Book, Love, Life and Friendship

Jumat, 23 September 2016

Go to Bandung – first Day menuju Workshop Room to Read

Yayyyyy!!! Bandung time. Nggak tahu juga sih, ini lebih enak jadi diary atau tulisan blog. Well, tapi tetap masih bisa dinikmati kok.

So, we will start at first day ^_^

Awalnya, nggak terduga banget sih. Jadi, ada semacam pengumuman untuk audisi tulisan dalam rangka workshop menulis. Nggak ngeh juga awalnya, ini tentang apa. Cuma tahu kalau ini tentang buku anak. Jadi ya, buat sekadarnya saja. Itu pun sudah hari terakhir. Nah loh. Dan saya pun nggak banyak nyari, ini tentang apa.

Telepon siang itu mengagetkan saya. Nggak nyangka aja, kalau akhirnya tulisan saya yang ecek-ecek itu bisa lolos. Well ... sampai hari H berangkat pun ternyata masih banyak insiden yang terjadi.

Dari telepon tanpa dilanjutkan file di email. Sampai aaaaa .... pengumuman dengan nama saya, tapi judul naskah yang berbeda. Rasanya itu, campur aduk. Antara yakin kalau lolos benar, atau Cuma salah nama aja. Menunggu email undangan acara pun ternyata bikin frustasi. Kenapa? Soalnya emailnya nggak datang juga. Hingga akhirnya ada room-mate yang menghubungi saya lebih dulu, namanya mbak Izzah Annisa (penulis kece asal Lampung). Dari mbk Izzah inilah akhirnya saya tahu ada email undangan masuk. Ehm ini belum selesai.

Ditunggu satu dua hari. Hari keempat akhirnya saya kirim email ke panitia menanyakan soal email undangan. Dan untungnya, mas Moemoe—yang ngurusi surat-menyurat ini—sigap dan cepat membalasnya. Nggak butuh waktu lama sampai email saya pun dibalas. Dan akhirnya saya bisa lega karena akhirnya undangan masuk dan saya jelas berangkat. Apa artinya saya sudah lega semua? Ohoooo belum semudah itu ternyata. Karena masih ada hal lain yang mengganjal.

Setelah email undangan saya dapat, dan bisa memastikan jam berangkat dan jam kembali, saya akhirnya pesan tiket kereta. Meski sempat agak kecewa juga sih, ternyata tidak ada jadwal acaranya. Jadi saya nggak tahu di Bandung nanti mau apa.

Tiket kereta saya pesan via website tiket kai. Dua tiket sekaligus, untuk berangat sekaligus pulang. Dan ternyata perjuangan saya belum berakhir. Setelah pesan tiket, saya pun ke kantor pos untuk melakukan pembayaran. Tapi ... alamaaaak, ternyata jaringan di kantor pos sedang bermasalah. Uhuuuu, saya tidak bisa bayar di kantor pos. Apalagi batas bayar tiket kan Cuma tiga jam. Ya, saya pun bergeser model bayar lain. Ada atm dekat kantor pos. Tapi ... masih tapi lagi, atm di sini sedang pengisian, dan ini akan butuh waktu lama. Duuuuh. Belum lagi, uang sudah terlanjur saya tarik dari atm kemarin. Karena butuh bayar lewat atm, terpaksa ayah pun turun tangan. Bayar tiket pun masih hutang pada ayah. Duh.

Perjuangan bayar tiket pun akhirnya lunas saat dua struk pembayaran sudah berada di tangan saya. Entah kenapa, saya merasa perjalanan ini akan punya banyak insiden dan cerita. Hmmm ... saya tidak mau berprasangka buruk sih. Cuma ya ...

Hari Jumat, sebelum berangkat, saya masih sempatkan datang ke sekolah untuk minta izin pada kepala sekolah. Untungnya, kepala sekolah mengijinkan dan tidak banyak protes apalagi tanya. Ya ... tugas-tugas mengajar terpaksa ditinggalkan. Anak-anak pun dilimpahi tugas. Maaf ya. Eits, soal untuk UTS sudah selesai sih. Meski belum dikirim ke sekretaris. Pokoknya, berangkat ke Bandung sudah tanpa tugas lagi. Setelah ramah tamah dan sai hai—yang ngga selesai-selesai—akhirnya saya pulang.

Sampai di rumah, beberes sebentar dan siap berangat. Tadinya mau naik bis. Tapi ternyata ayah berkenan mengantar ke stasiun. Aiiih. Perjalanan Majenang-Banjar, belum pernah saya lakukan sebelumnya. Meski bertahun tinggal di Majenang—yang perbatasan Jawa-Barat—saya justru belum pernah menjelajahi kota Banjar. Pun baru kali ini tiba di stasiun Banjar yang ternyata nggak terlalu besar juga.

Ternyata cukup 40 menit perjalanan Majenang Banjar yang menurut saya emejing. Emejing karena lewat hutan sejuk yang keren di kanan kiri. Mungkin terlalu bosan lewat jalur Karangpucung-Wangon, jadi Majenang-Banjar terasa keren.

Kesan pertama saat mulai masuk kota Banjar itu ... Wow! Kota yang persis dipeluk oleh hutan dan perbukitan. Di sisi jalan persis, ada tebing yang tidak terlalu tinggi dengan pepohonan lebat yang masih begitu ‘hutan’, asli dan ... itu bukan tanaman yang sengaja di tanam. Pokoknya ... gitu deh.

Butuh beberapa menit untuk loading perjalanan ke stasiun Banjar, karena memang saya belum pernah datang ke sini. Setelah menyusuri kota dan mengikuti arah seperti di google map, akhirnya stasiun pun kelihatan. Hehehe. Karena sampai agak awal, saya pun harus menunggu kereta yang berangkat pukul 12.12 nanti. Hmmm ... satu jam lah. 

Kereta datang pukul 12.00. Jadi masih ada waktu cukup untuk bersantai di atas kereta sebelum berangkat. Kereta melaju pelan meninggalkan stasiun Banjar. Saya memilih ikut kereta bisnis. Ya, paling tidak, bisa bersantai lah.

Saya duduk di sebelah seorang bapak-bapak berumur. Dari obrolannya sih, dia ini semacam bisnisman. Yang tadinya mau naik pesawat malam, tapi akhirnya memilih naik kereta pagi dari Jogja.

Perjalan kereta Banjar-Bandung ini yang pertama buat saya. Berbeda dengan perjalanan kereta Kutoarjo-Solo yang biasa saya lewati. Perjalanan ke Bandung ini benar-benar keren. Well, bagi orang lain mungkin sudah biasa ya. Tapi bagi saya, yang baru pertama kali, ini keren.

Keluar dari stasiun Banjar, disajikan pemandangan alam desa. Kereta melaju terus sampai stasiun Tasik. Beberapa kali menemui hutan dan gunung yang sama sekali berbeda. keren, serius. Saya justru lebih jarang melihat sawah atau rumah, dibanding melihat hutan. Ada beberapa spot favorit saya selama perjalanan. Salah satunya, saat berada di atas jembatan yang ada di atas sungai. Tinggi, brrrr. Mungkin kalau lewat dengan jalan kaki, ini akan mengerikan.

Kereta melaju lagi dan saya kembali melihat rumah-rumah dan kota, masuk stasiun Tasikmalaya. Lepas Tasik, perjalanan makin keren. Ada makin banyak pemandangan keren bin luar biasa yang saya temui. Kereta melaju lebih pelan lewat hutan yang masih sangat asli. Gunung, jembatan tinggi. Ahhhh. Ternyata saya tidak hanya menemui satu jenis jembatan saja selama perjalanan. Ada beberapa jembatan sekaligus yang saya temui. Dan semuanya keren, karena selalu berada di tempat tinggi, di atas sungai. 


Stasiun Cipendeuy. Salah satu stasiun di tengah hutan yang jadi pemberhentian kereta baik Ekonomi maupun Eksekutif.
Belum cukup dengan jembatan, saya juga dibuat kagum, karena jalur rel menuju Bandung ternyata lewat daerah dataran tinggi. Ya, lewat gunung. Saya lebih banyak bisa melihat pemandangan sawah dari jauh, dari tempat tinggi. Dan konsekuensi lain lewat jalur pegunungan adalah, jalurnya yang berkelok-kelok. Beberapa belokan membuat saya begitu terkesan karena saya bisa melihat ekor atau kepala kereta.

Rencana tidur siang atau buka laptop untuk mengerjakan tugas juga saya lewatkan. Meski mata ngantuk, saya tetap tidak bisa beralih dari pemandangan keren di luar yang sangat sayang untuk dilewatkan. Ah perjalanan empat jam jadi tidak terasa. Lelah, dan ngantuk karena perjalanan terhapuskan oleh pemandangan yang benar-benar melegakan mata. Huaaaa ...

Saya sampai stasiun Bandung tepat waktu, jam 4 sore. Butuh beberapa waktu sampai akhirnya dapat taksi menuju tempat acara. Dan ternyata ... seperti kata orang, Bandung sekarang sudah macetttt. Apalagi hari itu hari jumat, sore pula. Hari menuju libur dan jam orang pulang kerja. Selain itu, Bandung juga sedang jadi tempat acara PON. Jelas ramai. Jarak 13 km yang harusnya bisa dicapai dengan waktu 30 menit, ternyata butuh waktu satu jam untuk melaluinya.

Sampai di resort, sudah maghrib. Beruntung saya sudah kenalan lebih dulu dengan room-mate. Sampai di kamar ... mandi, shalat lalu makan. Rencana jalan-jalan terpaksa batal karena hari hujan. Hawa dingin Lembang pun memaksa saya yang kekenyangan untuk beranjak ke ... pulau mimpi.

Hari kedua ... saya belum punya bayangan apapun.

Oh ya, saya belum bilang ya. Kalau acara di Bandung ini adalah workshop menulis buku cerita-bergambar untuk anak yang diselenggarakan oleh Room to Read kerjasama dengan Litara dan Provisi Education. Yang penasaran apa project mereka, sila cek langsung di website mereka masing-masing.

To be continue ...

2 komentar:

  1. Wow, perjuangannya luar biasa ya, Mbak Bening. Tapi alhamdulillah akhirnya sampai dan happy ikut workshopnya, yaaa... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, iya mbk
      makannya sejak awal, sy udah curiga sih
      pasti ada sesuatu yg terjadi
      ah, nggak tahu bakalan ada kejutan apa lagi besok2

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.