Book, Love, Life and Friendship

Jumat, 09 Juni 2017

Upgrade Level Kualitas Menulis

Saya paling seneng dan paling rajin ikutan, kalau ada pelatihan/seminar/workshop menulis. Alasannya selain pengen nambah pengetahuan—istilahnya upgrade level kualitas menulis—juga bisa sambil nyari kecengan kenalan penulis/penerbit atau sejenisnya. Ya, semacam mencari peluang. Iya sih, tahu. Meski rajin ikut pelatihan, kalau nggak dipraktikkan ya nggak ada hasilnya—baca: karya—yang mletik.

Saya nyadar diri kok, apalah saya ini. Gimana level kualitas tulisan mau naik, kalau baca aja—belakangan—lagi males-malesnya. Padahal saya selalu bilang untuk memerangi males. Saya juga sadar diri, kalau selama kualitas tulisan saya ya levelnya segitu, nggak keren-keren amat. Nggak se-viral yang memang lagi viral. Saya mah standar aja. Asal tulisan saya masih melewati batas bawah kualitas cukup dan bisa menambah deretan angka nol di rekening saya, ya sudah.

Nggak, saya sama sekali nggak sedang merendah. Serius, saya memang merasa kalau level kualitas tulisan saya masih sangat jauh dari bagus. Saya masih harus lebih banyak baca, diskusi dan latihan lagi kalau memang ingin bertahan di persaingan dunia tulis menulis. Ya, tapi meski memang saya belum sekeren kawan-kawan yang tulisannya sudah hilir mudik di koran—tulisan bisa terbit di koran itu keren lho—saya tetap enjoy menikmatinya sih. Ya dinikmati aja, asal nggak lupa diri dan terus belajar, gitu. Nggak ada jaminan sih, setelah latihan dan belajar ini pasti tulisan saya langsung keren. Tapi, paling nggak saya tetap bisa melakukan hal-hal yang saya sukai, menulis.

Dulu sekali, pernah ada seorang pembicara yang bilang, kalau menulis untuk diri sendiri—misalnya diary atawa curhatan—berbeda dengan menulis untuk orang lain. Dan level ini yang perlu untuk dilatih lagi dan lagi. Diperjuangkan terus dan terus. Ya, memang Cuma itu yang saya lakukan.

Jadi intinya, ini semacam pengingat untuk diri sendiri. Supaya nggak males lagi baca dan terus latihan nulis. Apapun bentuknya. Karena setiap tulisan pasti punya jodoh pembacanya masing-masing. Yaterus kalau nggak ngikutin arus, nggak bisa ikut viral? Justru yang nggak ngikutin arus yang akan jadi berbeda dan akan ada waktunya untuk bisa bersinar. (apalah ini)

Oh ya, apa kabar draf lama berdebu? #uhuk


0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.