Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 03 Agustus 2016

Mengejar Kereta Jaka Tingkir di Menit Terakhir

Dari kemarin bahas patah hati terus. Ok, kali ini bahas lain deh, hehehe. Kali ini soal pengalaman gue naik bus lagi. Ya biasa lah, namanya juga bus lover. Selalu ada cerita soal naik bus.

Jadi gini, hari Selasa pagi itu gue dapat penggilan tes di Klaten. Itu sekitar jam 10an lah. Nah, tadinya gue pikir buat naik bus patas jurusan Bandung-Solo aja seperti biasa, nanti malam sekitar jam 9-an. Sampai Solo sekitar shubuh tuh, masih ada waktu buat mampir kos, mandi dan cuzzz berangkat. Tapi setelah dipikir lagi, karena masih ada waktu, akhirnya gue memutuskan untuk berangkat lebih awal. Selain bisa sampai Solo malam (bukan dini hari), gue juga bisa istirahat lebih lama di kosan temen. Apalagi besok paginya gue berangkat sendiri, nggak ada tebengan motor. Dan akhirnya dengan packing yang terbatas, gue pun memutuskan berangkat jam 1 siang, dengan harapan bisa ngejar kereta Prameks jurusan Kutoarjo-Solo jam 7 nanti.

Bus pertama yang gue naiki adalah BSK, jurusan Banjarpatroman-Purwokerto. Tapi karena gue ogah ngikut muter dari Purwokerto, gue pun turun di terminal Wangon. Satu setengah jam pun udah lewat. Di Wangon, gue ngikut bus Keluarga, jurusan Cilacap-Purwokerto. Gue tanya Buntu, si kenek bilang OK. Tapi sialnya, gue justru diturunkan di Rawalo. Iya, pertigaan sebelum jembatan Serayu kalau dari barat.

Nah di sini gue nunggu bus rada lama. Ini udah nyita waktu banget. Waktu ada bus datang, gue ngikut aja, dan turun di Sampang. Di persimpangan ini biasanya ada bus Cilacap-Yogyakarta, ini yang gue tunggu. Tapi 5 menit, 10 menit, ternyata belom lewat juga. Mulai was-was apalagi hujan mulai turun. Akhirnya gue memutuskan buat naik bus kecil ke Buntu.

Tapi ... lagi-lagi gue sial. Bus ini justru belok ke arah Kroya dan gue diturunkan di Mujur. Alamaaaak, sampai jam berapa ini di Kutoarjo nanti. Gue nunggu bus, akhirnya dapat bus ke Buntu. Dan sampai perempatan Buntu juga. Menembus gerimis, gue pun berlarian ke seberang mengejar bus dari Purwokerto yang ke timur itu. Mandala namanya, jurusan Bandung-Surabaya. Tadinya sudah cukup lega, tapi ternyata perjuangan belum berakhir.

Bus ternyata berhenti cukup lama. Jam sudah setengah lima waktu akhirnya beranjak dari perempatan Buntu. Kalau paling cepat dua jam sampai Kutoarjo, maka gue masih bisa ngejar kereta jam 7, asal langsung dapat tiket. Tapi alamaaak, bus nggak bisa diharapkan. Selain jalannya yang mirip kura-kura, ternyata di pasar Gombong dan di lepas jalur alternatif Kebumen, bus nongkrong manis cukup lama. Tambah pucet lah wajah gue. Mau sampai jam berapa ini, padahal jarum jam nggak bisa diajak kompromi buat memelan dikit aja.

Telepon pun berdering berkali, ortu di rumah ikutan khawatir. Gue cewek pula, hadoh. Gue kebetulan punya jadwal kereta malam dari Kutoarjo menuju Solo. Sedikit harapan nih. Jam 2 pagi dan jam 3 pagi. Ya salaaaaam. Gue haru nongkri berapa lama ini di stasiun nanti. Nyaris nangis rasanya. Entah kenapa perjuangan menuju tes ini lebih berat dibanding perjuangan pertama dulu. Ok, tenang.

Penumpang sebelah juga curhat sama gue. Mereka dapat bus ini waktu berangkat dari Tasik. Dikira bakalan cepat, eh malah lamanya alamaaaak. Akhirnya mereka yang awalnya tujuan Jogja, memilih turun di Kebumen dan menginap dulu.

Gue? Sempat terpikir untuk ikut bus sampai Solo saja karena toh bus ini jurusan Surabaya, pasti lewat Solo. Tapi gue juga mikir lagi, meski bus AC, tapi status ekonomi membuat bus ini pasti berhenti cukup lama di terminal Giwangan, Jogja nanti. Lalu sampai Solo jam berapa gue? Ini kepala udah cenat-cenut tambah perut melilit belum makan malam. Nekatkah gue?

Dan lagi bagi gue, kalaupun terpaksa harus menunggu, stasiun relatif lebih aman dibanding dengan terminal. Minimal kalau udah masuk peron stasiun, udah enak lah. Karena yang bisa masuk yang yang bertiket. Sementara di terminal kan lebih bebas.

Di tengah pikiran kacau, entah kenapa gue iseng ngecek jadwal kereta secara online. Beruntung jaringan mendukung meski suasana mendung dan sudah gelap. Ternyata eh ternyata ... masih ada kereta yang lebih sore sampai Solo. Ada Jaka Tingkir yang berangkat 19.48 dari Kutoarjo dan sampai Solo sekitar jam 10 malam, dengan tarif ekonomi AC dan satu lagi kereta bisnis yang berangkat jam 9 kurang seperempat, dengan tarif lumayan uwoooo. Peluang!

Gue ngelirik jam, dan alamaaaak. Bisa sampai Kutoarjo nggak nih buat ngejar kereta jam 8 kurang ini? Kalau nggak bisa, maka kereta jam 9 lah pilihan kedua, meski kantong makin kosong. Was-was, gemetar dan lain-lain udah jadi rasa lengkap.

Sudah jam setengah 8 lewat dan akhirnya sampai Kutoarjo juga. Tiga jam lebih perjalanan Buntu-Kutoarjo yang normalnya Cuma dua jam. Turun dari bus, gue disambut ojek. Tanpa banyak tanya, gue nego harga ke stasiun. Waktu dia bilang 10rebu pun gue langsung setuju. Tancaaaap. Turun dari ojek gue langsung menghambur ke stasiun. Tenang, gue nggak lupa bayar kok.

Melihat gue yang lari menuju loket tiket, pak polisi yang jaga di pintu masuk peron tanya. Gue bilang mau kereta tercepat sampai Solo. Akhirnya dengan bantuan pak polisi, gue nyerobot satu antrian depan gue (maaf ya), karena kereta nyaris berangkat. Untung petugas tiket-ingnya lumayan lincah juga. Setelah tiket tercetak, gue langsung ditemenin masuk dan menuju kereta sama pak polisi-nya. Hhhh ... syukurlah, masih ada waktu sekitar lima menit sebelum kereta berangkat. Dan untung pula kalau masih ada tiket kosong on the spot, jadi gue nggak perlu pesan tiket online dulu. Dan bonus ... pak polisi-nya kece. 
 

(ini tiket hasil dibantu lari-larian sama pak polisi kece, hehehe)

Gue baru bisa bernapas lega saat akhirnya bisa duduk di dalam kereta. Berhubung waktu makan gue udah telat, jadi satu tablet antasid pun harus masuk dulu baru gue makan roti yang dibawa dari rumah. Kereta ekonomi memang emejing. Selain AC yang lumayan adem, gue juga bisa duduk sendirian di kursi isi dua itu. Jadi bisa selonjoran kece lah.

Sampai Solo sekitar jam 10-an, sesuai jadwal. Karena sudah malam dan temen gue nggak berani jemput, akhirnya gue pun ke kos dengan ojek. 15ribu nggak gue tawar demi bisa sampai kos. Setelah bersih-bersih badan dan minum wedang jahe anget, akhirnya gue bisa tidur.

Uwaaaaaa ... perjalanan ini memang lebih uwaaa dari biasanya. Iya sih, sudah beberapa kali juga gue merasakan perjalanan naik bus yang lumayan uwaaa juga. Semuanya karena satu hal, sore hari. Ah, tapi kenapa gue nggak kapok juga ya?

Ok, cerita berikut lain kali ya. Karena cerita hari tes juga nggak kalah uwaaa juga.

Terimakasih untuk kereta Jaka Tingkir jurusan Pasar Senen-Purwosari (Solo) yang masih mau nungguin gue. Terimakasih buat pak polisi kece di stasiun yang udah bantuin lari-lari dan mengkode pak pengatur lalu lintas kereta supaya nungguin gue. Terimakasih buat pak ojek yang baik hati, nggak minta harga tinggi buat sampe kos dengan selamat dan cepat.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.