Book, Love, Life and Friendship

Kamis, 18 Agustus 2016

Nggak jadi Guru = Salah pekerjaan?

Apakah setiap lulusan jurusan pendidikan harus selalu berakhir jadi guru? Kalangan orang tua yang anaknya sekolah di jurusan ini, pada umumnya menjawab ‘iya’. Tapi beda dengan jawaban si anak-anak itu sendiri.

Buat gue? Buat gue, jurusan pendidikan tidak harus jadi guru. Itu gue sangat sepakat. Bukan berarti kemudian gue melegalkan kalau jurusan pendidikan justru kerja di bidang lain yang nggak ada hubungannya dengan pendidikan lho ya.

Nggak, gue nggak bicara soal idealisme. Cuma, gue sedikit kecewa dengan pernyataan seseorang yang cukup gue hormati. Kalau semua lulusan pendidikan jadi guru, terus siapa yang nulis buku teks yang dipakai di sekolah? Siapa yang akan menjadi pemangku kebijakan di pemerintahan sana? Siapa yang akan jadi ... ah, sebenarnya ada banyak pekerjaan yang berhubungan dengan pendidikan, tanpa harus berembel-embel alias berstatus guru. 
gambar diambil dari blog sebelah. credit as caption on picture


Ok, kalau bicara soal pekerjaan, ujungnya pasti uang. Tapi kadang, rasa nyaman karena bisa libur saat siswa libur, yang membuat banyak orang memilih pekerjaan ini. Bagi gue? Nggak salah kok. Cuma kok minat gue sebenarnya justru di bidang lain.

Agak tergelitik dan pengen protes sebenarnya, waktu seseorang itu mengatakan kalau lulusan pendidikan ya harusnya jadi guru. Saat itu gue mundur dari posisi tawaran editor di sebuah perusahaan penerbitan buku sekolah. Gue Cuma bisa senyum sarkas dan memaki dalam hati. Gue memilih mundur karena nggak mau kehilangan senyum dari wajah-wajah anak-anak. Tapi pernyataan orang ini melukai hati gue, serius. Berasa pengorbanan gue itu, Cuma formalitas dan nggak ada pentingnya. Halooooo. Perlu gitu ya gue memilih mundur dan mengambil job yang satunya, jadi editor?

Maaf ya, Pak. Tapi Bapak perlu tahu. Kalau lulusan pendidikan juga perlu dipekerjakan sebagai editor buku pelajaran. Kenapa? Karena orang yang punya latar belakang pendidikan, tentu punya ilmu dan tahu cara membuat soal serta instrumen penilaian lebih baik dibanding jurusan non pendidikan. Penulis dan editor buku pelajaran bisa sih, jurusan non pendidikan. Misal fisika atau kimia non pendidikan. Untuk materi atau isi, tentu mereka pintar, nggak diragukan lah. Tapi, mereka belum tentu punya dasar ilmu pendidikan. Belum tentu mereka tahu cara membuat soal yang baik dan benar. Belum tentu mereka tahu cara membuat penilaian dan instrumen ukur siswa lainnya dengan baik. Memang, kemampuan ini bisa dipelajari. Tapi, daripada belajar dari nol, kenapa nggak anak pendidikan aja yang diserahi tanggung jawab ini?

Status legal gue jadi pengajar memang masih hitungan hari. Tapi pengalaman gue berkecimpung dalam les dan perbukuan bukan kemarin sore. Buku dengan materi nggak sesuai psikologi dan keadaan siswa, sering gue temukan. Soal absurd yang nggak pas diberikan siswa sesuai usianya, juga sering gue temui. Bukan isi soalnya yang salah. Bukan juga materi yang salah. Cuma, semua materi ada urutannya. Semua soal dan materi punya ciri khas kalimat yang disesuaikan dengan usia dan keadaan siswa. Nggak semudah itu bikin buku dan soal, kali. Nggak semudah itu bikin LKS dong. Dan untuk bisa memenuhi ini, harus dilakukan orang yang ahli. Orang dengan latar belakang yang sesuai.

Contoh lain, soal pemangku kebijakan di pemerintah. Sebut saja yang hobby ganti kurikulum dan ganti buku, tiap ganti orang. Ide mereka hebat dan keren, iya. Nggak diragukan lagi. Tapi pernah nggak mereka benar-benar turun ke bawah, benar-benar melihat langsung di sekolah. Tidak semua aturan dan kebijakan bisa dilakukan secara menyeluruh. Beda sekolah, beda guru dan beda wilayah, tentu butuh perlakukan beda. Ya lo kira, ganti kurikulum tu paling the best gitu? Paling keren dan kelihatan kerja? Halooooo, nyadar dong. Kurikulum nggak bisa sembarang diganti. Biar kelihatan hasilnya itu, nggak bisa satu dua tahun doang. Butuh bertahun-tahun dengan evaluasi.

Gue Cuma mau bilang, gue protes besar kalau ada yang bilang lulusan jurusan pendidikan ya Cuma harus jadi guru. Karena gue bukan pengen jadi pengajar, gue pengen jadi pendidik. Dan untuk jadi pendidik, gue nggak harus jadi guru. Gue bisa tetap mendidik dengan cara yang lain (bukan guru) dan gue bisa tetap memenuhi tujuan itu.

Sekali lagi, maaf, Pak. Tapi saya sama sekali nggak setuju dengan pernyataan itu. Nggak masalah, saya dibilang pengkhianat karena nggak kerja jadi guru meski punya latar belakang pendidikan. Yang penting saya masih tetap bisa mendidik dengan cara saya sendiri. Meski tanpa ‘status’ guru.

Bagi gue, salah satu kemerdekaan adalah, KEBEBASAN MEMILIH ‘STATUS’ PEKERJAAN, keluar dari ‘mantra’ orang pada umumnya, yang menyebut ‘lulusan pendidikan ya harus ngajar, jadi guru.’

6 komentar:

  1. Kayaknya ini tulisan dari dalam hati banget,
    sampai berapi api gituh!

    Udah maapin aja bapak itu, anggap aja dia salah ucap ataupun kagak ngerti, wkwkwk
    Well, gue sepakat, mau jadi apapun itu semua hak kita, toh kita yang jalani kan.
    Yang penting kita bertanggung jawab atas pilihan kita.
    *langsung ditawari jadi kepala sekolah* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha
      padahal ini udah kena sensor lho
      tadinya lebih 'membara' dibanding yg ini

      Hapus
  2. Memang paling sebel kalau ada orang komen tapi nggak paham sikon. Orang yg cuma bisa komen tak bersolusi dan tanpa pernah terjun, ah itu sih cemen. Nggak usah buang waktu dan tenaga untuk menanggapi.
    Kalau boleh curhat, aku seorang pengajar/pendidik di sekolah menengah yg bukan dari jurusan pendidikan. Tadinya nggak pengen ngajar tapi ada sesuatu yg bikin nagih ketika di kelas.
    Btw, yg pasti seorang guru itu adalah pembelajar sepanjang masa. Nggak boleh berhenti belajar dan berkarya. Buku adalah sahabat baiknya. Mendengar harus didahulukan sebelum berucap. Mustinya guru lah yg membuat buku sendiri karna dia yg paham kebutuhan murid.
    Dan guru sekolah, guru les, guru ngaji, tetaplah guru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. #pelukKakHanna
      hahahaha
      tjurhat gue ternyata ditanggapi juga dg tjurhat yg nggak kalah serunya

      kita tukeran peran aja yuk

      penelitian menyebutkan, cuma sekitar 30-an % persen orang yg bekerja sesuai latar belakang pendidikannya

      klo orang lain aja bisa 'nyebrang' pekerjaan, knp gue nggak?

      Hapus
    2. iya bener, dari semenjak milih jurusan kuliah aku nggak pernah takut entar bakalan kerja apa. Yang penting jadi manusia berilmu dan bermanfaat, entah guru atau bukan itu pilihan masing-masing. Toh sudah besar, sudah bisa bertanggung jawab dengan pilihan.

      Hapus
    3. awal kuliah sih, pernah pengen jadi guru
      simpel aja, lulus kuliah, kerja terus nikah
      tapi setelah di kampus dan bergaul sama banyak orang, justru aku jadi tahu, kalau nggak selalu jurusan pendidikan itu harus jadi guru
      ada banyak cara dan celah untuk tetap bisa mengamalkan ilmu, meski tanpa 'status' guru

      dan aku juga jadi menemukan apa yg sebenarnya pengen kulakukan meski tanpa status itu

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.