Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 09 Januari 2016

Story – Buah Persik Terbalik di Boncengan Belakang

Pernah naik motor dan disuguhi pemandangan buah persik yang dibalik? Ah persik susah dibayangin ya, buah pear yang dibalik deh. Masih susah juga? Gini deh, dua balon yang didekatkan sampai berhimpit. Sekarang bisa dan ngerti maksudnya kan? Iya, bagian belakang yang otomatis kelihatan kalau lagi naik motor. Balon berhimpit yang ada di boncengan belakang motor.
www.kompnetblog.com
Ini terjadi pagi-pagi. Hari itu, gue baru aja mau ke kampus. Ini kejadian udah lama sih, tapi entah kenapa gue masih saja terusik dan pengen banget menuliskannya. Jalanan cukup padat di pagi hari. Dan saat terburu-buru, eh malah disuguhi pemandangan yang sama sekali nggak indah gitu.

Ya ampun, gitu amat sih elo? Syirik?

Haloooo … gue bukan sirik ya. Gue Cuma gerah aja sama pemandangan begituan. Apaan coba. Masak, pagi-pagi udah dibikin kesel kayak gitu. Emang elo-nya sendirinya nggak merasa risih apa, dilihatin setiap pasang mata di jalanan? Errrr …

Pemandangan yang sama sekali nggak indah ini tercipta karena beberapa hal sekaligus. Pertama, ketidaksadaran (atau kesengajaan) si pelaku. Udah tahu mau naik motor, bonceng pula, eh masih maksa pakai model jeans bawah pinggang dan tanktop ketat ukuran S dengan panjang mengkhawatirkan. Iuuuuh. Masih mending kalau sadar diri. Ganti baju yang lebih manusiawi kek, atau paling nggak pinjem tuh jaket orang yang ngebonceng elo. Masalahnya, nggak sedikit pelaku yang nggak sadar udah bikin polusi pemandangan gini.

Kedua, bentuk motor cowok. Nah ini biasanya terjadi kalau pakai motor model cowok. Biasanya jok boncengan di belakangnya lebih tinggi kan dari depan? Jadi otomatis si pembonceng juga akan membonceng agak nungging gimana gitu. Ini juga sama sekali nggak elok. Halooo … kalau tahu model jok motornya gini, elo, pemilik motor paling nggak ingetin lah yang mau bonceng sama resikonya. Syukur sadar diri, pinjemin jaket deh biar agak ademan dikit.

Gue nggak akan bahas soal agama di sini. Semua udah tahu lah ya, gimana ‘status’ pemandangan nggak elok ini dari sudut pandang agama.

Gue Cuma ngomong sebagai sesama pemakai jalan yang terganggu dan merasakan polusi pemandangan di pagi hari. Nggak pagi hari aja sih, lain waktu pun, pasti ngaruh lah. Coba, berapa mata yang udah nengok bin melotot ke pemandangan ini. Iuuuuh … serius ini!

Meski gitu, gue anggap ini sebagai pengalaman berarti banget. Ada pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman sama sekali nggak enak dan bikin enek ini. Pertama, gue harus tahu jok motor yang akan gue naiki kalau ngebonceng. Kedua, jaga-jaga lah. Namanya juga bonceng. Paling nggak pake baju yang panjangnya melebihi pantat saat berdiri, jadi kalau bonceng, masih ketutup lah. Nah buat jaga-jaga, bisa juga sedia jaket atau apalah. Ketiga, mending gue yang di depan jadi sopir, daripada di belakang jadi pusat perhatian yang … nggak banget.

Jujur, gue risih sama pemandangan buah persik kebalik ini. Gue aja sebel. Jadi gue ngebayangin, orang lain juga pasti sebel kalau misal aja, ngelihat gue ngebonceng ala buah persik kebalik ini. So, hal pertama yang selalu gue ingatkan sama diri gue dan selalu gue pastikan, jangan sampai terjadi salah kostum apalagi gagal kostum. Ini penting!

Huaaaa … ini curhatan nggak bener!

Ada dua hal yang selalu gue benci kalau naik motor di belakang kendaraan lain. Yang pertama, adalah pemandangan menjijikan ala buah persik kebalik. Dan yang kedua, lampu sein. Errrr … yang kedua gue bahas lain kali ya.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.