Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 20 Juli 2016

Istana Ratu Boko dan Kisah Cinta yang Belum Usai

Reruntuhan istana Ratu Boko yang terletak di selatan candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, belakangan memang mendadak lebih tenar dari biasanya. Apalagi beberapa spot-nya juga dijadikan tempat syuting kelanjutan film galau—yang tetap menyisakan kegalauan dan ketidakpuasan—yang tetap bikin galau. Tidak, saya tidak akan membahas film satu itu, yang judulnya kalau diplesetkan menjadi lucu dan wagu.

Belum lama juga, salah seorang kawan membahas karakter yang tidak muncul pada film kedua. Dan dia bilang soal kekaguman pada karakter itu. Ok, stop. Saya memang tidak akan membahas film itu—eedisitu—. 


Yang ingin saya bahas sebenarnya adalah reruntuhan istana Ratu boko itu sendiri. Ok, saya memang bukan ahli sejarah dan sudah lama tidak membaca soal sejarah. Karena itu, saya tidak akan membahas banyak soal sejarah tempat ini. Karena yang saya bahas, hanya murni yang ada dalam pikiran saya. 


Berbeda dengan candi Prambanan yang terletak lebih rendah, bekas reruntuhan istana sang Ratu ini terletak agak lebih tinggi. Kalau bisa dibilang, justru berada di atas bukit. Jangan heran kalau tempat ini juga jadi salah satu spot menarik melihat matahari terbenam. Tiket khusus sunset cukup mahal, Bro. 


Memang kedatangan saya ke sana tanpa rencana. Setelah sepagian kehujanan di perjalanan menuju tes di sebuah kantor penerbit asal Klaten, siangnya kami disambut mentari yang benar-benar hangat. Dan di tengah bulan Ramadhan yang masih menyengat, motor pun dibelokkan ke arah barat, menuju istana sang Ratu. 


Saya suka menyebutnya demikian, istana sang Ratu. Memang sih, dalam sejarah, cerita soal siapa sebenarnya sang Ratu ini atau bagaimana perannya dalam siklus kerajaan di tanah Jawa tidak banyak diceritakan. Atau bisa jadi, saya yang kuper karena kurang membaca. Silahkan diralat jika saya keliru. 


Jika dilihat dari letaknya yang relatif tinggi, bisa jadi istana sang Ratu ini adalah tempat istimewa. Tapi bisa jadi juga tidak, beda dulu dengan sekarang lho ya. Ratusan tahun sejak istana itu masih tegak hingga kini, bisa jadi sudah banyak hal yang terjadi. Termasuk soal kondisi tanah. 


Sebagai tempat wisata, bekas reruntuhan istana sang Ratu ini sudah ditata sedemikian cantiknya. Levelnya sudah internasional lah, bukan ecek-ecek lagi. Terbukti dengan harga tiketnya yang juga lumayan bagi pengacara—pengangguran banyak acara—seperti saya ini. Tapi semua terbayar dengan penataan dan kecantikan yang memanjakan mata. 


Area bekas istana ini sendiri cukup luas. Beberapa bagian sudah direkontruksi ulang, meski tidak semua dari bahan aslinya karena mungkin sudah hilang atau hancur. Dari areanya yang cukup luas beserta sejumlah bangunan pelengkap, bisa dipastikan jika istana ini memang berfungsi sebagai mana maksudnya. Sebagai tempat tinggal dan menjalankan pemerintahan. Memang sih, masih ada beberapa bagian yang belum selesai dirapikan. Masih banyak bebatuan berserakan yang belum selesai dikumpulkan. Entah akan seperti apa nantinya kalau semua batu itu bisa dikumpulkan. 


Dan imajinasi saya pun menguar. Bagaimana dulu tempat itu begitu hidup dan bernyawa. Bangunan-bangun yang lengkap dengan atap-atapnya. Tilam berhias emas dan perabot lainnya di ruang tidur sang Ratu. Emban serta abdi dalem yang berseliweran. Lalu praja-praja muda yang berjaga di muka gerbang. Ah, sepertinya saya terlalu banyak nonton film ini. Tapi seperti itu imajinasi saya. 


Saya selalu berpikir, bagaimana kalau saya punya kesempatan bisa benar-benar datang dan melihat semua situasi itu dalam waktu aslinya. (ini makin ngelantur deh). Kraton yang masih berfungsi benar sekarang ini (Jogja-Solo) bagi saya masih belum cukup. Karena rasa yang tersentuh saat memasuki gerbang dan area kraton sang Ratu benar-benar berbeda. Seperti, masih ada banyak hal yang belum terkuak sepenuhnya. Masih ada banyak celah dan lorong yang tersembunyi dengan aman dan rapat, menunggu yang empunya kembali dengan kunci di tangan dan menunjukkannya pada dunia. 


Ok, jangan anggap serius imajinasi saya ini ya. Beneran deh, itu murni imajinasi.

Kalau Prambanan menyimpan kisah cinta Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang tidak pernah usai—dengan tambahan Gandrung Wicaksana dalam sebuah novel fiksi—, maka istana sang Ratu juga punya ceritanya sendiri. 


Sebuah kisah cinta yang belum usai. Tentang siapa sebenarnya sang Ratu, tentang apa yang ada di balik bilik-bilik istananya. Tentang apa yang ada di bawah pijakan keratonnya yang berdiri megah dan angkuh di atas bukit itu. 

Ah, sepertinya saya terlalu berlebihan ya. Anggap saja ini Cuma tulisan fiksi, hehehe. Jadi pengen nulis cerpen berdasarkan kisah sang Ratu ini deh. 


Saya berpikir untuk kembali ke sana. Masih ada cerita yang belum usai, dan masih ingin saya dengarkan dan simak lagi.

#sehari saja sepertinya masih belum cukup untuk menyambangi seluruh bagian kraton sang ratu ini. Tapi hari sudah siang dan kaki sudah mulai pegal. Sementara waktu buka puasa masih lama, jadi saya memilih pulang #krikkrik

#btw,maaf kalau kebanyakan foto punggung. Itu semua kerjaan si fotografernya 


6 komentar:

  1. Penasaran...

    Film apa sih yang dimaksud di awal tadi???

    BalasHapus
    Balasan
    1. serius apa bercanda nih?
      ada tuh spoiler judulnya di paragraf dua kok
      hehe

      Hapus
  2. setuju, istana yang itu memang bagus banget :)
    dan rame banget...
    (apa tiap kali saya kesana emang pas musim rame? haha)

    sama kayak komen diatas, filem apa sih? cintanya siapa yang belum selesai sih?
    hmmmm.... *mikirkeras*

    BalasHapus
    Balasan
    1. engngng,bagian itu dibahas lain kali aja deh
      hehehehe

      Hapus
  3. ini tulisan makjleb bgt ^^ kyk nyindir sy cause habis pulang dr bioskop nonton pilem ini sy langsung pengen k tempt ini n balik k Jogja

    BalasHapus
    Balasan
    1. sy lebih galau gegara datang ke spot-nya ini lho
      daripada nonton pelem-nya #ehe

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.