Book, Love, Life and Friendship

Minggu, 22 Januari 2017

5th Days – Interstellar (Ruang Antar Bintang)

Meski judulnya interstellar—familiar kan dengan judul film satu ini?—saya nggak akan bahas film ini kok. Ya meski Interstellar salah satu fiksi ilmiah favorit saya, tapi belum masuk top-three. Genre fiksi ilmiah adalah favorit saya, diikuti komedi dan thriller. Kalau film drama, saya kurang suka sih, bukan berarti nggak suka.

Sering banyak kejadian, saya tertarik mempelajari ‘pelajaran’ masa sekolah, justru setelah nonton film. Saya tertarik untuk membuktikan, mana yang benar, film atau ‘fakta’ di buku pelajaran. Nggak jarang saya pun jadi punya obsesi dan ketertarikan sendiri pada suatu hal, karena film. Contohnya, film sepanjang masa ‘journey to the future’ yang makin membuat saya tertarik dengan teori relativitas dan kemungkinan adanya mesin waktu. Atau soal sejarah kelam ‘perang salib’, setelah nonton The Da Vinci Code, yang membuat saya terobsesi mengumpulkan lebih banyak lagi informasi tentang hal itu.


sumber astronomi.id
Postingan soal film memang yang paling menarik dalam tulisan tantangan blog. Kalau di tantangan blog yang pernah saya ikuti sebelumnya, saya menuliskan 10 judul film, kali ini saya Cuma ‘dipaksa’ menulis tiga saja. Ini sebenarnya agak sulit juga sih. Karena harus memilih yang favorit dari yang favorit. Meski genre favorit saya adalah thriller, tapi ternyata kok yang masuk top-three bukan thriller ya? Hmmm, bekla.

Tanah Surga, Katanya (Indonesia, 2013)


Salah satu film asli Indonesia yang berhasil menarik perhatian saya. Sebuah kisah apik tentang keluarga yang tinggal di perbatasan. Ketika negara tetangga mampu memberikan kehidupan yang lebih baik dan lebih layak, maka itulah yang terjadi, rasa cinta pada negeri pun perlahan terkikis. Jangan salahkan orang-orang yang tinggal di perbatasan, di pulau-pulau terluar negeri ini, jika mereka lebih suka merantau ke negeri orang.

Btw, saya juga orang perbatasan lho. Meski bukan perbatasan antara negara, alih-alih Cuma perbatasan antar propinsi. Tapi saya juga nggak menyangkal, kalau fasilitas yang ditawarkan propinsi tetangga ternyata jauh lebih baik dari propinsi sendiri.

Nggak ada yang menyangkal kalau negeri ini kaya. Tetapi, nggak ada yang menyangkal juga kalau kekayaan negeri ini hanya bisa dinikmati segelintir orang saja. Sebuah pesan lewat film yang benar-benar menggelitik.

Krakatoa (BBC 2006)


Film produksi BBC London tahun 2005-2006 ini juga salah satu yang epik. Mencerikan kisah meletusnya gunung Krakatau pada akhir abad 19. Kisah ini didasarkan dari diary seorang peneliti gunung aktif yang tinggal di Indonesia—Hindia Belanda, saat itu—. Dan dari diary itu pula, penelitian terhadap gunung api menjadi lebih maju, seperti sekarang ini.

Sayangnya, meski setingnya di Indonesia, pemain-pemain di film ini adalah orang-orang keturunan Indonesia tetapi tinggal di luar negeri, ehm … Belanda mungkin. Jadi, dari segi bahasa, agak minus. Bahasa Indonesia mereka cukup mengecewakan. Entah kenapa, film ini tidak dibuat menggunakan actor-aktor dari Indonesia asli. Sisi budaya masyarakat yang ada pada masa itu pun kurang.

Meski ada beberapa bagian yang mengecewakan, tapi ternyata film ini masuk top-three pilihan saya. Kalau film ‘Pompeii’ memberikan kisah romantis sepasang kekasih, maka Krakatoa mengisahkan sebuah keluarga Belanda miskin yang tinggal dan mengurus sebuah perkebunan di Indonesia. Dalam catatan sejarah, keluarga dalam film ini memang benar ada. Tetapi detail kisah kehidupan mereka dan juga orang-orang di sekitarnya, saya tidak benar yakin. Pun saya tidak yakin apakah ceritanya dibuat benar-benar ‘based in fact’ atau didramatisir.

Tapi bukan itu fokus utamanya. Seperti film dokumenter umumnya, film ini menyajikan detail cerita sebelum Krakatau meletus. Sejak mulai tanda-tanda akan meletus, hingga pada saat terjadinya letusan dan efek yang terjadi setelah letusan. Detail kisah ini yang benar-benar memberikan gambaran untuk saya, kalau kekuatan alam memang tidak pernah main-main.

Apocalypto (2006)


Ini film produksi Hollywood. Menceritakan tentang salah satu suku yang hidup di daratan Amerika, sebelum kedatangan bangsa Eropa. Kalau dari budayanya, kemungkinan yang diceritakan adalah salah satu suku bangsa Maya. (kalau suku Maya, inget kiamat 2012 deh jadinya, hehehe)

Ceritanya epik dan benar-benar menarik. Suku yang menguasai lahan lebih luas mendesak suku kecil untuk menyingkir. Bahkan mereka menggunakan orang-orang dari suku kecil sebagai budak dan juga dibunuh untuk persembahan terhadap dewa matahari. Cerita berpusat tentang sang putra kepala suku dari sebuah suku kecil. Demi istri dan anaknya, dia berusaha mati-matian untuk melarikan diri dari suku besar dan bertahan hidup.

Jangan berharap menemukan visual menarik dari film ini. Yang ada justru orang-orang dengan dandanan jelek ala suku masa lampau. Yang paling epik dari film ini adalah naluri. Mereka yang tinggal di hutan, mewarisi naluri milik hewan tetapi dilengkapi dengan akal. Bagaimana sebuah kehidupan tampak tidak berguna dan kehidupan yang lain benar-benar dipertahankan. Hingga film ini berakhir dengan adegan munculnya banyak kapal asing dari Eropa. Menandakan era baru dalam sejarah.

Kalau mau dilanjutkan, sebenarnya masih banyak sih film lain favorit yang sayang untuk dilewatkan. Seperti The Matrix-series yang membuat saya terpesona oleh om Keanu Reeves, hingga berburu banyak film-filmnya yang lain. Atau New Perfect Two-nya (Taiwan 2012) mas Hua Ce Lai, yang membuat saya berubah pandangan soal flower boy macam dia. Atau film unyu bin lucu asal Thailand, macam A Litte Thing Called Love (Thai-2010) dan juga ATM-Error (2012) yang sukses mengocok perut habis-habisan. Dan ternyata saya juga masih memfavoritkan film-film adaptasi dengan tokoh utamanya Robert Langdon. Untuk bentuk animasi atau kartun, saya masih memasukkan Big Hero 6 dan Maleficent sebagai top-two favorit saya. Oh ya, ada satu lagi film Indonesia yang menurut saya keren, Alif Lam Mim. Baru kali ini, saya nonton film Indonesia dengan banyak pamer teknologi. Kalau untuk action-nya sih, saya tentu nggak akan heran, karena memang sangat keren.

Hmmm, cukup banyak juga ya. Genre? Ternyata beragam juga. Ya, yang mana yang asyik aja sih buat ditonton, maka saya tonton. Jepang dan Korea? Saya juga nonton film produksi Jepang dan Korea kok. Semacam Godzilla, Blind, The Pavvaroti, Train to Buzan, The Technician, Phantom Detective, Time Renegade, My Annoying Brother ataupun The Thieves pun, ternyata belum masuk list top-ten saya. Maafkeuuun.

Tulisan ini diikutsertakan dalam #10DaysKF #WritingChallange yang diselenggarakan oleh @KampusFiksi

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Blog Archive

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.