Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 06 Agustus 2016

Resensi – Mereka yang di Balik Layar, Justru yang Lebih Berkuasa

Mereka yang di Balik Layar, Justru yang Lebih Berkuasa
 
Judul: Rencana Besar

Penulis: Tsugaeda

Editor: Pratiwi Utami

Penerbit: Penerbit Bentang Pustaka

Cetakan: Pertama, Agustus 2013

Tebal: vi+378 halaman

ISBN: 978 – 602 – 7888 – 65 – 4

Harga: asli - Rp 58.000 (promo Mizan 2016 - Rp 12.000 )


 
 
Ini novel kedua yang masuk list baca dan resensi saya tahun ini. Pertama kali melihatnya memang terasa agak tebal. Tapi tentu saja saya sulit mundur, karena iming-iming ‘thriller’ yang ditawarkannya.

Sebenarnya, saya tertarik dengan novel Tsugaeda berikutnya, Sudut Mati. Tapi saya merasa tidak ada salahnya mencicipi terlebih dahulu novel pertamanya ini. Apalagi novel ini masuk list harga promo di Mizan Media. Dan dengan waktu yang tidak terlalu lama pun, novel ini akhirnya tiba di rumah dengan salamat.

Sepertiga awal buku saya dibuat bosan dengan banyaknya teori soal perbankan yang tidak saya mengerti, tapi cerita makin panas di dua pertiga bagian buku selanjutnya dan akhirnya saya menemukan ritme cerita kesukaan saya, cepat, tegang dan membuat penasaran.

Empat orang yang jadi tokoh utama novel ini diceritakan dengan porsi dan peran masing-masing. Dengan latar belakang berbeda, ketiganya terhubung dengan sebuah benang merah perjuangan. Ada tokoh yang tampak baik di awal dan kemudian ditunjukkan boroknya di belakang. Seperti judulnya, novel ini memang menceritakan tentang sebuah rencana besar yang disusun oleh sejumlah kecil orang. Tidak ada yang pernah menduga sebesar apa kekuatan di balik layar. Mereka inilah yang sebenarnya menjadi pengendali dari sebuah rencana besar, tapi tidak pernah muncul di permukaan.

Saya butuh waktu yang cukup lama untuk membaca sepertiga bagian awal novel ini. Karena memang ritme-nya yang agak lambat di awal. Tetapi, itu tidak mengurangi isi cerita hingga plot pun terbangun dengan latar belakang yang baik pada bagian tengah novel. Ketegangan demi ketegangan mengalir dengan cerdas pada setengah hingga akhir bagian novel. Dan di akhirnya dengan sebuah klimaks yang membuat tegang dan memaksa saya terus membaca hingga akhir. Sisi eksyen pun ditampilkan dengan cerdas. Dengan latar belakang tokoh utama orang sipil, dia tidak ditunjukkan sebagai seorang superhero. Dengan begini, maka ia semakin tampak normal.

Secara keseluruhan, buku ini keren, ceritanya mengalir dan jelas, meski ada beberapa bagian yang bisa saya tebak akhirnya. Saya Cuma berpikir agar bagian penjelasan perbankang di sepertiga bagian depan buku dikurangi atau paling tidak dibuat lebih sederhana agar lebih mudah dinikmati oleh orang awam seperti saya ini. Yang jelas, ending buku ini sama sekali tidak mengecewakan tetap menarik lah buat diikuti. Dan ditambah juga dengan ending manis di akhirnya, saya benar-benar terhibur.

Saya bersiap berburu buku berikutnya, Sudut Mati.

Rating dari saya, 6/10. Selamat membaca

Bening’s note:

Jangan protes kalau resensi kali ini lebih kacau bahasanya. Ini buat mendadak, untuk mengisi waktu sebelum masuk kelas. Jadi ya ... gini deh. Tapi masih bisa dibaca kan ya? Hehe. Saya akan berjuang lagi untuk resensi berikutnya deh ^_^


0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.