Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 13 Agustus 2016

SEPASANG ORANYE SENJA - part 2 end

Bosan melihat keramahan kota malam itu, Dean memilih menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang. Serakan tissue bekas tangisnya di malam sebelumnya masih berada di tempatnya, tak tersentuh sama sekali. Bantal yang terlanjur telanjang karena sarungnya terlepas satu per satu oleh pukulan tangannya pun masih tergeletak di tempat yang sama.

Dean melirik remote AC di meja samping ranjangnya. Angka 14 tertera di sana dengan angkuh. Tapi embusan udara dingin yang dipaksakan keluar dari benda yang terletak di salah satu sisi dinding kamarnya tak mampu membuat suasana hati Dean mendingin. Semuanya masih panas membara seperti sebelumnya.
Seharian tadi, entah berapa kali ponsel itu berdering menguarkan suara kerasnya yang makin menyayat. Dean bahkan tak mau ambil pusing untuk mematikan deringnya. Sebaliknya, ia justru memilih menikmati tiap kali ponsel itu berbunyi dan mendendangan suara patah hati dari seberang. Sudah dua minggu, ponsel itu berhenti menyanyikan lagu mereka. Dan saat suara itu kembali sejak pagi, anehnya Dean memilih tidak peduli.

Sekarang, sudah lebih dari berjam-jam lalu ponsel itu tak lagi berisik. Justru perasaan aneh mulai menelusup pelan, menciptakan ruangan bernama rasa takut. Dean beringsut, menjulurkan tangannya untuk meraih ponsel itu. Sekali, dua kali, urung dilakukannya untuk menjangkau benda itu dan membiarkan rasa penasaran di hatinya terpuaskan.

Sebuah sentakan halus akhirnya membuat Dean menjangkau ponsel itu. Ada puluhan pesan yang masuk sejak tadi pagi. Semuanya dari Eric. Tapi Dean tidak ingin tahu. Itulah Eric, pria yang lebih memilih mengirim pesan dibandingkan melakukan panggilan telepon langsung. Eric yang irit bicara dan ... menurut Eric, kebohongan lebih mudah dibuat lewat pesan.

“Jadi selama ini Eric berbohong soal perasannya padaku? Bahkan kata-kata manis malam itu juga semuanya Cuma ilusi?”

Pertanyaan-pertanyaan seputar itu sudah berkali menjamah pikiran Dean. Tapi tetap saja, tidak ada yang terbukti benar adanya. Tidak ada yang bisa dikatakan bukan kebohongan. Tidak jelas, berapa kebohongan yang sudah terlanjur dilakukan Eric padanya.

Dering tak biasa mengagetkan Dean. Bukan, bukan dering pesan seperti yang sudah-sudah. Tapi dering panggilan dengan nama Eric tercantum di sana. Eric melakukan panggilan video? Itu adalah hal yang paling mustahil sebelumnya.

“Eric?” Dean tidak yakin saat menerima panggilan itu. Tapi yang dilihatnya di sana adalah wajah pria yang sangat dikenalnya.

“Hai, Dean,” secuil senyum dipamerkan Eric. “Sepertinya harimu tidak terlalu baik. Kenapa tidak ada pesanku yang kamu balas?”

“Apa urusanku? Setelah semuanya dan kamu masih berharap ada yang membalas pesanmu?”

Senyum di wajah Eric makin lebar. “Tapi aku yakin, pesan-pesan itu masih ada di sana, bukan? Meski entah kapan akan kamu baca. Turunlah. Kutunggu di taman depan flatmu. Kita perlu bicara!” pintanya serius. Panggilan video itu pun terputus.

Dean bungkam. Ajakan Eric untuk bertemu kali ini memang bukan yang pertama kalinya untuk Dean. Tapi setelah dua minggu tanpa kabar, dan semua kata-kata keterlaluan Eric, apa Dean akan siap?

Tapi rasa penasaran membunuh ego lebih cepat dari perkiraan. Tanpa pikir panjang, Dean mengganti piyama yang dikenakannya sejak malam kemarin dengan kaos lengan panjang yang dipadu celana jeans kesayangannya. Dean masih sempat membersihkan wajahnya dan mengikat rambut panjangnya sebelum memakai sepatu, mengunci pintu dan bergegas turun.

Tidak sampai satu menit dihabiskan Dean untuk menunggu pintu lift terbuka saat sampai di lobby. Dean melihat sekeliling. Hanya ada tuan Adnan, penjaga flatnya yang masih asyik duduk di depan televisi sambil menyuapkan roti isi untuk makan malamnya. Tanpa berkata apapun, Dean melangkah setengah berlari menuju taman kecil di depan flat itu.

Dean mendekati pria bertopi dan berjaket gelap yang tengah berdiri membelakanginya, “Eric?”

Pria itu berbalik, melepas topinya dan memamerkan sebuah senyuman lebar yang sangat jauh dari biasanya, “Dean? Bagaimana kabarmu?”

Sesak di dada Dean makin menjadi. Kepalanya dipenuhi kemarahan yang nyaris sampai ubun-ubun. Ada terlalu banyak pertanyaan yang dingin dikatakannya. Tapi yang muncul hanya kebisuan yang membunuh.

“Maafkan aku, Dean. Dan terimakasih.”

“Apa maksudmu?”

“Soal pertanyaanmu waktu itu, kenapa aku memilih kamu dan bukan wanita lain. Aku sudah punya jawabannya.”

Dean terdiam, menunggu. Tapi tidak ada reaksi apapun darinya.

Tiba-tiba saja Eric menarik tubuh Dean mendekat dan menyembunyikan nyaris separuhnya dalam dekapan erat. Eric tidak peduli jika itu membuat Dean sesak nafas. Ia hanya ingin Dean mendengar detak jantungnya. “Karena aku tidak butuh alasan untuk memilihmu. Itu alasannya.”

Dean hanya bisa terdiam dalam dekapan Eric. Matanya memejam, mendengarkan detak jantungnya sendiri yang pelan-pelan menemukan iramanya, persis seperti detak jantung Eric. Benar, cinta tidak butuh alasan untuk memilih. Karena ketiadaan alasan itu sendirilah alasannya.

Tapi Kini harus ku bangkit

Kini hapuslah sakit

Cipta kasih yang benar-benar ku damba

Takkan pudarlah harapan

Bahagia yang ku impi-impikan

Masih ada banyak hal yang ingin ditanyakan Dean pada Eric. Soal kenapa ia tidak pernah bisa marah pada Eric. Dan banyak lagi yang lain. Tapi itu bisa menunggu. Setidaknya, masih ada banyak waktu selain malam ini.

Dean membalas pelukan Eric tidak kalah erat, meski akhirnya ia bergerak minta dilepaskan karena sudah terlanjur sesak nafas. Ada beberapa hal yang tidak selalu harus diucapkan dengan kata. Karena itu hanya bisa dibuktikan dengan sikap.

“Terimakasih, Eric.”

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.