Book, Love, Life and Friendship

Senin, 29 Agustus 2016

LKS oh LKS, dicari dan dicaci

Sudah tanggal 29 Agustus. Mungkin ini jadi postingan terakhir di bulan ini. Hmmm ... target 8 postingan bisa tercapai lah.

Ok, kali ini saya mau buat tulisan agak serius. Soal LKS atau lembar kerja siswa. Kenapa? Karena sekarang saya harus berhadapan dengan hal ini. 


Beberapa waktu yang lalu, pernah ada beredar perintah pelarangan LKS di sekolah. Setuju ato nggak? Ok, kita bahas satu per satu.

Dari sudut pandang guru :


Idealnya, guru tidak tergantung pada LKS. Memang harusnya guru sendirilah yang mempersiapkan pembelajaran. Termasuk di dalamnya perangkat pembelajaran seperti LKS dan macam-macamnya. Jadi, kalau dilarang adanya LKS, guru yang harus membuatnya sendiri. Ini artinya nambah pekerjaan. Ya, kalau pengen pendidikan keren sih, jelas iyalah. Guru sendiri yang praktek di sekolah, maka guru yang punya kewajiban mempersiapkan semuanya.

Cuma, pernah nggak tanya deh sama para guru itu. Selain mengajar, berapa banyak beban pekerjaan tambahan lainnya yang harus mereka lakukan? Berapa banyak waktu yang harus mereka persiapkan untuk mempersiapkan perangkat pembelajaran itu? Apalagi kalau guru yang harus memenuhi jumlah jam mengajar sebanyak 24 jam. Hmmm ... kalau Cuma satu macam pelajaran yang diampu sih, masih oke lah. Nah kalau ‘guru terbang’, dan macam pelajaran banyak? Ya ... sudah resiko sih. 
Selain itu, LKS juga bikin guru dan siswa jadi manja. Dikit-dikit LKS, nggak bisa ngajar, ya ngerjain LKS, dll. Ah ideal dan realita kadang memang terlalu jauh ya.

Jadi, LKS butuh nggak? Kalau Cuma buat bantuan sih masih OKE lah. Asal nggak tergantung juga. Lagian LKS kan Cuma bantuan, jadi bisalah dan seharusnya dilakukan modifikasi. Kalau perlu buat sendiri, singkirkan LKS.

Dari Sudut Pandang Siswa dan Sekolah :


Buat sekolah dengan kualitas dan input siswa yang baik, maka LKS kayaknya nggak perlu-perlu amat. Mereka sudah cukup dengan buku teks yang bertebaran dan juga soal-soal dari guru yang lengkap.

Bagaimana dengan sekolah pinggiran dengan kualitas dan input siswa yang minimalis? Belum lagi fasilitas sekolah (lab dan buku) yang terbatas, ada kalanya LKS ‘terpaksa’ jadi pilihan lantaran tidak ada buku yang ada. Siswa tidak bisa dituntut untuk beli buku, dengan alasan ekonomi. Siswa terpaksa menggunakan LKS sebagai sumber belajar, karena nggak ada yang lain.

Bagi siswa sekolah minimalis, mau berangkat sekolah saja sudah untung. Masih mau bawa buku sama LKS saja sudah mending. Daripada nggak berangkat sekolah sama sekali, daripada nggak belajar sama sekali. Sekolah nggak bisa maksa mereka buat beli atau memenuhi semua kebutuhan yang masuk hitungan ‘tersier’ atau mewah.

Jadi, LKS masih butuh nggak? Situasi yang memaksa demikian. Ya mau gimana lagi, adanya tinggal pilihan LKS. Mau maksa buat dihilangkan? Ya silahkan. Asal carikan solusi buat sekolah minimalis macam gini. Tanpa menyusahkan sekolah dan siswa dengan situasi terbatas.

Dari sudut pandang orang tua siswa :


Bagi orang tua yang mampu, urusan buku cetak dan perlengkapan pembelajaran lainnya sih bukan perkara sulit. Mereka memang niat menyekolahkan anaknya. Jadi, urusan seperti itu jelas pasti dipenuhi tanpa dipersulit dengan banyak hal.

Nah, bagaimana dengan yang memang tidak punya banyak niat? Atau yang berpikir kalau sekolah Cuma untuk memenuhi aturan 9 tahun wajib belajar. Atau yang sekolah Cuma biar si anak nggak maen aja. Atau bahkan yang kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi. Nah, kalau model seperti ini, masih dipaksa juga harus beli buku? Jadi, kadang LKS mau nggak mau jadi pilihan

Kalau sekolahnya punya fasilitas lengkap, termasuk lab dan perpustakaan, bisa sih pinjem buku. Nah kalau sekolahnya aja minimalis, mau apa? Siswa juga nggak bisa dipaksa juga.

Jadi, LKS butuh nggak? Buat memenuhi kebutuan siswa akan sumber belajar bertemu dengan situasi keterbatasan sekolah dan ekonomi orang tua, jelas masih butuh.

Dari sudut pandang bisnis


Ini urusan beda lagi. Bisnis is bisnis. Kalau nggak ada LKS, atau nggak nyetak LKS, nasib para penerbit kecil tentu sulit. Jadi, mereka jelas butuh LKS untuk dicetak dan diiedarkan ke sekolah-sekolah. Tanpa cetak LKS, penerbit bangkrut. Tanpa LKS, penulis freelance yang masih terseok-seok buat cari uang pun, akan susah.

Misal pun penerbit beralih dari LKS ke buku cetak lainnya, akan beda cerita. LKS dibuat cepat dan laku cepat, serta pasti laku di sekolah. Yang pasti modal buat LKS itu nggak mahal dan besar.

Bagaimana dengan cetak buku? Selain model besar, membuatnya pun lebih lama dari LKS. Pun tingkat laku-nya nggak secepat LKS. Modal balik lebih lama dong. Padahal biasanya penerbit kecil itu modalnya terbatas dan diputar terus. Kalau nggak diputar, modal keburu habis dan nggak ada produksi lagi. Nah lo, repot kan.

Jadi, LKS butuh nggak? Buat penerbit, LKS itu butuh untuk selalu ada dan dicetak serta diedarkan di sekolah.

Kesimpulan


Ok, sekarang kesimpulan. Jadi, LKS itu sebenarnya dibutuhkan nggak? Tergantung situasi dan kondisi, seperti yang saya jabarkan di atas. Kita nggak bisa menyamaratakan semua LKS harus hilang. Atau sebaliknya, semua harus pakai LKS. Pertimbangan LKS ada atau tidak tetap harus memikirkan situasi yang terjadi di sekolah, siswa dan orang tua.

Kalau saya sih, sebagai penulis, LKS jelas salah satu penyelamat dompet. Selain membuatnya cepat, uang cair juga cukup cepat. Jadi memperpanjang isi dompet, hehehe.

Tapi sebagai guru, saya juga pengen bisa lepas dari LKS. Saya juga pengen melihat siswa saya nggak tergantung buku tipis ini dan belajar dari banyak hal yang lebih luas lagi.

Yang jelas, kalau mereka ini (baca : para pembuat kebijakan), pengen serius menghilangkan LKS, berikan solusi selain LKS yang bisa dilakukan dan dipilih, tanpa menyusahkan siswa, sekolah, orang tua dan guru. Jangan Cuma lihat sekolah keren dan di kota aja. Lihat juga sekolah minimalis yang masih berusaha buat menjadi lebih baik. Yakali, kalau Cuma bisa main cabut dan hapus ganti peraturan, tapi tanpa solusi jitu, mending diem aja deh. Berisik tahu!

Ini pendapat saya, bagaimana dengan Anda?

Selamat Senin. (sambil ngelihatin anak-anak yang lagi ngerjain ulangan harian Fisika, hehehehe)

6 komentar:

  1. *Gaya wartawan*
    Kalau menurut ibu, kurikulum 2013 sudah tepat atau belum?

    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. 'ide'-nya sih, aslinya sudah bagus dan keren
      CUMA ...
      masih banyak yg harus dibenahi dulu klo mau benar-benar dilakukan.
      banyak yg harus dipersiapkan dulu, terutama komponen pendukungnya.
      harus sabar tunggu proses dan evaluasinya, gak bisa instan.

      lah kalo ganti kurikulum biar 'kelihatan kerja', mending kelaut aja deh
      sekeren apapun ide, tapi klo nggak sabar buat kelihatan hasilnya, omong kosong

      Hapus
  2. waah mbak e ternyata ngajar fisika ya? senasib dong, hehee...
    kalo aku pribadi, sebagai guru amatiran yang lulusan non pendidikan, berubung nggak bisa bikin rpp jadi rpp donlot. tapi kalo masalah materi lebih suka ngasih lembaran sendiri.
    Intinya aku sebagai guru nggak butuh lks tapi butuh kuota banyak buat browsing dan donlot :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. uwooo, ngajar fisika juga
      #peluuuuuk

      ah, klo kuota buat siang sih aman lah
      kan ada wifi di sekolah #ups

      Hapus
  3. Setuju, lks itu tergantung sikon, tapi dengan adanya lks membantu murid2 utk belajar latihan mengerjakan soal2

    tadi sy kira lks itu lee kwang soo #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. tujuan awalnya sih gitu, biar pada latihan
      cm yg namanya anak2, kalo cm punya lks, ya belajarnya cm dari situ aja
      gk mau lagi nyari dr sumber lain, itu yg repot
      hmmmm
      anak jaman sekarang

      uwaaaa ... lee kwang soo mau comeback drama tuh, kepoin terus deh tiap minggu
      #ups malah curcol urusan blog sebelah di sini

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.