Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 18 Juni 2016

Resensi – Waktu Tak Meminta untuk Menunggu, Tapi Manusia-lah yang Memilihnya

Resensi – Come Back To Me




Judul: Come Back to Me
Penulis: Arini Putri
Editor: Tharien Indri
Penerbit: Twigora
Cetakan: I, Januari 2016
Tebal: viii + 378 halaman
ISBN: 978-602-70362-5-3
Harga: Rp 77.000,00

Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali saya membuat resensi. Dan resensi pertama di tahun 2016 akan jadi awalnya lagi. Jadi, mohon maklum jika ternyata banyak nggak sesuai perkiraan ya.

Hal pertama yang menarik perhatian saya saat melihat novel ini di deretan rak buku di Gramedia adalah ‘Twigora’. Belakangan saya memang sedang ingin sekali menulis untuk lini satu ini. Karena tahun kemarin resolusi untuk menyelesaikan tulisan dalam rangka lomba Twigora gagal, jadi tahun ini saya ingin kenalan lebih jauh dengan buku-buku terbitan Twigora lebih dulu.

Ini pertama kalinya saya baca tulisan Arini Putri. Padahal sudah ada beberapa buku lainnya yang juga diterbitkan.

Novel Come Back to Me ini menceritakan tentang dua orang tokoh yang memiliki latar belakang sama sekali berbeda. Benang merah di antara mereka sudah terhubung sejak mereka masih sama-sama kecil. Meski wujud benang merah itu baru benar-benar terlihat saat keduanya sama-sama dewasa.

Tokoh Cedric atau Ced, seorang lulusan jurusan managemen yang cinta mati pada kayu bertemu dengan tokoh Senna, seorang gadis buta pembuat cookies. Sekilas, rasanya sangat tidak mungkin kalau kedua tokoh ini akan dipertemukan. Tapi, penulis ternyata berhasil mempertemukan keduanya dalam sebuah cerita yang manis yang mengalir.

Pada bagian-bagian awal novel, saya memang masih belum terlalu menikmatinya. Tapi menjelang pertengahan novel, cerita yang disajikan makin membuat saya merasa perlu bertahan dan menyelesaikan lembar demi lembarnya. Dengan bahasa yang sederhana dan tidak terlalu mendayu-dayu apalagi lembek, penulis berhasil menggambarkan sosok Ced sebagai pembangkang rapuh tetapi keras kepala yang berhasil dilunakkan oleh sosok Senna yang lembut di luar tetapi keras hati di dalam.

Perjalanan kisah cinta keduanya tentu tidak mudah. Ada saja rintangan yang harus dihadapi. Dimulai dari ayah Ced, teman-teman Ced hingga perasaan Senna sendiri yang masih belum mau membuka hatinya.

Romantisme keduanya terbangun secara alami dan tidak maksa. Proses saat Ced maupun Senna akhirnya menyadari perasaan masing-masing pun dibangun dengan baik. Perjalanan keduanya, serta perubahan kedewasaan keduanya juga digambarkan secara wajar, mengalir dan (sekali lagi) tidak ‘maksa’. I love this.

Untuk sebuah novel romantis, buku ini memang sedikit tebal. Ada beberapa bagian yang sebenarnya bisa dihilangkan. Ya, meski memang bagian-bagian itu sebenarnya pemanis cerita. Tapi bagi saya yang lebih suka alur cepat, bagian-bagian itu memang cukup mengganggu.

Selain itu, saya juga menyoroti kalimat-kalimat percakapan yang diungkapkan ayah Ced. Sebagai sosok yang digambarkan kaku dan tegas serta tidak mau dibantah, kata-kata ‘nggak’ dan beberapa yang lain, menurut saya kurang cocok. Memang sih, buku ini dibuat untuk konsumen remaja-dewasa yang akan lebih nyaman membaca bahasa lisan gaul. Tapi bagi saya, akan lebih cocok jika ucapan-ucapan ayah Ced ini juga menggunakan bahasa baku. Ini untuk memperkuat karakternya yang disebutkan kaku serta tegas.

Secara keseluruhan, novel ini menarik. Saya juga membuat review singkatnya di Goodreads. Karena cukup tebal dan merupakan genre romantis yang tidak butuh ‘rasa penasaran’, saya menyelesaikannya cukup lama. Mungkin lebih dari satu minggu. Tapi paling tidak, saya tidak dibuat kecewa dengan endingnya. Tetap manis tetapi tidak ‘maksa’ apalagi terlalu manis.

Rating dari saya, 7/10. Selamat membaca


0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.