Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 31 Mei 2017

Welcome back, Ramadhan

Melihat hilir mudik timeline yang penuh dengan kawan-kawan yang mengabarkan kelahiran ‘anak’ mereka yang baru terbit, sungguh membuat saya sakit. Iming-iming diskon pre-order yang ditawarkan juga makin membuat saya miris, karena kantong akan makin tipis. Padahal, hati masih menangis, karena belum bisa bergabung dengan semua kisah itu.

Kalau ada pertanyaan yang lebih menohok dan menyakitkan dibanding, ‘Kapan nikah?’ di bulan Ramadhan, Lebaran dan setelahnya, maka pertanyaan itu adalah ‘Kapan buku terbit?’. 


Apalah artinya file terbengkalai di folder laptop, kalau bahkan tak diizinkan mengintip keluar dunia untuk membebaskan diri agar punya kesempatan dibaca banyak orang. Setiap tulisan ada jodohnya masing-masing. Setiap jejak ada pembacanya masing-masing. Dan setiap kisah, punya pemerannya masing-masing. Bahkan meski bukan jadi pemeran utama, tapi kisah itu adalah pemeran utama untuk si pemiliknya sendiri.

Alasan 24 jam tidak cukup adalah alasan paling klasik dari pengingkaran hati akan sebuah karya. Karena ternyata pun, mereka yang punya waktu yang sama, ternyata juga bisa. Masih ada asa yang begitu memukau di ujung sana. Menunggu dijemput oleh sang pemilik pada waktu dan kesempatan yang tepat. Bukan lagi memanfaatkan waktu ‘sisa aktivitas lain’, tapi harusnya ‘sengaja meluangkan waktu’.

Saya sering merasa iri pada mereka yang bisa mengepakkan sayapnya dalam bingkai cerita, tanpa harus dikerubuti rasa khawatir soal apa yang perlu dimakan esok hari. ya, mereka inilah merdeka yang sebenarnya. Tapi, untuk mencapai level itu, tentu nggak sebentar. Mereka juga pernah melewati banyak masa sulit, sebelum sampai di level ini. Mungkin saya hanya perlu bersabar sedikit lagi, dan bekerja lebih keras lagi, untuk juga bisa mencapai level macam pecandu tulis itu. Ketika bisa menulis, tanpa satupun beban yang menggantung.

Ah ya, saya sedang bahas Ramadhan ya? #ehe

Pertanyaan tadi di awal tulisan ini adalah pertanyaan paling lazim diucapkan oleh nyaris sebagian besar orang di negeri ini di Ramadhan yang berlanjut hingga Lebaran dan setelahnya nanti. Hmmm ... welcome back, Ramadhan. Tapi saya tidak menyambut kembali pertanyaan itu.

Menikah bukan lomba lari, yang harus dikejar target lantara kanan dan kiri sudah lebih dulu melunasi hutang mereka. Karena pertanyaan demi pertanyaan tidak akan ada habisnya, akan terus dan tetap berlanjut.

Begitupula dengan menulis. Menulis bukan lomba lari, tapi sesuatu yang harus diperjuangkan terus menerus, bahkan meski harus berdarah-darah jadinya.

Apa hubungannya dengan menulis? Kenapa pertanyaan ‘kapan nikah?’ nggak diganti saja dengan pertanyaan ‘kapan buku terbit?’. Atau paling tidak, daripada terus-terusan bertanya—meski dengan nada bercanda yang menyakitkan alias bullying—lebih baik bantu carikan? Seperti itu juga dengan tulisan, kenapa tidak bantu saja untuk menyelesaikan tulisan yang sudah terlanjur dimulai?

Well ... selamat datang kembali Ramadhan. Semoga bukan hanya kesempatan untuk menCharger hati dan jiwa, tapi juga untuk menCharger kembali semangat menulis.


2 komentar:

  1. Tiap orang puny kisahny msing2.
    Mg lancar jaya puasanya ye ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaaaa, hehe
      met puasa juga, dan moga lancar jaya puasanya
      #pasukanMoveOn
      #pasukanPengumpulKenari

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.