Bening Pertiwi

Book, Love, Life and Friendship

Senin, 19 Februari 2018

Enam Ngiri yang Nggak Dilarang

Ngiri sama orang lain, boleh nggak sih? Katanya iri itu hal buruk ya. Ya ... sebenarnya sih tergantung kamunya aja. Kalau gampang kebaperan kalau lihat sesuatu, itu namanya ngiri yang unfaedah. #duhBahasaGue. Lah kalau gitu, ngiri macem apa sih yang berfaedah itu?

 
Pertama, ngiri dalam berbuat baik. Kalau ada orang lain berbuat baik terus ngiri, kemudian melakukan perbuatan baik juga, maka ini ngiri yang nggak dilarang. Justru ini cem ngiri yang dianjurkan banget. Iya lah ... masak mau ikutan berbuat baik, kok dilarang.

Kedua, ngiri sama yang pinter dan berprestasi. Kalau ngirinya terus baper, nyinyir dan ngerusak, itu nggak boleh banget. Tapi kalau ngirinya jadi motivasi buat memperbaiki diri, biar bisa ikutan pinter juga, ikutan berprestasi juga, ya kenapa nggak?

Ketiga, ngiri sama yang kaya. Kaya itu syarat wajib. Iya lah, kalau pengen bisa membantu orang lain, ya syaratnya harus kaya dulu. Kalau ngiri sama kekayaan orang lain, bikin baper, menye-menye dan ngerusak, maka mending ke laut aja deh. Kalau ngiri dengan kekayaan orang lain bikin motivasi buat berusaha lebih keras lagi, bekerja lebih giat lagi, berbagi lebih banyak lagi dan ... seterusnya, maka itu ngiri yang nggak dilarang.

Keempat, ngiri sama penampina menarik, cantik, cakep dan sejenisnya. Ini namanya nggak memandang diri dengan positif. Daripada ngiri sama yang beginian, ngirilah sama orang yang mukanya biasa aja, tapi hidupnya dikelilingi rangorang tersayang. Jadikan ini motivasi, supaya juga bisa seperti itu. Bagi sebagian orang, syarat buat disukai ya muka dan penampilan. Kalau nggak bisa punya dua hal ini, ya udah. Mending cari potensi yang lain dan lejitkan itu, biar kamu juga bisa disayang dan disukai oleh orang lain.

Kelima, ngirilah pada yang serba kekurangan. Kekurangan sikap dan perangai buruk, kekurangan musuh dan kekurangan lainnya. Intinya, ngirilah sama rangorang cem gini, biar hidup kamu lebih selow dan enak buat dinikmati.

Keenam, kalau tadi udah ngiri sama yang serba kekurangan, sekarang ngirilah sama yang serba kelebihan. Kelebihan harta dan hartanya itu disedekahkan pada orang lain. Kelebihan perangai baik, hingga orang lain nggak pernah melihat catat sikap dan perangainya. Kelebihan ibadahnya, hingga susah banget dikejar. Nah irilah sama rangorang cem gini. Ya kalau nggak bisa melebihi mereka, paling nggak mepet lah di belakangnya.

Ketujuh, irilah sama penulis. Karena penulis selalu bisa tersenyum meski entah seperti apa isi hatinya. Karena penulis selalu punya cara dan tempat untuk membahagiakan orang lain lewat tulisan-tulisannya.

Hehehe ... yang ketujuh ini agak maksa ya? Biarlah ... setidaknya gue bahagia dan gue berharap orang lain yang membaca tulisan ini juga ikut bahagia. #mariTertawaBersama

Kamis, 15 Februari 2018

Tujuh (dulu) Alasan Menulis

Waktu promo buku baru, ada rekan kerja yang tanya, “Kenapa sih menulis?” Dan kemudian gue mikir, iya ya, kenapa sih gue nulis. Dan akhirnya pertanyaan itu pun nggak ada jawabannya, lantaran gue terlanjur kehilangan arah #halah dan tak tahu harus menjawab apa.

 
Malam ini, saat bongkar-bongkar buku untuk nyari bahan tulisan, nemu salah satu buku lama yang ngebahas soal ‘kenapa menulis’. Emang dulu, kenapa sih gue nulis ya? Bingung juga, harus jawab gimana. Jawaban standar gitu ... kalau nulis gini, gini dan gini. Kalau nggak nulis gitu, gitu dan gitu. Hmmm. Jadi, malam ini gue akan coba buat list, alasan gue menulis.

Pertama, menurut gue, menulis itu jauh lebih mudah dibandingkan bicara. Iya, gue bicara lebih banyak dibanding menulis. Tapi tetap saja, rasanya lebih mudah menulis dibanding bicara. Bagi orang introvert cem gue, lebih mudah mengekspresikan diri lewat tulisan. Karena, kalau gue ekspresif dikiiit aja, maka muka gue akan kelihatan ‘krik krik’, nggak ada lucunya sama sekali. Kalau ini di depan orang? Kan gawat tuh. Sementara dengan tulisan, gue bisa bebas berekspresi model apapun tanpa harus takut menjadi krik krik. Ok, bagian pertama aja udah krik krik ini ^_^

Kedua, berhubung gue nggak bisa nyanyi, main musik ataupun olahraga, setidaknya ada sesuatu yang bisa gue lakukan. Iya, gue bukan tipikal makhluk populer di sekolah. Nyanyi nggak bisa, main musik payah dan olahraga sungguh ... ah, nggak usah diceritain ya. Jadi, ini pilihan gue, menulis. Gue bisa bebas mencoba berkali-kali, gagal berulang kali dan bahkan bangkit dan lari lagi tiap kali gue gagal atau jatuh. Hmmm ... kirakira gitu.

Ketiga, kalau nggak nulis, mungkin gue udah gila. Iya, gila. Karena rasanya otak gue ini terlalu penuh. Jadi, kalau nggak ada yang dituangin ke kertas putih, bisa-bisa berasap ni kepala dan gue nggak tahu bagaimana nasib gue besok pagi. Karenanya, menulis selalu jadi pilihan terbaik.

Kadang gue mikir, emang gue nggak pernah berpikir kalau menulis itu punya alasan lain, alasan sosial misalnya, selain alasan personal di atas tadi? Hmmm ... entahlah. Karena bagi gue, menulis adalah me time, waktu pribadi yang membuat gue merdeka. Waktu pribadi yang sifatnya personal banget.

Lanjut ya, alasan keempat gue menulis adalah uang. Iya, gue tahu, berapa sih penulis dibayar di negeri ini? Kalau nggak seterkenal Raditya Dika atau sepopuler Tere Liye, jelas honor menulis Cuma akan habis dalam beberapa hari aja. Tapi anehnya, gue tetap bertahan mengumpulkan rupiah demi rupiah—yang sebenarnya nggak banyak-banyak amat—dengan cara menulis lagi dan lagi. Aneh. Udah tahu penulis itu kere, tapi kok ya gue tetap bertahan ya? Ini sungguh misteri. Btw, sebenarnya gue juga pengen jadi penulis kaya lho ya. Iya, penulis yang kaya, dalam arti sebenarnya.

Kelima, kalau menurut salah satu penulis favorit gue, alasan menulis itu karena dakwah. Lebih tepatnya dakwah bil qalam, dakwah lewat tulisan. Gue Cuma mikir, kira-kira alasan satu ini sudah masuk list alasan menulis gue atau belum ya? Hmmm ... ok, anggap aja yang satu ini adalah harapan.

Kalau yang kelima tadi masih bersifat harapan, maka yang keenam ini adalah salah satu alasan gue menulis. Gue pengen bahagia dan bisa membahagiakan orang lain. Jadi gini, buat gue nulis itu salah satu kegiatan yang bikin perasaan bahagia dan kepala lebih enteng. Nah, gue punya keinginan kalau tulisan yang gue buat juga bisa dibaca dan bikin orang lain ikutan bahagia. Itu cem ... kalau orang lain bahagia, maka kebahagiaan itu juga akan kembali ke gue, suatu saat nanti. Cem nanem bibit aja sih, nanti kalau udah tumbuh dengan baik, ada saatnya gue untuk memanennya.

Well, tiap orang jelas punya alasan berbeda-beda untuk menulis. Baik alasan personal ataupun alasan sosial, itu hak masing-masing orang. Karena pada akhirnya, itu semua adalah pilihan. Dan kewajiban manusia biasa cem gue ini, untuk tanggungjawab soal pilihan yang sudah gue ambil. Btw, sebelumnya gue juga udah pernah buat tulisan cem ini ya? Hmmm ... agak lupa sih. Tapi ya, kalaupun ide dan isinya sama, itu tetep tulisan gue ya. Alasan gue menulis mungkin saja berubah ataupun berbeda dengan sebelumnya. Karena hidup terus berlanjut.

Niat hati Cuma mau posting tulisan ini, eh jadi inget ada satu lagi. Ok, yang ketujuh, alasan gue menulis adalah karena menulis membuat gue punya temen. Iya, temen-temen dari jauh, dari mana saja yang nggak terduga sama sekali. Temen-temen yang kenal karena tulisan hingga akhirnya bisa ngobrol lewat aplikasi pesan, meski belum pernah ketemu sama sekali. Temen-temen yang dikangenin ketika lama nggak ngobrol, temen-temen yang nggak segan ngasih kritik dan saran atas tulisan gue dan ngasih pujian untuk tulisan yang menarik. ah .... teman-teman yang luas biasa.

Btw, tulisan ini masih bisa berubah lho ya, tergantung situasi dan kondisi #ehe

Ok, lets check another page

Dan tulisan ini gue tutup dengan quote dari bias gue “lets make another page, so it will not be last page of our book”. Thanks, my dear #smoch

Sabtu, 03 Februari 2018

Biar Cupu, Penting Mutu (Susahnya jadi Guru zaman Now)

Kali ini saya setuju dengan gaya eja, soal bikin panggung sendiri daripada ngerusuh di lapak orang.

Tulisan ini dimulai dari insiden yang terjadi dan viral beberapa hari belakangan. Ketika seorang guru yang ‘nyolek’ pipi muridnya dengan kuas lukis berakhir menjadi pesakitan dan kehilangan kesempatan melihat calon anaknya yang—bahkan—belum lahir.

Ada komentar menarik beredar di salah satu media sosial. Dan yang lebih menarik lagi, setiap orang bebas berkomentar apapun itu. Ah, saya ini Cuma apa sih, Cuma guru cupu. Karenanya, Saya lebih suka bikin panggung sendiri.

 
Si netizen ini mengkritiki guru yang menghukum siswa dengan mencolek pipi si siswa dengan kuas lukis dan cat. Katanya, dalam mendidik, kontak fisik ndak diperlukan. Lalu ada netizen lain yang mengatakan, ‘menepuk pundak anak sebagai tanpa penghargaan juga merupakan kontak fisik lho’, kemudian komentar berubah muter-muter. Si netizen ini mengatakan kalau, sebaiknya mendidik itu ndak perlu kontak fisik. Kalau si anak mengganggu di kelas, ya dihukum misal di ‘strap’ berdiri di depan kelas, atau dibiarkan saja tidur daripada ganggu teman-temannya di kelas. Ini katanya solusi daripada menggangu. Atau dikeluarkan dari kelas. Hmmmm ... ada netizen lain malah menawarkan, ‘gimana kalau situ nyoba ngajar di sekolah lama saya’. Nah si net ini berdalih, ndak berani. Wong situ saja mundur apalagi ‘saya’ yang Cuma random komentator. Sumpah ya, saya ngakak bagian satu ini. Kena kan lo! Apalagi katanya, lebih baik kalau hukumannya bersifat mempermalukan saja, tanpa kontak fisik. Catat ya, mempermalukan tanpa kontak fisik. Emang tidur di kelas itu bukan suatu hal yang memalukan ya? Emang ganggu pelajaran itu bukan suatu hal yang memalukan ya? Faktanya, semua hal itu sekarang sudah dianggap biasa saja. Hhhh ... tenang, jangan emosi dulu, tarik napas panjang.

Duh, rasanya tuh banyak banget hal yang pengen ditulis jadinya.

Pertama, anak zaman sekarang alias kids zaman now, berbeda dengan anak jaman dulu. Dihukum berdiri di depan kelas? Paling Cuma cengar cengir ndak jelas. Ndak ngerasa sebagai hukuman dan kemungkinan jera, kecil. Dibiarkan tidur di kelas? Ini penyakit menular, satu tidur yang lain akan ikut tidur. Dan lagi, enak banget ya, yang lain belajar, gurunya cuap2 di depan kelas, eh tidur seenaknya. Sebegitu merdunya kah suara sang guru hingga bisa buat tidur. Dikeluarkan dari kelas? Hahahaha... buat kids zaman now, ini namanya rezeki nomplok. Iya kan? Dikeluarkan dari kelas, ya ke kantin lah, nongkri cantik atau nyari tempat enak buat tidur. Jadi ... hukuman seperti ini masih cocok sama kids zaman now? Situ sehat?

Hukuman lain seperti lari keliling lapangan, dijemur sambil hormat dan berdiri di depan bendera, dihukum bersih-bersih WC atau hukuman fisik cem gini ... sekarang udah ndak laku. Udah ndak ada lagi takutnya. Justru kesempatan buat ngacir pergi. Duh dek ... situ sehat?

Kedua, guru menghukum atas dasar rasa sayang. Dan mbak mas netizen yang terhormat, dalam menghukum, guru juga punya rasa. Hukuman berbeda akan diberikan untuk pelanggaran berbeda. Tingkatan hukuman pun berbeda, sesuai pelanggaran ataupun kebutuhan. Bingung? Gini ya, saya jelaskan ... misal si anak tidur di kelas. Hukuman paling ringan, si guru akan menyuruh teman sebangku si anak untuk membangunkannya dan menyuruhnya cuci muka. Kalau tahap pertama ini ndak berhasil, guru akan mendekati meja si tidur dan menyuruh langsung. Kidz zaman old? Bangun, malu langsung cuci muka. Kidz zaman now, dengan entengnya bilang ‘ngantuk, Bu/Pak’ tanpa rasa bersalah. Duh dek, situ sehat? Nah kalau udah dua kali tahap masih belum mempan, apakah guru harus diam saja? Kalau didiemin, dianggap ndak becus ngajar, dianggap ndak bisa mengajarkan moral sama anak. Kalau ditegur agak berani, khawatir jadi masalah. Misal nih ya, si anak dilempar pakai kapur setelah dua teguran pertama, kira-kira masih wajar ndak? Udah tiga kali loh ya. Jadi yang keterlaluan itu gurunya atau anaknya?

Dalam kasus pak guru kesenian yang lagi viral itu, saya percaya banget, kalau peringatan cem contoh di atas sudah dilakukan. Jadi ndak tiba-tiba nyamperin meja si murid langsung tau-tau nyoret pipi pakai kuas. Atau ... pelanggaran sudah dilakukan berulang kali—tidur dan ganggu teman lain—, sudah ditegur ‘halus’ berkali-kali juga, tapi ndak mempan. Jadi, kalau sang guru kemudian maju dan Cuma ‘nyolekin’ kuas ke pipi, ini kira-kira yang kebangetan siapa, guru atau muridnya?

Okelah, paragraf di atas memang Cuma asumsi saya, Cuma kira-kira dari pengalaman saya. Tapi kira-kira ini ndak jauh beda dengan yang saya alami kan?

Ketiga, ndak ada pekerjaan tanpa resiko. Pun pekerjaan sebagai seorang guru. Kalau bahas soal gaji guru honorer, ndak bakalan selesai. Pokoknya, kalau bahas gaji manusia honorer—apapun pekerjaannya—ndak bakal ada endingnya. Akibat banyak banget insiden ‘pelaporan’ guru oleh orang tua alias kriminalisasi guru, maka peran guru pun bergeser. Bukan lagi mendidik dan mengajar, tapi Cuma jadi mengajar aja. Terserah mereka mau berangkat, masuk ke kelas atau ndak, ikut pelajaran atau ndak, asal guru ngajar dan bisa kasih nilai, ndak peduli soal moral lagi, daripada masuk bui. Mungkin itu isi hati sebagian guru. Lha iya kok, apa-apa sudah jadi kriminal. Dikit-dikit dilaporkan ke komnas perlindungan anak, tapi ndak ada komnas perlindungan guru. Ah, saya lelah. Gimana mau ngajarin moral kalau endingnya bui? Ogah saya juga.

Kalau muridnya bobrok moralnya, guru yang disalahkan. Dianggap ndak bisa mendidik. Tapi kalau memberikan pendidikan sedikiiiiiit aja, udah bui aja yang jadi tempat tidur barunya. Lah, serba salah jadinya. Terus mau apa?

Memang, ndak semua anak bobrok. Ndak semua anak hiperaktif apalagi super kreatif. Faktor pembentuk dan pendukung karakter anak banyak dan dari mana saja. Kalau kreativitas si anak tersalurkan dengan baik, ndak akan jadi masalah kan? Anak super kreatif, itu wajar. Kreativitas yang luar biasa, itu bagus. Asal di jalur yang benar, cocok dan sesuai. Ndak ngaco apalagi ngerusuh di lapak orang.

Benar banget, mendidik itu ada cara dan seninya. Bener banget, saat ini bukan lagi zaman militer yang menggunakan kekerasan fisik. Bener banget, mendidik kidz saman now jelas berbeda dengan kidz zaman old. Ndak bisa disamakan lagi. Dan berurusan dengan orang tua zaman old juga berbeda dengan orang tua zaman now. Catet yang ini juga ya. Guru zaman now ndak Cuma berurusan sama kids zaman now yang super kreatif, tapi juga orang tua zaman now yang super emejing.

Mendidik itu berarti mengajarkan ilmu dan moral, memberikan ‘reward’ untuk suatu hal baik dan memberikan ‘punishmen’—hukuman untuk suatu hal yang ndak baik. Ndak ada guru yang berniat menyakiti muridnya. Semua hukuman yang diberikan semata-mata untuk pendidikan. Sebisa mungkin guru juga memberikan hukuman yang paling ringan, seringan-ringannya. Tapi jika hukuman ringan ndak mempan, kira-kira wajar ndak kalau tingkat hukuman dinaikkan? Kalau hukuman model omongan dan pelototan mata udah ndak mempan, terus guru diam aja gitu? Kalau diem aja, batal dong mendidiknya. Bener, kekerasan dalam bentuk apapun ndak diperbolehkan dalam dunia pendidikan. Baik guru kepada siswa apalagi siswa kepada guru. Lha terus kalau nyolek pipi pakai kuas itu kekerasan ya? Kalau njewer telinga udah dianggap kekerasan juga? yowes, saya lelah nek gini. Lha kon piye coba.

Alasan beberapa orang tua anak-anak kreatif protes dengan hukuman guru, karena di rumah mereka tidak pernah memperlakukan itu pada anak mereka sendiri. Nah, sekarang pertanyaanya, apakah dengan cara ‘tanpa kekerasan’ itu, anak-anak panjenengan itu sudah bener semua? Nurut dan belajar dengan benar? Atau Cuma pembenaran saja? Silahkan jawab dulu pertanyaan ini, sebelum memberikan komentar lain.

Tapi nuwun sewu, nggik mbak mas netizen yang terhormat. Kalau ndak pernah punya pengalaman di sekolah, mbok ya ... agak direm itu komentarnya. Saya tantang deh, ngajar di sekolah dengan begitu banyak anak-anak super aktif, super kreatif hingga kreativitasnya kadang benar-benar melampaui batas. Lah saya ini apa, Cuma guru cupu yang ndak punya pengalaman banyak. Saya dididik oleh guru-guru saya dulu dengan penuh disiplin. Jeweran di telinga itu biasa, wajar. Dan itu kontak fisik.

Nanti kalau njenengan itu ngajar di sekolah, mbok saya diajari cara ngajar yang ndak perlu pakai kontak fisik seperti yang njenengan proteskan itu. Ajari kami-kami ini, guru cupu untuk memberikan hukuman yang efektif untuk siswa, tanpa kontak fisik. Ajari kami membuat ‘jinak’ anak-anak hiperaktif di kelas dengan kreativitas luar biasa itu. Dan tolong ajari kami juga, cara membuat anak-anak itu semangat belajar. Silahkan berikan kami contohnya. Lha kami ini Cuma guru cupu bin ndeso yang ndak punya banyak pengalaman, lulusan kampus yang Cuma tahu rumah sama kampus. Njenengan yang rajin dan ‘random’ komentar itu mungkin punya pengalaman lebih banyak dari kami, mbok silahkan dibagikan. Biar kami ini agak punya jalan terang dalam menghadapi kidz zaman now yang luar biasa ini.

Sungkem deh, buat mbak mas netijen yang bisa memberikan pencerahan pada kami, guru cupu ini.

Maaf, terlalu random curhatan ini. Hanya resah dan gelisah. Ya namanya juga guru honorer. Jadi mohon maaf deh, kalau kami-kami ini akhirnya jadi cupu dan kurang kreatif, hingga sering kehabisan cara ‘non fisik’ untuk menghukum siswa sangat luar biasa di kelas.

Saya tahu, saya ini Cuma guru cupu. Ndak punya banyak pengalaman. Dan ndak pantes komentar sepanjang ini. Wong ini bukan komentar apalagi kritik kok. Saya Cuma lagi ngomong sama diri sendiri, kebetulan aja ada yang baca. Saya Cuma sedang mengingatkan diri sendiri, kalau butuh guru yang luar biasa untuk bisa menghadapi kidz saman now dan orang tua zaman now. Saya Cuma sedang mengingatkan diri sendiri, kalau untuk menghadapi kreativitas kids zaman now yang emejing itu, maka saya perlu juga jadi guru greatif yang lebih emejing lagi.

Saya tahu, tulisan ini beresiko. Tapi, ini saatnya untuk bicara. Karena sudah lelah bin mbededeg nonton komentar ndak ngerti situasi. Maaf, kalau bahasa yang saya pilih kali ini agak kasar.


Jumat, 02 Februari 2018

(Menjadi) Guru We O We

Alhamdulillah telah lahir dengan selamat ...

buku pertama di tahun 2018 ^_^
Judul : Guru Wow untuk Kids Zaman Now
Penulis : Alifiana Nufi, Aswary Agansya, Bening Pertiwi dan Fasih Dwi Yuani
Penerbit : Penerbit DIVA Press
Jumlah halaman : 252 halaman
Jenis buku : non Fiksi
Ukuran : 14 x 20 cm
Cetakan pertama, Februari 2018
Harga : Rp 60.000,-

'Dilihat dari kaca mata orang tua, tidak sedikit kelakuan anak masa kini yang mungkin terasa aneh, nyentrik, atau bahkan kurang sopan. Sehingga, menjadi guru di era sekarang memiliki tantangan sangat tinggi.

Di buku ini, Anda akan menemukan cerita dan pengalaman mengajar yang dilakukan oleh Alifiana Nufi, Aswary Agansya, Bening Pertiwi dan Fasih Dwi Yuani. Mereka akan mengajak Anda menjelajahi dunia murid dari berbagai tingkat pendidikan.

untuk kids zaman now, gurunya juga harus We-O-We juga dong ya

Dapatkan buku ini di Gramedia, Togamas dan toko buku terdekat di seluruh Indonesia ^_^ 
Mau diskon khusus? Sssst ... langsung pesan aja lewat Kak Nita (0818 0437 4879)
Diskon khusus bulan Februari juga masih berlaku untuk pemesanan langsung lewat Bening. PM langsung ya, untuk tanya-tanya diskonnya. Boleh lewat twitter @Bening_Pertiwi, email bening.ip2389@gmail.com atau http://facebook.com/bening.pertiwi


Jumat, 26 Januari 2018

Jangan Patah Hati

“Jangan patah hati, ini berat. Kamu nggak akan kuat. Cukup aku aja.”

Nggak ada niat ngerusak quote yang tadinya punya Dilan lho ya. Cuma lagi penge ngepasin sama situasi saat ini.
Dear, katanya, semakin tinggi pohon, maka makin kencang juga angin yang berembus. Begitu juga dengan kamu, iya kamu. Sebuah cerita tentang perjuangan seorang anak manusia dengan karya-karyanya. Skandal, hmmm ... bahkan tidak banyak hal yang bisa diceritakan tentang ini. Rumit, manusia terlalu rumit. Entah apa yang mereka pikirkan, dan entah apa yang kamu pikirkan sekarang. Satu hal yang perlu untuk dilakukan adalah ... memberikan pundak ini untukmu bersandar sejenak dan mengulurkan tangan ini untuk memelukmu.

Dear, beberapa hari ini jadi hari yang berat untukmu, kan? Kamu tetap kuat kan? Kamu sudah berusaha dengan baik kan? Syukurlah, karena itu artinya kamu tidak perlu khawatir. Karena kamu sudah berusaha dan melakukan semuanya dengan baik. Jadi, tetap tegakkan kepalamu dan tersenyumlah. Kamu juga pernah mengatakan itu kan, jangan sampai kehilangan senyum.

Dear, jangan patah hati. Berat. Cukup aku aja.

Dear, jadikan ini pelajaran agar kamu lebih dewasa lagi. Dan buktikan kalau kamu tetap jadi kamu. Buktikan dengan karya-karyamu nanti. Buktikan kalau kamu masih akan tetap jadi manusia yang layak untuk selalu dicintai dan ditunggu karya-karyanya. We believe in you, my dear.

Dear, minimal dua tahun nggak akan bisa melihatmu. Yang lain juga akan segera nyusul kan? Jadi dua tahun itu paling cepet. Bisa jadi tiga tahun atau bahkan empat tahun. Tenang aja, kalian pernah janji kan bakalan jadi granpa-band, kalau gitu janji dari kami juga yang akan jadi granma-fans. We’ll wait for all of you.

Maaf, kalau isi tulisan ini benar-benar curhatan. Tapi serius deh, cukup aku aja yang patah hati ya, janji?




Sabtu, 20 Januari 2018

Jangan Meludah di Sumur tempat kamu Mengambil Air

Ini postingan kedua di 2018.

Seseorang pernah mengatakan itu pada suatu waktu. Jangan meludah di sumur tempat kamu mengambil air. Jangan menjelek-jelekan tempat kamu mencari rezeki. Prinsip itu yang semula begitu sulit untuk dipahami.

Situasi yang jauh berbeda tetapi mirip, rupanya terjadi lagi. Sebuah rasa tidak puas membuat banyak hal terasa aneh dan tidak nyaman. Nyatanya, tidak banyak yang bisa dilakukan.
Memang tidak pantas, meludah tapi ternyata airnya tetap diambil. Memang tidak pantas menjelek-jelekkan tempat mencari rezeki. Tapi, ada kalanya rasa tidak puas jauh lebih menguasai. Semakin tahu bobroknya, rasanya semakin sakit dan nyesek. Hingga saking malunya, tidak berani untuk ‘membanggakan diri’ dalam rangka promosi dan semacamnya.

Sayangnya ketidakpuasan itu hanya akan tetap dalam tempurung kepala. Sayangnya, rasa tidak puas itu hanya terucap di mulut yang wajahnya menghadap cermin, hingga mengalir air mata. Sayangnya, semua rasa tidak puas itu, tidak pernah terungkapkan dengan gamblang dan jelas. Sayangnya, tidak ada keberanian untuk mengungkapkannya. Adakah waktu dan kesempatan yang tepat dan lapang untuk mengungkapkan semuanya? Semoga bisa. Bukan untuk mengubah semuanya, itu butuh proses. Hanya paling tidak ... mengurangi rasa sesak di dada, itu saja.

Seperti bom waktu, yang bisa meledak kapan saja. Perumpamaan itu sepertinya cocok. Jika menarik nafas panjang dan mengembuskannya tidak lagi bisa untuk membuat semuanya lega. Maka sumbu bom itu pun akan semakin pendek dan siap meledak kapan saja. Haruskah semakin tebal memakai topeng atau bahkan memasang tameng ‘tidak peduli’ di wajah? Kalau perlu, lakukan.

Semoga ada cara untuk bisa membuat semua lebih baik. Ya, kalaupun tidak bisa mengubahnya menjadi lebih baik, paling tidak, bisa memaksa hati, bisa mengubah hati untuk lebih lapang dan sabar menerimanya.


Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Bening has read 1 book toward her goal of 24 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.