Book, Love, Life and Friendship

Selasa, 27 September 2016

Workshop Penulisan Buku Bergambar untuk Pembaca Pemula – part 1

Ini lanjutan postingan sebelumnya, workshop di Bandung. Dari hasil main-main via facebook, sepertinya sudah banyak juga rekan-rekan peserta lain yang buat tulisan dan postingan. Well, ini keren.

Saya nggak akan nulis detail acara dan materinya sih. Kalau yang penasaran, sila cek blog teman-teman aja ya. Yang ada di postingan ini, lebih mirip curhatan pribadi sih serta kesan saya saat ikut workshop.
foto bareng mbk Izza Annisa (kerudung ungu) dan mbk Nurhayati Pujiastuti (tengah) di depan ruang workshop, hari kedua

Saya beruntung banget, ketemu mbk Izza. Ya, dan lagi kami sudah kenalan lebih dulu sebelum ketemuan. Jadi, nggak terlalu canggung banget sih. Malam pertama, hujan gerimis dan dingin. Brrr. Setelah makan malam, saya dan mbk Izza kembali ke kamar. Berbeda dengan mbk Izza yang sudah punya pengalaman dan sudah cari-cari dulu soal acara ini, saya bener-bener no-clue. Nggak ngerti apapun, dan nggak bisa menebak, besok akan seperti apa? Malam kami habiskan untuk nonton acara tv kabel. Dan yang sukses mencuri perhatian adalah serial Korea. #alamaaaaak. Saya kepincut nonton cerita hantu dan pak chef ganteng. Judulnya? Sila cari sendiri deh. Capek nonton tv ditambah ngantuk berat setelah perjalanan panjang, akhirnya saya terlelap di balik selimut tebal.

Hari pertama workshop, 17 September 2016

Kami bangun cukup pagi, sekitar jam 5 sih. Eh tapi nggak tahu ding, mbk Izza bangun jam berapa. Setelah mandi dan siap-siap—masih sambil nonton drakor—, kami bergegas menuju resto yang tempatnya cukup jauh.

Eh ya, ada cerita cukup lucu juga sih. Jadi, mbk Izza, teman sekamar saya, semalaman kedinginan, sampai nggak bisa tidur. Selidik punya selidik, ternyata dia lupa menutup jendela kamar, yang posisinya dekat dengan ranjangnya. Dikiranya, jendela sudah ditutup, karena gorden pun sudah rapat. Olala ... mbk Izza. Hari pertama ini kami ternyata kompak lho. Padahal nggak janjian sama sekali, eh ternyata kami kompak pakai baju warna+jilbab warna salem. Aiiiih, serius ini nggak janjian. Tapi kok bisa samaan ya?

Jam setelah 9 pagi, kami sudah ada di ruangan workshop. Cukup jauh sih, dari kamar kami yang ada di ujung dan lantai bawah. Gerimis atau hujan nggak kerasa, karena ternyata tidak jauh dari kamar ada sungai yang airnya selalu terdengar deras mengalir.

Hari pertama workshop, kami dikenalkan dengan pemateri utama, Mr.Alfredo Santos. Dia ini berasal dari Filipina. Jadi, sepanjang acara selalu menggunakan bahasa Inggris. Beberapa kali sih—nggak semua juga—ada mbk Chatarina yang membantu menerjemahkan. Tapi, nggak tahu gimana, kok ya saya mudeng aja yang diomongin sama Mr.Al ini. Meski bahasa Inggris saya masih sangat jauh dari keren, tapi kok saya bisa nyambung sih.

Selain Mr.Al, sebenarnya ada beberapa pemateri lain dalam acara ini. Salah satu yang sangat berkesan buat saya adalah Olivia, wanita cantik asal Amrik yang sangat ekspresif. Meski dia native speaker, tapi gaya bicaranya yang lambat, ekspresif dan jelas, ternyata masih bisa saya pahami dengan mudah. Olalala ... ternyata saya bisa nyambung juga. Bersyukur banget dengan satu hal ini. Meski sepanjanga cara saya lebih banyak diam karena nggak ngerti harus bilang/komen/tanya apa. Ada sih pertanyaan, Cuma kalau harus bicara dalam bahasa Inggris, masih malu dan ragu #ehe

Hari pertama kami perkenalan dengan materi utama. Dari membuat karakter. Jangan dikira membuat karakter itu gampang. Karena ternyata itu nggak semudah perkiraan. Yang jelas, selesai acara jam setengah 6 sore, saya sudah dibuat pusing dengan tugas yang harus dikerjakan, membuat naskah.

Selesai acara, saya langsung ngacir kembali ke kamar. Mandi, shalat terus makan. Niat sih, malamnya pengen nyoba ngerjain tugas. Tapi eh tapi ... drakor lebih memikat dan lagi saya nggak ada ide yang keluar. Mbk Izza yang kecapean udah tidur duluan. Kopi hotel pun nggak sanggup memaksa mata saya untuk tetap terbuka. Ya udah deh, akhirnya beranjak ke pulau kapuk.


Hari kedua Workshop, 18 September 2016

Hari Minggu. Tapi saya terpaksa bangun pagi. Sekitar jam4-an, alarm membangunkan saya. Begitu juga mbk Izza. Dan kayaknya mbk Izza terbangun gegara alarm hp saya deh, padahal yg punya bangun telat.

Inget masih punya tugas buat naskah, terpaksa saya menyeret tubuh untuk bangun dan beranjak. Laptop dinyalakan. Dan ternyata masih ditemani drakor yang tayang di tv, hehehehe

Setelah coret sana coret sini, terus salin tulisan di blocknote, nggak lupa ketik di laptop, naskah pertama pun jadi. Jangan dikira keren lho ya. Ini masih acak adut amburadul. Yang saya pikirkan pagi itu, yang penting ini naskah selesai deh. Soal bagus atau nggak, soal keren atau nggak, bahkan salah atau bener, nggak serius saya pikirkan. Yang penting jadi dulu.

Dan ... kejadian keren juga terjadi lagi hari ini. Tahu apa? Ternyata baju kami pun kompakkan. Meski nggak sama persis sih, tapi hari kedua ini kami kompakkan menggunakan jilbab warna ungu. Serius, ini bukan janjian lho.


Hari kedua workshop saya dan mbk Izza datang beberapa menit lebih awal dari jadwal setengah 9. Kami masih sempat baca-baca beberapa buku anak yang sudah jadi. Keren-keren banget, sumpe. Sebuah buku penuh gambar ilustrasi, dengan hanya satu-tiga kalimat tiap halaman, tapi memuat cerita keren yang luar biasa. Bahkan idenya bener-bener emejing. Dari sesuatu yang sederhana, ternyata bisa disulap jadi hal luar biasa. Uwaaaa ...

Materi pagi seperti biasa disampaikan oleh Mr.Al. Kemudian diteruskan dengan pembahasan naskah bersama editor. Kelompok saya dimentori oleh mbk Eva dari Litara dan pak Remon dan Bestari. Alamaaaaak, naskah saya langsung dimentahkan gitu aja sama editor. Sempat drop juga sih. Tapi emang bener, naskah saya ini masih sangat jauh dari yang namanya ‘bener’. Boro-boro keren, bener aja masih jauh.

Meski masih punya hutang naskah hari pertama, materi terus lanjut. Sekarang saatnya mengotak-atik dan mengobrak-abrik naskah yang digunakan saat audisi. Oh ya, saya sudah pernah bilang kan ya, kalau nama dan naskah saya nggak cocok? Nah, akhirnya terbongkar di sini. Saya nggak ngerti juga sih. Apakah naskah judul lain ini yang sebenarnya lolos, dan bukan saya yang lolos atau sebaliknya. Tapi kalau misal, sebenarnya bukan saya yang harusnya lolos ikut workshop, tapi pemilik naskah lain, ya saya minta maaf. Tapi ini bukan salah saya kan ya? Seperti mbk Izza bilang, tidak ada kebetulan. Mungkin memang Allah pengen ngasih saya kesempatan untuk belajar di sini.

Panitia sempat minta maaf, katanya masalah teknis. Saya sih nggak mau memperpanjang pembicaraan. Ya udah sih, saya lanjut dengan naskah asli saya. Jadi, naskah asli yang masih kacau itu pun saya perbaiki. Tentu dengan banyak saran dan masukan dari peserta dan editor. Oh ya, kali ini editor kelompok kami adalah mbk Grace dari YLAI dan mas Widi dari Kanisius. Mbk Grace memang kritis, tapi saya suka, karena mau ngasih solusi yang bisa diterapkan. Kalau mas Widi, lebih banyak lucu-nya sih. Tapi saran-sarannya juga keren kok.

Yosh! Tapi nggak boleh nyerah gitu aja. Untungnya, selain mengkritisi, editor juga memberikan beberapa saran atau masukan. Meski kepala sudah mulai berasap, tak apalah. Saya akan coba perbaiki naskah ini lebih baik lagi.

Hari kedua berakhir tepat waktu, jam 5 sore. Tapi ternyata masih banyak teman-teman peserta lain yang menghabiskan waktu hingga maghrib, untuk ngobrol dengan editor. Saya? Kepala saya rasanya sudah berasap. Jadi saya memilih kembali ke kamar untuk mendinginkan kepala.

Setelah mandi dan shalat, saya dan mbk Izza turun ke resto. Kami makan malam cukup telat, hingga sudah agak sepi. Kami sempat ngobrol banyak dengan peserta lain. Ada mbk BE, dari Sidoarjo, Jawa Timur dan juga mbk Beby dari Aceh. Aaaah, saya bener-bener merasa sangat keciiiiil sekali. Mereka sudah punya pengalaman banyak, sementara saya? Tak apalah, saya berjanji untuk mengambil banyak pelajaran dari para peserta lain yang sudah panen pengalaman deh.

Saya punya hutang dua naskah. Akhirnya malam saya melanjutkan editing naskah hari pertama—masih sambil nonton drakor—. Tadinya mau lanjut ngedit naskah kedua. Tapi, kopi hotel tidak berhasil membuat mata saya tetap terbuka. Apalagi suasana dingin khas Lembang dan hujan membuat kasur lebih menarik dibanding laptop.

Resikonya, besok saya harus bangun pagi untuk mengerjakan naskah kedua. Yosh! Oh ya, kali ini mbk Izza nggak lupa ngunci jendela kamar kok. Semoga nggak kedinginan lagi, ehe

Ternyata udah tiga halaman aja. Nyambung di postingan berikutnya ya ^_^

6 komentar:

  1. Hihihi... Sekamar, kerudung sana, sama2 rapel tugas, sama2 bukannya ngerjain malah nonton korea! Hewhewhew...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sya lanjut nonton drakor yg kemarin kita tonton lho mbk.
      pak chef memang kece abis, hehehe
      #salahFokus

      Hapus
    2. Aku udah nonton sampe tamat di Youtube, wkwkwk... Ternyata seperti kecurigaan kita, yang mbunuh si Polisi Choi. Dia emang psikopat.

      Hapus
    3. ya salaaaaam, dirimu ternyata sudah gerak cepat ya mbk.
      sy baru nyelesaiin donlot tadi pagi
      ini baru mau lanjut nonton
      NO SPOILER please! kekekeke

      Hapus
  2. semuanya sama2 belajar kok, Bening ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mbk LIa
      trims udah mampir dan meninggalkan jejak ^_^

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.