Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 10 September 2016

Aroma Kemah itu ada Dua

Aroma kemah itu ada dua; aroma tanah dan aroma kenangan. Antara rindu dan ikhlas melepaskan. Antara aku dan kamu, tanpa pernah jadi kita. <-- status 8 september kemarin.

Iya, kemah sudah usai kemarin. Dan mungkin saja, anak-anak pun sedang kepegelan di rumah sambil mulai mikir program memutihkan tubuh kembali setelah dipanggang tiga hari di lapangan. Dulu, saya nggak khawatir soal warna kulit. Beruntung kulit saya tipikal yang mudah kembali ke warna semula, meski sering dipanggang di luaran pun. #iniBukanSombong 
Setelah sekian tahun, akhirnya saya bisa kembali menjejak tanah perkemahan. Bedanya, dulu tanah kemah selalu kering dan berdebu, kali ini tanahnya agak becek dan dua kali mengotori sepatu saya. Sekian tahun yang lalu, dan ternyata itu sudah lama sekali. Ah, kenapa saya jadi baper begini sih. Kalau biasanya status saya saat kemah adalah peserta, kali ini status saya bukan lagi demikian. Kali ini saya kebagian jatah ‘ngemong’ anak-anak yang kemah. Apalah itu istilahnya, nggak lucu banget deh.

Kemah memang selalu membawa cerita tersendiri untuk saya. Dari pengalaman pahit yang sempat membuat saya trauma dengan beberapa barang, hingga butuh bertahun setelahnya untuk berdamai dan mau menerima. Hingga kenangan-kenangan manis yang terselip dalam setiap interaksi.

Kemah itu tentang aroma tanah basah

Dan kemah itu tentang aroma kenangan, yang menguap terbang memenuhi udara, tanpa pernah minta izin kemudian memenuhi rongga dada saya, lalu membuat saya kesulitan bernafas. Tentang perjuangan di waktu-waktu senja, hingga membuat saya lupa caranya main atau punya pacar, waktu itu. Tentang berdesakan di bawah satu atap tipis bernama tenda. Tentang panas terbentang yang mendekap nyaris berhari-hari demi prestasi bernama kemenangan. Lalu selebrasi heboh, menarikan bendera regu keliling lapangan.

Ah ... saya tidak akan lupa, tentu saja, dengan kejutan-kejutan kecil di antara semua kehebohan itu. Tentang perhatian kecil dan ucapan basa basi yang nyaris sama sekali tidak akan pernah saya temui di luaran. Lalu tentang kartu memory di kepala saya, yang nyaris penuh, tapi tidak pernah bisa saya hapus bagiannya yang terlanjur menyatu.

“Makan yang banyak, biar cepet gede,” ujarnya sambil menyerahkan centong nasi, pada saya yang waktu itu tengah menantinya di dekat tempat nasi.

Ah sudahlah, itu cerita lama. Biar tetap seperti itu. Biar ... tunggu! Saya bahkan belum bisa berhenti menceritakan tentangnya, bukan?

Saat lagu poco-poco didentangkan speaker, lalu muncullah kamu bersama rekan-rekanmu yang lain. Bergerak lincah mengikuti irama, sambil sesekali meneriakkan yel-yel kalian. Lalu suara lantangmu di tengah upacara pembukaan ataupun penutupan. Lalu kamu yang nyaris pingsan, akibat kepanasan berdiri terlalu dekat dengan api unggun saat upacara api unggun di malam terakhir. Atau saat kamu membawa secangkir kopi panas mengepul di tangan, melangkahi patok dan tali lalu duduk bersila di depan tenda.

Ya salaaaaaam. Apa-apaan saya ini. Kenapa semua kenangan itu berseliweran begitu saja di kepala. Br*****k kemah! Kenapa kepala saya tiba-tiba jadi berisi semua kenangan yang tadinya nyaris dorman itu. Huaaa

Lihat! Bahkan saya nyaris lupa menulis tentang anak-anak. Tentang senyum lelah mereka. Baik, lanjut di tulisan lain saja.


0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.