Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 20 Agustus 2016

Kutoarjo - Solo Another Story Part Kesekian

Untuk kesekian kalinya dalam dua bulan, gue harus mengalami perjalanan Kutoarjo-Solo dengan cerita yang berbeda lagi. Setelah tiga minggu silam gue harus mengejar kereta karena bus yang terlanjur mem-php gue, sekarang ceritanya dibalik, gue harus nunggu.

Kalau waktu itu gue berangkat dari rumah jam 1 siang dan harus berkejaran dengan hujan dan kereta, maka kali ini gue memilih berangkat lebih pagi. Bus yang biasanya ada dua, ternyata Cuma satu yang jalan. Gue nggak punya pilihan, kecuali mau bersusah payah lewat Purwokerto dengan waktu tempuh lebih lama. Nah, daripada lama di jalan, gue pun memilih bus yang ada aja, meski dengan resiko harus menunggu lebih lama di stasiun.

Bus Majenang-Purworejo melaju pelan dari terminal pukul 9.45 pagi. Masih ada banyak waktu. Gue nggak harus menunggu Prameks jam 19.05 nanti untuk sampai Solo. Gue bisa naik eksekutif jam 14.14 atau 14.40 untuk bisa sampai Solo. Lebih cepat, meski sedikit lebih mahal.
stasiun kutoarjo, menjelang senja
Tapi lagi-lagi, rencana ya tinggal rencana. Ternyata bus yang gue tumpangi sangat setia dengan jalanan. Jadi jalan pun alon-alon, alias terlalu nyantai. Ya salaaaaam. Kereta 14.14 dan 14.40 pun terlewatkan, karena bus baru sampai Kutoarjo jam 15.00. Ok, baik. Gue pun beranjak ke pilihan lainnya.
tiket Taksaka Pagi - eksekutif

Ada dua pilihan sebenarnya. Menunggu kereta Prameks jam 19.05 nanti untuk sampai ke Solo langsung. Atau pilihan kedua, naik eksekutif sampai Jogja dan nyambung kereta Solo-Jogja yang biasanya ada tiap jam. Pilihan pertama yang gue ambil. Dengan pertimbangan, hari Minggu pasti banyak mudik-ers yang juga balik Solo, jadi pasti kereta akan padat. Ya, meski nanti di Jogja gue juga harus berkejaran dengan waktu, tapi paling nggak ada banyak pilihan kereta di Jogja. Pilihan naik Taksaka Pagi eksekutif jam 15.40 pun gue ambil dengan tarif 30 ribu. Ya nggak apa lah, meski empat kali tarif Prameks, tapi paling nggak gue nggak harus berpenuh ria dan lagi ... bisa mencicipi kelas eksekutif.
nyicip gerbong eksekutif, hehehehe

Gue sampai di Jogja sesuai jadwal, 16.32. Harusnya sih masih ada tiga menit sampai kereta Madiun Jaya berangkat nanti. Kalau nggak kebagian ya, masih ada kereta jam 18.00 nanti buat cadangan. Tapi apa yang terjadi? Ternyata kereta Madiun Jaya yang gue gadang udah nggak jalan lagi. Dan tiket kereta jam 18.00 pun sudah habis tiketnya. Yang ada tinggal tiket untuk kereta jam 20.15. Ya salaaaam. Kalau ikut kereta jam 20.15 ini, artinya gue sama aja ikut kereta jam 19.05 dari Kutoarjo. Mendingan tadi nunggu .... huaaaa

Nggak ada pilihan lain, karena kereta lain akan lebih malam, gue pun ikut antri untuk kereta jam 20.15 ini. Padahal hari baru saja lewat jam 5 sore. Jadi, masih ada tiga jam lagi gue nunggu. Bingung juga sih, mau ngapain lagi. Mau jalan-jalan, takut macet dan makin ketinggalan kereta. Akhirnya gue Cuma nongkri manis di angkringan sambil menikmati wedang jahe panas ditemani nasi goreng. Cukuplah untuk mengisi perut dan membuatnya nggak ribut lagi. Nunggu itu ...

Setelah tiga jam yang nggak jelas, dan sempat sholat juga, ternyata kereta yang ditunggu pun datang terlambat. Ya Salaaaaam. Ini apa lagi coba? Baru jam 20.30 kereta datang. Terlambat 15 menit dari jadwal. Karena dari Kutoarjo sudah penuh, maka bisa dipastikan kereta sudah seperti dendeng. Panas, penuh, sesak, tepaksa ikut masuk. Tapi perjuangan masih belum berakhir. Karena ternyata di stasiun Lempuyangan, Maguwoharjo dan Klaten ternyata kereta berhenti cukup lama. Waktu perjalanan yang normalnya Cuma satu jam 10 menit, molor parah jadi dua jam.

Jangan tanya seperti apa bentuk wajah kucel gue. Jangan tanya sebau apa badan yang sudah tidak mandi sejak pagi.

Setelah hampir dua jam berdiri dalam kereta, akhirnya gue memilih turun di stasiun Purwosari. Jam sudah hampir pukul 23.00 malam. Untungnya, masih ada ojek yang mau mengantar sampai kos dengan tarif biasa, 15 ribu.

Terimakasih untuk temen kos yang sudah meminjamkan kamarnya untuk gue nginep semalam, meski orangnya justru mudik. Hehehehe

Dan perjuangan masih terus berlanjut.

To be continue ...

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.