Book, Love, Life and Friendship

Minggu, 31 Juli 2016

Duhai penulis kece, berapa banyak hati yang sudah kamu patahkan hari ini?

Saya menyesal harus sua dengan kamu malam itu. Hanya karena rasa penasaran dari tingkahmu yang menyebalkan di balik ponsel, saya pun terjerembab jatuh ke lobang sesak ini.

Apa kamu tahu, duhai penulis kece? Sua dan sapa pertama itu, adalah palu besar yang berhasil membuat dentam hati ini kembali bertalu. Dan bodohnya, saya masih keras kepala untuk datang dan berharap sapa berikutnya di sua kedua denganmu. 
sumber : wattpad.com

Bodoh, saya benar bodoh. Lihat sekarang, saat jarak pun terentang, saya bicara pada diri sendiri, ini percuma. Tapi hati tidak mau tahu, duhai penulis kece. Setiap hati dipasangkan di dalam rongga tubuh manusia, bukan untuk disakiti. Tapi nyatanya, saya menyakiti diri saya sendiri, karenamu, penulis kece. Bahkan saat saya berusaha keras mengenyahkan tiap goda untuk mengingatmu, jari saya berlari sendiri. Seperti punya nyawa yang kemudian menarikan ketukan membentuk serangkai kata menuju rumahmu, rumah dari setiap karyamu.

Bahkan sekarang, penulis kece, saat sua mungkin tidak akan pernah terjadi lagi, ternyata saya masih terpenjara. Saya selalu tidak mampu menahan goda untuk memanjakan mata, mengobati haus pikiran dan lelah hati, membaca tiap bait yang pernah kamu tuliskan di rumahmu. Rumah sebelah, yang damai.

Lihat sekarang! Saya bahkan terlalu bodoh untuk beranjak dari rumahmu. Dari semua tulisan-tulisanmu yang membuat saya makin gila. Ya, saya memang berhasil memaksa hati ini berhenti jatuh cinta padamu, duhai penulis kece. Tapi saya tidak pernah sanggup untuk berhenti menggilai tiap hasil ketukan dari keyboard laptopmu. Yang kamu tuliskan dalam malam-malam penuh renungan. Yang kamu rangkai dari setiap keresahan yang menggenggam kerinduan. Dari tiap kesendirian yang menciptakan jala-jala mesra yang mendekap kematian.

Beberapa waktu lalu, saat sebuah pertanyaan dari saya terlontar, “Kenapa kamu sudah bicara soal kematian di pagi buta?” Dan jawabanmu memaksa saya memejam mata, merasakan kehangatan adamu, “Karena tidak ada yang lebih mesra dari itu.”

Tidak, saya bahkan tidak tahu lagi mana yang saya jatuh cintai. Atau mungkin, mana yang saya bangun cintai. Kamu atau tulisanmu. Hanya saja, semakin lincah tarian jarimu, semakin riuh isi rumahmu, maka saya semakin gila, jatuh cinta dan patah hati sekaligus karenanya.

Duhai penulis kece, berapa banyak hati yang sudah kamu patahkan hari ini?

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.