Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 23 Januari 2016

Jalan-Jalan – Pantai Teluk Penyu, Cilacap

Jadi sebenarnya, ini cerita liburan akhir tahun kemarin. Tapi karena satu dan banyak hal (malesnya kumat), jadi baru bisa posting sekarang. Hehehe.

Kami sekelurga berangkat dari rumah sekitar jam 8 pagi. Perjalanan dimulai ke arah timur melewati Karangpucung, Lumbir hingga Wangon. Meski libur, ternyata jalanan nggak semacet perkiraan awal. Langit juga masih terang benderang. Perjalanan bisa ditempuh dengan kecepatan sekitar 60-70 km/jam karena jalanan yang cukup mulus. Meski di beberapa tempat, tetap saja sih masih harus melewati ranjau (baca:lubang/cekungan).
Sampai perempatan besar Wangon, kami belok kanan, ke arah Cilacap melewati Jeruklegi. Lepas dari perempatan, jalanan masih lancar jaya dan halus. Nggak butuh waktu lama sampai kami lewat gapura ‘Selamat Datang Kabupaten Cilacap’ yang terletak persis di sebelah Bumi Perkemahan Jambusari di kecamatan Jeruklegi. Buper (bukan ‘baper’ lho ya) ini punya banyak kenangan buat saya.

Setelahnya, jalanan berubah menjadi penuh ranjau lantaran baru saja di cor ulang, dan belum dihaluskan dengan aspal. Jalanan yang sama sekali nggak asyik ini masih ditambah dengan pemandangan di sekitar pabrik semen di kiri jalan yang luar biasa panasnya, lah hem. Tapi cukup terhibur sih waktu lewat padang golf ‘Tritih’ di sebelah kanan. Sayangnya nggak lihat pesawat capung ataupun helicopter lewat, yang biasanya transit di landasan udara ‘Tunggul Wulung’ yang masuk area padang golf ini.
Dua jam setelahnya, kami akhirnya masuk ibukota kabupaten. Arah kiri kami pilih, karena arah kanan adalah jalan alternative menuju Jogja. Perjalanan setelahnya melintasi kota dengan sederet lampu merah yang bikin frustasi. Sekitar dua kilometer dari pusat kota, akhirnya kami sampai juga di gerbang lokasi wisata ‘Teluk Penyu’.
Teluk penyu sekarang sudah jauh berbeda dengan bertahun silam. (iya lah, terakhir ke teluk penyu juga kapan). Sekarang sudah lebih rapi. Di depan pintu masuk pun sudah ada taman dengan tulisan TELUK PENYU. Selain itu, di kanan dan kiri jalan dipenuhi para penjual berbagai macam ikan beserta olahannya. Hmmm … agak amis sih, jadinya. (amis versi bahasa Jawa lho ya, bukan amis versi bahasa Sunda)
Oh ya, untuk masuk ke area Teluk Penyu, tariff masuk dihitung tiap orang. Untuk hari libur, tiap orang hanya dikenai lima ribu rupiah. Murah kan?

Nah, karena pengen nyante, dari gerbang pantai, kami belok kanan. Sekitar satu kilometer, kami berhenti di pinggir pantai yang tidak jauh dari gerbang pengolahan minyak Unit Pengolahan (UP) IV Cilacap. Nah, kalau dari sini udah asyik pemandangannya. Selain aromanya udah nggak amis, banyak penjual makanan dan banyak spot asyik buat sekedar duduk-duduk menikmati siang.
Karena dari rumah udah bawa bekal, segera kami menyewa tikar dan pesan … mendoan hangat. Duh, emang nggak lengkap ya orang cilacap kalau nggak makan mendoan. Sambil menikmati semilir pantai siang, mendoan jadi teman yang asyik. Bekal makan siang pun dibuka. Kalau dipikir lagi sih, kayak pindah tempat makan doank.
Setelah makan nih, kami menyempatkan untuk main-main sebentar di pantai. Karena nggak bawa baju ganti, jadi ya nggak basah-basahan deh. Lagian pasir di sini kan pasir hitam alias pasir besi, ntar lebih susah bersihinnya dibanding pasir putih.

Selain pengamen yang lalu lalang, para pemilik kapal juga berkali menawarkan penyeberangan ke pulau nusakambangan di seberang. Dengan tariff 20 ribu per orang, kami bisa menyeberang ke sana sekaligus diantar balik juga. Tapi eh tapi, nggak ada yang mau diajakin. Huh!!!

Emang sih, udah pernah ke nusakambangan. Tapi kan dari pelabuhan berbeda dan lewat jalur berbeda, dan yang pasti menggunakan kapal penyeberangan. Kalau kali ini kan benar-benar wisata, pakai sampan pula. Baiklah, mungkin lain kali ya.
Oh ya, yang jadi cirri khas dari pantai Teluk penyu adalah pemecah ombak. Meski dari namanya aja udah kelihatan ya, ‘teluk’ artinya laut yang menjorok ke darat dan lagi ada pulau Nusakambangan di selatan yang bisa jadi penghalang, tapi di pantai ini tetap ada pemecah gelombang. Ini berhubungan juga dengan pelabuhan bongkar muat yang ada tidak jauh dari pantai ini. Biar ombak di pelabuhan nggak terlalu besar.

Pemecah ombak ini biasanya digunakan orang-orang yang ingin menguji nyali, berjalan di atas beton dengan lebar sekitar 30 cm dengan ombak di bawahnya dan angin semilir yang makin kencang semakin ke tengah. Tapi, ada juga yang sengaja menuju ujung pemecah ombak untuk sekedar memanding ikan. Asyik deh pokoknya.

Puas bermain di pantai, kami shalat dzuhur bergantian. Obyek berikutnya adalah benteng pendem yang tidak jauh dari pantai. Tinggal nyebrang jalan aja. Sayangnya, nggak bisa masuk area pengolahan minyak ya. hahaha … ya iyalah.

Dulu sih pernah masuk ke sana, tapi itu juga karena rombongan pelajar se-kabupaten. Kalau orang umum, jelas nggak boleh masuk. Dan lagi, tidak boleh menggunakan ponsel atau kamera di area pengolahan minyak, bahaya katanya.

Oh ya balik ke benteng pendem. Sambung ke postingan berikutnya aja ya, hehehe

2 komentar:

  1. salfok ke tempe mendoannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayok mampir ke sini
      nanti sy buatnya mendoan anget #ehe

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.