Book, Love, Life and Friendship

Senin, 17 Oktober 2016

Gagal Pindah Jurusan, Akhirnya ...

Gagal pindah jurusan dan akhirnya saya terdampar di sini. Cinta? Tidak, masih terlalu dini bilang cinta. Atau lebih tepatnya, cinta saya terlalu mahal untuk bidang yang saya tekuni sekarang.

Saking cintanya pada matematika, saya pernah nyaris nekat untuk pindah jurusan. Bahkan hal itu pernah saya bicarakan juga dengan pembimbing akademik, saat itu. Meski sebenarnya pun, bidang yang saya tekuni tidak jauh-jauh beda dengan matematika, masih selalu bertemu angka dan simbol yang berjejer rapi menyapa saya. Tapi, beda rasanya kalau isinya saja yang sama, tapi bungkusnya tetap beda.
Pada akhirnya, saya tidak pernah pindah jurusan. Pindah jurusan ternyata tidak semudah yang saya kira. Semua cukup rumit dan akhirnya ... saya pun bertahan di bidang ini hingga akhir. Meski memang, di akhirnya pun, saya perlu menarik nafas lebih panjang lagi untuk menyelesaikannya hingga sidang akhir skripsi.

Nah, sekarang saya ingin bicara yang saya alami saat ini. Meski pernah mengajar matematika di lembimjar, tapi beda rasanya dengan mengajar di sekolah. Kalau dihitung-hitung, jam mengajar saya saat ini, justru emejing. Ya, saya yang bukan jurusan matematika justru harus menekuni mengajar matematika jauh lebih banyak dibandingkan dengan bidang asli saya. Tiga kali lipat untuk matematika, dibanding bidang yang saya tekuni. Apakah ini namanya serakah?

Saya tidak pernah berpikir ini sebuah keserakahan. Atau sesuatu yang perlu saya syukuri? Saya mencintai matematika seperti saya mencintai menulis. Rasanya berbeda saat bisa berkutat dengan angka dan gambar abstrak yang Cuma ada di kepala itu.

Pertanyaannya, apakah saya menyesal tidak pernah pindah jurusan? Apakah saya menyesal karena batal pindah jurusan? Ada satu sisi yang saya sesali. Tapi ada banyak yang lain, yang saya syukuri. Bukan, bukan karena saya sudah cinta dengan bidang yang saya tekuni sekarang ini. Hanya saja, saya bersyukur, meski tidak pernah belajar di jurusan matematika secara resmi, saya justru punya kesempatan lebih banyak mengajar matematika, bidang yang saya cintai.

Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Termasuk dengan pilihan satu ini. Saya tidak mengatakan ‘bahagia’, karena bahagia itu relatif. Tersenyum dan ramah di wajah, belum tentu benar-benar menunjukkan hati yang serupa. Bisa saja itu hanya topeng kan? Tapi yang jelas, saya hanya ingin membahagiakan orang-orang yang menyayangi dan mencintai saya. Meski di balik layar, tanpa sepengetahuan mereka, saya masih terus dan terus berusaha mengejar mimpi yang benar-benar saya banget.

Sebuah mimpi yang mungkin jauh berbeda dengan harapan orang lain, tapi menjadi mimpi yang sangat saya harapkan. Sebuah mimpi sederhana yang benar-benar ingin saya wujudkan, tapi harus mendengarkan setiap protes ataupun keluhan dari orang lain. Mimpi yang benar-benar saya banget.

Sssst! Jangan bilang-bilang ya.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.