Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 15 Oktober 2016

Hati-hati, LGBT di sekitar kita!

Sungguh, patah hati saya saat menuliskan hal ini. Kali ini bukan patah hati karena cinta ataupun tulisan blog seseorang. Tapi karena hal yang sebenarnya tanpa kita sadari, ada di sekitar kita.

Tidak, saya tidak akan menceritakan detailnya seperti apa. Atau apa yang sebenarnya terjadi. Memang, saya bukan saksi langsung-nya. Lagipula, rasanya tidak pantas pula kalau saya cerita detail hal ini. Dan lagi, saya merasa berdosa pada si korban, kalau menceritakan seluruh kisahnya. Tapi saya akan merasa lebih bersalah lagi kalau saya diam saja.
Yang ingin saya tuliskan, hanya sebuah kesadaran diri, kalau hal ini bukan lagi main-main. Kalau hal seperti ini bisa saja terjadi di mana saja, di sekitar kita, pada siapa saja dan kapan saja. Tanpa harus ada tanda-tanda-nya terlebih dahulu, dan bahkan meski dalam sebuah bungkus yang begitu rapi dan bersih.

Jujur, saya kasihan pada si korban. Entah apa yang ada dalam pikirannya nantinya. Entah apa yang akan terus terekam dalam pikirannya hingga bertahun ke depan. Entah trauma seperti apa yang akan dialaminya nanti bertahun setelahnya. Bahkan mungkin, orang tua dan psikolog sekalipun, belum tentu benar-benar bisa menyelesaikan sebuah trauma yang terlanjur terekam begitu jelas dan terang di sana, di hatinya.

Posisi saya memang bukan sebagai penghakim apalagi pemberi hukuman. Memang, belum tentu si pelaku pun yang salah. Bisa jadi, dia juga dulunya adalah korban. Yang jadi masalah, bagaimana supaya borok ini tidak terus merambah kemana-mana. Bagaimana bisa melakukan pencegahan terbaik, sebelum ini jadi masalah yang makin buruk.

Sungguh, saya benar-benar ingin menangis saat mendengar cerita ini terjadi ada di situasi dan tempat yang begitu dekat, di lingkungan saya sendiri. Ya Rabb ... saya bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.

Ya, ini memang bukan masalah sederhana. Sebelum melakukan pencegahan lebih lanjut, saya juga perlu untuk membekali diri lebih jauh dan lebih kaya lagi, soal masalah satu ini. Masalah yang sesungguhnya jauh dari kata sederhana. Kemudian, ada yang perlu saya lakukan untuk mencegahnya. Beritahu mereka dengan cara yang benar dan tepat. Mereka perlu tahu soal hal seperti ini, tapi dari sumber yang benar, cara yang tepat. Hingga mereka bisa menghindarinya, bukan malah coba-coba.

Saya masih ingat persis, dulu saat SMP ada salah satu mata pelajaran tambahan, KRR (kesehatan reproduksi remaja) dan saat SMA ada materi yang nyaris sama dengan ‘nama’ berbeda saja. Isinya? Jelas bikin anak baru gede ger-geran dan tertawa sepanjang satu setengah jam. Tapi ... karena disampaikan oleh orang yang ahli, orang yang tepat dan dengan cara serta isi yang tepat, ini akhirnya jadi ilmu untuk kami. Ilmu yang membuat kami tahu dan jadi bekal di masa dewasa. Bukan untuk mengajarkan kami mencoba hal-hal yang memang tidak dibenarkan.

Sekarang, sensor memang ada di mana-mana. Buku, televisi dan semua media melakukan sensor. Memang, niatnya baik. Tapi ... apakah yang terjadi di masyarakat benar-benar jadi baik? Ada yang jadi baik, tapi ada yang tetap buruk. Ini yang harus dievaluasi. Artinya, apakah sensor seperti itu sudah cukup dijadikan langkah pencegahan atas tindakan asusila yang terjadi di lingkungan, atau justru membuat orang makin penasaran? Evaluasi itu penting lho.

Mata pelajaran biologi, tentang tubuh. Jangan-jangan semuanya kena sensor. Ehm ... memang niatnya baik, seperti saya katakan di atas. Tapi masalahnya, itu memang harus disampaikan. Yang perlu dilakukan bukanlah sensor membabi buta. Tapi, sampaikan hal itu sebagai ilmu, oleh orang yang tepat dengan cara yang tepat dan sesuai dengan umur siswa/obyek.

Saya pernah membaca soal bagaimana orang tua memperkenalkan anggota tubuh pada si anak. Banyak orang tua yang masih merasa tabu dan ‘porn’, saat mengenalkan bagian tubuh tertentu. Padahal kalau hal itu dijelaskan sebagai sebuah ilmu/ pengetahuan, si anak juga nggak akan mikir macam-macam kan ya? Ehm ... saya memang belum jadi orang tua. Makannya saya masih perlu belajar soal hal ini.

Oh ya, saya juga ingat obrolan beberapa rekan saat workshop penulisan buku anak di Bandung yang lalu. Saya iri dengan kesadaran dan kepeduliannya soal masalah LGBT ini. Dan betapa dia berniat untuk bisa memperkenalkan lebih dini soal masalah yang sebaiknya dihindari ini, sejak anak masih kecil. Ah ... tentu dengan cara yang tepat dan sesuai dengan usia anak kecil. Ehm ... saya menunggu karyanya yang satu ini.

Ah ... kembali soal LGBT. Sungguh! Saya sedih tahu situasi ini terjadi di lingkungan yang ternyata sangat dekat dengan saya. Saya merasa gagal melindungi mereka. Atau paling tidak, mencegah hal seperti itu terjadi pada mereka. Ya Rabb, ampuni saya.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.