Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 04 Maret 2017

Mesin Waktu itu ada ya?

Ini emang lagi musim bahas time travel apa ya? Pilm dan drama soal time travel bertebaran di mana aja #eeeeh bahas drama lagi, kekekekeke

Kalau di kelas lagi bahas soal waktu, biasanya sih anak-anak excited. Mereka akan tanya banyak hal. Keingintahuan soal waktu, soal masa lalu dan masa depan ternyata jauh lebih menarik dibanding pelajaran fisika itu sendiri. Well ... itulah anak-anak.


Dan seperti kebanyakan, pertanyaan mereka pasti seputar, ‘mesin waktu itu ada nggak sih sebenarnya?’ atau ‘bisa nggak sih bikin mesin waktu?’ Jawaban gue, juga masih sama. Seperti hal-nya jawaban orang-orang di luar sana. Secara teori, jika bisa dicapai kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya (3 x 10^8 m/s), maka mesin waktu bisa dibuat. Faktanya, hingga sekarang, alat seperti itu belum bisa berhasil dibuat?

Ada orang yang percaya kalau mesin waktu itu bisa dibuat, karena mereka percaya kalau kecepatan cahaya bisa dicapai, suatu saat nanti. Atau mungkin saat ini? Tapi Cuma belum dipublikasikan saja? Tapi, ada juga yang memilih nggak percaya sama mesin waktu, karena katanya ‘kalau benar mesin waktu bisa dibuat, maka dunia saat ini (present) pasti sudah dipenuhi para penjelajah waktu dari masa depan (future) yang sibuk mengingatkan soal bagaimana menjaga alam dan membuat perdamaian manusia. Atau? Mesin waktu dimanfaatkan oleh sejumlah orang, untuk bisa mengetahui masa depan dan tahu strategi bisnis mana yang harus mereka lakukan untuk memenangkan persaingan dunia bisnis.

Gue? Kalau memang mesin waktu bisa dibuat, dan gue bisa datang ke masa lalu, gue mau menemui diri gue sendiri. Gue akan mengatakan dan meyakinkan diri gue, kalau gue nggak perlu memikirkan soal mesin waktu ataupun berencana membuat mesin waktu. Kemudian gue dari masa depan pun akan menghilang. Ya, kalau memang mesin waktu bisa dibuat, maka gue di masa depan pasti sudah ada di depan gue saat ini dan mengatakan hal itu. Gue dari masa depan akan membujuk diri gue di masa kini, untuk tidak membuat mesin waktu dan tidak perlu melakukan perjalanan ke masa lalu.

Tanpa mesin waktu pun, kita semua sebenarnya melihat masa lalu. Nggak percaya? Apa yang elo lihat dan rasakan saat ini, adalah situasi seper-ribuan detik yang lalu. Pasti tahu kan ya, cahaya butuh waktu dari benda untuk sampai ke mata dan diproses hingga menjadi ‘image’ di otak? Nah, jadi yang elo lihat itu sebenarnya masa lalu kan? Masa lalu seper-sekian detik yang lalu. Bingung? Nggak usah bingung.

Lalu, apa sebenarnya makna masa lalu, masa kini dan masa depan? Waktu itu relatif. Seperti relatifnya dimensi ruang—gue Cuma ngutip kata mbah Einstein—semoga nggak keliru ya. Jadi, mesin waktu hanyalah representasi ideal otak, terhadap hal-hal yang saat ini masih belum bisa dimengertinya. (tolong jangan lempar sandal ke gue ya, kalau gue salah bahas soal relativitas gini)

Yang jadi pertanyaan, perlukah mesin waktu ada? Apakah dengan adanya mesin waktu dan bisa kembali ke masa lalu, masa kini benar-benar akan berubah jadi lebih baik? Apakah dengan perubahan itu, kemudian dunia dan kehidupan akan jadi lebih baik? Jawabannya belum tentu. Dunia menganut asas keseimbangan. Ada yang kurang, maka akan ada yang lebih. Bisa jadi, ketika elo datang ke masa lalu dan mengubah sesuatu, hal itu akan jadi hal baik buat dirimu, tapi bisa jadi akan jadi musibah untuk orang lain. Pun sebaliknya.

Perubahan sedikit saja di masa lalu, bisa jadi akan mengubah dunia dalam skala besar. Pernah ada film sci-fi, yang mengatakan kalau sedikit perubahan di masa lalu, bisa menciptakan perubahan di masa depan seperti efek gelombang. Makin jauh jaraknya dari sumber perubahan, maka efeknya akan semakin besar.

Jadi, apa gue percaya dengan mesin waktu?

Waktu itu relatif. Masa lalu adalah sekarang untuk diri gue yang lalu. Masa kini adalah sekarang untuk diri gue saat ini. Dan masa depan adalah sekarang untuk diri gue di masa depan. Jadi, kenapa gue harus membuat mesin waktu? Kalau yang ada sebenarnya adalah masa kini?

Atau ... mesin waktu sebenarnya ada, dan di dunia ini sudah ada penjelajah dari masa depan, Cuma ... mereka nggak punya kesempatan untuk mengakuinya? Entahlah ... #balikNontonDrama #meskiHidupGueBukanDrama

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan #KF3DAYS @KampusFiksi bersama teh @IkaVihara

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.