Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 25 Januari 2017

8th Days – Teori Relativitas part 2

Kenapa saya nulis teori relativitas lagi ya? Karena waktu dan ruang itu bersifat relatif. Begitu juga sudut pandang orang terhadap saya, serba relatif. Sebaliknya, cara penilaian saya terhadap orang lain juga relatif. Tidak ada yang pasti, kecuali relativitas itu sendiri.

 
Saya yakin—tidak hanya saya pun—setiap orang punya sisi relativitas, yang tidak selalu sama antara apa yang ia pikirkan dengan penilaian orang lain. Seperti halnya ruang dan waktu yang bisa mengkeret dan molor, maka seperti itu juga penilaian. Bisa berubah, memanjang atau bahkan berbeda sama sekali, tergantung dari sudut mana dilihat. Beberapa hal dalam diri saya, hanya diketahui oleh orang-orang terdekat saya.

Pendiam vs Berisik


Banyak yang berpikir saya ini pendiam. Memang, dalam forum saya tidak terlalu banyak bicara. Karena, kalau nggak perlu bicara, ya ngapain bicara? Saya lebih memilih bicara seperlunya saja. Tapi bukan berarti saya ini adalah sebenarnya pendiam. Karena, di suatu waktu saya bisa saja berubah jadi orang paling berisik saat bertemu dengan orang terdekat saya. Atau saat bicara soal hal-hal yang membuat saya tidak berhenti tertarik. Ya, introvert seperti saya memang lebih memilih hanya berisik di depan orang terdekat, ataupun berisik dalam tulisan saja, tapi lebih suka jadi pendengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sombong vs Pemalu


Apakah ketika seseorang diam saja berarti sombong? Tolong revisi lagi penilaian ini. Beberapa orang terlihat sombong dan jarang senyum, bukan karena benar-benar sombong. Beberapa di antara mereka justru diam saja karena pemalu atau kesulitan memulai percakapan. Atau bahkan tidak tahu mesti bicara apa dengan orang lain. Bahkan senyum pun jadi hal mahal, karena—lagi-lagi—pemalu. Seperti itulah saya. Sering dikira sombong, padahal saya hanya malu. Saya kesulitan memulai bahan obrolan dan sering terlalu khawatir akan kehabisan bahan obrolan.

Know it All vs I have just reading it somewhere and sometime


Ada yang berpikir kalau saya tahu semua hal. Oh no, jelas ini keliru. Saya bukan tahu semua hal, saya hanya kebetulan pernah membaca atau melihatnya di suatu kesempatan. Saya bukan cerdas dari lahir dengan IQ yang tinggi. Saya Cuma orang yang kebetulan tidak sedang malas membaca. Kalau saya tidak pernah membaca ataupun berlatih, maka mustahil saya bisa tahu.

Perasa, pemarah dan Mudah Menangis vs Kesulitan berekspresi


Salah satu masalah orang introvert adalah kesulitan berinteraksi dengan orang banyak. Meski ada satu sisi dalam diri saya yang berharap jadi pusat perhatian di panggung depan, tapi sisi introvert saya ternyata masih lebih dominan. Ada kalanya saya kesulitan mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran saya. Hingga yang keluar Cuma wajah tanpa ekpresi atau sikap marah tanpa sebab dan yang terparah air mata yang mengalir. Sungguh, berekspresi itu sulit bagi saya. Berasa jadi robot ya, flat. Tapi saya nggak se-flat itu sih.

Sampai saat ini, saya masih belajar bagaimana cara bersikap terhadap orang lain. Ya, saya introvert. Tapi saya belajar untuk menyesuaikan diri di dunia yang tidak hanya dihuni para introvert saja. Nggak kok, saya nggak seekstrem itu.

Selalu peduli penampilan vs ‘cuek’


Waktu saya bilang pada seorang kawan kalau saya cuek soal penampilan, dia melihat saya dengan tatapan tidak percaya. Ya, introvert adalah pecinta kesempurnaan. Tapi apa yang saya kenakan—menurut saya—adalah ciri cuek. Meski mungkin bagi orang lain, penampilan saya adalah bentuk ‘peduli penampilan’. Sepertinya kriteria cuek bagi saya dan kawan saya itu, sedikit berbeda. Mungkin lebih tepatnya adalah, saya moody. Mood swing saya agak parah belakangan. Jadi, konsep penampilan saya bisa tiba-tiba saja berubah dalam waktu singkat, tergantung mood. Jadi, artinya saya nggak cuek-cuek amat? Terserah deh.



Don’t judge a book by its cover. Jangan menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Jangan menilai seseorang hanya dari satu sisi dan sudut pandang saja. Bisa jadi, perubahan cara pandang, membuat penilaian itu jadi relatif. Ya, hidup itu seperti teori relativitas. Semuanya serba relatif. Hitam, putih bahkan abu-abu. Tapi untuk bisa melihat semua relatifitas itu secara bersamaan, butuh banyak pengalaman dan bekal yang cukup.

Kalau kata temen-temen sih, butuh piknik, mainnya kurang jauh, kopinya kurang pahit ataupun pulangnya kurang pagi dan diskusi dengan orang banyak-nya, kurang lama. Itu saran dari teman-teman, kalau ada yang sok-sokan melakukan penilaian sekaligus penghakiman tanpa dasar yang jelas.

Seorang kawan pernah mengatakan hal ini. Ada tiga hal yang bisa dilakukan saat mendengarkan omongan orang lain. Terima dan lakukan jika hal itu pantas diterima. Saring seperlunya saja dan buang yang lain jika memang perlu disaring. Atau ketiga, buang semuanya jika ternyata memang perlu dibuang.

Someone told me, I’m easy going person. I’m not really sure about this. But I know, I was important to him, the time behind. And now? Tell me ...

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Blog Archive

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.