Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 18 Januari 2017

1st Day – Hukum III Newton

Ini nggak ada yang protes kan, kalau balik ke jaman sekolah sebentar? Iya tahu, itu sudah bertahun silam. Dan artinya kamu udah masuk kategori ‘berumur’. Ya ... kali-kali kelihatan sedikit lebih muda lah.

Hukum III Newton lebih dikenal sebagai hukum aksi reaksi. Well, sepertinya memang seperti itu juga urusan jodoh dan kekasih. #ehm. Masih nggak paham? Jadi secara teori, wanita baik akan mendapatkan jodoh pria baik, begitupula sebaliknya. Misal ternyata ada yang nggak ngikuti aturan itu, artinya mereka belum ketemu jodohnya. Mungkin jodohnya masih mampir sebentar jadi kekasih orang lain. Iya, bisa jadi pacar yang sekarang masih dikekep itu, sebenarnya jodoh orang lain yang dipinjem sebentar. Eh, kenapa malah bahas jodoh gini?
credit as tag

Bekla, tipe kekasih idaman ya? Biar ya, Mon, nggak pake kata ‘dambaan’, soalnya menurut saya idaman itu lebih seksi. Jadi, sesi curhat pun dimulai!

Ada orang yang berpikir saya pendiam. Yang lain berpikir saya cerewet. Nggak jarang juga yang beranggapan saya ini sombong. Atau bahkan menganggap saya ini aneh. Tapi yang paling keren sih, saya dibilang easy going. Saya pun nggak ngerti artinya ini. Rumit ya? Ya memang gitu. Sikap yang tergantung situasi dan kondisi ini yang membuat semuanya jadi rumit. Jadi, mungkin yang saya butuhkan adalah tipe kekasih yang lebih simpel dibanding saya. Bukan berarti simpel artinya bisa jadi tempat sampah sesukanya. Tapi, berharap sih, simpelnya dia bisa membawa kerumitan saya menjadi sedikit lebih terurai, #ehe

Kedua, saya berpikir kalau saya ini tipe cuek. Tapi orang-orang di sekeliling saya, mengira saya sangat peduli dengan hal-hal kecil. Sebenarnya ini karena moody aja sih. Ya kalau lagi pengen cuek ya cuek, kalau lagi pengen teliti ya teliti. Tergantung mood. Bisa dibilang mood-swing saya lumayan parah. Tetiba hujan tanpa awan ataupun angin sepoi-sepoi. Jadi, yang saya butuhkan adalah kekasih dengan pembawaan yang lebih cuek dari saya. Ya, buat membangun mood biar kecuekan saya berkurang, saya butuh orang cuek kan? Sikap cueknya juga bisa jadi alasan buat bertengkar, hahaha #janganDitiru. Salah satu kriteria cowok favorit saya adalah bisa diajak berantem kapan pun dan punya lengan yang lumayan tebel, jadi bisa saya jotosin kalau ketemu. Tapi juga bisa saya jadikan bantal kalau capek (baca:pengen bersandar)

Soal kerapihan dan penampilan, saya ogah ribet. Lebih suka pakaian simpel dan nyaman di badan. Jadi, kadang yang lihat sampai bosen karena saya pakai baju itu-itu aja. Mungkin saya butuh kekasih yang bisa saya dandanin ya. Disiapin baju dan sepatu pagi-pagi. Jangan lupa atur rambut dan parfumnya. Hmmm ... adek saya yang cowok nggak doyan didandanin ala cowok rapi berkemeja. Tapi saya suka cowok macam begitu. Ya, siapa tahu bisa dapat kekasih macam gitu. Bisa didandanin rapi berkemeja dengan baju luaran jas, blazer atau rompi. Kayaknya bakalan keren tuh. Tapi bukan berarti saya nggak tertarik cowok berkaos oblong warna putih lho ya. Apalagi yang dalemnya agak ngintip #ups. Roti tawar pun jadi, meski nggak dapet roti sobek.

Apa lagi ya? Sebenarnya sih nggak ada kriteria khusus pria idaman kekasih hati ini. #cieee. Seperti arti hukum III Newton di atas, ada reaksi pasti sebelumnya ada aksi. Kalau pengen tahu seperti apa cowok idaman, tentu harus berkaca diri. Macam apa diri ini. Lah diri aja biasa aja, masak maunya pangeran berkuda jingkrak warna merah menyala itu. Dirinya aja males merawat diri, eh pengennya cowok yang sadar penampilan. Pengen selalu diperhatikan, tapi diminta balas perhatian nggak mau. Ada aksi ada reaksi.

Di dunia ini nggak ada yang gratis, Gais. Bahkan untuk urusan mendapatkan kekasih. Iya, buat dapat jodoh yang mahal, butuh pengorbanan yang nggak murah juga. Untuk mendapatkan sesuatu, maka harus mau melepaskan sesuatu lebih dulu. Sebelum menentukan kriteria cowok idaman, mending kenali dan tahu diri dulu. Bukan berarti membunuh harapan yang setinggi langit itu ya.

Boleh sih berharap dapat macam cucunya Ratu Elisabeth atau model pria jomblo usia 939 tahun dengan pedang di dada (Baca : Goblin Ajushi) atau model cowok alim dengan hafalan segambreng (baca : Fatih Seferagic). Asal jangan sampai nikung punya temen, lantaran masalah ‘timing’ macam Choi Taek terhadap Jungpal, pada Duksun (Reply 88). Jangan juga terjebak hubungan kakak-adek tapi sayang, yang akhirnya nggak jadi. Jadi mungkin lebih mendingan model cowok tetangga sebelah, yang sebenarnya biasa aja tapi bisa bikin hati tenang. Atau kalau perlu sahabat sendiri yang udah kenal dari lama, juga asyik tuh, macam JungHyun dan BokJo (baca: Peri Angkat Besi—ini nggak tahu judul aslinya). Dan jangan sampai terjebak hubungan nggak jelas, macam Ran yang keburu tua karena ditinggal Shinichi 20 tahun, tanpa pernah ada kabar pulang. Udah kan, absen dramanya? Absen lanjutannya di komen aja.

Udah ah, kepanjangan tjurhatnya. Nanti saya keburu diprotes dewan pendidikan lantaran ‘menyesatkan’ anak-anak dalam menerjemahkan Hukum III Newton dan membuat mereka mupeng nonton drama. Bhay ... #lanjutNontonDrama

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan #10DaysKFWritingChallange yang diselenggarakan oleh akun @KampusFiksi.

Peringatan! Maafkeun, kalau dalam tulisan ini dan tulisan-tulisan berikutnya akan terlalu banyak mengandung edisi curhat colongan. Sekian dan terimakasih.

2 komentar:

  1. Asyik banget perbandingannya pake fisika. Wkwkwk. Penjabarannya juga seru-seru. Apalagi pas sampe di drama-drama sama hubungan Shinichi-Ran. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo, salam kenal
      terimakasih juga sudah meninggalkan jejak
      ini tulisannya lagi ngacau, hahahaha #termasukYangNulis

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Blog Archive

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.