Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 10 Agustus 2016

SEPASANG ORANYE SENJA - part 1

Aku menikmati sepotong celah yang kamu ciptakan antara kita dari sepasang oranye senja kala itu. Kamu ingin rehat sejenak, begitu caramu mengatakannya. Meski sejak awal pun aku tahu, bukan itu yang sebenarnya ada dalam hatimu. Aku tidak menolaknya pun tidak mengiyakan permintaanmu. Tapi, toh pada akhirnya ini yang terjadi. Celah ini justru membuatku merasa lebih ringan dan lapang. Jadi, untuk apa lagi celah ini harus dibuat-buat?

***

Klakson yang bersahutan dan hiruk pikuk kota serta hari yang menyesakkan mulai menampakkan diri. Setidaknya ini hari Sabtu, jadi bagi Dean, ia tidak perlu menyeret tubuhnya untuk bangun dan bersiap berangkat ke kantor. Tidak ada suara berisik dari dapur di samping kamarnya. Sepertinya dua rekannya yang lain sudah pergi. Dean tinggal bertiga di flat yang terletak di lantai sepuluh ini.

Sungguh indah kau berbisik cinta

Hingga gila bayanganmu menggoda jiwa

Kejamnya dustamu

Kau yang bahagia

Aku derita
 
Suara itu terdengar dari ponsel yang diletakkan di meja samping ranjang dan Dean cukup tahu itu pesan dari siapa. Entah bagaimana ceritanya bisa lagu itu yang dipilih untuk jadi penanda pesan masuk darinya.

Ini sudah dua minggu lamanya sejak hari itu. Eric, pria itu menutup makan malam mereka dengan ucapan tak masuk akal. Dia minta berhenti sejenak? Memangnya apa arti hubungan ini baginya?

Hubungan ini sudah rapuh sejak awal. Dean memang tidak menolak saat Eric memintanya menemani makan malam yang ternyata berlanjut dengan pesta di kantornya. Tapi Eric tidak pernah bilang kalau akan memperkenalkan Dean sebagai kekasihnya di depan teman-teman kantornya. Tentu saja ini membuat Dean kaget. Tapi kelembutan sikap Eric malam itu benar-benar membuat Dean bungkam dan hanya mengatakan iya, untuk memulai hubungan itu meski mereka belum lama saling kenal. Kebodohan yang pertama.

Dan dua minggu yang lalu, berbulan-bulan setelah malam itu, mendadak Eric meminta untuk berhenti sejenak. Mulanya Dean tidak mengerti kenapa itu yang kemudian keluar dari bibir Eric. Eric yang irit bicara dan hanya bercakap seperlunya, tapi tiba-tiba saja mengatakan hal aneh.

Dering ponsel itu sekali lagi terdengar. Alih-alih melihat dan membuka pesan dari Eric, Dean mengambil bantal dan mendekapkannya lebih erat di telinga. “Aku tidak ingin memulai pagi ini dengan buruk.”

***

Oranye senja perlahan berubah pekat saat akhirnya Dean menyeret tubuhnya beranjak dari ranjang. Faris dan Dewi, dua rekan satu flatnya rupanya sudah pulang. Tapi aroma parfum tercium dari kejauhan, Dean tahu kalau mereka akan pergi lagi.

“Dean? Jangan bilang kamu nggak bangun dari ranjang sejak pagi? Kucel gitu sih,” sapa Dewi yang masih sibuk mengaduk kopi di cangkirnya, menguarkan aroma harum menyegarkan. “Mau kopi?” tawar Dewi juga.

Dean hanya mengangguk sebelum menarik salah satu kursi tinggi di meja dapur meraka untuk duduk. Dean mengambil kue kering dari stoples yang ada di sisi lain meja. Meski perutnya sudah protes minta diisi sejak siang tadi, Dean menolak memenuhinya.

“Dean? Kamu baik-baik aja kan?” kali ini Faris yang baru keluar dari kamarnya menjejari Dean duduk di kursi sebelah.

“Huum. Kenapa?” Dean masih asyik mengunyah kue kacang yang biasanya sangat anti dimakannya dengan alasan jerawat.

“Biasanya kan kamu paling rajin malam minggu gini. Kamu nggak ada masalah dengan Eric kan?” cecar Faris.

Cuma senyum separuh yang bisa dipamerkan Dean pada kedua rekan sekaligus sahabatnya ini. “Udah, buruan berangkat sana. Nanti pacar-pacar kalian ngambek kelamaan nunggu di bawah. Aku nggak apa-apa kok.”

Faris memandang Dewi mencari persetujuan. Tapi jarum panjang jam yang sudah bergeser ke angka tujuh akhirnya membuat keduanya menyerah untuk membujuk Dean. Sebelum benar-benar pergi, Dewi meminta Dean untuk makan dengan layak, kalau perlu pesan makanan saja jika memang malas masak.

Dean mengangguk mengerti. Setelah menutup pintu flat, alih-alih kembali ke dapur untuk menghabiskan sisa kopi yang masih separuh di cangkir, Dean justru kembali ke kamar. Tidak Cuma rambut dan baju yang berantakan. Tapi kamar itu juga penuh sampah tissue bertebaran di tiap sudutnya. Siapa peduli.

Dean menyibakkan sedikit gorden yang menutup jendela di sisi kamarnya. Pemandangan malam dari lantai sepuluh memang selalu gagal membuatnya langsung beranjak pergi. Ada sepotong hati yang tertinggal dalam malam-malam yang berlalu lalang di bawah sana. Seperti sebuah jempol yang terpisah dari telapak tangan. Ah, bukan perumpamaan yang tepat. Malam merambat perlahan, menyisakan bau anyir rasa kehilangan yang dalam. Lebih tepatnya sebuah lubang kosong menganga yang mulai membusuk di sekelilingnya.

***

“Kenapa harus aku?”

Eric yang tengah memainkan benda bundar di depannya hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada jalanan. Sedikit meski samar, masih terlihat gerakan bibir Eric, membingkai senyum menawan yang selalu berhasil membuat siapa saja terpesona. “Hmmm? Bukan apa-apa.”

“Jawabanmu selalu begitu. Menyebalkan!” Dean membuang pandangannya ke samping. Dari lampu yang hilang pergi di sepanjang jalanan yang mereka lalui, Cuma ditemukannya ketidakpastian.

Eric tidak pernah mengatakan alasan malam itu ia membawa Dean dan memperkenalkannya sebagai kekasihnya. “Kamu merasa terpaksa?”

“Bukan gitu, Ric. Aku Cuma mau tahu,” protes Dean lagi.

“Suatu saat nanti kamu juga akan tahu alasannya.”

Eric. Bukan sifatnya untuk berterus terang dalam banyak hal. Dinding tinggi dan tebal yang dibangunnya terlalu naif untuk dirobohkan begitu saja. Bahkan oleh hal sederhana yang disebut cinta. Cinta dan wanita adalah dua hal yang selalu dijauhinya sejak awal. Sejak kerajaan bisnis yang dibangunnya dari ceceran darah dan keringat di masa kuliahnya bertahun silam.

Jadi, jika sekarang tiba-tiba saja Eric mendekati wanita pekerja dari negeri seberang itu—Dean—dan kemudian memperkenalkannya di acara pesta kantor sebagai kekasihnya, yang tersisa kemudian adalah pertanyaan. Pertanyaan soal siapa Dean dan kenapa Eric memilih wanita itu.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.