Book, Love, Life and Friendship

Senin, 07 Agustus 2017

Cuma Mie yang berhak Menyandang nama ‘Instan’

Nggak ada yang boleh menggeser status ‘instan’dari yang namanya mie instan. Protes? Mau gue lempar telor, huh? (kemudian due dilempar telor orang se-erte) Sebenarnya ini tulisan serius. Tapi nggak tahu kenapa, belakangan gue kehilangan mood nulis serius.

Jadi, tadi ceritanya kan ada pengajian di deket rumah. Nah, atas kesepakatan, gue pun ngekor emak gue buat datang. Ya meski datangnya juga nelat hampir sejam. (ini jangan ditiru). Dan ada beberapa hal yang menarik hati gue dan membuat gue bikin tulisan ini.

Status ‘instan’ Cuma boleh dipake sama si ‘mie’. Ini bahasa gue sih. Kemakmuran suatu negara nggak pernah dibangun dalam sehari saja dan oleh orang-orang yang nggak serius. Iya, kira-kira gitu lah. Sayangnya, sekarang banyak orang yang lupa dengan sejarah negeri ini. Tentang waktu lebih dari seratus tahun silam, saat benih-benih bangsa ini mulai mekar dan tumbuh. Hampir sama seperti isi pengajian beberapa bulan silam.

Negeri ini dibangun oleh orang-orang luar biasa yang punya toleransi yang luar biasa juga. Kalau elo inget pelajaran sejarah jaman sekolah, ada perbedaan isi piagam Jakarta dengan teks Pancasila yang dikenal sekarang ini. Ada beberapa kata yang hilang di sana. Atau lebih tepatnya, disepakati untuk dihilangkan dengan beragam pertimbangan. Siapa yang mengusulkan untuk dihilangkan? Cari sendiri tokohnya ya. Tapi yang lebih penting, ketika semua perwakilan golongan akhirnya sepakat dengan penghilangan kata-kata ini, maka terbentuklah Pancasila seperti hari ini. Lagi-lagi, kesepakatan ini adalah salah satu bentuk ke-legawa-an tokoh-tokoh agama/golongan pada masa itu. Sebuah bentuk penerimaan dan pengakuan atas NKRI. Suatu bentuk toleransi yang nggak pake embel-embel apapun. Toleransi yang harusnya dicontoh oleh semua orang di masa kini. Toleransi yang menunjukkan, kalau mereka lebih peduli soal persatuan dibanding kepentingan golongan.

Masalahnya, kenapa sekarang mudah banget sih saling tuduh ini dan itu Cuma karena sedikit perbedaan non-hakiki? Cuma karena isu di dunia maya yang bahkan belum jelas asal usulnya, apalagi status ke’benar’annya. Lupa ya, kalau sejarah negeri ini, pondasi negeri ini dibentuk oleh kesepakatan berdasar musyawarah dan ke-legawa-an para tokoh-tokohnya? Lupa ya, kalau mereka saja dulu mau menerima dengan lapang dada perbedaan ini, karena yang mereka pikirkan adalah persatuan negeri ini. Kata-kata itu memang hilang, tapi ruh negeri ini yang tetap berlandaskan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ tetap jadi landasan utamanya.

Nggak, gue nggak akan menyebut satu atau dua golongan. Atau bahkan menyalahkan yang lain. Cuma pengen komentar aja ...

Kalau ada yang rese di medsos kan ... biasanya komentar orang-orang (baca: nyinyiran) adalah ‘mungkin dia kurang piknik’ atau ‘yuk ajak dia ngopi bareng, biar gaul’ atau semacamnya. Mungkin seperti itu juga sejumlah (?) yang beredar di negeri ini. Mereka butuh piknik. Mereka butuh ngopi dan duduk bareng. Dan yang lebih penting, mereka butuh baca lagi buku sejarah. Kalau perlu, balikin ke bangku sekolah biar sekolah lagi. Biar nggak lupa, kalau sejarah negeri ini nggak pernah instan. Kalau perjuangan para pendahulu negeri ini belum selesai. Kalau ruh persatuan negeri ini, sudah ditanamkan dengan tegas oleh para tokoh pendahulu negeri ini. Mereka yang bertengkar, adu mulut adu argumentasi di dalam ruangan sidang tapi akan boncengan sepeda onthel dan ngopi bareng saat keluar dari ruang sidang.

Ya, saya juga mesti belajar sejarah lagi. Seperti kata Pak Karno (nggak berani gue panggil om, ntar dikira anu #duh), ‘Jas merah’, jangan melupakan sejarah.

Eh, pas banget ya gue nulis ini di bulan Agustus. Cocok deh. Ya ... nggak sih, gue nggak akan memaksa mereka2 yang lupa sejarah negeri ini, buat belajar sejarah lagi. Gue Cuma mau nyuruh diri sendiri buat belajar lagi. Ya setidaknya, gue sih berharap masih ada orang yang cukup ‘waras’ untuk nggak nyinyir, menuduh atau menyudutkan tokoh/orang/golongan tertentu Cuma karena dia nggak cukup cakap soal sejarah lantaran (mungkin) buku sejarahnya dulu ilang buat bungkus kacang atau ... pernah dzalim sama guru sejarahnya. Jadi, jangan samakan negeri ini dengan mie instan yang bisa dibuat dalam beberapa menit. Jangan pernah dzalim dengan menggeser label ‘instan’ yang udah jadi milik sah dari mie. Karena negeri ini nggak pantes mendapat label ‘instan’. Karena negeri ini nggak pernah dibangun secara instan dalam semalam. Hoaaaaam.

Sungkem sama semua guru sejarah di negeri ini, maaf kalau dulu nilai gue nggak pernah beranjak dari angka 7 ^_^

(ini murni tulisan curhat. Semoga tidak ada pihak yang ‘merasa’ dan tersinggung, kemudian bikin acara aneh2 kemudian jadi heboh di medsos. Anggap aja tulisan ini pengantar tidur sambil kriyip2) hoaaaaam .... Zzzzzzzzz

2 komentar:

  1. Gue sempat mikir, apa gue termasuk orang yang dzolim sama guru sejarah gue :(

    Guru maafkan aku T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau gue, iya
      gue dulu lebih sering nulis cerpen pas pelajaran sejarah, hahahaha
      untungnya temen sebangku gue baik, suka minjemin catetan

      sungkem sama guru sejarah

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.