Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 11 Maret 2017

Tjinta Meongnya Silver

Kalau di luar sana, istilahnya bukan ‘cinta monyet’, tapi ‘kitten love’ alias ‘cinta meong’ atau kalau nggak, ya ‘puppy love’ alias ‘cinta guk-guk’. Nah, kenapa di negeri ini, istilahnya jadi si monyet sih? Kan nggak imut babar blas tuh. Lebih imutan si meong deh. Jadi di sini, gue akan gunakan istilah cinta meong, OK? Nggak boleh protes.

 
Gue suka kalau diminta bahas cinta meong gue dulu. Soalnya, gue bisa mengenang masa-masa itu, terus senyum-senyum sendiri deh. Ya, meski sekarang orangnya udah entah ada di mana, tapi kenangan waktu itu seperti waktu yang terhenti gitu aja. Berarkhir pada adegan manis dan ... ya udah, adegan terakhir itu yang masih dan tetap gue inget sampai hari ini.

Jangan berpikir soal hebohnya cinta meong gue ya. Nggak ada mirip-miripnya sama sekali sama sinet yang lagi muncul di tipi seberang. Tahu film Thailand yang judulnya ‘A Little Things Caled Love’? Nah itu ... tapi cinta meong gue Cuma mirip sedikiiiiit, hahaha. Endingnya malah nggak mirip sama sekali.

Waktu itu gue masih oon banget, kelas VII SMP, baru 13 tahun masih bocah unyu. #ehm. Kisah gue adalah karma, karena gue pernah benci sama ni cowok waktu gue kecil—SD—dulu, soalnya gue sering jadi korban kejahilannya waktu ngaji di masjid komplek. Dan gue dikasih kesempatan bertemu dengannya yang berubah derastis jadi idola sekolah, saat masa orientasi siswa (MOS) di SMP. Bre****knya, cinta meong gue adalah Cidaha—cinta dalam diam—alias secret admirer. Sebut aja obyek cinta meong gue adalah si Aa’.

Mana berani sih, adek tingkat yang biasa-biasa aja kayak gue, deketin si Aa’ yang wakil ketua OSIS, ketua Pramuka dan kapten tim basket sekolah. Alhasil gue Cuma bisa memandangnya dari jauh. Dia kenal gue? Jelas kenal lah. Orang rumah kita aja nggak terlalu berjauhan. Ya mungkin sekitar 100-an meter lah. Nggak jauh amat kan? Kita tinggal di satu komplek perumahan yang sama, sempat ngaji bareng dan menghabiskan waktu merah putih juga di satu komplek meski beda sekolah. Tapi, di masa putih biru ini, status gue Cuma secret admirer.

Ada banyak momen yang gue nikmati, saat berada di sekitar si Aa’. Dari kemah bareng, berangkat dan pulang sekolah ‘nyaris’ barengan, dihibur waktu gue gagal di pemilihan ketua OSIS dan masih banyak lagi momen keren yang sangat nggak disarankan untuk dilupakan gitu aja.

Salah satu yang paling keren dan nggak bisa gue lupakan adalah ... saat itu pulang sekolah dan hari Sabtu. Seperti biasa, pengurus OSIS ikut latihan upacara untuk Senin depan. Gue dan sahabat gue, Mel pulang paling akhir dibanding anak-anak sekelas. Nah, masalahnya tas sekolah kami masih nangkring cantik di dalam kelas, padahal pintu dan jendela kelas pun udah dikunci. Mau minta tolong pak kebon buat bukakan kunci pintu kelas, nggak berani karena si bapak galak. Mau pulang, juga nggak bisa soalnya kunci sepeda Mel dan gue ada di tas. Usul punya usul, gue sama Mel punya ide buat ngecek kelas sebelas. Pintu kelasnya sih udah dikunci. Tapi, jendela kelas sebelah masih terbuka. Dan lagi, di bagian belakang kelas ada pintu penghubung antar kelas. Yes! Ada harapan buat pulang. Jangan tanya soal henpon ya. Mana ada anak SMP kelas VII pegang henpon, waktu itu.

Karena tubuh gue lebih mungil dibanding Mel, akhirnya kita sepakat kalau gue yang punya tugas buat naik dan lompat jendela. Dan ... hup, gue berhasil naik dengan susah payah dibantu Mel. Jangan bayangin bentuk kita kayak apa ya. Yang jelas, ini bukan suatu hal yang boleh ditiru. Ketahuan guru? Nggaklah ... kan sekolah udah sepi, #ehe

Nah, waktu gue susah payah naik, eh ternyata si Aa’ lewat sebelah kelas sambil nuntun sepedanya. Terus Mel yang jadi sasaran pertanyaan si Aa’ ini.

“Siapa tuh?”

“Itu si ... “ Mel ngejelasin masalah kami dan situasi kami jadi terpaksa harus lompat jendela.

Masalahnya, kenapa si mas nggak mau bantuin ya? Ehm ... si mas emang nggak peka.

Dan menurut Mel, si Aa’ Cuma ber-OO ria terus jalan pergi. Ehm masalah selesai? Belon lah. Masalahnya ... gue lompat jendela pakai rok biru pendek. Bisa dibayangin lah, kesulitan yang gue alami. Dan itu terjadi saat si Aa’ lewat. Nah loh, apa yang elo bayangin? Sampai hari ini, gue nggak punya jawabannya, apa yang dilihat si Aa’ siang itu. Karena gue udah terlanjur kehilangan muka di depan si Aa’ karena insiden ini.

Rasanya gue nggak yakin bakalan bisa masuk sekolah dan ketemu sama si Aa besok harinya. Image gue hancur seketika. Gue yang kalem dan lembut, eh mendadak jadi pecicilan nggak jelas. Dan kesempatan gue buat membuat si Aa terkesan pun makin jauh. alamaaaak ... rusak sudah kisah cinta meong gue.

Karena si Aa adalah kakak kelas setahun di atas gue, jadi dia lulus lebih dulu. Setelah lulus SMP, si Aa pindah rumah dan otomatis pindah sekolah juga. Setelah itu gue nggak pernah lagi denger kabar si Aa. Kabar terakhir yang gue tahu, dia sempat kuliah di Jogja. Setelah itu, pindah keluar Jawa. Dan sampai hari ini, gue udah nggak pernah dengar kabarnya lagi.

Terus, apa hubungan ‘silver’ pada judul di atas dengan kisah gue? Itu karena Aa suka dengan warna silver. Dari mulai sepeda, sepatu sampai tas, semuanya bertema silver. Makannya, sampai hari ini pun, silver tetap jadi salah satu cara gue untuk tetap mengingat Aa sebagai salah satu kisah terindah.

Untuk Aa, terimakasih untuk banyak momen menyenangkan selama putih biru. Meski mungkin Aa sendiri udah lupa semua itu. Trims udah jadi cinta meong gue yang manis dan meski berakhir tanpa kejelasan, tapi menghentikan waktunya di momen yang tepat. Sehingga yang gue kenang saat ini semuanya tentang indahnya dan kerennya Aa. Semoga Aa bahagia di manapun Aa berada sekarang, bersama orang-orang terkasih.

Oh ya, sekalian deh minta izin ya. Gue pengen pakai nama Aa buat calon anak gue kelak, boleh kan ya? #dicemburuinCalonMisua kkkkk #padahalCalonAjaBelonPunya

2 komentar:

  1. Hahaa... kocak mbak... kirain si Aa bakal jadi pahlawan kesiangan, bantuin atau apa gitu, ya seenggaknya kasih respon lebih 'manusiawi' lagi kek bukan cuma oo sambil lewat ajaa.. hahaa
    tapi ya mungkin si Aa terlanjur ngeliat 'sesuatu' makanya buru2 pergi #analisasoktau

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya ...
      coba si Aa responnya lebih manusiawi
      etapi, waktu gue sendirian, si Aa beneran baik kok
      mungkin nggak enak aja, karena ada Mel #ngarang
      hahahaha

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.