Book, Love, Life and Friendship

Kamis, 20 Oktober 2016

Drama masih Terus Berlanjut

Hingga saat ini, ada dua orang yang sudah melabeli saya dengan ‘drama banget’. Jadi, apakah benar hidup saya terlalu drama-nya, hingga saya mendapat label seperti itu? Label itu diberikan oleh dua orang yang berbeda, di waktu yang berbeda dan situasi yang sama sekali berbeda. Entah bagaimana mereka bisa dengan kompaknya memberikan saya label satu itu. Tidak, saya tidak marah. Saya justru merasa bersyukur, karena itu artinya ada perhatian yang diberikan.

Saya tidak akan membahas label ini sekarang. Karena drama yang saya maksud kali ini, adalah drama yang ada di sekitar saya. Dan kali ini, alih-alih jadi pemeran utama, saya memilih jadi cameo drama saja. Cukup numpang lewat atau bahkan hanya ada di latar belakang saja.
Drama kali ini dipersembahkan oleh situasi yang saling tidak mengerti antara dua orang. Yang satu sedang galau karena punya masalah pribadi, yang lain mendesak untuk urusan pekerjaan karena dikejar deadline. Dan masalahnya, keduanya tidak saling mengerti.

Ah ... saya cukup menyimak dari jauh saja. Tidak mau terlibat bukan berarti tidak perhatian. Hanya tidak mau menambahkan garam pada air yang sudah keruh, nanti tambah keruhlah air itu.

Saya tahu, memang tiap orang punya masalahnya masing-masing. Dan ada kalanya, masalah yang sudah melampaui batas akhirnya menyeberang dan berpengaruh pada bidang lain. Ehm ... ya mau gimana lagi, orang lagi galau dan sensitif kok digelitiki. Ya berubah jadi singa-lah dia. Meski pada akhirnya ungkapan kemarahan itu berbentuk air mata saja. Saya sih nggak tanya-tanya. Tetangga sebelah kursi cerita soal akar masalah galau-nya si peran utama ini. Nah loh, masalah pribadi rupanya. Dan komentar saya? Kan saya sudah bilang, saya Cuma mau jadi cameo saja, jadi saya cukup sediakan telinga dan tersenyum atau mengangguk saja. selesai.

Ok, peran kedua disponsori oleh pekerja yang pengen segera pekerjaannya selesai. Sayangnya, punya mulut cukup pedas dan kurang peka terhadap situasi sekitar. Akhirnya, bukan masalah yang selesai, tapi menambah masalah baru.

Bingung ya dengan tulisan ini? Ah, anggap saja selingan. Saya Cuma ingin menulis saja kok.

Menjadi pengamat dan pendengar ternyata bukan hal yang buruk. Saya belajar banyak hal dari situasi di sekitar saja. Bahwa galau dan sensitif bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Mood yang memburuk pun demikian, bisa muncul begitu saja. Cuma ya itu, mungkin saya perlu melatih diri soal pengendalian diri. Jangan sampai gampang meledak kalau ada masalah. Takutnya bukan situasi membaik tapi justru makin kacau.

Kedua, peka terhadap lingkungan. Tidak setiap hal di lingkungan sama seperti yang kita lihat, rasakan atau inginkan. Jadi, pekalah terhadap semua situasi itu. Tahu dan sadari waktu kapan harus memaksa dan kapan harus berhenti. Jangan sampai karena ketidakpekaan itu, justru membuat masalah makin rumit dan kacau.

Ok, itu pesan sponsor untuk postingan kali ini. Dewasa itu bukan soal umur, tapi soal bagaimana menyikapi situasi sekitar. Baik pengendalian diri maupun belajar untuk menjadi orang yang peka.

2 komentar:

  1. Emang iya ya, ada pribahasa "menambah garam pada air yang keruh?"
    Baru tau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang nggak ada ya?
      kekekekeke
      kemudian ketahuan kalau nilai bahasa indonesianya wkt di skolh jeblok, #krikrik

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.