Book, Love, Life and Friendship

Senin, 21 November 2016

Dunia di balik Kaca Mata

Waktu datang ke optik dan ditanya sama karyawannya, ‘apa yang saya keluhkan?’, jujur saya bingung menjawabnya. Saya tidak benar-benar merasakan keluhan apapun. Atau saya yang mengabaikannya? Yang saya tahu, hanya saya mudah lelah setelah lama berada di depan komputer. Ya, keluhan itu sejak lama, karena saya memang banyak berada di depan komputer. Soal tulisan yang tidak jelas, saya tidak benar-benar merasakannya. Mungkin otak saya terlanjur menyimpan banyak memory huruf, jadi sudah bisa menebak tulisan meski tidak benar-benar membacanya.
Dan setelah sekian tahun, akhirnya saya pun pakai kaca mata. Meski tidak ada keluhan pusing atau tulisan yang makin blur, saya tetap harus memakainya. Empat tahun lalu, saya pernah cek mata. Dan katanya saya minus ¼. Dan bertahun berlalu, hingga kemudian kemarin pun saya cek mata lagi. Sudah tambah, jadi minus ¾.

Ada alasan tersendiri kenapa saya akhirnya memakai kaca mata. Tiga per empat, bukan alasan utama. Tapi yang jadi alasan utama, karena lensa kaca mata yang bisa meredam radiasi layar komputer, jadi saya bisa berlama-lama di depan komputer, #ehe. Ok, ini alasan yang nggak banget sih sebenarnya.

Sebelum ini, saya pernah beberapa kali punya kaca mata ‘gaya’. Jadi ya memang Cuma sekedar gaya-gayaan saja, tidak dipakai seterusnya. Jadi tahu rasanya pakai kaca mata. Tapi memakai kaca mata nyaris sepanjang hari, ya baru sekarang ini. Mau tidak mau, saya harus mengistirahatkan mata dari melakukan pekerjaan berat, dengan memaksakan diri melihat. Karenanya, kata mata membuat mata saya sedikit lebih santai dalam melihat. Karena tidak perlu dipaksa lagi.

Dunia di balik kaca mata sungguh berbeda dengan dunia yang saya kenal sebelumnya, tanpa kaca mata. Meski obyeknya masih sama saja, tapi dunia di balik kaca mata serasa lebih sempit dibanding sebelumnya. Jelas, kaca mata membuat aktivitas menjadi sedikit lebih lambat dan tidak bisa bebas aktif lagi. Meski tanpa kaca mata pun, saya masih bisa melihat dengan baik. Tapi ... saya tidak mau minus ini bertambah dan menumpuk makin banyak. Jadi, saya pun memilih memaksa diri untuk tetap memakainya.

Meski kadang, masih suka lupa kalau pakai kaca mata, dan akhirnya membaca tanpa kaca mata. Kasihan mata saya, sudah terlalu lelah selalu saya paksa melihat dan memandangi layar komputer #ehe

Ini seperti curhat ya? Kalau begitu abaikan saja. Selamat datang dunia di balik kaca mata. Saya masih berharap bisa sembuh dan tidak perlu memakai kaca mata lagi, suatu saat

1 komentar:

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.