Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 30 Desember 2015

Story – Maaf Tuan, Kisah Kita Belum Layak Ditulis

Maaf Tuan, Kisah Kita Belum Layak Ditulis. Kalimat ini terinspirasi dari tweet tetapi dengan obyek berbeda.

Jadi keingat akhir Agustus. Jumpa untuk pertama kalinya dan mungkin satu-satunya. Tawa untuk pertama kalinya. Sapa untuk pertama kalinya. Dan entah kenapa, rasanya ingin mem-bully-mu. Bukan karena benci atau apa, hanya saja itu terasa menyenangkan. Bagiku, itu cara untuk bisa akrab denganmu. 


Entah apa yang terjadi setelahnya, karena satu jumpa dan satu sapa ternyata berbekas berbulan-bulan setelahnya. Oh, tolong aku. Aku tak mau terpenjara dengan semua rasa semu ini. Karena ini sama sekali tidak nyata.

Pun setelahnya, kuhabiskan banyak malam menulis tentang kamu. Tentang perjumpaan sesaat yang pertama kalinya. Tentang sapa dan obrolan singkat hari itu. Tentang … ah. Anehnya, jumpa yang hanya sekali itu, nyatanya justru menghasilkan banyak tulisan tentangmu. Aneh kan? Padahal harusnya aku katakan padamu dengan jelas, “Maaf Tuan, kisah kita belum layak ditulis.”

Tuan, berbulan-bulan setelahnya. Bahkan setelah tulisan ini pun, mungkin yang sekali itu akan terus menjadi alasan untuk menulis tentang kamu, Tuan. Ah Tuan, aku tidak ingin tahu apa yang kau pikirkan tentang tulisan ini. Aku hanya ingin menulis dan terus menulis, memuaskan egoku untuk terus mengenangmu.

Aku justru takut untuk jumpa lagi. Karena bisa saja, jumpa kedua dan lainnya akan menorehkan luka hingga aku lupa rasanya menulis tentang Anda, Tuan. Biar saja, itu jadi jumpa pertama dan satu-satunya saja. Jadi yang terkuaskan di hati, adalah kenangan indah yang selalu membuatku bisa menulis lagi dan lagi.

Ah ya, boleh kan ya kalau aku sering-sering mampir dan membaca tulisan di blog-mu itu? Bukan apa-apa, aku hanya ingin mencari inspirasi tulisan di sana. Karena aku benar-benar suka membaca tulisanmu itu. Tulisan yang menunjukkan betapa seksi otakmu bersama isinya.

Tuan, terimakasih atas sua dan sapa yang sejenak dan satu-satunya itu. Aku suka itu. Lebih baik demikian. Agar tidak perlu kugoreskan pisau di hati, karena tidak bisa mengerti. Lebih indah melihatmu terbang dengan bebasnya. Tanpa perlu ada ikatan atau rasa tanggungjawab apapun. Karena aku tahu benar, kau tidak mau menggores luka, karena juga tidak ingin terluka.

Tuan, maaf kalau aku masih terus menulis tentangmu. Tentang waktu yang sangat singkat itu. Ah, benar. Terimakasih sudah jadi inspirasi tulisan-tulisanku.

#untukTuanOtakSeksi

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.