Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 20 Januari 2016

Inspirasi – Duratmaka dan Lokawacana

Ada yang tahu arti dua kata di atas, Lokawacana dan Duratmaka? Sepertinya akan menarik ya buat disimak. Dua kata ini memang tidak banyak digunakan dan tidak terlalu lazim digunakan dalam kosakata bahasa Indonesia. Eits, meski bahas tentang bahasa, bukan berarti saya ahli bahasa. Cuma pengen sedikit menulis tentang ini ya.
pusatmakalah.com

Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu, tetiba saya terobsesi dengan sebuah drama kolosal lama jaman saya masih kecil dulu. Awalnya karena drama itu ditayangkan ulang di tv, dengan pemain dan versi masa kini, tetapi tetiba hilang dari daftar tayangan. Apa lagi alasannya selain rating. #duh

Karena itulah saya kemudian berburu versi aslinya yang tayang nyaris 20 tahun silam. Meski kualitas gambarnya nggak terlalu bagus, tapi drama waktu itu ternyata keren abis. Ceritanya sendiri adalah adaptasi salah satu sandiwara radio yang pernah ‘ngehits’ juga nyaris 30 tahun silam. Tentang sosok fiksi yang hidup dalam salah satu perjalanan sejarah negeri ini, pada masa akhir kerajaan Singasari dan awal kerajaan Majapahit.

Sssst, udah deh bahasa dramanya

Yang pengen saya bahas di sini adalah kata-katanya atau percakapan di drama itu. Seperti halnya ciri drama kolosal lainnya, drama ini menggunakan sistem pengisian suara (sulih suara) atau ‘dubbing’. Dan karena berlatar sejarah, maka bahasa yang digunakan tentu bahasa Indonesia baku yang benar. Akan jadi aneh kan, kalau masa itu tetapi orang-orangnya bicara dengan bahasa ‘gaul’ dan ‘alay’ seperti di masa sekarang.

Ada dua kata yang saya temukan menarik dari percakapan di drama itu. Pertama adalah “duratmaka”. Ada yang tahu arti kata ini? Ternyata artinya adalah ‘maling’ atau ‘pencuri’. Kata duratmaka ini digunakan oleh tokoh raja dalam drama tadi dan beberapa orang lainnya di sekitarnya. Saya sendiri tidak bisa menjelaskan arti harfiah kata ataupun sejarah di balik kata itu. Tapi yang jelas, kemungkinan istilah ini adalah istilah yang berhubungan dengan bahasa jawa kuno yang masih digunakan di negeri ini, pada masa kerajaan tersebut.

Kata kedua yang menarik saya adalah ‘lokawacana’. Artinya adalah desas-desus atau isu. Dalam bahasa Indonesia, kata desas-desus lebih ‘Indonesia’ya, dibanding kata isu yang berasal dari bahasa asing. Seperti duratmaka, lokawacana juga digunakan raja dan orang-orang di sekitarnya.

Oh ya, dalam pengucapan pun, kedua kata ini disesuaikan dengan logat Jawa. Lokawacana diucapkan sama persis dengan huruf-huruf penyusunnya. Berbeda dengan ‘duratmaka’ yang diucapkan ‘a’ oleh orang umumnya, tetapi dalam bahasa jawa, huruf ‘a’ pada kata ‘maka’ diucapkan sebagai ‘o’.

Saya tidak yakin kenapa tetiba tertarik dengan dua kata ini. Dan justru berpikir untuk menggunakan kata ini dalam tulisan masa kini. Tapi masih cocok nggak ya?

Seperti halnya kata ‘efektif’ dan ‘efisien’ yang lebih populer, lantaran berasal dari bahasa asing. Padahal sebenarnya, kosa kata bahasa Indonesia juga memiliki persamaannya yang benar-benar berasal dari Indonesia, yakni ‘mangkus’ dan ‘sangkil’. Tapi ya itu, karena nggak bisa digunakan, alhasil nggak terkenal, ya kan?

Ok, itu sedikit cerita tentang dua kata yang tetiba menarik untuk saya. Sampai jumpa di ulasan lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.