Bening Pertiwi

Book, Love, Life and Friendship

Minggu, 09 Juli 2017

Ngebakso lagi dan lagi

Ngerasain pulang kampung dan rame+macetnya jalanan itu ... capek, tapi keren. Iyalah. Budaya satu ini emang terkenal di Indonesia. Di luar? Hmmmm ... jelas nggak sesemarak di sini. Nah, sambil mudik nih ya—atau balik—seru-seruan itu ada dua, pertama jalan-jalan mencicipi tempat-tempat wisata. Dan kedua, mencicipi makanan, hehe ...

Nggak ngerti kenapa juga sih, kalau mampir makan di perjalanan itu rasanya lebih enak daripada makan di rumah. Padahal mah ya, jenis makanannya juga sama aja sebenarnya. Nah di mudik kali ini—balik lebih tepatnya—seperti biasa kan bareng sama adek tuh, naik motor. Nah paling sebel itu, kalau ngajak makan tapi ditanya mo makan di mana, eh jawabannya terserah. Bukannya yang harusnya jawab gitu kan gue, yg cewek ya? Baiklah.

Terminal Bus Karangpucung. sumber http://berita.suaramerdeka.com
Dan setelah perdebatan nggak penting soal di mana mau makan, akhirnya kembali terdampar di langganan dari tahun ke tahun. Yup, buat yang menggunakan jalur selatan, pasti lewat sini, namanya terminal Karangpucung. Nggak kayak terminal? Iyalah, dari segi ukuran juga emang kecil dan lebih sering jadi semacam tempat transit aja, nggak pake parkir dari bis-bis. Eits, tapi jangan salah, meski Cuma terminal kecil, terminal ini salah satu yang penting di jalur selatan. Karena dari terminal Karangpucung ini, ada dua jalur dipecah. Arah ke selatan menuju Sidareja-Pangandaran dan arah ke barat menuju Majenang-Banjar-Tasik dst.

Terminal emang panas. Tapi panasnya terminal akan terbayar saat makan si bola daging alias bakso, yang kiosnya tuh ada di belakang terminal. Kalau kalian nemu bis Asli lagi parkir, itu artinya kiosnya ada di seberang persis.

Bus Asli jurusan Wangon-Sidareja. sumber : koleksi pribadi

Kios bakso ini namanya Bakso Patmo. Nggak tahu persis sejak kapan kios ini ada di sana. Tapi yang jelas, menurut cerita dari mulut ke mulut, kios bakso ini sudah ada sejak jaman enampuluhan. Jadi jelas sudah uzur dari umur, tapi makin mantap dari rasa. Tsaaaaaah.

Soal rasa, jangan tanya lagi deh. Dijamin bikin kangen buat balik lagi. Meski kiosnya kecil, tapi nggak pernah namanya sepi dari pengunjung. Buntelan daging khas itu pun langsung meleleh disantap bersama kuah bakso khas dan mie. Nyuuuum.

Kios bakso Patmo, belakang terminal bus Karangpucung. sumber : koleksi pribadi
Dulu sih, waktu kecil saya suka disogok sama bakso ini kalau rewel gegara nggak mau minum obat, hehehe. Yang jelas, sampai sekarang rasanya tetap bikin kangen.

Cuma sayangnya ... saya lupa, nggak ngambil gambar baksonya. Ini krik-krik banget ya. Gagal jadi foodblogger dong ya. Iya deh, lain kali diambil fotonya.

Sekian postingan nggak jelas hari ini. Ini maksa nulis, meski sebenarnya banyak nggak nyambungnya di atas. Pfth


Kamis, 06 Juli 2017

Nengokin Sekolah

Yang pertama, Selamat Lebaran, mohon maaf lahir batin dan met Liburan (borongan ucapannya, #ehe). Ini postingan pertama setelah Lebaran. Dan agak melakonlis pun. Hmmm ... tapi ya, gitu deh. Lanjut ah.

Jadi gini ...

Bohong banget kalau nggak kangen sekolah dan semua momennya. Apalagi di masa-masa libur akhir tahun ajaran gini. Dan di sela-sela libur Lebaran, sempat juga nengokin sekolah, meski Cuma lewat #ehe (bukan mantan sekolah ya, apalagi mantan yang lainnya)

Cerita soal gedung sekolah yang sudah banyak berubah sejak terakhir kali saya tengokin—bertahun silam—sudah banyak beredar di grup kelas maupun grup angkatan. Tapi, belum sempatnya saya lewat justru membuat saya lebih kaget. Sudah banyak sekali yang berubah. Ada kalanya, rasa kangen itu muncul, memandangi gedung sekolah yang merupakan gedung lama dengan tembok tebal khasnya dan jendelanya yang tinggi besar itu. Tapi, tampilan yang baru pun ternyata tetap keren kok.

Lewat depan sekolah sudah dihadiahi tampilan macam ini. Huh? Sekolah nggak digotong semut terus pindah kan? Emangnya ...

gerbang lama SMA N 1 Purworejo. foto koleksi pribadi
Gerbang sekolah yang dulu selalu saya lewati—sekaligus satu-satunya akses masuk sekolah—yang masih tampak jadulnya, sudah tertutup pagar lengkap dengan tulisan ‘akses masuk keluar, pindah’. Biar kata itu gerbang jadul banget, tapi tetap punya cerita sendiri lho ya. Ok deh, lanjut kalau gitu.

gerbang baru SMA N 1 Purworejo gambar 1.  foto koleksi pribadi
Dan taraaaa ... gerbang sekolah ternyata pindah ke sisi lain—masih di jalan yang sama—lengkap dengan tampilan yang sudah syangat modern dan elegan. Ehm ... saya nggak bisa bilang nggak suka sih sama desain gerbang yang satu ini. Tempat ini dulunya bersebelahan dengan lapangan basket. Dan entah bagaimana nasib lapangan basket yang tadinya ada di sini.

Tulisan SMA Negeri 1 Purworejo dengan angkuhnya tersemat di sisi gerbang. Lalu gerbang dibagi dua untuk lalu lintas masuk dan keluar secara terpisah. Atapnya dibangun nyaris lengkung, cantik.

gerbang baru SMA N 1 Purworejo gambar 2. foto koleksi pribadi
Dan yang nggak boleh terlupakan adalah logo mbah Ganesha berwarna kuning dengan latar belakang merah yang jadi ciri khas sekolah, ternyata ada di sisi lain gerbang. Lengkap dengan identitas sekolah dan alamat sekolah di bawahnya. Emang sih, saya nggak sempat merasakan gerbang baru ini. Tapi tetap ikutan bangga lah ya.

Entah kapan lagi saya sempat nengokin dan mampir ke sekolah. Nggak Cuma gedung dan perlengkapannya yang sudah banyak berubah. Orang-orangnya pun pasti sudah banyak berubah. Meski saya Cuma sebutir pasir dari 32 orang x 9 kelas seangkatan, tapi saya tetap bangga jadi salah satu bagian terbaik sekolah ini.

(gambarnya nggak keren, bukan salah tempatnya. Tapi salah yang ambil gambar. Selain nggak propesional, gambar juga diambil dari atas motor yang melaju #ehe)

Btw, ini masih bagian cerita libur lebaran. Bagian yang lain akan segera naik juga.

Selasa, 20 Juni 2017

Balada Lampu Sein – part 2

Masih ingat tulisan saya soal lampu sein sebelumnya? Kalau lupa cek di alamat ini deh. Soal sein kiri belok kanan, itu udah biasa kok. Dan sampai hari ini pun masih terjadi. Nggak Cuma bukibuk aja, pakbapak juga begitu, yang saya temui. Jadi nggak usah sok bener sendiri deh.

Kali ini, saya pengen bahas balada lampu sein, gegara pakaian menjulur. Ehm ... tulisan cem gini sebenarnya sudah banyak, saya yakin banget sih. Cuma, saya lagi pengen nulis ini lagi. Apalagi ini momen libur menjelang lebaran yang ... pasti makin banyak orang yang memenuhi jalanan.

Kemaren, ibuk saya habis dapat hadiah jilbab. Ukurannya lumayan besar, khas kesukaan ibuk. Cuma, yang saya protes habis-habisan adalah ekor panjangnya yang ada di belakang. Kata penjahitnya, itu namanya model pinguin—apalah ini—yang sedang trend. Huh? Trend gitu? Kemudian saya mikir keras.

Saat masih bergentayangan di area kampus, saya juga sering kok nemu mbak-mbak akhwat berjilbab besar dan lebar. Sebagian sudah sadar diri dengan jilbab, dan bisa bersikap benar. Sebagian yang lain, entah lupa entah nggak tahu, saya juga nggak ngerti.
Ok, gais begini ya. Nggak ada yang salah dengan jilbab besar dan lebar. Saya juga tahu kok, perintah wanita untuk mengenakan jilbabnya dan bahkan mengulurkan jilbabnya. Saya tidak memermasalahkan hal itu sama sekali. Itu hal benar, dan nggak perlu dibantah. Yang mau saya permasalahkan di sini, adalah attitude—sikap—si pemakainya.

Jadi gini, sering gitu saya lagi naik motor dan menemukan—entah bukibuk atau mbak-mbak—mengenakan jilbab lebar atau pakaian lebar hingga menutupi lampi sein belakang. hmmm ... sadar nggak sih, bahayanya kalau lampu sein belakang nggak kelihatan. Ya, yang naik sih mungkin nggak tahu, lha wong posisinya ada di belakang. Tapi, bagaimana dengan pengendara lainnya?

Kembali ke saat gentayangan di area kampus. Beberapa kawan jilbaber lebar tahu benar hal ini. Jadi, mereka akan menyiasati jilbabnya saat berkendara naik motor. Beberapa memilih untuk menduduki jilbab bagian belakangnya itu. Alasannya? Biar nggak terbang-terbang nggak jelas, biar nggak resiko ‘ngruel’ di rantai pun biar nggak menutup lampu sein belakang motor. Ini yang patut diacungi jempol. Nggak suka diduduki? Sejumlah kawan memilih mengenakan jaket. Manfaatnya? Sama seperti diduduki tuh. Nggak terbang, aman dan nggak menutupi. Pun lebih aman karena badan pun lebih hangat karenat berjaket. Terimakasih untuk kawan-kawan jilbaber yang memilih cara ini. Hal ini juga sudah sejak dahulu kala lama syekali pernah dibahas banyak orang.

Nah, masalahnya sekarang adalah ... di masyarakat. Kalo mbak-mbak tadi sudah aman dengan cara mereka, gimana dengan bukibuk di kampung ini? Saya masih sering sekali menemukan pakaian panjang bukibuk yang bonceng di belakang ini menutupi lampu sein. Ya, mohon maaf ya ... mohon disadari, dan sebaiknya kalau pas bonceng motor, ya diperhatikan dongse, rapikan dulu bajunya jangan sampai menutupi lampu sein belakang. Udah boncengan berberapa, baju menjuntai panjang nutupi lampu sein, duh buk. (semoga saya nggak dilempar sendal sama bukibuk yang lagi naik motor). Kalau itu ibuk saya, sudah saya protes habis-habisan dan saya paksa pakai jaket dengan benar atau merapikan bajunya sebelum naik di boncengan motor.


Ato nih ya, buat bukibuk berjilbab besar dan lebar, coba deh contoh mbak-mbak akhwat yang saya ceritakan di atas tadi. Iya, tahu, jilbab lebar itu bukan lagi Cuma memenuhi kewajiban, tapi juga selera fashion #duh. Takutnya kalau diduduki atau pakai jaket, jadi kusut gitu? Duh, mana sih yang lebih penting, keamanan berkendara atau fashion?

Saya nulis gini bukan berarti saya sok bener. Saya juga selalu berusaha mengingatkan diri sendiri soal ini. Kalau pakai baju lebar atau jilbab lebar, ya pakai jaket. Belum lagi, resiko tas dijambret orang karena Cuma diselempangkan. Makannya saya lebih suka memilih tas ransel atau kalaupun tas selempang, ya saya taruh depan. Karena kalau saya selempangkan di samping—saat naik motor—efeknya sama seperti baju/jilbab panjang tadi, bisa menutupi lampu sein belakang. Bahkan kalau pengen lebih aman lagi, pakai tas dulu, baru luarnya pakai jaket. Kan udah aman banget tuh. Biar kata bentuk badan jadi nggak eksotis, daripada bahaya?


Nah, kalau ini biasa terjadi sama nak-anak remaja yang bonceng motor. Udah nggak pake helm, terus tasnya di belakang terlalu panjang sampai menutup lampu sein belakang? #duhdek. Iya, tas kamu keren. Baju kamu keren, rambut juga keren. Tapi apa artinya semua itu kalau Cuma bikin bahaya. Ya, pakai tas sewajarnya dong ya. Paling nggak, pastikan jangan sampai menutup lampu sein belakang gitu. Pake helm juga, woi!

Yang juga nggak boleh disepelekan adalah membonceng, saat memakai baju atau rok panjang dan lebar. Nggak ada yang salah dengan baju dan rok panjang itu. Tapi yang salah, adalah yang memakainya dan nggak sadar bahaya. Udah tahu pakai rok panjang, dengan resiko terlilit ke rantai, masih nggak sadar juga? Kalau pakai rok model gitu, ya disiasati lah. Cari boncengan motor yang aman, misalnya. Atau, pakai dobel celana dan naik dengan melangkah, bukan miring, biar rok bisa sedikit terududuki dan nggak resiko masuk rantai. Nah ini nih.

Belum lama ini insidan jambret tas bukibuk yang sedang naik motor kembali terjadi. Tali tas yang kecil dan cara memakainya yang Cuma diselempangkan saja ternyata benar-benar menarik perhatian mata haus uang. Dan korbannya ini pun akhirnya jatuh dari motor, luka-luka sampai patah tulang.

Kejadian serupa pernah terjadi beberapa tahun silam, saat saya masih bergentayangan di area kampus. Rampok mengambil tas ransel seorang mahasiswi wanita hingga membuatnya jatuh, kecelakaan dari motor dan meninggal. Ehm ...

Saya selalu berusaha untuk mengingatkan diri sendiri, kalau keamanan di jalan ya tanggungjawab saya sendiri juga. Kalau mau aman, ya hindari hal-hal yang nggak bikin aman. Karena apa yang kita lakukan di jalan, nggak semata berefek pada diri sendiri. Bisa jadi diri sendiri aman, tapi belum tentu orang yang berkendara di belakang Anda aman. So hati-hati.

(foto-foto di atas bukan milik pribadi. diambil dari berbagai sumber, dari mbah Google)

Jumat, 16 Juni 2017

16 Juni, Sepuluh Tahun Silam

Bohong banget kalau nggak kangen masa SMA dulu. Bohong banget, kalau nggak kangen ke-alay-an jaman bocah dulu. Meski masa SMA saya nggak merah-jambu amat, alias nggak cerah ceria banget, tapi tetep pantes dikangenin kan?

16 Juni sepuluh tahun silam. Tetiba ada kawan yang mengirimi foto ini di grup SMA. Ternyata waktu sudah berlalu sepuluh tahun, tak terasa. Iya, jadi ketahuan ya, berapa usia saya sekarang? Biarlah, toh yang penting jiwa tetap muda. Hidup di masa sepuluh tahun silam begitu berbeda dengan hidup di masa sekarang. Dulu, nggak banyak hak yang harus dipikirkan. Jadi, hidup ya selow aja. Dinikmati dan dibikin enjoy aja.


16 Juni itu hari pengumuman SMA, sekian tahun silam. Hari itu, kami memakai pakaian hitam putih dan berdasi hitam, datang ke sekolah. Di halaman sekolah yang lapangan sepak bola itu sudah berdiri tenda besar. Para orangtua pun sudah berdatangan di sana. Lalu setelahnya, kami berderet masuk ke area tenda satu persatu dalam barisan panjang. Lalu duduk sesuai dengan urutan nomer absen kami di kelas. Sebenarnya, saya juga punya video prosesi acara itu, empat DVD dan satu CD. Sayangnya, DVD itu rusak karena terlalu sering diputar oleh si adek. Ya sudahlah. Toh yang penting kenangan itu tetap ada dalam kepala saya.

Apa kabar, kalian kawan-kawan? Iya, saya memang ibarat menghilang dari peredaran. Bukan semata tak mau berkawan lagi. Hanya sedang ingin undur dari dari dunia sosial dan berusaha berdiri dengan kaki sendiri. Dan sepertinya saya butuh waktu agak lama untuk ini. Karena ternyata saya masih belum sanggup bertemu muka dengan kalian, dengan kaki yang tegak dan kepala yang tak tertunduk lagi.

Foto biru itu diambil saat kami mengenakan seragam identitas sekolah. Waktu itu belum ada trend drone. Jadi, foto itu murni diambil dari lantai dua. Sayangnya, kualitas fotonya tidak terlalu baik. Jadi, saya bahkan tidak bisa menemukan diri saya sendiri dalam gerombolan anak-anak SMA itu.

Banyak yang sudah berubah, itu pasti. Tapi yang lebih penting, semoga kalian baik-baik saja, kawan, di manapun berada.


Minggu, 11 Juni 2017

#SayaBening

Semenjak agak lama vakum di blog satunya, saya lebih banyak posting di blog ini. Nama saya Bening, itu nama asli. Karenanya saya suka dengan lagu Nuansa Bening yang dinyanyikan Vidi Aldiano hingga saya pun mendapatkan versi aslinya yang dinyanyikan Keenan Nasution. Seorang introvert yang sulit ditebak, kecuali oleh orang-orang tertentu, yang pada mereka saya bisa membuka hati dan pikiran dengan baik. Semakin sering saya bercanda dan bertengkar dengan seseorang kawan, maka introvert saya pun perlahan luntur. Saya jadi orang yang easy going, begitu menurutnya. Sampai saat ini saya masih melakukan pekerjaan membosankan dengan masuk jam tujuh pagi dan pulang jam dua siang, sila tebak sendiri apa itu. Saya sering kesulitan menilai diri saya sendiri. Sebaik apa saya atau sedudul apa saya. Sebagai orang yang susah menghafal nama orang, saya maklum kalau saya juga jarang dikenali. Saya suka kucing, tapi nggak pernah punya kucing di rumah dan saya juga suka gowes sore-sore dengan headset di kepala. Pas sepuluh kalimat, tambah penutup ini deh, terimakasih.

Jumat, 09 Juni 2017

Upgrade Level Kualitas Menulis

Saya paling seneng dan paling rajin ikutan, kalau ada pelatihan/seminar/workshop menulis. Alasannya selain pengen nambah pengetahuan—istilahnya upgrade level kualitas menulis—juga bisa sambil nyari kecengan kenalan penulis/penerbit atau sejenisnya. Ya, semacam mencari peluang. Iya sih, tahu. Meski rajin ikut pelatihan, kalau nggak dipraktikkan ya nggak ada hasilnya—baca: karya—yang mletik.

Saya nyadar diri kok, apalah saya ini. Gimana level kualitas tulisan mau naik, kalau baca aja—belakangan—lagi males-malesnya. Padahal saya selalu bilang untuk memerangi males. Saya juga sadar diri, kalau selama kualitas tulisan saya ya levelnya segitu, nggak keren-keren amat. Nggak se-viral yang memang lagi viral. Saya mah standar aja. Asal tulisan saya masih melewati batas bawah kualitas cukup dan bisa menambah deretan angka nol di rekening saya, ya sudah.

Nggak, saya sama sekali nggak sedang merendah. Serius, saya memang merasa kalau level kualitas tulisan saya masih sangat jauh dari bagus. Saya masih harus lebih banyak baca, diskusi dan latihan lagi kalau memang ingin bertahan di persaingan dunia tulis menulis. Ya, tapi meski memang saya belum sekeren kawan-kawan yang tulisannya sudah hilir mudik di koran—tulisan bisa terbit di koran itu keren lho—saya tetap enjoy menikmatinya sih. Ya dinikmati aja, asal nggak lupa diri dan terus belajar, gitu. Nggak ada jaminan sih, setelah latihan dan belajar ini pasti tulisan saya langsung keren. Tapi, paling nggak saya tetap bisa melakukan hal-hal yang saya sukai, menulis.

Dulu sekali, pernah ada seorang pembicara yang bilang, kalau menulis untuk diri sendiri—misalnya diary atawa curhatan—berbeda dengan menulis untuk orang lain. Dan level ini yang perlu untuk dilatih lagi dan lagi. Diperjuangkan terus dan terus. Ya, memang Cuma itu yang saya lakukan.

Jadi intinya, ini semacam pengingat untuk diri sendiri. Supaya nggak males lagi baca dan terus latihan nulis. Apapun bentuknya. Karena setiap tulisan pasti punya jodoh pembacanya masing-masing. Yaterus kalau nggak ngikutin arus, nggak bisa ikut viral? Justru yang nggak ngikutin arus yang akan jadi berbeda dan akan ada waktunya untuk bisa bersinar. (apalah ini)

Oh ya, apa kabar draf lama berdebu? #uhuk


Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Bening has read 1 book toward her goal of 24 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.