Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 23 September 2015

CERPEN - Hari Ini Aku (sedang) Mati

 Cerpen "Hari Ini Aku (sedang) Mati" tergabung bersama Antologi Cerpen "Matinya Lelaki yang Mencintai Peri", terbit Desember 2014. Dalam antologi ini sy menggunakan nama pena Elang Kelana.

Indra menjejakkan kaki dengan langkah tergesa sepanjang koridor kampus. Ingin segera ia menumpahkan kekesalannya yang kian memuncak. Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi Indra untuk berbeda pendapat dengan dosennya satu itu, tapi kali ini benar-benar sudah diluar kesabarannya. Segera setelah sampai di pintu ruang teater, Indra menghempaskan tasnya dengan keras.

“Hei, loe kenapa sih Bro? Baru datang udah marah-marah gitu?” tegur Awan kawan satu timnya yang tengah duduk menghadap laptop di karpet ruang teater. “Pak Himawan lagi?”

“Gue ga ngerti sama dosen satu itu. Selama ini beliau kan yang paling getol mendukung mahasiswanya membuat konsep baru, bahkan yang beda dari biasanya. Tapi kenapa sekarang gini? Ini udah kali kedua gue nemuin dia dan berusaha meyakinkannya kalau kita bisa mementaskan naskah itu di pentas akhir semester, hfth,” Indra meluapkan kekesalannya di depan sahabatnya itu.

“Jadi masih dengan alasan yang sama juga?” selidik Awan.

“Ya. Gue bener-bener ga ngerti, Bro. Pertama, naskah itu memang bukan naskah kita. Selama ini, beliau ga pernah protes meski naskah yang kita pentaskan itu bukan naskah kita, asal gaya pementasannya adalah gaya kita. Alasan kedua, Pak Himawan ga pernah memberikan jawaban pasti tentang kenapa kita dilarang mementaskan naskah ini. Bahkan sejak awal, dia langsung kaget waktu gue menyodorkan naskah dengan judul Hari Ini Aku (sedang) Mati itu. Gue bener-bener ga ngerti,” keluh Indra lagi.

“Ok, gini aja. Nanti coba kita share lagi sama anak-anak yang lain. Siapa tahu mereka punya solusi untuk membujuk Pak Himawan. Lagipula, anak-anak juga udah sepakat dengan naskah ini kan?” Awan menyodorkan solusi.

“Thanks ya Bro. Tapi, loe ga apa-apa kan kalau kali ini kita tukeran peran? Gue bener-bener tertarik sama naskah ini,” lanjut Indra mulai melunak.

“Sip lah. Sekali-sekali juga menarik kalau gue main di panggung, ga melulu di balik panggung jadi sutradara,” jawab Awan senang.

Ruang teater sepi. Bukan karena anak-anak tidak tertarik dengan ruangan ini, tapi saat ini sebagian besar anak-anak lain masih di kelas untuk aktivitas kuliah masing-masing. Pentas akhir semester mahasiswa jurusan teater memang tinggal tiga bulan lagi. Tapi ini bukan waktu yang panjang untuk latihan dan benar-benar menyelami peran masing-masing.

* * *

Siang berikutnya, Indra masih ngendon di ruang teater. Jadwal kuliahnya hari ini cancel semua karena beberapa dosen sedang mengikuti workshop dan aktivitas lain. Indra memanfaatkan hari ini untuk memilah solusi dan argumen apa yang nantinya akan disampaikan—lagi-lagi—untuk meyakinkan Pak Himawan, dosen penanggungjawab pentas akhir semester ini.

“Indra?” sebuah suara merdu memecah keasyikan Indra.

Indra menolah ke arah si pemilik suara merdu itu. Tampak sesosok gadis manis berlesung pipi dengan rambut lurus sebahu anak jurusan televisi itu sedang berdiri di pintu ruang teater,“Utami?” Indra tidak percaya.

Gadis yang disebut Utami itu memamerkan senyumnya, “Iya, ini aku Utami. Eh Awan ada?” tanyanya kemudian.

“Eh oh, sorry. Awan ada kuliah. Katanya ganti jam waktu kosong minggu kemarin,” Indra grogi pada gadis di depannya yang dulu pernah jadi pujaan hatinya itu.

“Oh gitu,” Utami mendesah kecewa.

“Eh tapi, kalau mau nunggu ga apa-apa. Masuk aja,” tawar Indra.

“Mmm,” Utami tampak berpikir. “Ok deh, kalau ga lama aku tunggu. Sebenarnya aku juga ga bisa lama-lama. Aku kesini untuk ngasih ini sama Awan.”

Indra bangun dari duduknya dan mendekati Utami, “Boleh tahu, ini apa?” tanyanya kemudian.

“Ini, kemarin Awan kan cerita kalau naskah kalian yang judulnya apa tuh, Hari Ini Aku (sedang) Mati masih belum dapat persetujuan Pak Himawan. Jadi Awan minta bantuanku untuk mencari referensi pentas naskah ini dulu di file anak televisi. Tapi, aku malah nemu hal ini,” Utami menunjukkan beberapa file dari koran lama yang sudah menguning.

Naskah Hari Ini Aku (sedang) Mati dibuat oleh salah seorang siswa Insitut Seni angkatan pertama tahun 1972 yang tidak diketahui namanya. Naskah ini pertama kali hendak dipentaskan dalam rangka pementasan akhir semester. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi sebenarnya, tapi beberapa minggu sebelum naskah ini dipentaskan, pemeran utama pria ditemukan meninggal dengan menggenaskan di kamarnya. Tidak diketahui apa penyebab kematiannya.

Utami menunjukkan beberapa guntingan koran lain yang bertanggal masing-masing empat tahun sejak persitiwa 1972. Berita di Koran itu membuat mata Indra semakin terbelalak. Di setiap file disebutkan kalau tiap akan dipentaskan, naskah itu selalu meminta korban. Akhirnya, naskah itu belum pernah berhasil dipentaskan. Pun ketika di tahun 1992 ada sekelompok mahasiswa yang berkeras akan mementaskan naskah itu, dengan mengganti sang pemeran utama, terhitung beberapa jam sebelum pentas, si tokoh utama ditemukan meninggal tanpa sebab yang jelas.

“Kamu yakin kalau berita ini benar?” kali ini Indra menatap Utami meminta kepastian.

“Yakin seratus persen. Sebenarnya, aku menemukan file-file ini diantara file-file terlarang,” Utami menurunkan suaranya. “Tapi karena khawatir pada kalian, makannya aku nekat mengambilnya. Aku ga berani mengkopinya, takut naskah ini rusak. Oya, sejak tahun 1992, tidak ada lagi berita tentang naskah ini. Sepertinya pihak kampus maupun pihak-pihak lain yang mengetahui memilih diam dan menutupi kejadian sebenarnya. Naskah itu juga seharunya sudah dihancurkan,” lanjut Utami.

“Pantas saja. Sekarang aku ngerti, kenapa Pak Himawan kaget waktu aku menyodorkan naskah ini padanya. Rupa-rupanya Pak Himawan juga tahu tentang naskah ini,” gumam Indra.

“Ndra, kalau boleh tahu, darimana kamu mendapatkan naskah ini? Karena seharusnya naskah ini sudah tidak ada kan?” selidik Utami.

“Oh eh, itu aku temukan di salah satu file lama di perpustakaan. Ups, maksudku di gudang perpustakaan. Kau tahu kan, kalau tidak ada ide kadang aku suka sedikit nekat?” canda Indra. “Hahahaha, jadi kau percaya dengan mitos naskah ini?”

“Percaya atau ga, itu terserah kamu Ndra. Aku Cuma mengingatkan, banyak hal yang tidak kita ketahui disini. Lagipula, tidak disebutkan dengan jelas juga apa penyebab kematian si pemeran utama karena naskah itu. Tapi . . . “ ucapan Utami terputus.

“Kau khawatir pada Awan kan?” tembak Indra kemudian. “Awan pantas mendapatkan gadis sebaik kau, Utami,” ucap Indra dalam hati.

“Itu . . . “ Utami tersipu dengan ucapan Indra.

“Sudahlah, aku ngerti koq. Siapapun pasti akan menghawatirkan orang yang disayangi kan?” Indra mencoba mencairkan suasana.

“Mmm, Awan koq lama ya?” Utami mencoba mengalihkan perhatian.

“Oh ya. Gini aja, kalau kamu buru-buru, biar aku aja yang menyampaikan ini pada Awan. Sekalian nanti aku share dengan anak-anak yang lain juga,” tawar Indra.

“Gitu ya, oke deh. Trims ya,” Utami pamit dan berlalu pergi.

Indra masih memperhatikan kepergian gadis itu dari hadapannya. Cintanya yang terpendam sejak tahun pertama di Institut Seni ini harus kandas ketika sahabatnya sendiri, Awan yang berhasil meluluhkan seorang Utami. Dan akhirnya, Indra hanya bisa tersenyum pahit menertawakan kebodohannya sendiri.

Indra kembali memandangi beberapa lembar file koran yang ditinggalkan Utami tadi. Ia kembali memikirkan perkataan Utami. Antara percaya dan tidak. Antara idealisme dan realita yang mungkin terjadi. Indra memandang langit, kemudian tersenyum pada keputusan yang baru saja dibuatnya.

* * *

Hari berikutnya,

Kali ini ruang teater cukup ramai, banyak yang tengah berkumpul disana. Mereka menunggu kedatangan Indra yang berjanji akan membawa kabar secepatnya atas rencana pentas mereka kali ini. Awan sendiri sudah datang dan mulai memimpin latihan vokal untuk jadwal latihan sore ini.

Dari lorong sebelah ruang teater tampak sesosok gadis berambut sebahu berjalan tergesa. Ia ingin segera sampai di ruang teater, gadis itu Utami.

“Awan!” setengah berbisik Utami memanggil nama kekasihnya itu.

Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi baginya, Awan berbalik. Dilihatnya gadis yang sudah hampir empat bulan ada di hatinya itu memanggil. Setelah menyerahkan pimpinan latihan vokal pada anak lain, Awan berjalan keluar. Ia mengajak Utami berbicara sambil menjauh dari riuh ruang teater.

“Apa apa? Kenapa kamu kelihatan panik gitu?” Tanya Awan penasaran.

“Hari ini kamu udah ketemu Indra? Titipanku kemarin udah disampaikan Indra?” selidik Utami.

“Satu-satu dong pertanyaannya Tami sayang. Hari ini aku belum ketemu Indra, dan aku juga ga tahu titipan apa yang kamu maksud,” jawab Awan.

“Kemarin aku kesini, nyariin kamu. Aku bawakan beberapa file yang kamu minta soal naskah kalian itu, dan karena kamu ga ada, jadi aku serahkan sama Indra. Kata Indra nanti diserahkan kamu sekalian di share sama anak-anak lain.”

“File? File apa?”

Utami lalu menceritakan berita menyangkut naskah itu bertahun-tahun silam. Sementara Awan menyimak dengan tegang di depannya. Nyaris tidak satu katapun dilewatkan Awan dari cerita gadis di depannya itu. Semua yang dikatakan Utami benar-benar di luar dugaan. Awan sendiri tidak menyangka kalau semua sampai sejauh ini.

“Indra bilang, mungkin itu alasan Pak Himawan melarang kalian mementaskan naskah itu,” Utami menutup ceritanya.

“Jadi . . . ,” ucapan Awan terputus.

“Iya, Indra sudah tahu semua. Aku khawatir Wan. Aku ga mau terjadi apa-apa pada kalian. Meski jujur, aku juga tidak sepenuhnya percaya dengan mitos itu, tapi aku benar-benar takut,” sambung Utami.

“Semalam, Indra datang ke kosku,” cerita Awan.

“Dalam kondisi hujan lebat semalam?!” Utami tidak percaya.

“Iya. Dia datang basah kuyup. Dan tiba-tiba, dia minta tukar peran denganku. Awalnya dia yang begitu berhasrat untuk menjadi sutradara pentas ini, tapi semalam dia memintaku untuk menyutradarainya. Sementara dia kembali ke atas pentas menjadi pemeran utama,” Awan tampak berpikir.

“Awan,” suara Utami semakin khawatir.

Segera Awan meraih ponsel di sakunya dan dinyalakannya benda mungil itu. Loading yang biasanya cepat pun entah kenapa terasa begitu lama kali ini, “Cepetan!” desah Awan tidak sabar. Segera dicarinya kontak dengan nama Indra di phonebook-nya. Setelah menekan tombol dial, didekatkannya ponsel itu ke telinga, menunggu.

Nut nut nut . . . Nada sambungan terputus yang terdengar. Kali kedua Awan mencoba menghubungi nomer itu lagi, dan hasilnya sama.

“Gimana?” Utami semakin panik.

Awan masih berusaha menghubungi ponsel sahabatnya itu. Tapi berkali itu pula, nada sambungan terputus yang terdengar. Kepanikan perlahan menjalar ke jantung Awan. Akhirnya ia melihat ke arah Utami sambil menggelengkan kepala.

“Kalau gitu, kita ke rumahnya,” saran Utami cepat, bersiap melangkah.

“Tunggu!” Awan menghentikan langkah Utami. Beberapa detik sebelumnya ternyata ada sebuah sms yang masuk ke ponselnya, dari nomer yang dihafal Awan.

Indra kec lalin, skrg kritis di Sarjdito. Devi
Sender : Indra (+86712233445)
“Awan?” Tanya Utami penasaran.

Awan lalu menunjukkan pesan di ponselnya yang dikirim Devi, kakak Indra.

“Indra,” desis Utami lemas kemudian ambruk.

* * *

Malam sebelumnya,

Indra memandangi naskah di tangannya, naskah berdarah. Antara percaya dan tidak, Indra berharap kalau semua kejadian terkait naskah itu hanyalah kebetulan belaka. Tapi, bagaimanapun Indra tidak akan tega kalau sampai kejadian buruk itu benar-benar terjadi. Apalagi menimpa Awan, sahabatnya. Bukan, bukan demi Awan saja sebenarnya, tapi lebih tepat demi Utami. Indra tidak rela kalau sampai Utami terluka jika terjadi hal-hal buruk pada Awan. Meski tidak pernah berhasil memiliki hati Utami, Indra masih menyimpan nama gadis itu dalam hatinya. Indra tidak ingin Utami terluka, karena itulah ia mengambil pilihan ini.

Indra menyambar mantol yang tergantung di dinding garasi rumahnya. Dikeluarkannya dan dinyalakannya vixion warna merah menyala itu.

“Utami, meski tidak memilikimu, aku masih tetap berharap untuk melindungimu, dengan caraku sendiri,” desis Indra pelan sebelum melepas rem dan mulai menarik gas motornya dengan kencang, menerjang hujan.
 
 

7 komentar:

  1. Balasan
    1. terimakasih. ditunggu komen+saran lainnya ^_^

      Hapus
  2. 1. mentaskan naskah itu di pentas akhir semester, hfth,” Indra meluapkan kekesalannya di depan sahabatnya itu. = Sebelum tanda petik, titik bukan koma.
    2. “Indra?” sebuah suara.. = sebuah, S font kapital
    3. ya, oke deh. Trims ya,” Utami pamit dan berlalu pergi. = titik sebelum tanda petik
    4. Endingnya tidak membuat penasaran. Mungkin lebih "jleb" keterangan sebelum tanda *** di akhir itu dihapus.
    5. All, alurnya runtut. Maaf dan trims :-)

    BalasHapus
  3. terimakasih mas danang, untuk koreksinya yg lengkap
    untuk ending, sy memang sengaja buat supaya orang berpikir, kalau kejadian pada si Indra ini bukan karena 'kutukan' naskah itu. Tapi memang murni kecelakaan.
    tapi terimakasih untuk sarannya

    BalasHapus
  4. Bagus. Nanti malam dibahas lebih detail di grup whatsapp ya...

    BalasHapus
  5. Bagus. Nanti malam dibahas lebih detail di grup whatsapp ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya riana
      komen/saran/masukan dari temen2 juga udah aku balas kok, hehe

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.