Bening Pertiwi

Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 24 Oktober 2018

REVIEW – Wanginya Fair & Lovely 2in1 Powder Cream Buat Percaya Diri Sepanjang Hari

Selama kurang lebih enam hingga tujuh jam dalam satu hari dan enam hari dalam satu minggu, saya harus berhadapan dengan siswa. Wajar sih, namanya juga ‘tukang momong’ anak-anak di sekolah, ehe. Meski aktivitas nggak selalu di luar ruangan, ternyata bukan berarti kulit bebas dari kinclong dong. Apalagi kalau sudah siang dan anak-anak kadang bikin emosi, duh. Kulit wajah saya tipe berminyak yang akan dengan mudah tampak kinclong hanya setelah beberapa saat saja. Ini nih yang sering bikin nggak pede. Padahal kan pengennya sih, punya penampilan yang selalu fresh sepanjang hari.

Untuk mengatasi kinclong ini, saya biasanya memakai bedak tabur yang terlebih dahulu diawali dengan pelembab dan alas bedak. Lah kok, pakai pelembab juga? Soalnya kalau nggak pakai pelembab—meski wajah saya tipe berminyak—justru membuat minyaknya makin banyak. So, pelembab itu justru penting banget. Cuma ya gitu, buat nemuin pelembab yang cocok ternyata nggak mudah. Ada pelembab yang bikin makin kinclong, ada juga yang malah bikin kering sampai pecah-pecah gitu, #duuuuh

Ehm, tapi kemudian saya tertarik tuh sama iklan Fair & Lovely yang ada di tv, setengah putaran, bilas *nyanyi. Iya, jinggle-nya aja udah asyik, kan jadi tergoda buat nyoba. Apalagi setelah facial wash, Fair & Lovely mengeluarkan produk baru yang bener-bener bikin mupeng hati nih, Powder Cream. Cukup satu krim, udah ada pelembab, vitamin dan bedak. Hemat waktu banget.
Fair & Lovely 2-IN-1 Powder Cream adalah produk baru dari seri rangkaian produk Fair & Lovely, setelah facial foamnya dong. Dengan klaim sebagai krim pencerah multivitamin dan bedak, produk ini dibungkus dengan kardus warna pink putih yang cantik. Di badan kardusnya ada daftar komposisi produk ini dan juga label halal. Jadi buat kamu jilbaber, nggak usah khawatir soal ini ya, udah ada label halal dari MUI langsung. Nah di sisi lain, juga ada penjelasan produk dan juga cara penggunaan.

Setelah dibuka, tub elegan di dalamnya ternyata bikin makin gemes. Oh ya, untuk varian Powder Cream ini ada dua size ya, yakni size 40 gram dan travel size 20 gram. Untuk varian 40 gram, tutupnya berbentuk flip yang dijamin nggak mudah tumpah. Sementara untuk size 20 gram, berupa tutup putar biasa.

Makin nggak sabar, akhirnya dibuka deh. Isinya berbentuk krim warna putih dengan tekstur lembut. Karena lubangnya kecil, dijamin nggak akan berlebihan kok untuk mengeluarkannya. Dan ini yang paling saya suka, aromanya. Bagi sebagian orang, aromanya memang agak tajam. Tapi bagi saya, aroma wanginya tuh enak banget. Menenangkan dan awet. Bikin percaya diri seharian penuh deh.

Komposisi powder cream ini lumayan banyak ya, ada water, cyclopentasiloxane, dimethicone, stearic acid dan lain-lain. Merk daftarnya juga jelas ya, R IDM000227693 dan nomer BPOMnya NA18170102502. Lengkap kan? Jadi nggak ada alasan ragu lagi dong.

Saya biasa memakai powder cream ini di pagi hari, setelah membersihkan wajah. Cukup ambil seujung jari dan diaplikasikan ke seluruh permukaan kulit wajah. Nggak lupa juga untuk tepuk-tepuk pelan wajah supaya produk menyerap ke kulit. Aromanya yang enak banget membuat saya merasa percaya diri sepanjang hari. Tekstur produknya lembut banget dan agak cair, sehingga mudah diaplikasikan di wajah secara merata. Untuk bisa tampak hasilnya, biasanya saya membiarkan dulu beberapa saat. Kalau ada bagian yang belum merata, kadang saya juga mengaplikasikannya kembali ke bagian tersebut.

Kalau dibandingkan dengan produk lain yang sejenis, Fair & Lovely Powder Cream termasuk cair ya, jadi gampang banget diratakan ke seluruh permukaan wajah. Nah untuk hasilnya sendiri memang nggak langsung terlihat, perlu ditunggu dulu beberapa saat agar lebih tampak. Berhubung wajah saja memang agak parah berminyaknya—ehe—dan ada banyak bekas jerawat, jadi biasanya saya mengaplikasikannya dua lapis. Untuk hasil yang benar-benar mate finish, saya biasanya juga mengaplikasikan bedak tabur di zona T yang berminyaknya lumayan parah #ehe. Dan voila, saya bisa mendapatkan hasil mate finish tapi nggak terlihat berat oleh make up tebal.

Kelebihan :

Aromanya enak banget dan menenangkan

Teksturnya cair, sehingga mudah dibaurkan di wajah dan anti gumpal

Formulanya ringan di wajah, cocok untuk sehari-hari tanpa harus bermake-up tebal

Cocok untuk tampilan wajah dewey, terlihat fresh

Size kecilnya benar-benar bersahabat, travel size banget lah

Harga bersahabat dengan kantong

Kekurangan :

Untuk wajah berminyak parah seperti saya, butuh dua kali aplikasi dan tambahan bedak tabur jika ingin mendapatkan mate finish

Tutup tub-nya lebih bagus yang size 40 gram, untuk size 20 gram resiko mudah hilang

Re-aplikasi setelah kena air

Hasil akhir – standar

Rate : 7/10


Repurcase : Maybe

Pendapat pribadi, harganya bersahabat di kantong dan hasilnya juga lumayan lah. Tapi untuk kulit berminyak dan banyak bekas jerawat kayak saya, nggak ngarep terlalu banyak sih untuk tampilan sehalus porselen, hehe

ini udah pulang sekolah ya. tapi masih kelihatan fresh kan, hehe
Nah, sekian review Fair & Lovely Powder Cream versi saya. Yang jelas, nggak akan rugi deh nyoba produk satu ini. Kalau masih belum yakin, coba dulu versi travel size yang 20 gram aja. Harganya di kisaran dua puluh ribuan lah. Oh ya, untuk produk Unilever lainnya kan biasanya ada versi sachet yang tipis itu ya, isi 8 gram. Nah, semoga versi ini juga ada nantinya untuk Fair & Lovely Powder Cream ya. Biar benar-benar lebih travel size deh.

Terimakasih dan selamat mencoba ^_^


Selasa, 09 Oktober 2018

Membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)

Ini cerita pertama di bulan Oktober #ehe. Jadi salah satu syarat yang harus dicari untuk pertempuran lamaran pekerjaan kali ini adalah surat keterangan catatan kepolisian alias SKCK. Sebenarnya sih, syarat satu ini bisa dilengkapi setelah dinyatakan diterima. Tapi untuk formasi CPNS yang gue kejar, butuh SKCK. Ups, jadi ketahuan ya, kalau lagi mau nyoba peruntungan daftar CPNS. Bisalaaaa 


 
Kebetulan gue tinggal agak jauh dari ibukota kabupaten. Jadi, mengurus surat satu ini nggak cukup satu hari selesai.

Hal pertama yang harus diurus adalah surat pengantar dari RT dan RW. Nah surat pengantar ini kemudian digunakan untuk meminta surat pengantar di desa. Di desa, diminta KTP untuk menyusun suratnya. Bayar? Sampai desa nggak bayar apapun ya. Proses ini sebenarnya bisa cepat. Tapi karena pak RT dan pak RW yang nggak bisa ditemui pagi—Cuma bisa ketemu sore hari—, jadi gue butuh dua hari untuk proses ini.

Surat pengantar dari desa kemudian dibawa ke kecamatan untuk dimintakan pengesahan dari kecamatan baru dibawa ke polsek. Ini nggak baku sih. Pas gue, nggak datang ke kecamatan pun bisa, langsung ke polsek. #ehe. Jangan ditiru.

Di polsek, serahkan surat pengantar dari desa ini dengan foto 4x6 sebanyak 3 lembar. Kemudian diminta mengisi form SKCK. Nah, kalau kamu Cuma butuh untuk mencari pekerjaan umum, cukup sampai ke polsek saja. Tapi berhubung gue butuh untuk CPNS, maka gue harus lanjut ke polres.

Setelah mengisi form, terus surat pengantar dari polsek pun keluar. Nantinya surat pengantar ini yang digunakan untuk mengurus SKCK di polres ya. Jadi nggak bisa di skip alias dilewati. Bayarnya? Nggak bayar, guys. Geratis. Karena menurut petugasnya, bayar nanti saat di polres aja. Oh ya, proses di polsek ini nggak lama ya. Sekitar 30 menit aja kok, buat ngisi form. Dan karena nggak antri, jadi jelas cepet banget.

Berhubung—sekali lagi tempat tinggal gue jauh dari ibukota kabupaten—makannya proses ini nggak bisa selesai sehari. Baru beberapa hari berikutnya, gue lanjut ke ibukota kabupaten dengan tujuan utama polres.

Gue berangkat dari rumah habis shubuh, sekitar jam 5 dengan bis pertama. Gue sampai di ibukota kabupaten sekitar jam 7, melaju ke polres dengan gojek, dan masih harus nunggu karena hari itu 1 Oktober, otomatis pak-pak polisi lagi pada apel. Sabar. Gerbang dibuka sekitar setengah sembilan. Dan langsung diserbu banyak orang yang ngurus macam-macam. Setelah menyerahkan KTP dan mendapat kartu tanpa tamu, gue menuju ruang pelayanan SKCK. Udah lumayan rame ternyata.

Dari sini, gue masukin syarat-syarat yang diperlukan. Karena gue belum pernah buat SKCK sama sekali, jadi syaratnya agak banyak ya :

- Copy KTP

- Copy KK

- Copy akta lahir

- Surat pengantar dari polsek

- Foto 4x6 (3 lembar) dan 3x4 (3 lembar)

Nah, antrian jadi agak panjang juga, karena gue—yang belum pernah buat SKCK—harus cek sidik jadi dulu. Setelah mendaftar di bagian SKCK, gue diberi form yang harus gue isi dan bayar 30.000. Setelahnya gue menuju ruang cek sidik jari. Drama di sini dimulai karena form sidik jari habis, dan gue harus antri di fotocopyan dulu. Untuk ketemu temen sesama pemburu SKCK yang jago nyerobot, #ehe

Setelah dapat form sidik jari, gue bali ke ruang rekam sidik jari, ambil antrian. Sementara nunggu, gue isi form yang tadi didapat dari ruang layanan SKCK. Rekam sidik jari itu sepuluh jari, kanan kiri. Cepet kok, karena prosesnya nggak ribet. Setelah diperiksa oleh petugasnya, terus mereka menuliskan rumus sidik jarinya di form SKCK. Nah sayangnya, gue nggak dikasih kartu sidik jari. Memang sih, ada rumusnya di SKCK nantinya, Cuma kan kalau ada rumus sidik jarinya, mending lah ya.

Setelah beres dari ruang rekam sidik jari, gue balik lagi ke ruang layanan SKCK. Nah di sini baru deh nyerahkan berkas dan form yang sudah diisi, baru ambil antrian. Antrian gue udah cukup banyak. Soalnya loketnya Cuma satu. Jadi antara layanan perpanjangan SKCK dan pembuatan SKCK jadi satu, agak ribet jadinya. Coba nggak jadi satu loket, kan bisa lebih hemat waktu. Antrian gue nomer 30. Itu sudah sekitar jam setengah 10-an.

Sekitar jam 11-an akhirnya nama gue dipanggil, SKCK gue pun jadi. (pas ini, antrian SKCK udah 80-an lebih. Untung gue berangkat pagi). SKCK yang sudah jadi sebaiknya di copy dulu, terus minta cap legalisir. Maksimal lima lembar. Dan udah nggak bayar lagi. Ini sekalian, daripada bolak balik. Soalnya cukup jauh.

Jadi kalau ditotal, gue masuk polres sekitar setengah sembilan dan keluar sekitar setengah duabelas. Tiga jam lah ya. itu udah nyante, soalnya udah cukup antri.

Oh ya, SKCK ini berlaku enam bulan sejak pembuatan dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan. Untuk perpanjangan, syarat-syaratnya sama kayak buat baru, tapi ditambah SKCK lama dan tanpa pengantar dari polsek. SKCK bisa diperpanjang kalau masih dalam waktu maksimal satu tahun sejak habisnya. Tapi kalau udah lebih dari satu tahun, ya buat baru lagi ya.

Oke, sekarang rekap biayanya ya.

Perjalanan PP – bis (50.000) + gojek (10.000)

SKCK – 30.000 (ini biaya resmi ya)

Copy form sidik jari dan legalisir – 3.000

Udah? Jajan dan minum hitung sendiri ya, hehehe

Waktu pengurusan, dari pengantar RT sampai ke polres dan jadi, todal tiga hari. Sebenarnya kalau pak RT dan RW-nya bisa ditemui pagi dan polres dekat dari tempat tinggal, sehari jadi lah ya.

Tips penting nih, buat ngurus SKCK. Pertama lengkapi berkas yang dibutuhkan, terutama kalau jauh dari rumah. Biar nggak bolak balik lagi. Kedua, datang pagi. Biar nggak terlalu antri. Meski nggak seramai kabupaten lain, tapi datang pagi nggak akan rugi kok. Ketiga, setelah SKCK jadi, jangan lupa legalisir sekalian, biar nggak bolak balik juga.

Selesai!
Gitu #ehe
Sampai jumpa di cerita lainnya


Minggu, 30 September 2018

Membuat Surat Keterangan Bebas NAPZA (SKBN)

Selain surat keterangan sehat dari dokter, ada satu surat keterangan lagi yang disyaratkan oleh salah satu instansi. Mau nggak mau, diurus kan. Pengalaman dong. Kalau nggak gini, ya gue nggak akan ngerti, hehehe

Jadi setelah beres dengan surat keterangan dokter, gue melaju ke RSUD di daerah gue. Beruntungnya, status RSU di daerah gue udah RSUD. Jadi gue nggak harus melaju ke ibukota kabupaten, yang jaraknya sekitar 80 km atau 2,5 jam perjalanan dari rumah #ehe


Nah sampai di sini, ruame banget tuh. Sempat kecewa juga sih, karena menurut salah satu pengunjung, pendaftaran layanan sudah ditutup. Hari itu gue datang sudah hampir jam sebelas siang. Tapi gue nekat untuk tanya ke petugas pendaftaran. Gue sampaikan kalau gue mau urus surat keterangan bebas NAPZA atau bebas NARKOBA. Eh ternyata masih bisa. Syaratnya? Gue Cuma diminta KTP aja tuh.

Setelah didaftar, gue diberi kuitansi yang harus gue berikan pada kasir. Karena itu pertama kalinya gue ke RSUD, otomatis gue dianggap pengunjung baru. Dan biaya untuk pengunjung baru membuat kartu pengunjung adalah 27k. Setelahnya gue ke kasir dan melakukan pembayaran. Ternyata gue dapet kartu tanda pasien langsung.

Nah ini yang agak drama. Karena ada bagian yang sedang diperbaiki, alhasil tanda petunjuk ruang ‘poli umum’ gak dipasang—entah kenapa--. Gue sempat bolak-balik hingga akhirnya bisa nemu itu poli di ujung koridor. Disapa oleh dokter dan perawat yang super ramah. Masak baru ketemu, gue udah diajak ngobrol soal pohon keturunan. Katanya dari wajah gue bisa ditebak dari mana asal keturunan gue, huehehehe.

Dari dokter, gue dapat pengantar buat ke lab. Karena memang harus uji lab kan ya. Lab ada di dekat UGD. Ya untungnya nggak jauh-jauh amat lah. Di lab untungnya nggak ngantri juga. Setelah gue berikan pengantar dari dokter, gue dapat kuitansi lab dan juga wadah untuk menampung urin. Dari sini gue meluncur ke kasir baru kemudian mengisi wadah tadi. Biaya lab untuk tes narkoba 21rb, BAHP (gue nggak ngerti apa ini. mungkin perangkat untuk tesnya) 83.806 dan keterangan medis 20rb. Jadi kalau ditotal ya sekitar 125rb.

Setelahnya gue balik ke lab lagi. Tadinya sempat khawatir kalau bakal lama nunggu hasil lab. Udah jam setengah12 siang pun. Khawatir jadwal dokternya udah habis. Eh ternyata di lab ini cepet lho, karena memang lagi nggak antri. Gue diberi hasil lab. Ada tiga yang dites, yakni MET-AMPETAMIN, THC, MORPHIN. Maaf ya, nggak gue cantumkan foto hasilnya #ehe. Tapi tenang aja, hasilnya aman kok, alias negatif semua.

Setelah dapat hasil lab, gue balik lagi ke dokter tadi. Nah obrolan soal garis keturunan pun berlanjut. Okelah, Dok. Gue jabanin aja. Gue jadi pendengar yang baik. Sambil cek hasil lab, dokter kemudian membuat surat pernyataan bebas NARKOBA. Setelah diarsipkan juga oleh perawatnya, selesai deh. Gue pamit dadah-dadah dan keluar ruangan. Selesai!

Kalau ditotal, untuk mendapatkan surat bebas NARKOBA ini gue Cuma butuh sekitar satu setengah jam saja. Itu pun sudah dengan cek lab dan ngobrol dengan dokternya. Alhamdulillahnya sih, emang poli umum hari itu lagi nggak antri, hehe. Beda dengan poli sebelah—poli dalam—yang antrinya sampai menuhin ruangan dan menuhin kursi antrian poli lain.

Untuk biayanya :

Pendaftaran + kartu pasien = 27.000

Uji lab = 105.000

Surat keterangan bebas narkoba = 20.000

Jadi totalan gue habis sekitar 155.000 (termasuk parkir, hehe), dan belum dengan jajan, minum dan makan siang. #ehe

Nilai ini bisa berubah tergantung RSUD masing-masing ya. Tapi kalau untuk uji lab, kayaknya ya nggak beda jauh. Sekitar segitu juga. Oh ya, gue nggak tahu ya bebas narkoba ini bisa pakai KIS atau nggak. Soalnya gue nggak tanya. Tapi kan kalau mau pakai KIS di RS harus ada rujukan dari Puskesmas/klinik. Nah di puskesmas aja untuk ngurus keterangan dokter, nggak ditanggung KIS. Jadi kesimpulan gue sih, bebas narkoba ini juga nggak ditanggung KIS. Soalnya bebas narkoba ini bukan ‘sakit’, jadi udah beda cerita.

Dan ya, KIS gue pun nganggur lagi. Nggak berharap sakit sih. Cuma kadang pengen aja, apa yang udah gue bayarkan tiap bulannya, nggak sia-sia. #ehe. Mungkin lain kali, kalau gue benar-benar butuh ya.

Oh ya, saran aja sih, kalau mau dapat antrian emang mending datang pagi-pagi ya, dan ambil antrian pasien umum, karena nanti yang periksa adalah dokter umum. Kamu Cuma perlu siapkan KTP saja dan uang tentunya.

Nah itu pengalaman gue mengurus surat keterangan bebas narkoba. Nggak seserem yang gue kira sih. Justru sederhana banget. Dan kalau hasilnya negatif, itu artinya bagus, hehehe

Sampai jumpa di postingan ‘mengurus SKCK’ ya,

Sabtu, 29 September 2018

Membuat Surat Keterangan Sehat dari Dokter di Puskesmas

Wah pas banget nih, story ke 222. Akhirnya punya kisah untuk dibagikan lagi juga di blog ini. Setelah sebulan lebih nggak nulis apapun. Ini pun sudah akhir September, padahal posting terakhir pertengah Agustus. #ups

contoh form surat keterngan sehat dari rumah sakit

Kali ini gue mau bagi cerita mengurus surat keterangan sehat dari dokter, di Puskesmas. Ehm ... kayaknya ini yang paling mudah ya. Tapi berhubung ini pertama kalinya buat surat keterangan sehat, ya, bagi gue ini istimewa. Biasa deh, kan lagi musim cari kerja gini.

Jadi, pertama gue dateng ke Puskesmas. Nah, gue udah lamaaaaa banget nggak dateng ke Puskesmas ini. Bukan karena nggak pernah sakit juga, tapi setelah nggak lagi masuk ASKES bokap, gue lebih banyak memilih datang langsung ke dokter. Tapi kali ini gue memilih ke Puskesmas karena –menurut cerita temen-temen—biaya mengurus surat ini lebih murah, gitu.

Sempat bingung karena bangunan dan area pelayanan yang berbeda. Gue pun ambil antrian. Baru jam 8 lewat seperempat, antrian udah 54 aja, uwoooo. Sabaaaaar. Nah ini nih bagian dramanya. Karena gue pikir bakal lama, akhirnya gue tinggal dulu ke polsek, ngurus yang lain. Ini cerita lain kali ya. Eh pas balik lagi, ternyata antrian gue udah lewat. Akhirnya gue pun ambil antrian baru, 75 cuy. Nunggu 20 nomer di depan gue deh. Kali ini nggak gue tinggal. Gue Cuma ditanya KTP sama petugasnya, dan dicatat sebagai pelanggan baru. Kan gue juga udah punya KIS tuh, tapi kata petugasnya kalau yang begini—surat keterangan sehat—nggak ditanggung KIS. Okelaaaa. Dan gue Cuma diminta biaya administrasi sepuluh ribu saja.

Setelah antri pendaftaran, iya, itu tadi baru antri pendaftaran, akhirnya gue antri di depan ruang poli umum. Untung nggak terlalu lama di sini. Gue dipanggil masuk ruang periksa. Nggak langsung ketemu dokternya sih, tapi ketemu sama perawatnya. Pemeriksaan yang dilakukan :

- Tekanan darah

- Tes buta warna

- (harusnya) tes golongan darah (tapi karena gue udah pernah donor, jadi udah tahu golongan darah gue)

- Ukur tinggi badan, dan

- Ukur massa tubuh (bukan berat badan ya)

Setelahnya Cuma ditanya keperluannya buat apa. Gue bilang buat pendaftaran cpns. Terus urek-urek gitu, tanda tangan dokter, cap, selesai deh. Cepet banget ya? Gue kira juga bakal lama. Sayang nih, mbak perawatnya agak judes gimana. Padahal di bagian pendaftaran ibuk-nya udah ramah dan sabar banget. Hmmm

Oh ya, syarat buat mengurus keterangan sehat dari dokter ini Cuma KTP aja ya dan biaya administrasi sepuluh ribu (tergantung unit pelayanannya). Ada tempat lain yang menyaratkan copy KK dan foto. Tapi di sini sih enggak ya.

Saran aja sih :

Sebaiknya datang pagi, kalau nggak pengen antri panjang.

Atau kalau memang bener-bener nggak mau antri, ya bisa minta langsung ke dokter yang bekerjasama dengan Puskesmas, tentu dengan biaya yang berbeda—biasanya lebih tinggi--.Mengurus surat keterangan sehat ini bisa di Puskesmas, dokter atau rumah sakit langsung ya. Pilih saja yang paling dekat dan mungkin diurus.

Periksanya ini di poli umum ya, jangan antri di poli dalam. Bisa-bisa seminggu nggak kelar, hehehehe. 

Oke, itu sedikit pengalaman mengurus surat keterangan sehat. Yang lain nyusul ya,#ehe

Selasa, 14 Agustus 2018

14 Agustus dan Cerita Lainnya

Selamat datang Agustus. Selamat datang kegiatan. Selamat datang sibuk dan capek.

Cukup lama nggak apdet blog pun. Banyak kegiatan. Ehm, well ... itu bukan alasan sih sebenarnya. Tapi ya tetap jadi cerita, haha

Sudah sangat lama sejak terasa begitu bersemangat. Hmmmm

Bulan Agustus memang selalu menyimpan cerita. Salah satunya yang paling luar biasa menggores di hati adalah kemah. Ya, tahun ini kemah kembali diadakan di bulan Agustus tepat menjelang dan sebelum peringatan hari pramuka pada 14 Agustus.

Api unggun, malam 14 Agustus 2018, kemah di lapangan Wijayakusuma, Majenang, Cilacap

 
Aroma basah tanah perkemahan yang terkena percik air, petrichor yang selalu dan pasti membawa kembali pada sebuah waktu di masa lampau. Api unggun yang menyala terang di tengah lapangan. Saat sebuah kisah pernah terjadi kala itu. Kisah yang tidak pernah kembali tetapi akan tetap memanggil kenangan yang serupa. Kisah yang tidak pernah meminta awal apalagi perlu untuk diakhiri. Kisah yang hanya layak untuk dikenang dan terus dinikmati oleh kesendirian.

Dan seorang kawan lama yang ternyata ada di tenda tetangga. Obrolan dari masa lalu pun muncul. Sudah terlalu lama. Dan ini untuk pertama kalinya, ada yang mengisahkan cerita itu dari sudut pandang yang berbeda. Tidak ada yang menceritakan kisah itu sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan nyaris terlupakan. Hingga akhirnya obrolan itu mengalir begitu saja. Dan kisah 16 tahun silam pun menjadi salah satunya.

Bukan menguak luka. Tapi kisah itu bukanlah yang utama. Karena ada kisah lain, yang jadi kisah utama bagi yang lain. Kelebatan peristiwa itu tidak pernah mati ataupun berhenti. Hanya bersembunyi dan muncul sesekali pada waktu yang tepat.

 
#Malam14Agustus
Tanah yang sama
Api yang sama
Dasa Darma yang sama
Hanya waktunya saja yang berbeda
Terimakasih, selalu, Mr.Silver

Selamat Hari Pramuka
Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan

Rabu, 11 Juli 2018

Jalan-jalan – Puncak Khayangan Sigendol


Nah, ini yang tadinya bikin galau. Mau naik lagi atau nggak. Tapi rasanya sayang, udah sampai sini tapi nggak lanjut sekalian.

Sekitar satu kilometer dari air terjun Gunung Putri, masih ada satu obyek keren lagi. Namanya Puncak Khayangan Sigendol, yang ada di gunung Sigendol, desa Giyombong, kecamatan Bruno, Purworejo. Jadi kalau tadi habis mampir ke Gunung Putri, mestinya sekalian mampir ke sini.

foto : koleksi pribadi
Kalau sampai Gunung Putri bisa bawa mobil, sebaiknya naik ke sini mobil ditinggal aja deh. Kamu lebih baik naik motor. Alasan? Jalannya cukup sempit (meski sudah dikeraskan dengan semen semua) dan naik banget-nget. Pernah naik ke gunung Lawu? Model jalannya seperti itu. Meliuk-liuk tajam dengan tanjakan tajam. Kalau kamu nggak berani naik sendiri, mending minta tolong tukang ojek aja deh. Cukup 10k aja kok, untuk naik sampai Sigendol ini.

foto : koleksi pribadi
Untuk tiket masuk Sigendol ini sama seperti Gunung Putri ya, cukup 5k tiap orangnya, dan anak kecil nggak dihitung. Parkir juga Cuma seribu saja. Murah meriah wis. Dari gerbang tiket sampai obyeknya, masih harus jalan kaki sekitar 100m lah. Nggak jauh kan. Cuma jalannya masih tanah. Dan seperti masih agak baru.

foto : koleksi pribadi

Sampai di area ini, disambut dengan tulisan PUNCAK KHAYANGAN SIGENDOL (gue nggak foto ini, hiks) yang pasti sayang banget kalau nggak ambil foto di sini. Ada tiga spot utama di area ini. Spot yang di sebelah tulisan persis, sebelah kanan, turun ke bawah. Dan jalan lagi ke arah kiri. Dibahas satu-satu ya.

foto : koleksi pribadi. model : my big-lil-brother

Spot pertama yang kami kunjungi yang ke arah kiri lurus. Ini yang paling rame. Dan paling banyak pengunjungnya adalah anak muda. Iyalah, karena di sini yang dijual adalah spot foto menarik di ketinggian. Dari gerbang akar, rumah gadang, perahu titanic, kotak instagram dan yang paling menarik adalah mataharinya. Sebutannya ‘puncak khayangan’, nggak heran sih karena memang di sini adalah salah satu spot tertinggi dibanding area perbukitan sekitarnya. Dari atas sini, kamu bisa melihat desa-desa di sekitar dan juga perbukitan sekitar. Wes, berasa di khayangan deh, ehehehe. Gue nggak yakin berata ketinggian spot ini sih, tapi kayaknya nggak terlalu tinggi deh. Soalnya gue ngerasa panas-panas aja, nggak dingin. Dan nggak ada kabut. Entah karena memang musim kemarau atau karena masih siang #ehe

foto : koleksi pribadi. model : sepupu2 gue yang masih unyu2

Puas foto-foto, spot berikutnya ada di sebelah bukit ini. Dari petunjuk arahnya sih ada sendang bidadari dan beberapa spot lain. Cuma memang jalannya masih tanah banget, dan di beberapa tempat bambu pegangannya udah nggak ada. Jadi mesti hati-hati banget ya. Adek dan sepupu gue sempat turun, tapi katanya nggak terlalu asyik. Dan akhirnya gue nggak jadi nyusul.

foto : koleksi pribadi. sepupu gue yg cantik. baru naik kelas 12 SMA nih

Setelah dari dua spot ini, kami kembali ke arah jalan masuk. Dan turun ke spot ketiga yang jalan masuknya tepat di sebelah tulisan PUNCAK KHAYANGAN SIGENDOL. Ada beberapa spot asyik juga di sini. Ada tempat duduk yang dibangun menempel di pohon, ada rumah-rumahan berbentuk segitiga yang dibuat dari akar-akar pohon dan spot yang mirip bintang (menurut gue), tapi katanya itu tikungan cinta. Hmmm entahlah.

Kok dari tadi foto-foto terus sih? Iya, seperti gue bilang tadi, Sigendol ini memang pusatnya spot foto. Jadi nggak heran kalau pengunjungnya kebanyakan anak muda.

foto : koleksi pribadi

Kalau dari spot foto-foto, memang seru dan asyik. Cuma sayangnya, pengaman di sekitar spot foto yang masih kurang. Ya meski ada petunjuk ‘hati-hati jurang’, tapi kalau nggak ada bambu/pembatas/pengaman ya sebenarnya serem juga sih. Soalnya memang tempatnya tinggi banget.

foto : koleksi pribadi. model : adek dan sepupu2 gue

Dan lagi, nggak ada petugas yang berjaga di sekitar spot. Ehm ... yang namanya anak muda, kadang kan suka lupa diri kalau nyari spot bagus buat foto. Nah, kalau ada petugas kan bisa mengingatkan lah. Oh ya, di dekat pintu masuk juga sudah ada beberapa penjual minuman dan makanan, yang utamanya adalah camilan dan popmi. Jadi nggak ada makanan berat ya. Toilet juga sudah ada.

Ya Cuma itu sih, faktor keamanan di area foto aja sih, yang masih perlu peningkatan. Mungkin bisa juga dibuatkan spot-spot foto lainnya yang lebih seru, biar lebih variatif #ehe

Nah, berhubung si adek udah ribut, karena kelaparan (salah siapa, tadi disuruh makan nggak mau), dan udah hampir ashar, akhirnya kami mengakhiri perjalanan dolan ini dan pulang dengan bahagia, huehehehe. Iya lah, bahagia. Karena udah nggak penasaran lagi sama obyek wisata yang ‘nggak jauh’ dari rumah simbah ini. Kan nggak lucu, yang jauh-jauh aja udah pernah maen ke sini, eh kami yang waktu itu deket, malah belum pernah main.

Sampai jumpai di jalan-jalan Lebaran yang lain. (peluk sepupu atu-atu)

Sabtu, 07 Juli 2018

Jalan-jalan – Air Terjun Gunung Putri

Btw, gue lagi membiasakan diri kembali, dengan ritme menulis biasanya. Soalnya udah agak kelamaan rehat, #ehe. Rehat emang perlu. Tapi kalau kelamaan, juga jadi nggak baik. Soalanya mau mulai lagi susah. Ok, cukup curhatnya.

Obyek berikutnya nih, gue (dan sodara-sodara) kunjungi di lebaran hari keempat. Tadinya gue nggak ada niatan mampir ke sini sih, meski sebenarnya pengen. Soalnya nggak ada yang diajak. Eh ternyata sepupu ngajakin. Ya udah, gue iyain aja. Kan tinggal berangkat. Kali ini tujuan kami adalah Air Terjun Gunung Putri yang ada masuk kawasan hutan, di desa Cepedak, kecamatan Bruno, kabupaten Purworejo. Iya, nggak terlalu jauh dari tempat simbah, #ehe.

foto : koleksi pribadi. Tiket masuk Gunung Putri
Kalau yang pengen ke sini, dari Kutoarjo, kamu ambil jalan ke utara, ke arah kecamatan Bruno. Nah dari kecamatan jalan lagi, tepat sebelum jembatan, belok kiri. Jalannya memang agak naik, sekitar 5 km. Ya setengah jam lah. Sampai di desa cepedak, kan ada jalan cabang. Ambil yang ke kanan dan agak naik ya. Dari situ udah deket kok, sekitar 2 km lagi. Cuma jalannya memang banyak naiknya. Jadi, kalau naik kendaraan hati-hati. Buat yang pede bawa mobil di jalan sempit dan curam, kamu boleh naik. Tapi kalau nggak punya nyali, mending bawa motor aja. Cewek berani naik nggak nih? Buat cewek petualang, berani lah. Cuma nanti pas balik turun, hati-hati ya, karena curam. Kalau motor matic emang enak naiknya, tapi pas turun harus benar-benar hati-hati lho ya. Lebih aman naik motor bebek biasa sih. #saran.

Area parkir ada di depan gerbang pintu masuk. Untuk masuknya kamu Cuma butuh 5k tiap orang saja. Dan untuk anak-anak, bahkan nggak usah bayar, hehehe (adek gue yang udah kelas 6 SD aja nggak dihitung bayar). Dari gerbang sampai area air terjun, masih harus jalan kaki dulu. Nggak jauh sih, sekitar 200m, dengan jalanan cukup landai dan sudah ada jalan setepak yang dikeraskan.

Area air terjun ternyata udah keren euy. Persis sebelum masuk area, ada juga pos polisi dengan dua pak pol yang berjaga. Air terjun gunung putri memang nggak sebesar air terjun umumnya. Entah karena gue datang pas musim kemarau, atau memang ukurannya nggak terlalu besar. Karena lebih mirip air yang mengalir di bebatuan yang tegak/berupa tebing. Dan area jatuhnya air terjun juga bukan berupa sungai besar seperti umumnya. Justru lebih mirip sungai kecil dan asyik banget buat nongkrong.

Di depan air terjun, ada beberapa pohon pinus. Area di sekitarnya juga sudah banyak dibersihkan dan dibuat beberapa tempat duduk. Ada jembatan kecil untuk menyeberang sungai di bawah air terjun. Selain itu, banyak juga orang-orang yang lebih memilih lesehan di rumput. Di sekitarnya juga sudah ada beberapa penjual minuman dan jajanan. Tapi nggak ada penjual makanan berat ya, #ehe

foto : koleksi pribadi. Legenda gunung putri

Di salah satu batu besar yang ada di bawah air terjun, ada juga tanda peresmian obyek wisata ini. Dan tidak jauh di dekatnya juga ada taman kecil. Di sebelahnya juga dipasang banner yang memberitahukan legenda air terjun Gunung Putri ini. Baca sendiri aja ya. (meski sesungguhnya ku ingin memaki. Ini siapa yang bikin tulisan, kacau banget gini! Ini kalau sampai ketahuan editor gue, sudah keluar tanduknya dia, hehehe)

Selain area santai dan foto-foto di bawah, ada juga beberapa spot foto menarik di sekitar air terjun. Pokoknya nggak akan kehabisan tempat foto deh di sini.

foto : koleksi pribadi

Puas main-main di bawah, gue dan sodara2, memutuskan naik mendekati air terjunnya. Iya, jadi ada bebatuan yang letaknya lebih dekat persis di bawah air terjun. Dan itu bisa diakses dengan naik ke atas. Dari atas, pemandangan makin cihui asyik banget ini, suer! (maaf, gue nggak jago promosi). Kalau dari atas, makin kelihatan semuanya kan.
foto : koleksi pribadi. model : adek dan sepupu2 gue

Nah, berhubung memory ponsel gue penuh, jadi gue nggak banyak ambil foto di atas sini, #hiks

Air terjun bisa dinikmati dari super dekat di atas sini. Bahkan bisa berdiri langsung di bawah air terjunnya, karena memang airnya nggak terlalu deras. Puas pepotoan, gue dan yang lain lanjut jalan lagi. Dari petunjuk arah sih ada gardu pandang dan juga goa.
foto : koleksi pribadi. Tirta kanoman

Melewati hutan ponus, akhirnya sampai di bawah gardu pandang. Tapi berhubung di atas sana tampak banyak orang pepacaran, jadi nggak mungkin dong gue ngajakin sepupu2, yang masih unyu2 itu naik #ehehe #modus. Akhirnya kita jalan lagi. Tapi, hmmm ... kok gue nggak nemu goa? Entahlah. Apa salah jalan atau gimana, nggak ngerti. Dari atas sini, kami bisa langsung turun menuju parkiran. Jadi jalan masuk dan keluarnya memang berbeda.
foto : koleksi pribadi. Gunung Putri dari atas

Puasss? Beloooom. Sampai di parkiran, giliran galau. Ini mau pulang aja atau mau naik lagi? Iya, naik lagi. Karena ada obyek lainnya yang katanya nggak kalah keren. Hmmm

Rabu, 04 Juli 2018

Jalan-jalan – Air Terjun Kyai Kate

Belum puas jalan-jalan ya? Jelas doooong.

Hari ketiga lebaran, saatnya jalan-jalan yang benar-benar jalan. Soalnya gue jalan lewat tengah sawah #ehe. Tujuan hari ini adalah air terjun Kyai Kate. Sebenarnya, ini bukan obyek baru sih, tahun kemarin sudah rame juga. Cuma entah kenapa, tempat ini sekarang sudah sepi dan nggak dikelola lagi.

 
di tengah sawah. foto : koleksi pribadi

Oh ya, air terjun Kyai Kate itu letaknya di desa Gunung Condong, kecamana Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Nggak terlalu jauh dari tempat simbah #ehe.

Kalau orang lain datang ke sini naik motor, maka gue dan keluarga datang ke sini lewat sawah. Iya sawah, soalnya lebih dekat lewat sawah. Kalau naik motor bisa sih. Sudah ada jalanan bersemen ke arah area air terjun ini, sayangnya ukurannya nggak terlalu lebar dan cukup curam. Kalau kamu nggak terlalu ahli bawa motor, mending jangan deh.
model by my big-lil-bro. foto : koleksi pribadi

Sebenarnya, ini kedua kalinya gue mampir ke air terjun ini. Duluuuu banget pernah ke sini, sama adek dan sepupu. Saat itu, air terjunnya belum dikelola sama sekali.

 
foto : koleksi pribadi
Air terjun Kyai Kate nyambung sama sungai di dekat rumah simbah. Sebenarnya air terjun ini nggak terlalu tinggi. Tapi area jatuhnya air terjun, atau persis di bawah air terjun, ternyata cukup dalam. Jadi nggak bisa dipakai mandi atau main air. Tapi nggak usah khawatir, karena sungai setelah air terjun ini cukup aman kok untuk mandi, asal tetap hati-hati.

Karena nggak bisa mandi, akhirnya Cuma foto-foto deh. Gue suka dengan foto air terjun, yang ada berkas sinar mataharinya. (gue datang sekitar jam 11-an siang, jadi udah cukup panas). Berkas sinar matahari di foto membuatnya jadi keren. Kayak di obyek wisata cahaya surga, di Jogja, #ehe

foto : koleksi pribadi
Di sekitar air terjun sebenarnya ada beberapa gazebo kecil yang sengaja dibangun juga untuk duduk-duduk. Malah tadinya ada jembatan bambu yang menghubungkan kedua sisi sungai. Sayangnya, jembatan ini sudah nggak ada. Dan gazebo di seberang sungai pun terbengkalai. Sayang banget deh.

Sebenarnya ada banyak potensi yang bisa dikembangkan dari air terjun ini. Semoga ada yang berminat untuk mengembangkanya ya. Kan sayang tuh, bisa buat pemasukan bagi masyarakat sekitar juga.

Oh ya, pas mampir ke sini, kami juga ketemu dengan seseorang bermotor plat merah. Ternyata bapaknya ini dari dinas pariwisata kabupaten. Dia mengambil beberapa foto dan sempat ngobrol juga. Ya semoga ini awal yang baik.

foto : koleksi pribadi
 
Kalau tadi berangkat ke air terjun jalanan turun tajam, maka kembalinya kami harus naik cukup curam juga hosh hosh. Kalau kemarin-kemarin nggak kenal sama namanya keringat sama sekali, maka karena jalan-jalan ini akhirnya ketemu keringat juga, #ehe. Pulang kembali lewat sawah yang padinya sudah besar dan mulai berbuah. Sampai rumah? mandi, shalat, makan dan ... tidur, huehehehehe. Pegel pegel euy.


my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.