Book, Love, Life and Friendship

Jumat, 30 September 2016

Workshop Penulisan Buku Bergambar untuk Pembaca Pemula – part 2

Yosh! Ini lanjutan postingan sebelumnya. Sudah dua hari tiga malam saya di tempat workshop, Green Forest Resort, Lembang, Bandung. Niat hati pengen maen ke jembatan gantung, belum kesampean karena tugas yang nggak bisa ditinggalkan.

Hari ketiga Workshop, 19 September 2016

Hari Senin, dan hari ketiga workshop. Jujur, saya mulai kangen rumah. Bukan karena acara nggak asyik. Acara seru kok, Cuma mikirnya aja yang capek, ehe

Seperti hari kemarin, hari ini pun kami bangun pagi. Alarm jam setengah 4, dan saya bangun jam 4. Niat hati sih pengen melanjutkan naskah kedua. Tapi apa daya, godaan untuk donlot drakor langganan lebih menggoda. Apalagi saya sedang tidak punya ide sama sekali. Alamaaak, bagaimana ini?


Puas donlot drakor, saya pun berselancar membaca sejumlah blog. Niat sih mencari ide. Tapi ternyata, sampai jm 6 pagi, saya masih belum dapat ide. Baterai laptop pun semakin menipis. Terpaksa saya pun pindah posisi.

Akhirnya, setengah memaksa, saya pun menulis apa yang terlintas di kepala. Sebuah ide sederhana untuk naskah kedua. Sementara mbk Izza sudah mandi cantik, saya masih berkutat mengetik. Ini selesai nggak ya?

Kalau dua hari kemarin, pakaian kami kompak, hari ini ternyata nggak. Kekompakan nggak bertahan lebih dari dua hari ternyata, ehe. Kami keluar kamar agak telat. Setelah sarapan yang terburu-buru, saya dan mbk Izza menuju ruang workshop. Eh ternyata ruangannya pindah. 


Sebelum materi, Olivie memimpin kami untuk membuat drama sederhana berdasarkan legenda. Dan kelompok kami memainkan cerita Roro Jonggrang. Ketika yang lain main drama, karena ada gamelan, saya pun menawarkan diri memainkannya. Ya ... meski sudah sangat lama nggak latihan juga sih. Ternyata masih bisa, Cuma ya ... agak kaku dan salah di beberapa bagian. Tapi overal, drama berjalan dengan sukses dan lucu.

Materi pagi ada dari Mr.Al. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi naskah. Karena kemarin saya belum dapat jatah presentasi, maka hari ini jatah saya. Sempat khawatir juga sih, karena naskah ini belum saya obrolkan dengan editor. Dan lagi, saya nggak berani pakai bahasa Inggris.

Setelah nego tipis, akhirnya saya bisa presentasi dengan bahasa Indonesia. Dan ... surprise-nya, ternyata naskah saya nggak banyak dikomentari oleh peserta lain. Entah karena saking jeleknya atau mereka bingung mau komentar apa. Ada satu komentar dari mas Oni, peserta lain, agar saya memperhalus bagian akhir naskah. Overal, ternyata nggak banyak komentar. Setelah duduk kembali di kelompok, saya baru ngerti. Mbk Grace, editor kelompok saya pun bilang kalau naskah saya sudah cukup rapi, Cuma butuh beberapa sentuhan tambahan lain aja. Ini juga diiyakan teman-teman satu kelompok saya. Uwaaaaa ... lega rasanya. Naskah setengah jam sebelum acara mulai ternyata nggak seburuk yang saya kira.

Mungkin ini yang namanya keberuntungan. Seperti mbk Izza bilang, nggak ada kebetulan. (maaf ya mbk, disebut terus, hehehe). Pasti ada alasan kenapa saya yang diberi kesempatan untuk ikut workshop ini.

Materi hari ketiga sampai pada bagian yang lebih seru lagi. Ada materi tambahan dari bu Dina, peneliti dari puskurbuknas. Dia membawakan materi tentang folktale (termasuk dongeng, legenda atau cerita rakyat). Inti cerita sih, kami diminta untuk membuat adaptasi folktale, untuk cerita anak. Wah, obrolan seru ternyata. Karena ada banyak banget hal yang dibicarakan. Terkait bagaimana folktale diadaptasi, batas-batas adaptasi folktale, bagaimana cara menyampaikan cerita folktale untuk anak. Dan yang jelas, bagaimana menunjukkan sisi lain dari folktale yang selama ini belum pernah diungkap secara umum. 

Seperti hari pertama, hari ini juga berakhir cukup terlambat. Hampir jam 6. Tapi masih tetap menyisakan tugas untuk malam ini. Yosh! Harusnya ini jadi tugas terakhir selama workshop. Banyak teman-teman peserta lain yang masih mengobrol dengan editor hingga malam. Saya? Saya memilih kembali ke kamar dan mendinginkan kepala di bawah shower air hangat, ehe

Usai makan malam, saya kembali ke kamar lagi. Tugas sudah menanti. Dan kopi pun sudah mengepul. Eh ternyata, eh ternyata ... kekompakkan saya dan mbk izza belum berakhir. Folktale yang harus kami adaptasi ternyata SAMA. Iya, judulnya sama. Siapa mengira, coba. Kami yang tidak satu kelompok saat workshop, ternyata dapat jatah naskah yang sama. Aiiih. Meski begitu, kami melakukan adaptasi dengan cara berbeda.

Seperti mbk Izza agak mikir banget deh soal tugas-tugas ini. Saya? Ehm, saya juga mikir sih. Kepala juga sudah ngebul. Tapi saya memilih cuek saja. Mending nonton drakor, daripada gila memikirkan naskah, ehe. Jangan ditiru ya yang satu ini. Hari ketiga berakhir dengan mendarat di pulau kapuk dengan sukses. Oaaahmmmm

Hari keempat Workshop, 20 September 2016

Yosh! Akhirnya hari keempat, alias hari terakhir. Masih bangun pagi seperti tiga hari kemarin. Tapi sepertinya sudah tidak terlalu kaget sih. Naskah pun dikerjakan pagi ini. Sekali lagi, saya nggak terlalu memikirkan hasilnya. Yang penting selesai dulu lah. Kan nanti masih bisa diobrolkan dan minta masukan lagi dari editor. Kalau kata pak Benny Ramdhani—yang satu kelompok dengan saya—, ‘biar editor punya kerjaan’, ehe. Tapi terus diprotes sama mbk Grace, hehehe

Presentasi hari keempat dilanjutkan. Banyak cerita keren ternyata, dari legenda/cerita rakyat yang kemarin dibagikan. Punya saya sih, nggak keren-keren amat. Karena justru cerita utamanya saya ganti, karena nggak pede dengan cerita awalnya. Kali ini giliran mbk BE yang presentasi. Dilanjutkan ngobrol dan ngedit naskah lagi bersama editor.

Selesai istirahat siang, kami diberi kesempatan mengedit naskah sekali lagi hingga benar-benar dianggap final alias selesai. Dibantu mas Widi—yang lucu itu—saya pun melanjutkan editing naskah. Ternyata butuh waktu yang cukup lama untuk mengedit lagi ketiga naskah itu. Sekitar jam 5 sore, akhirnya saya memutuskan untuk ‘end-edit’ dan mengirimkan naskah itu ke email panitia. Sudahlah, bukan bermaksud nyerah lho ya. Tapi saya sudah pasrah saya. Saya sudah mencoba melakukan yang terbaik yang saya bisa. Kalau gagal, ya wajar, orang saya baru belajar. Kalau berhasil, itu artinya tantangan baru buat saya. 

Acara hari keempat diakhiri dengan evaluasi dan memberikan kesan pesan. Yang datar—termasuk saya—dan banyak yang lucu. Bahkan mbk Chatarina pun nyaris meneteskan air mata. Aiiiiih. Terakhir ... foto time. Ah ternyata memang ya, kalau ngumpul gini mau nggak mau ya narsis juga. Kalau narsis rame-rame, saya masih bisa lah. Tapi malu kalau narsis sendirian. Akhirnya ... saya nggak punya banyak foto deh.

Kami kembali ke kamar saat suasana sudah benar-benar gelap. Setelah shalat dan mandi lalu makan, kami bersantai. Sudah tidak ada tugas lagi di malam terakhir, oyeeee ... ada beberapa peserta juga yang sudah pulang duluan. Niat awal sih, mau jalan-jalan keliling Bandung bersama teman-teman, naik mobil pak Benny Ramdhani. Tapi, hujan menyapa kami. Terpaksa rencana batal. Apalagi, malam ada acara lain, yakni ... ngumpulin tiket perjalanan, aiiih. 

Mbk Izza kayaknya udah capek banget tuh. Kembali ke kamar, langsung tidur. Saya ... masih sempat nengok drakor di tv, ehe. Hidup saya drakor banget sih. Maksudnya, seneng banget nonton drakor. Lha iya to, channel tv yg bagus Cuma itu. Ada sih channel lain, asing, misalnya. Tapi rata-rata film, dan nggak nemu yang menarik. Pengen nonton serial asing, nggak ngerti ceritanya, karena nggak nonton dari awal. Kalau drakor kan, nggak meski lihat dr awal pun nggak masalah. #ditimpukAnakDrakor

Dan tidur malam ini pun ... sukses nyenyakkkk

Eits, masih bersambung hari terakhir lho.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.