Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 04 Juli 2015

Story – Jalanan Berdebu

Lama nggak posting disini, hehehe. Soalnya kesibukan kembali di blog satu lagi, seperti biasa-lah. Terus ini ngapaian? Ada sedikit cerita yang pengen Na bagi. (bahasamu Na)

Sebenernya, ini cerita minggu lalu. Tapi karena baru sempat nulis sekarang, posting sekarang aja deh. Jadi, minggu lalu, gue diajak ayah ke sebuah SMP yang cukup terpencil. Di kota kecil tempat tinggal gue, ada empat SMP negeri. Dua SMP berdekatan dan sisanya berjauhan. SMP 3 di ujung selatan kecamatan, sebaliknya SMP 4 di ujung utaranya.

Yang tanya ngapaian gue kesana, ini dalam rangka mencari ‘peluang’. Itu pun kalau pada paham maksud gue, huehehehehe. Ini mah nggak usah dibahas ya.
Jarak sekolah ini dari rumah ortu gue sebenarnya nggak terlalu jauh, mungkin sekitar 5-6 km. Cuma yang jadi mas-alah, adalah jalannya yang sangat amazing. Menurut katepe, status tinggal gue disini sekitar 20 tahun. Tapi, waktu sebenarnya gue tinggal disini sekitar 9 tahun. Kemana yang lain? Sisanya lebih banyak gue habiskan di luar kota. Biasalah anak kos-an. Jadi, waktu pertama kali dateng ke SMP 4 ini, dan ketemu jalan yang amazing, gue syok. Jadi, masih ada jalan begini parah ya disini?

Dari jalan raya, sebenarnya ada sekitar 300-500 m jalan yang beraspal baik. Cuma sisanya ternyata jauh dari kata baik. Di musim kemarau kayak gini aja udah sengsara rasanya kalau harus kesana setiap hari. Apalagi di musim hujan. Jalanan becek, penuh lubang, bebatuan terjal yang ditata di jalan. Belum lagi ada satu area yang lewat daerah hutan, tanpa rumah penduduk di sekitarnya, errrrr. Jadi, jarak 5-6 km yang kalau jalan normal rata hanya butuh sekitar 10 menitan, akhirnya harus ditempuh lebih dari setengah jam. Untung ayah cukup tangguh menaklukkan jalanan parah ini, errrr

Tadinya gue ditawari kesana. Tapi setelah lihat jalannya yang amazing gini, gue mikir ulang. Ya kali, badan gue bakalan remuk redam tiap hari harus lewat jalan itu. Belum lagi kalau hujan. Dan akhirnya dengan berbagai pertimbangan, akhirnya gue pun batal menderetkan nama gue disana. Ah mungkin lain kali. Hmmm
Selain jalan yang amazing, gue juga dibuat syok dengan salah satu bukit di sisi jalan yang udah nggak sekedar botak lagi, tapi udah bolong tengahnya. Ok, nggak usah dibayangin. Gue sempat lihat satu kendaraan berat yang biasa buat ngeruk tanah atau pasir itu lho. Di depannya emang sih, ada deretan bata yang siap dibakar. Mungkin sebagian memang dibuat bata. Tapi, sebagian besar tanah itu ternyata dibawa ke tempat lain. Buat apa? Kalau orang gue bilang ‘tanah urug’. Tanah yang dipakai untuk meninggikan area yang akan dibuat bangunan. Errr … terus lama-lama bukit bakalan habis donk ya? Kalau longsor atau banjir, gimana coba. Dan gue Cuma bisa nyengir prihatin lewat jalan sana.

Duh … bukit botak aja udah parah, apalagi tanahnya diambil gini. Begitulah negeri ini. Bahkan di daerah gue sendiri ternyata terjadi seperti ini. Saat sawah satu per satu petaknya akhirnya berubah jadi hutan beton, tanpa rancangan yang memadai untuk ruang hijau.

Ah, gue bisa apa? Huks …

2 komentar:

  1. ini tadi cukup bingungn pas baca: jalannya cukup amazing, hehehe...

    sayang sekali ya tanahnya dikeruk-keruk begitu... dan tetap saja, walaupun bersimpati, berempati, berkartuas dan berim3, kita selalu keganjal banyak hal, terutama administratif plus birokratif untuk bisa melakukan sesuatu buat mereka :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe
      gambarnya nggak nyambung sama isi tulisannya ya

      iya, sayangnya kita cuma orang biasa
      yg cuma bisa bilang prihatin, tapi nggak bisa berbuat banyak

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.