ternyata ada di tenda tetangga. Obrolan dari masa lalu pun muncul. Sudah terlalu lama. Dan ini untuk pertama kalinya, ada yang mengisahkan cerita itu dari sudut pandang yang berbeda. Tidak ada yang menceritakan kisah itu sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan nyaris terlupakan. Hingga akhirnya obrolan itu mengalir begitu saja. Dan kisah 16 tahun silam pun menjadi salah satunya.

Bukan menguak luka. Tapi kisah itu bukanlah yang utama. Karena ada kisah lain, yang jadi kisah utama bagi yang lain. Kelebatan peristiwa itu tidak pernah mati ataupun berhenti. Hanya bersembunyi dan muncul sesekali pada waktu yang tepat.

 
#Malam14Agustus
Tanah yang sama
Api yang sama
Dasa Darma yang sama
Hanya waktunya saja yang berbeda
Terimakasih, selalu, Mr.Silver

Selamat Hari Pramuka
Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan

Rabu, 11 Juli 2018

Jalan-jalan – Puncak Khayangan Sigendol


Nah, ini yang tadinya bikin galau. Mau naik lagi atau nggak. Tapi rasanya sayang, udah sampai sini tapi nggak lanjut sekalian.

Sekitar satu kilometer dari air terjun Gunung Putri, masih ada satu obyek keren lagi. Namanya Puncak Khayangan Sigendol, yang ada di gunung Sigendol, desa Giyombong, kecamatan Bruno, Purworejo. Jadi kalau tadi habis mampir ke Gunung Putri, mestinya sekalian mampir ke sini.

foto : koleksi pribadi
Kalau sampai Gunung Putri bisa bawa mobil, sebaiknya naik ke sini mobil ditinggal aja deh. Kamu lebih baik naik motor. Alasan? Jalannya cukup sempit (meski sudah dikeraskan dengan semen semua) dan naik banget-nget. Pernah naik ke gunung Lawu? Model jalannya seperti itu. Meliuk-liuk tajam dengan tanjakan tajam. Kalau kamu nggak berani naik sendiri, mending minta tolong tukang ojek aja deh. Cukup 10k aja kok, untuk naik sampai Sigendol ini.

foto : koleksi pribadi
Untuk tiket masuk Sigendol ini sama seperti Gunung Putri ya, cukup 5k tiap orangnya, dan anak kecil nggak dihitung. Parkir juga Cuma seribu saja. Murah meriah wis. Dari gerbang tiket sampai obyeknya, masih harus jalan kaki sekitar 100m lah. Nggak jauh kan. Cuma jalannya masih tanah. Dan seperti masih agak baru.

foto : koleksi pribadi

Sampai di area ini, disambut dengan tulisan PUNCAK KHAYANGAN SIGENDOL (gue nggak foto ini, hiks) yang pasti sayang banget kalau nggak ambil foto di sini. Ada tiga spot utama di area ini. Spot yang di sebelah tulisan persis, sebelah kanan, turun ke bawah. Dan jalan lagi ke arah kiri. Dibahas satu-satu ya.

foto : koleksi pribadi. model : my big-lil-brother

Spot pertama yang kami kunjungi yang ke arah kiri lurus. Ini yang paling rame. Dan paling banyak pengunjungnya adalah anak muda. Iyalah, karena di sini yang dijual adalah spot foto menarik di ketinggian. Dari gerbang akar, rumah gadang, perahu titanic, kotak instagram dan yang paling menarik adalah mataharinya. Sebutannya ‘puncak khayangan’, nggak heran sih karena memang di sini adalah salah satu spot tertinggi dibanding area perbukitan sekitarnya. Dari atas sini, kamu bisa melihat desa-desa di sekitar dan juga perbukitan sekitar. Wes, berasa di khayangan deh, ehehehe. Gue nggak yakin berata ketinggian spot ini sih, tapi kayaknya nggak terlalu tinggi deh. Soalnya gue ngerasa panas-panas aja, nggak dingin. Dan nggak ada kabut. Entah karena memang musim kemarau atau karena masih siang #ehe

foto : koleksi pribadi. model : sepupu2 gue yang masih unyu2

Puas foto-foto, spot berikutnya ada di sebelah bukit ini. Dari petunjuk arahnya sih ada sendang bidadari dan beberapa spot lain. Cuma memang jalannya masih tanah banget, dan di beberapa tempat bambu pegangannya udah nggak ada. Jadi mesti hati-hati banget ya. Adek dan sepupu gue sempat turun, tapi katanya nggak terlalu asyik. Dan akhirnya gue nggak jadi nyusul.

foto : koleksi pribadi. sepupu gue yg cantik. baru naik kelas 12 SMA nih

Setelah dari dua spot ini, kami kembali ke arah jalan masuk. Dan turun ke spot ketiga yang jalan masuknya tepat di sebelah tulisan PUNCAK KHAYANGAN SIGENDOL. Ada beberapa spot asyik juga di sini. Ada tempat duduk yang dibangun menempel di pohon, ada rumah-rumahan berbentuk segitiga yang dibuat dari akar-akar pohon dan spot yang mirip bintang (menurut gue), tapi katanya itu tikungan cinta. Hmmm entahlah.

Kok dari tadi foto-foto terus sih? Iya, seperti gue bilang tadi, Sigendol ini memang pusatnya spot foto. Jadi nggak heran kalau pengunjungnya kebanyakan anak muda.

foto : koleksi pribadi

Kalau dari spot foto-foto, memang seru dan asyik. Cuma sayangnya, pengaman di sekitar spot foto yang masih kurang. Ya meski ada petunjuk ‘hati-hati jurang’, tapi kalau nggak ada bambu/pembatas/pengaman ya sebenarnya serem juga sih. Soalnya memang tempatnya tinggi banget.

foto : koleksi pribadi. model : adek dan sepupu2 gue

Dan lagi, nggak ada petugas yang berjaga di sekitar spot. Ehm ... yang namanya anak muda, kadang kan suka lupa diri kalau nyari spot bagus buat foto. Nah, kalau ada petugas kan bisa mengingatkan lah. Oh ya, di dekat pintu masuk juga sudah ada beberapa penjual minuman dan makanan, yang utamanya adalah camilan dan popmi. Jadi nggak ada makanan berat ya. Toilet juga sudah ada.

Ya Cuma itu sih, faktor keamanan di area foto aja sih, yang masih perlu peningkatan. Mungkin bisa juga dibuatkan spot-spot foto lainnya yang lebih seru, biar lebih variatif #ehe

Nah, berhubung si adek udah ribut, karena kelaparan (salah siapa, tadi disuruh makan nggak mau), dan udah hampir ashar, akhirnya kami mengakhiri perjalanan dolan ini dan pulang dengan bahagia, huehehehe. Iya lah, bahagia. Karena udah nggak penasaran lagi sama obyek wisata yang ‘nggak jauh’ dari rumah simbah ini. Kan nggak lucu, yang jauh-jauh aja udah pernah maen ke sini, eh kami yang waktu itu deket, malah belum pernah main.

Sampai jumpai di jalan-jalan Lebaran yang lain. (peluk sepupu atu-atu)

Sabtu, 07 Juli 2018

Jalan-jalan – Air Terjun Gunung Putri

Btw, gue lagi membiasakan diri kembali, dengan ritme menulis biasanya. Soalnya udah agak kelamaan rehat, #ehe. Rehat emang perlu. Tapi kalau kelamaan, juga jadi nggak baik. Soalanya mau mulai lagi susah. Ok, cukup curhatnya.

Obyek berikutnya nih, gue (dan sodara-sodara) kunjungi di lebaran hari keempat. Tadinya gue nggak ada niatan mampir ke sini sih, meski sebenarnya pengen. Soalnya nggak ada yang diajak. Eh ternyata sepupu ngajakin. Ya udah, gue iyain aja. Kan tinggal berangkat. Kali ini tujuan kami adalah Air Terjun Gunung Putri yang ada masuk kawasan hutan, di desa Cepedak, kecamatan Bruno, kabupaten Purworejo. Iya, nggak terlalu jauh dari tempat simbah, #ehe.

foto : koleksi pribadi. Tiket masuk Gunung Putri
Kalau yang pengen ke sini, dari Kutoarjo, kamu ambil jalan ke utara, ke arah kecamatan Bruno. Nah dari kecamatan jalan lagi, tepat sebelum jembatan, belok kiri. Jalannya memang agak naik, sekitar 5 km. Ya setengah jam lah. Sampai di desa cepedak, kan ada jalan cabang. Ambil yang ke kanan dan agak naik ya. Dari situ udah deket kok, sekitar 2 km lagi. Cuma jalannya memang banyak naiknya. Jadi, kalau naik kendaraan hati-hati. Buat yang pede bawa mobil di jalan sempit dan curam, kamu boleh naik. Tapi kalau nggak punya nyali, mending bawa motor aja. Cewek berani naik nggak nih? Buat cewek petualang, berani lah. Cuma nanti pas balik turun, hati-hati ya, karena curam. Kalau motor matic emang enak naiknya, tapi pas turun harus benar-benar hati-hati lho ya. Lebih aman naik motor bebek biasa sih. #saran.

Area parkir ada di depan gerbang pintu masuk. Untuk masuknya kamu Cuma butuh 5k tiap orang saja. Dan untuk anak-anak, bahkan nggak usah bayar, hehehe (adek gue yang udah kelas 6 SD aja nggak dihitung bayar). Dari gerbang sampai area air terjun, masih harus jalan kaki dulu. Nggak jauh sih, sekitar 200m, dengan jalanan cukup landai dan sudah ada jalan setepak yang dikeraskan.

Area air terjun ternyata udah keren euy. Persis sebelum masuk area, ada juga pos polisi dengan dua pak pol yang berjaga. Air terjun gunung putri memang nggak sebesar air terjun umumnya. Entah karena gue datang pas musim kemarau, atau memang ukurannya nggak terlalu besar. Karena lebih mirip air yang mengalir di bebatuan yang tegak/berupa tebing. Dan area jatuhnya air terjun juga bukan berupa sungai besar seperti umumnya. Justru lebih mirip sungai kecil dan asyik banget buat nongkrong.

Di depan air terjun, ada beberapa pohon pinus. Area di sekitarnya juga sudah banyak dibersihkan dan dibuat beberapa tempat duduk. Ada jembatan kecil untuk menyeberang sungai di bawah air terjun. Selain itu, banyak juga orang-orang yang lebih memilih lesehan di rumput. Di sekitarnya juga sudah ada beberapa penjual minuman dan jajanan. Tapi nggak ada penjual makanan berat ya, #ehe

foto : koleksi pribadi. Legenda gunung putri

Di salah satu batu besar yang ada di bawah air terjun, ada juga tanda peresmian obyek wisata ini. Dan tidak jauh di dekatnya juga ada taman kecil. Di sebelahnya juga dipasang banner yang memberitahukan legenda air terjun Gunung Putri ini. Baca sendiri aja ya. (meski sesungguhnya ku ingin memaki. Ini siapa yang bikin tulisan, kacau banget gini! Ini kalau sampai ketahuan editor gue, sudah keluar tanduknya dia, hehehe)

Selain area santai dan foto-foto di bawah, ada juga beberapa spot foto menarik di sekitar air terjun. Pokoknya nggak akan kehabisan tempat foto deh di sini.

foto : koleksi pribadi

Puas main-main di bawah, gue dan sodara2, memutuskan naik mendekati air terjunnya. Iya, jadi ada bebatuan yang letaknya lebih dekat persis di bawah air terjun. Dan itu bisa diakses dengan naik ke atas. Dari atas, pemandangan makin cihui asyik banget ini, suer! (maaf, gue nggak jago promosi). Kalau dari atas, makin kelihatan semuanya kan.
foto : koleksi pribadi. model : adek dan sepupu2 gue

Nah, berhubung memory ponsel gue penuh, jadi gue nggak banyak ambil foto di atas sini, #hiks

Air terjun bisa dinikmati dari super dekat di atas sini. Bahkan bisa berdiri langsung di bawah air terjunnya, karena memang airnya nggak terlalu deras. Puas pepotoan, gue dan yang lain lanjut jalan lagi. Dari petunjuk arah sih ada gardu pandang dan juga goa.
foto : koleksi pribadi. Tirta kanoman

Melewati hutan ponus, akhirnya sampai di bawah gardu pandang. Tapi berhubung di atas sana tampak banyak orang pepacaran, jadi nggak mungkin dong gue ngajakin sepupu2, yang masih unyu2 itu naik #ehehe #modus. Akhirnya kita jalan lagi. Tapi, hmmm ... kok gue nggak nemu goa? Entahlah. Apa salah jalan atau gimana, nggak ngerti. Dari atas sini, kami bisa langsung turun menuju parkiran. Jadi jalan masuk dan keluarnya memang berbeda.
foto : koleksi pribadi. Gunung Putri dari atas

Puasss? Beloooom. Sampai di parkiran, giliran galau. Ini mau pulang aja atau mau naik lagi? Iya, naik lagi. Karena ada obyek lainnya yang katanya nggak kalah keren. Hmmm

Rabu, 04 Juli 2018

Jalan-jalan – Air Terjun Kyai Kate

Belum puas jalan-jalan ya? Jelas doooong.

Hari ketiga lebaran, saatnya jalan-jalan yang benar-benar jalan. Soalnya gue jalan lewat tengah sawah #ehe. Tujuan hari ini adalah air terjun Kyai Kate. Sebenarnya, ini bukan obyek baru sih, tahun kemarin sudah rame juga. Cuma entah kenapa, tempat ini sekarang sudah sepi dan nggak dikelola lagi.

 
di tengah sawah. foto : koleksi pribadi

Oh ya, air terjun Kyai Kate itu letaknya di desa Gunung Condong, kecamana Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Nggak terlalu jauh dari tempat simbah #ehe.

Kalau orang lain datang ke sini naik motor, maka gue dan keluarga datang ke sini lewat sawah. Iya sawah, soalnya lebih dekat lewat sawah. Kalau naik motor bisa sih. Sudah ada jalanan bersemen ke arah area air terjun ini, sayangnya ukurannya nggak terlalu lebar dan cukup curam. Kalau kamu nggak terlalu ahli bawa motor, mending jangan deh.
model by my big-lil-bro. foto : koleksi pribadi

Sebenarnya, ini kedua kalinya gue mampir ke air terjun ini. Duluuuu banget pernah ke sini, sama adek dan sepupu. Saat itu, air terjunnya belum dikelola sama sekali.

 
foto : koleksi pribadi
Air terjun Kyai Kate nyambung sama sungai di dekat rumah simbah. Sebenarnya air terjun ini nggak terlalu tinggi. Tapi area jatuhnya air terjun, atau persis di bawah air terjun, ternyata cukup dalam. Jadi nggak bisa dipakai mandi atau main air. Tapi nggak usah khawatir, karena sungai setelah air terjun ini cukup aman kok untuk mandi, asal tetap hati-hati.

Karena nggak bisa mandi, akhirnya Cuma foto-foto deh. Gue suka dengan foto air terjun, yang ada berkas sinar mataharinya. (gue datang sekitar jam 11-an siang, jadi udah cukup panas). Berkas sinar matahari di foto membuatnya jadi keren. Kayak di obyek wisata cahaya surga, di Jogja, #ehe

foto : koleksi pribadi
Di sekitar air terjun sebenarnya ada beberapa gazebo kecil yang sengaja dibangun juga untuk duduk-duduk. Malah tadinya ada jembatan bambu yang menghubungkan kedua sisi sungai. Sayangnya, jembatan ini sudah nggak ada. Dan gazebo di seberang sungai pun terbengkalai. Sayang banget deh.

Sebenarnya ada banyak potensi yang bisa dikembangkan dari air terjun ini. Semoga ada yang berminat untuk mengembangkanya ya. Kan sayang tuh, bisa buat pemasukan bagi masyarakat sekitar juga.

Oh ya, pas mampir ke sini, kami juga ketemu dengan seseorang bermotor plat merah. Ternyata bapaknya ini dari dinas pariwisata kabupaten. Dia mengambil beberapa foto dan sempat ngobrol juga. Ya semoga ini awal yang baik.

foto : koleksi pribadi
 
Kalau tadi berangkat ke air terjun jalanan turun tajam, maka kembalinya kami harus naik cukup curam juga hosh hosh. Kalau kemarin-kemarin nggak kenal sama namanya keringat sama sekali, maka karena jalan-jalan ini akhirnya ketemu keringat juga, #ehe. Pulang kembali lewat sawah yang padinya sudah besar dan mulai berbuah. Sampai rumah? mandi, shalat, makan dan ... tidur, huehehehehe. Pegel pegel euy.


Sabtu, 30 Juni 2018

Jalan-jalan – Pantai Kadilangu (Lagi)

Yeay! Lebaran kali ini temanya adalah jalan-jalan, #ehe. Dan ini obyek pertama dari rangkaian jalan-jalan di Lebaran 2018.

Setelah menghabiskan hari pertama Lebaran di rumah simbah, nah hari kedua gilirannya jalan-jalan ke kota. Lebih tepatnya mampir ke tempat pakde di jalan Jogja. Habis mampir dan mengurangi isi toples di rumah pakde, perjalanan lanjut ke ... pantai.

Jadi, tahun kemarin gue juga sempat main ke pantai ini. Bedanya, kalau tahun kemarin Cuma maen berdua dengan adek. Nah tahun ini jalan bareng sekeluarga. Dari arah jalan Jogja, perjalanan membelok ke selatan ke arah Jalan Daendels atau Jalur pantai selatan. Nggak terlalu jauh dari jembatan pembatas Purworejo-Yogya, sudah ada plang besar penunjuk arah ke kawasan Kadilangu.


gerbang masuk area hutan wisata dan pantai kadilangu. foto : koleksi pribadi
Yup, jalan-jalan kali ini ke arah Pantai Kadilangu yang cukup terkenal juga dengan area mangrove-nya yang instragamable. Iya, iya, buat pemburu foto keren, mampir deh ke sini. Tiket masuknya masih sama seperti tahun kemarin, cukup 5k saja untuk tiap orang, 2k untuk parkir motor dan 5k juga untuk parkir mobil.

Kalau udah pernah ke sini, ngapain lagi?

model : my lil bro. foto : koleksi pribadi

Nah ternyata tempat ini cukup banyak berbeda dibanding tahun kemarin. Karena lebih rame dan lebih semarak. Area parkirnya makin luas, makin rame. Ada masjid yang kayaknya masih baru dan semakin banyak kedai-kedai makan yang ramai.

foto : koleksi pribadi

Jalan ke arah mangrove masih sama. Meski ada beberapa perbedaan. Area mangrove yang tadinya tersebar di barat dan timur, sekarang terpusat ke arah barat. Area timur kayaknya banyak yang rusak, jadi beberapa spot foto dipindahkan ke area barat. Nah di area barat ini, spot fotonya jadi lebih banyak.

model : my big-lil-bro. foto : koleksi pribadi

Oh ya, di sebelah mangrove Kadilangu ini sebenarnya juga ada area mangrove lainnya. Duh lupa namanya. Dan sepertinya, perluasan ke area barat ini menyambung ke area mangrove sebelah.

iya, ini gue. foto by my lil bro

Sayang, karena saking menikmatinya, gue malah jadi lupa ambil banyak foto #ehe. Maaf deh, kalau penasaran, mampir sendiri aja deh. Yang jelas area fotonya lebih banyak dan berbeda dari tahun kemarin. Jadi kalau ada yang mampir besok-besok pun, ada kemungkinan spot fotonya sudah berubah lagi #ehe

pantai dan segala pesonanya. foto : koleksi pribadi

Nah, kalau tahun kemarin kan gue nggak mampir pantai. Kali ini kami sekeluarga mampir ke arah pantainya. Cukup jalan sekitar 100m-an lagi lah dari arah mangrove-nya. Pantainya masih relatif bersih, ada beberapa gazebo yang sengaja dibuat untuk duduk-duduk. Selain itu, ada juga dua spot kayu dan disusun di pinggir pantai (kayu/akar bekas) yang ternyata jadi spot foto cantik. Asyiknya menikmati pantai selatan itu nggak ada duanya. Nggak bikin bosen pun.

Yang tanya fasilitas sekitar obyek ini?

Area parkir lebih luas, jadi yang mau bawa rombongan bis kecil masih cukup-lah, soalnya jalannya masih sempit dan lebih sering satu arah. Ada masjid yang cukupan lah di dekat area parkir mobil, jadi nggak usah khawatir soal shalat. Di area mangrove juga ada mushola kecil. Eh ya, ada juga mushola kecil lain di dekat area parkir motor, jadi aman lah. Kamar mandi ada di dekat masjid di area parkir mobil maupun motor dan juga di dekat mushola di area mangrove. Laper atau pengen jajan? Sudah banyak penjual makanan yang siap menunggu.

Butuh oleh-oleh? pas gue datang sih belum banyak penjual oleh-oleh. Tapi ibuk dapet ikan kecil-kecil yang digoreng kering dengan harga 50k per 3 bungkus. Nggak terlalu mahal lah ya. Untuk aksesoris kerajinan, ada satu penjual sih. Cuma nggak khusus sih, karena aksesorisnya umum banget ditemukan di mana saja.

Buat yang datang ke area ini, nggak usah khawatir nyasar pas masuk ataupun keluar. Karena sudah banyak penanda dengan ukuran besar dari maupun menuju area mangrove dan pantai. Dan lagi banyak juga pak-pak berseragam hijau (hansip dkk) yang siap membantu sebagai penunjuk jalan. Oh ya, ada anak-anak berseragam juga yang jadi volunteer.

Ini tahun kedua ke Kadilangu? Tahun depan, mampir ke sini lagi nggak ya?


Rabu, 27 Juni 2018

Sakit Kepala dan Laptop

Pernah ngerasain sakit kepala di seluruh bagian kepala dan leher belakang yang tegang, tanpa sebab jelas? Ini pengalaman saya.

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat mengalami sakit kepala dan leher belakang yang tegang tanpa alasan jelas. Awalnya dikira demam biasa, tapi ternyata setelah minum obat penurun demam, nggak sembuh juga. Bantal dan tidur yang nggak berkualitas? Sudah diubah juga, tapi nggak ngaruh. Kurang minum? Sudah ditambah dan nggak ngaruh juga. Jadwal tidur nggak teratur? Ini juga sudah diubah.

 
Akhirnya googling dan menemukan sejumlah artikel yang membahas ini. Menurut sejumlah artikel itu, salah satu penyebabnya bisa karena terlalu lama berada di depan komputer atau laptop, ya semacam over-work-lah. Nah, setelah dipikir lagi, sepertinya itu yang sama alami. Waktu itu sedang pusing-pusingnya revisi skripsi, dan memang benar sih penyebab dan gejalanya serupa.

Solusinya? Ada yang menyarankan datang ke dokter dan konsultasi secara khusus. Tapi ada yang menyarankan, untuk rehat. Benar-benar rehat. Rehat maksudnya, benar-benar nggak menggunakan laptop atau perangkat lainnya. Nggak ada pilihan, akhirnya saya mengikuti saran ini. Selama hampir dua minggu akhirnya saya benar-benar rehat dari laptop. Saya nggak menyalakan laptop sama sekali. Bahkan revisian pun terpaksa ditunda, hehe.

Hasilnya? Entah bagaimana ceritanya dan bagaimana awalnya, rasa sakit kepala itu pun hilang dengan sendirinya. Tanpa obat dan tanpa terapi apapun. Olala, ternyata benar juga semua masalahnya berasal dari perangkat komputer.

Apakah berarti setelah itu, saya benar-benar tidak mengalaminya lagi? Ternyata nggak juga. Setelah waktu itu, saya juga pernah mengalaminya di lain waktu. Ada saat saya mengerjakan pesanan artikel, hingga membuat saya terpaksa berhenti dari kerjaan yang sebenarnya sangat menjanjikan. Di saat lain, saya harus mengerjakan naskah untuk penerbit lain, pun mengalami hal yang sama.

Dan terakhir, sebelum Lebaran kemarin, saat akhir tahun di sekolah dan disibukkan dengan penilaian akhir tahun. Untuk yang terakhir ini, saya terpaksa menahan sakit kepala itu sampai berhari-hari, karena saya harus segera setor nilai pada wali kelas yang lain dan mengurus banyak hal. Untungnya setelah itu, libur Lebaran cukup lama. Dan saya benar-benar menyingkir dari laptop dalam waktu lebih dari satu minggu? Efeknya, jelas ajaib. Karena sakit kepala itu hilang dengan sendirinya.

Risiko sakit kepala seperti ini memang nggak bisa dihindari. Apalagi bagi saya yang memang harus selalu ketemu laptop, nyaris tiap hari.

Dari beberapa artikel yang saya baca, ada banyak saran yang diberikan. Yang terpenting adalah posisi saat menggunakan perangkat laptop. Cuma ya ... untuk satu ini memang masih sulit. Situasi dan kondisi ruangan tidak cukup sesuai dengan syarat-syarat supaya bisa bekerja dengan nyaman.

Hehehe ... ya ampun, kenapa tulisan ini kaku banget ya?

Oke, jadi ini semacam pengingat untuk diri sendiri, agar lebih menjaga diri dari ketidaknyamanan situasi kerja, agar tubuh bisa tetap fit. Kalau bukan diri sendiri yang peduli, emang siapa lagi?

Sabtu, 23 Juni 2018

Kado dari anak-anak

Halo, ini postingan pertama di bulan Juni. Cukup lama ya, jedanya. Jadi ceritanya kemarin habis liburan lebaran deh, jadi nggak pegang laptop sama sekali. Oke, kali ini cerita tentang anak-anak.

Cerita ini juga sebenarnya harusnya dibuat dari kemarin-kemarin. Tapi berhubung mager menang, dan saya akhirnya nggak nulis juga, hehe

Jadi, ceritanya anak-anak udah pengumuman dan lulusan. Nah, mereka ngasih semacam kado gitu. Dua buah benda berkertas kado dengan ada lebar dan tingginya tapi agak tipis. Yang satu cukup berat dan yang lain lebih ringan.

Nah ternyata pas hari H-nya, dua kado itu pun malah ketinggalan di sekolah. Nggak saya bawa pulang. Akhirnya, baru hari berikutnya deh dibawah pulang. Kado dibuka dong, dan isinya ... jeng jeng jeng 


Yang satu kaligrafi lengkap dengan bingkainya. Jelas ada tulisannya. Awalnya sih nggak ngerti itu tulisan apa. Hingga tanya sama tetangga meja pun, mereka nggak ngerti. Tapi setelah tanya sama guru-guru senior, akhirnya kebaca deh itu tulisan apa, hehehe. (ya maaph, saya kan nggak pernah belajar dan nggak ada bakat kaligrafi, jadi nggak ngerti seni ataupun isinya). Ternyata kaligrafi itu berisi nama saya yang ditulis cantik dengan huruf arab. Woaaaa! Keren loh ternyata.

Itu dia gambarnya. Dilarang protes ya, kalau hasil potretannya nggak bagus. bukan kaligrafinya yang nggak bagus, tapi kamera ponsel saya yang terbatas, hehehe. Jadi kalau kalian bisa baca tulisan kaligrafi itu, itulah nama saya. #ups 


Ok, sekarang ke kado kedua. Isinya ... foto anak-anak yang dibuatkan bingkai dan dipasang dengan penjepit dari kayu. Kreatif! Itu komentar pertama saya, dan keren! Sekali lagi, dilarang protes. Kalau nggak jelas gambarnya, bukan karena fotonya ya, tapi karena faktor kamera hape.

Isinya adalah foto-foto anak-anak pada beberapa momen. Kalau menurut penuturan yang ngasih, biar saya inget mereka terus, gitu katanya. Hehehehe. Oke oke ... karena kalian lulusan perdana, sepertinya akan sulit dilupakan.

Ok, itu postingan perdana di bulan Juni. Sebenarnya ada banyak bahan yang perlu dan akan saya tulis. Semoga jari saya udah sehat dan lancar buat ngetik lagi, hehe. Soalnya lumayan lama nggak ngetik juga.

Oh ya, selamat Hari Raya IDULFITRI buat semua ^_^

Maafkan lahir dan batin ya, oceeee

Kamis, 31 Mei 2018

Ada yang bisa buatkan meme?

Gue (kelas 12 SMA) : (bikin target nikah 5 tahun lagi, udah pilih warna baju pengantin, pilih dekorasi, undangan dan bikin konsep resepsi)

Murid Gue (kelas 12 SMA) : (bikin target nikah 5 tahun lagi lalu bikin list kriteria imam idaman)

Gue (habis pengumuman kelulusan SMA) : “Yes, diterima kuliah!” (bikin list rencana maen dan tempat-tempat yang harus dikunjungi selama kuliah, lupa cari pacar)

Murid Gue (habis pengumuman kelulusan SMA) : (nyebar undangan nikah)

Gue : “Ka**ret!” (ups! gigit bantal, lempar sandal)

Itu sekilas curhatan gue. Huahahahaha ... kalau ada yang nanya, ini benaran, B? Yes, ini beneran. Berhubung kayaknya nggak pantes kalau gue bilang bren***k, jadi gue bilang kampret aja ya. hmmm ... apakah kadar kasarnya berkurang? Sepertinya nggak. Olalala

Sayangnya, gue nggak bisa bikin infografis atau meme macam cerita di atas. Ya, kalau ada yang bisa buat meme dari kisah di atas tadi, tolong buatkan deh. Dan kasih tahu gue ya. Biar bisa gue pajang di status WA. Lalu semua orang komen, huahahaha ... Hal terbaik dari semua ini adalah, gue ternyata masih bisa menertawakan diri sendiri.

Halo, sobat-sobat SMA gue, di mana kalian berada? Masih inget kan, obrolan kita di teras lantai dua kos? Kayaknya kita-kita ini saingan dalam berimajinasi soal konsep pernikahan dan resepsi. Tapi ternyata, setelah lulus SMA, kita semua sibuk dengan dunia masing-masing. Kuliah, kerja. Dan akhirnya, adakah di antara kalian yang benar-benar berhasil mewujudkan rencana indah imajinasi resepsi masa SMA itu dulu? Kalau ada, bagi cerita ya.

Dan yang paling penting, selamat untuk murid gue yang akan menggenapkan separuh dien-nya. Jangan tanya sama siapa. Karena akan semakin nggak etis kalau gue ceritakan, huahahaha ...

Bahkan kenyataannya, sampai sekarang yang ada dalam pikiran gue adalah: menerbitkan buku, bikin skenario, ambil S2, punya channel utube sendiri, travelling (tapi dibayar, huahahaha), terus ... . Untuk yang satu itu, yang sering ditanyakan orang di saat temu keluarga, sayangnya belum masuk list lima besar gue. Sory! (kemudian gue didemo orang serumah gara-gara nggak masukin ‘nikah’ dalam list tadi). Oh ya, gue juga punya cita-cita bisa make-up no make-up look sendiri, tapi bahayanya, gue bikin alis pun nggak bisa-bisa. Eh ini keinginan yang keterlaluan nggak masuk akal, atau nggak sih? Beli Leneage aja nggak mampu, gimana mo belajar make-up kece? #tunjukDiriSendiri.

Gue : (bikin kopi, masuk kamar, kunci pintu kamar, pasang headset)

(berdoa, semoga tulisan ini nggak bikin hancur image gue, dari buku pertama gue kemarin)

Note : tulisan ini sama sekali nggak bermaksud untuk merugikan satu atau lebih pihak lho ya. Bukan pula untuk menghina apalagi menjadikannya bahan perundungan (bully-an). Hanya ingin berbagi saja. Karena ternyata, tiap orang memang punya pilihan hidup dan jalan hidup masing-masing, dalam memandang pernikahan. Dan setiap orang bisa menikmatinya, tanpa harus saling merugikan.

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.