Book, Love, Life and Friendship

Minggu, 23 Oktober 2016

Kampreto Momento

Harusnya ini tulisan tadi malam. Malam minggu, listrik mati dan ... nggak bisa nulis karena lupa belum charging baterai laptop. Masih untuk nggak hujan. Nggak biasanya juga, masa mati lampu seisi kota.

Jadi, Kampreto momento semalam disponsori oleh status si min @KampusFiksi. Isinya tentang benda berduri tajam bernama ‘kangen’ alias ‘rindu’. Tuh cek aja sendiri di bawah, apa sih statusnya.


Yakali, udah tahu malam Minggu, nggak ada hal asyik buat dikerjain, eh malah bikin status galau gini. Ya salam, malam minggu dan rindu emang pasangan top lah. Siapa coba yang bisa menghindarinya, apalagi buat orang macam saya ini.

Nggak ada yang salah dengan status itu. Cuma ya, kenapa kok pas banget. Jadi rasanya makjleb gitu. Yakali Cuma lewat sekilas di Te-eL. Lah ini efeknya sampai hari berikutnya. Udah gitu minggu pagi yang digadang-gadang bakalan cerah ceria hangat oleh sinar matahari, ternyata malah bikin gravitasi kasur makin besar. Hujan gerimis dingin rasanya bikin nggak mau jauh-jauh dari kasur. Mager-mager deh sekalian.

Ok, baiklah. Saya akan ngomongin soal kangen kali ini. Kangen ato rindu atau kenangan? Ehm ... nggak bisa dipungkiri sih, meski udah nggak ngarep lagi atau bahkan udah nyaris lupa, tapi kalau inget orang tertentu atau kenangan tertentu, pada akhirnya sedih lagi, baper lagi, galau lagi.

Bukan tentang orangnya. Karena emang udah nggak mungkin banget tuh, ngedapetin hati orangnya. Tapi soal momen bersama orang itu. Soal kenangan yang pernah ada. Soal kesempatan yang nggak akan pernah datang lagi. Dan soal aku dan kamu, yang nggak akan pernah jadi kita.

Tu kan, jadi inget status temen yang lain lagi. Intinya sih, waktu itu nggak akan bisa menyembuhkan luka. Tapi waktu akan bisa membiasakan kita dengan rasa sakitnya. Cc ibuk-nya dek Pram. Rasa sakit yang terbiasa, tidak akan lagi menjadi rasa sakit. Karena rasa sakit itu sendirilah yang nantinya akan dirindukan saat ia pergi.

Otak manusia berbeda dengan komputer. Lah wong komputer saja, meski file-nya sudah dihapus dari memory, ternyata masih ada mekanisme untuk mengembalikannya. Apalagi manusia. Meski udah ditata rapi, dikotakin dibungkus rapet dan ditaro di ruangan terbawah otak, nyatanya ada waktu kenangan itu akan kembali. Dan masalahnya, manusia nggak bisa ngebuang kenangan. Apa yang pernah tertuliskan, nggak akan pernah hilang dari otak manusia. Yang ada, Cuma terselip entah di mana atau tertumpuk banyak hal lain di atasnya. Tapi tetap saja, tidak akan pernah hilang. Nggak tahu berapa juta giga tuh kapasitas otak manusia. Antara bersyukur karena punya kapasitas banyak atau pengen protes, karena nggak bisa ngebuang kenangan.

Pada akhirnya—secara teori—harusnya bukan ngebuang kenangan. Tapi berdamai dengan kenangan itu. Bisa menerima kenangan itu. Bukan sebagai musuh yang harus dilenyapkan atau wajib dibenci. Tapi sebagai file yang pernah ada dalam memory bernama kehidupan.

Udah ya, jadi keingetan momen dan banyak kenangan lainnya nih. Apalagi momennya pas, hujan gerimis yang dingin.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.