Book, Love, Life and Friendship

Kamis, 01 Desember 2016

Tidak semua orang di rumah bisa minum kopi

Benar, tidak semua orang di rumah bisa minum kopi, dengan beragam alasan. Tidak semua orang menikmati kopi. Tapi, saat salah satu saja menyeduh kopi, maka kebahagiaan minum kopi ternyata menyebar. Meski hanya satu gelas saja, aromanya memenuhi seisi rumah. Membagikan kebahagiaan yang secuil tetapi bisa puas dinikmati semuanya.
Bagi pecinta kopi, aroma kopi adalah bagian utama dan salah satu yang penting, selain rasa dan teksturnya. Mungkin, kebahagiaan minum kopi hanya bisa dirasakan oleh si peminum saja. Tapi kebahagiaan membaui aroma kopi bisa dinikmati oleh semuanya. Bahkan oleh orang yang—karena satu dan lain alasan—tidak bisa menyesap nikmatnya tiap tetes kopi.

Kopi itu pahit, benar sekali. Tapi, kenapa sampai sekarang tetap saja punya banyak fans dan penikmat? Semakin kopi disesap, maka pahitnya akan jadi terbiasa dan tidak aneh apalagi menyebalkan lagi. Karena seperti itulah hidup. Semakin pahit hidup, semakin sesak perasaan atau semakin sakit suatu masalah, belum tentu akan benar-benar berakhir atau sembuh. Ternyata, bukan waktu yang menyembuhkan rasa sakit. Tapi waktulah yang membuat kita terbiasa dengan rasa sakitnya. Hingga rasa sakit itu, tidak lagi seperti sebuah rasa sakit. Tapi sesuatu yang tampak biasa dan bisa dilewati begitu saja.

Benar, tidak semua masalah bisa selesai atau ada ujungnya. Tetapi, jika sudah terbiasa, maka akan jadi biasa. Tidak ada lagi yang istimewa dengan masalah itu.

Kalau pahitnya kopi bisa dinikmati dengan gula, susu atau creamer, maka seperti itulah hidup. Pahitnya hidup bisa tetap dinikmati dengan menambahkan sesuatu yang manis sebagai pelengkapnya. Lihat, rasa pahit kopi tidak hilang kan? Tapi bisa dinikmati. Rasa sakit dan sedih dalam kehidupan tidak akan pernah benar-benar hilang, tetapi tetap bisa dijalani dengan sesekali merekahkan bibir, tersenyum oleh hal-hal kecil.

Ah tapi, secangkir kopi juga seperti kentut rupanya. Cuma satu atau beberapa orang yang mengalami, tapi yang membaui bisa satu ruangan. hahahaha

Seperti sekarang ini. Meski dateline naskah makin dekat, saya ternyata masih punya waktu nulis curhatan ini sambil menikmati kopi yang tinggal setengah cangkir. #eeeeeh #dilemparMouseSamaEditor #kitaPutus!

2 komentar:

  1. Apalah daku yang tak pernah bisa merasakan nikmatnya seduhan kopi. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling tidak, baui-lah aromanya yg manis itu
      #eeeeeh

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.