Book, Love, Life and Friendship

Selasa, 20 Juni 2017

Balada Lampu Sein – part 2

Masih ingat tulisan saya soal lampu sein sebelumnya? Kalau lupa cek di alamat ini deh. Soal sein kiri belok kanan, itu udah biasa kok. Dan sampai hari ini pun masih terjadi. Nggak Cuma bukibuk aja, pakbapak juga begitu, yang saya temui. Jadi nggak usah sok bener sendiri deh.

Kali ini, saya pengen bahas balada lampu sein, gegara pakaian menjulur. Ehm ... tulisan cem gini sebenarnya sudah banyak, saya yakin banget sih. Cuma, saya lagi pengen nulis ini lagi. Apalagi ini momen libur menjelang lebaran yang ... pasti makin banyak orang yang memenuhi jalanan.

Kemaren, ibuk saya habis dapat hadiah jilbab. Ukurannya lumayan besar, khas kesukaan ibuk. Cuma, yang saya protes habis-habisan adalah ekor panjangnya yang ada di belakang. Kata penjahitnya, itu namanya model pinguin—apalah ini—yang sedang trend. Huh? Trend gitu? Kemudian saya mikir keras.

Saat masih bergentayangan di area kampus, saya juga sering kok nemu mbak-mbak akhwat berjilbab besar dan lebar. Sebagian sudah sadar diri dengan jilbab, dan bisa bersikap benar. Sebagian yang lain, entah lupa entah nggak tahu, saya juga nggak ngerti.
Ok, gais begini ya. Nggak ada yang salah dengan jilbab besar dan lebar. Saya juga tahu kok, perintah wanita untuk mengenakan jilbabnya dan bahkan mengulurkan jilbabnya. Saya tidak memermasalahkan hal itu sama sekali. Itu hal benar, dan nggak perlu dibantah. Yang mau saya permasalahkan di sini, adalah attitude—sikap—si pemakainya.

Jadi gini, sering gitu saya lagi naik motor dan menemukan—entah bukibuk atau mbak-mbak—mengenakan jilbab lebar atau pakaian lebar hingga menutupi lampi sein belakang. hmmm ... sadar nggak sih, bahayanya kalau lampu sein belakang nggak kelihatan. Ya, yang naik sih mungkin nggak tahu, lha wong posisinya ada di belakang. Tapi, bagaimana dengan pengendara lainnya?

Kembali ke saat gentayangan di area kampus. Beberapa kawan jilbaber lebar tahu benar hal ini. Jadi, mereka akan menyiasati jilbabnya saat berkendara naik motor. Beberapa memilih untuk menduduki jilbab bagian belakangnya itu. Alasannya? Biar nggak terbang-terbang nggak jelas, biar nggak resiko ‘ngruel’ di rantai pun biar nggak menutup lampu sein belakang motor. Ini yang patut diacungi jempol. Nggak suka diduduki? Sejumlah kawan memilih mengenakan jaket. Manfaatnya? Sama seperti diduduki tuh. Nggak terbang, aman dan nggak menutupi. Pun lebih aman karena badan pun lebih hangat karenat berjaket. Terimakasih untuk kawan-kawan jilbaber yang memilih cara ini. Hal ini juga sudah sejak dahulu kala lama syekali pernah dibahas banyak orang.

Nah, masalahnya sekarang adalah ... di masyarakat. Kalo mbak-mbak tadi sudah aman dengan cara mereka, gimana dengan bukibuk di kampung ini? Saya masih sering sekali menemukan pakaian panjang bukibuk yang bonceng di belakang ini menutupi lampu sein. Ya, mohon maaf ya ... mohon disadari, dan sebaiknya kalau pas bonceng motor, ya diperhatikan dongse, rapikan dulu bajunya jangan sampai menutupi lampu sein belakang. Udah boncengan berberapa, baju menjuntai panjang nutupi lampu sein, duh buk. (semoga saya nggak dilempar sendal sama bukibuk yang lagi naik motor). Kalau itu ibuk saya, sudah saya protes habis-habisan dan saya paksa pakai jaket dengan benar atau merapikan bajunya sebelum naik di boncengan motor.


Ato nih ya, buat bukibuk berjilbab besar dan lebar, coba deh contoh mbak-mbak akhwat yang saya ceritakan di atas tadi. Iya, tahu, jilbab lebar itu bukan lagi Cuma memenuhi kewajiban, tapi juga selera fashion #duh. Takutnya kalau diduduki atau pakai jaket, jadi kusut gitu? Duh, mana sih yang lebih penting, keamanan berkendara atau fashion?

Saya nulis gini bukan berarti saya sok bener. Saya juga selalu berusaha mengingatkan diri sendiri soal ini. Kalau pakai baju lebar atau jilbab lebar, ya pakai jaket. Belum lagi, resiko tas dijambret orang karena Cuma diselempangkan. Makannya saya lebih suka memilih tas ransel atau kalaupun tas selempang, ya saya taruh depan. Karena kalau saya selempangkan di samping—saat naik motor—efeknya sama seperti baju/jilbab panjang tadi, bisa menutupi lampu sein belakang. Bahkan kalau pengen lebih aman lagi, pakai tas dulu, baru luarnya pakai jaket. Kan udah aman banget tuh. Biar kata bentuk badan jadi nggak eksotis, daripada bahaya?


Nah, kalau ini biasa terjadi sama nak-anak remaja yang bonceng motor. Udah nggak pake helm, terus tasnya di belakang terlalu panjang sampai menutup lampu sein belakang? #duhdek. Iya, tas kamu keren. Baju kamu keren, rambut juga keren. Tapi apa artinya semua itu kalau Cuma bikin bahaya. Ya, pakai tas sewajarnya dong ya. Paling nggak, pastikan jangan sampai menutup lampu sein belakang gitu. Pake helm juga, woi!

Yang juga nggak boleh disepelekan adalah membonceng, saat memakai baju atau rok panjang dan lebar. Nggak ada yang salah dengan baju dan rok panjang itu. Tapi yang salah, adalah yang memakainya dan nggak sadar bahaya. Udah tahu pakai rok panjang, dengan resiko terlilit ke rantai, masih nggak sadar juga? Kalau pakai rok model gitu, ya disiasati lah. Cari boncengan motor yang aman, misalnya. Atau, pakai dobel celana dan naik dengan melangkah, bukan miring, biar rok bisa sedikit terududuki dan nggak resiko masuk rantai. Nah ini nih.

Belum lama ini insidan jambret tas bukibuk yang sedang naik motor kembali terjadi. Tali tas yang kecil dan cara memakainya yang Cuma diselempangkan saja ternyata benar-benar menarik perhatian mata haus uang. Dan korbannya ini pun akhirnya jatuh dari motor, luka-luka sampai patah tulang.

Kejadian serupa pernah terjadi beberapa tahun silam, saat saya masih bergentayangan di area kampus. Rampok mengambil tas ransel seorang mahasiswi wanita hingga membuatnya jatuh, kecelakaan dari motor dan meninggal. Ehm ...

Saya selalu berusaha untuk mengingatkan diri sendiri, kalau keamanan di jalan ya tanggungjawab saya sendiri juga. Kalau mau aman, ya hindari hal-hal yang nggak bikin aman. Karena apa yang kita lakukan di jalan, nggak semata berefek pada diri sendiri. Bisa jadi diri sendiri aman, tapi belum tentu orang yang berkendara di belakang Anda aman. So hati-hati.

(foto-foto di atas bukan milik pribadi. diambil dari berbagai sumber, dari mbah Google)

2 komentar:

  1. Baiklah, mulai saat ini gue akan memperhatikan pakaian gue saat naik motor. Biar selamat #eh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, jangan lupa juga kalau peniti itu buat ngiket jilbab
      bukan ditusukin di ubun2 #eeeeh

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.