Book, Love, Life and Friendship

Kamis, 24 November 2016

Mereka semua Unik dengan Caranya Sendiri #SelamatHariGuru

Dalam satu atau dua tulisan, saya pernah bilang, kalau tiap siswa itu unik. Mereka punya cara masing-masing dan punya keahlian berbeda. Nggak bisa dipaksakan juga untuk bisa ahli dalam satu bidang tertentu saja.

Tiap kali melihat nilai jelek anak-anak, saya sering sedih dan pengen nangis. Tapi, saya selalu mengatakan pada diri sendiri, kalau nilai jelek itu bukan akhir dari segalanya. Mungkin nilai mereka jelek di bidang yang saya ampu, tetapi baik di bidang lain. Itu yang berkali-kali saya katakan pada diri sendiri, anak-anak itu unik. Anak-anak itu punya kelebihan masing-masing. Dan saya tidak bisa memaksa mereka harus ahli dalam satu bidang tertentu saja.
Cuma kadang, saya merasa sedih kalau ternyata nilai-nilai jeblok itu Cuma karena mereka enggan belajar. ohooooo ... tidak masalah kalian mengejar salah satu keahlian, tapi bukan berarti mengabaikan keahlian yang lain kan? Tidak ada manusia bodoh. Kalau saja mereka mau berusaha dan belajar lebih keras sedikiiiit lagi saja, saya yakin kok mereka bisa punya nilai yang lumayan. Ya minimal batas tuntas lah, 70. Nggak terlalu berat kan? Cuma masalahnya, nggak semua mau belajar.

Saya memang nggak bisa memaksa mereka harus seperti saya yang bisa punya nilai selalu di atas, di masa sekolah dulu. Karena jelas, standar mereka dengan saya berbeda. Tetapi, tidak bisakah kalian berusaha sedikit lagi? Ok-lah, mungkin memang sudah mentok kemampuannya Cuma segitu, hingga nilainya parah. Paling tidak, tunjukkan usaha kalian belajar lah. Catat yang diajarkan di sekolah, meski nggak paham-paham amat. Mungkin setelah nulis nanti, jadi lebih paham. Saya ngasih nilai juga nggak Cuma semata-mata nilai tunggal, hasil ulangan/ujian saja. Saya bisa saja memberikan nilai baik, kalau mereka menunjukkan usaha dan kerja keras untuk belajar. Sebuah nilai yang muncul karena proses, bukan hasil.

Memang sih, nilai Cuma angka. Dan tentu lebih berharga bentuk penghargaan lain dibanding nilai. Cuma, bisakah kalian menolong saya memenuhi tuntutan sistem ini? Nilai memang Cuma angka. Tapi, saya juga tidak akan pelit-pelit amat kasih nilai bagus, kalau memang usaha kalian serius dan sungguh-sungguh.

Tiap kali anak-anak diminta maju ke depan, mereka selalu bertanya ‘kalau salah gimana?’ Memangnya saya pernah marah kalau yang dikerjakan salah? Ya kalau salah, tinggal diperbaiki saja. Simpel kan? Nggak usah mikir salah atau benar, yang mau saya lihat itu, kalau kalian mau mencoba dan berusaha belajar. Salah bisa diperbaiki. Keliru bisa dibantu. Nggak bisa, bisa ditanyakan pada saya.

Boro-boro belajar dan dapat nilai bagus. Mau berangkat sekolah saja sudah bagus. Sering pikiran ini mampir di kepala saya. Dan berkali-kali juga saya berusaha menepisnya. Kenapa? Karena saya perlu tegas. Nggak niat sekolah? Minggir aja deh. Sekolah saatnya tegas pada siswa. Bukan Cuma memanjakan siswa lantaran butuh nyari siswa. Sekolah kalau mau maju, ya harus tegas. Ajak lari siswa yang bisa diajak lari. Terima seluruh siswa, tapi pertahankan yang benar-benar datang untuk mencari ilmu (bukan menuntut ilmu, karena ilmu nggak salah #ehe). Karena yang nggak bisa diajak lari, ya kamu yang akan ketinggalan sendiri.

Memang sih, iklim sekolah saya dulu dan di sini berbeda. Dulu saya dikelilingi orang-orang yang memang ‘niat’ sekolah. Jadi, meski nggak bisa-bisa amat, mereka tetap berusaha buat bisa. Paling tidak dapat nilai tuntas. Tapi iklim sekolah di sini, nggak seperti itu. Bisa dan mau sekolah aja sudah syukur. Urusan nilai? Gampang aja. Alhasil, manja jadinya. Ehm ... kapan mau maju kalau model begini?

Dan pada akhirnya, berkali-kali dan terus saja saya perlu mengingatkan dan meyakinkan pada diri sendiri, kalau setiap siswa itu unik. Saya hanya perlu lebih membuka diri untuk memahami dan mengerti mereka satu per satu. #oho ... karena memang seperti itulah dulu saya diperlakukan, dimengerti. Meski dengan segala pemberontakan saya.

#SelamatHariGuru, 25 November 2016


4 komentar:

  1. Selamat hari guru..!!!
    memang jadi guru itu sesuatu banget yah, gue juga pernah ngalamin.
    tunggu tulisan gue tentang guru juga, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya bukan hari guru
      tapi hari PGRI
      #ehe
      tapi tak apa lah

      Hapus

  2. eh sama mbak.. rasanya sedih kalau liat anak2 yg kurang maksimal usahanya. tapi lagi-lagi kembali berkata pada diri sendiri bahwa setiap individu itu unik, punya kelebihan masing2. Tapi juga introspeksi diri, sudah benarkah kita mengajar dan mendidik selama ini.
    Serta tak lupa, iringi setiap ikhtiar kita dengan doa :) Kalau aku balik lagi, yang membolak balikkan hati dan yang ngasih ilmu itu kan Allah. Mungkin nggak secara langsung, mungkin nggak sekarang, mungkin nggak semua tapi semoga apa yang kita ajarkan bisa bermanfaat agar bisa jadi amal jariyah kita.
    maaf ikut curcol, hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. #peluk
      hehehe, iya curhatan nih
      mungkin hal seperti ini juga yg dulu dipikirkan guru2 kita ya

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.