Book, Love, Life and Friendship

Senin, 13 Maret 2017

My Dear, yang ada di Balik Kabut dan Belum Direncanakan

My Dear,

Tulisan ini dibuat sebelum kamu ada, My Dear. Bahkan belum direncanakan sama sekali #ehe. Soalnya ibuk juga belum nemu partner untuk membuatnya #krikkrik


Ah, my Dear. Pagi ini Ibuk disambut dengan kabut pagi yang cukup pekat. Seperti halnya kamu, yang juga belum tampak sama sekali. Meski demikian, ibuk sudah memikirkanmu, My Dear.

 
Kalau pertanyaannya, kamu tidak seperti yang Ibuk harapkan, apa yang akan ibuk lakukan? Ibuk ndak tahu, My Dear. Bahkan terlalu takut untuk memikirkannya. Entah yang dimaksud dengan ‘tidak sesuai harapan’ itu berarti ‘fisik’ atau ‘mental’ atau yang lain. Yang jelas, Ibuk masih belum bisa membayangkan apalagi memikirkannya.

Tapi, My Dear ... Ibuk pengen cerita tentang orang-orang yang Ibuk kenal di masa kini, saat kamu belum ada. Ya, sampai hari ini, Ibuk menemukan dua pasangan orang tua, yang ternyata memiliki anak tetapi tidak seperti yang diharapkan orang pada umumnya. Tidak, My Dear. Itu bukan penyakit atau musibah. Hanya saja, cara pandang tiap orang yang berbeda. Ibuk mo ngelap air mata dulu, boleh ya?

Salah satunya adalah guru Ibuk sewaktu SMA. Seorang wanita yang sangat cantik, menawan dan cerdas. Tapi ternyata, beliau dikaruniai putra yang mengidap autis. Kamu tahu autis kan ya, My Dear? Iya, autis yang itu. Ibuk mungkin nggak tahu persis seperti apa ibu guru ini berjuang saat putranya itu baru lahir, hingga kemudian bisa perlahan menerima situasi itu. Tapi yang ibu tahu, kehadiran putranya itu adalah cara Tuhan untuk membuat sang ibu guru belajar lebih banyak lagi. Dan hingga kini, ternyata sang ibu guru masih aktif menulis dan selalu mensupport para ibu dan keluarga yang memiliki anak penyandang autis. Iya, autis bukanlah sebuah borok atau penyakit. Hanya orang-orang yang kuat saja yang bisa menerima mereka dan mau menutup telinga dan mata dari bisik-bisik dan serta tatapan sinis tetangga dan keluarga yang lain.

Duh, My Dear, kenapa Ibuk jadi emosional begini ya? #elap_air_mata #sedot_ingus #nyari_tissue

Beruntung keluarga itu tinggal di kota yang dekat dengan kota besar, sehingga punya kesempatan untuk menyekolahkan anaknya itu di tempat yang seharusnya. Sekolah dengan fasilitas penyandang autis.

Kedua, seorang wanita yang juga guru. Ibuk nggak yakin juga, My Dear. Apakah benar putranya penyandang autis atau bukan. Tapi yang jelas, bedanya dengan yang pertama adalah, yang kedua ini tinggal di kota yang jauh dari kota besar. Jadi, kesempatannya menyekolahkan si anak ke sekolah khusus pun terbatas.

My Dear ... kalau itu terjadi pada ibuk dan kamu, ibuk nggak tahu harus bicara atau bersikap apa. Perasaan ibuk? Tentu kamu tahu. Tidak ada orang tua yang tidak hancur hatinya saat melihat buah hatinya seperti itu, My Dear.

My Dear ... sebelum kamu ada, kalau saat ini kamu masih ada di sisi Tuhan, tolong mintalah padaNya. Supaya kamu bisa hadir pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat dan dengan keadaan yang Ibuk sanggup untuk menerimanya. My Dear, tidak. Ibuk tidak minta nanti kamu sesempurna jenius olimpiade, atau sekuat atlet atau bahkan seindah seniman. Ibuk Cuma minta kamu hadir sesuai dengan kemampuan Ibuk nantinya. Kamu bisa kan ya, nego lah sama Tuhan. Biar kita bisa ketemu dengan cara yang sederhana, tetapi juga indah.

Maafkan, Ibuk, My Dear. Kalau sudah meminta terlalu banyak padamu. Padahal kamu saja masih belum ada. Tapi, kenapa kita tidak berjuang bersama untuk membujuk Tuhan?

4 komentar:

  1. Kok sedih ya mbak. Mereka orang tua yang kuat banget : (

    Oh iya. Semoga mbak juga bisa dipertemukan dengan partner di waktu yang tepat. Hehe

    BalasHapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.