Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 15 Februari 2017

Pendidikan Kewarganegaraan dan si ‘Lima’

Jadi ceritanya lagi pengen nulis hal yang rada sensitif nih. Ya, sensitif, tapi juga harus tetap dibahas, ya kan?

Gini, pernah denger curhatan dari salah seorang guru SD, soal mata pelajaran PKn kelas 1. Ya, kelas 1 SD udah dapat kan ya? Ya meski judulnya bukan PKn persis juga sih. Mungkin lebih ke penanaman karakter.

 
Nah, ada orang tua yang nggak terima dengan pengajaran PKn di sekolah tuh. Selidik punya selidik, itu karena masalah lima. Iya, si lima yang diakui lima di negeri ini. Eh ya, sekarang jadi enam ya, karena ada tambahan satu lagi, ‘aliran kepercayaan’, udah paham kan maksudnya?

Merupakan hal yang umum diketahui, jika tiap agama pasti mengatakan kalau agamanya-lah yang paling benar. Pun saat orang tua mengajarkan hal ini pada anak-anaknya sejak dini. Mereka yang masih kecil itu, pasti akan menerimanya dan memahaminya seperti apa yang diajarkan oleh orang tuanya. Yang jadi masalah, adalah ... pelajaran PKn di sekolah memperkenalkan kalau di negeri ini ada lima agama. Nah loh, kontradiksi kan?

Di rumah diajarin satu, eh di sekolah diajarin lima. Anak bingung? Bisa saja sih. Sebenarnya, dari dulu juga udah ada gini. Artinya, itu bukan hal baru lagi. Dan anak-anak sezaman dengan saya pun mengalami hal ini. Bedanya, anak zaman dulu nggak banyak tanya atau tidak terlalu kritis. Dan akhirnya mereka akan bisa menerima dan memahami hal ini seiring waktu.

Sekarang? Anak kritis, orang tua lebih kritis dan perhatian pada sekolah anak. Jadi, hal-hal seperti ini pun akhirnya jadi masalah.

Dan akhirnya, apa yang dilakukan oleh si guru tadi? Dia mengajak orang tua si anak bertemu dan menjelaskan semuanya. Termasuk memberi penjelasan pada si anak, soal apa yang diajarkan di rumah dengan di sekolah. Kenapa kok beda, dan mana yang benar. Ya, pada akhirnya solusi utamanya memang komunikasi.

Hmmmm ... apa kemudian muncul masalah baru? No, tidak bagi si anak. Tapi, ternyata tidak demikian dengan si orang tua. Ada orang tua yang kemudian bisa memahami al ini, tapi ada juga orang tua yang kemudian memilih menarik anaknya dari sekolah tersebut dan memindahkan ke sekolah orang lain. Orang tua nggak salah sih, tentu orang tua mana saja ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Pun guru di sekolah, yang memang punya tugas untuk menjelaskan materi itu pada anak.

Hmmmm ... complicated kan? ya memang seperti itu. Setidaknya, saya bersyukur jadi pendengar yang baik, hehehehe

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.