Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 16 Agustus 2017

Turunan Mas

Daebak! Keren! Emejing!

Ok, semua kata itu masih belum cukup buat gue sebutkan setelah sebagian kecil saja dongeng itu akhirnya sampai ke telinga gue. Jadi, ceritanya gue baru aja didongenin sama emak, soal kisah masa muda mereka. errrr ... yakinlah, tiap anak pasti suka penasaran kan ya, sama masa muda bapak-emaknya. Tanya aja gih! :-P

Meski Cuma sebagian kecil saja, alias belum lengkap semuanya, tapi gue udah merasa itu semua ... emejing. Rasanya masih ada lebih banyak hal lagi yang gue belum tahu dan masih ingin gue denger dari cerita emak. Dan kisah mereka ternyata ... nggak sesederhana bayangan gue. Nggak semulus jalan tol dalam kepala gue. Dan nggak semudah dijalani ...


Gue nggak akan cerita lengkapnya, karena memang belum semua ceritanya gue denger secara utuh. Tapi, dari sana ada beberapa hal yang gue pelajari.

Pertama, darah selalu lebih kental daripada air. Hubungan saudara seringkali bisa dengan mudah renggang Cuma karena masalah uang. Iya, masalah satu ini. Hal yang selama ini paling gue benci dan selalu gue hindari. Gue paling males ngurusin uang, karena gue Cuma bisa ngabisinnya #ups. (tolong jangan dianggap serius). Uang bisa membuat saudara jadi dekat pun sebaliknya bisa membuat perang saudara. Ini yang merepotkan. Dan uang bisa membuat saudara saling benci, karena hubungan saudara (darah) jauh lebih kental daripada air (pernikahan).

Kedua, soal keturunan. Seperti orang jawa pada umumnya, urusan bibit, bebet, bobot dan engngng ... apa lagi ya (?) adalah hal yang sangat penting dan diperhatikan. Gue Cuma bisa cengo denger curhatan emak, kalau dulu nggak semua anggota keluarga sepakat dengan pernikahan emak dan bapak. Dan ternyata, emak dan bapak gue, berhasil melewati semua masa sulit itu bersama. Nggak usah dibayangin ya, kalau misal aja mereka dulu menyerah, bisa dipastikan gue nggak akan pernah ada.

Masih soal keturunan (lagi). Soal siapa orang tua dan siapa keturunan siapa, adalah topik paling hangat dalam hubungan sosial masyarakat di pedesaan. Siapa yang dihormati karena apa. Siapa yang dinggap biasa saja hanya karena apa. Semuanya begitu ... gimana nyebutnya ya? Soal keturunan begitu diagung-agungkan. Bahkan katanya, nggak jarang soal beda ‘kasta sosial’ jadi penghalang pernikahan. Gue nggak tahu, apakah itu masih terjadi sampai sekarang atau nggak di lingkungan gue.

Soal ‘trah’ atau keturunan itu adalah hal yang rumit. Gue besar dan hidup di masa sekarang ini, yang nggak terlalu merasakan efek dari hal itu. Gue tumbuh di lingkungan yang jauh lebih beragam, jauh dari semua anak-pinak-sanak-saudara, karena ikut ortu gue merantau. Jadi, sampai sekarang gue masih sulit memahami soal ‘trah’ ini. Rasanya, merepotkan.

Memang sih, dalam agama memang ditegaskan kalau soal ‘trah’ alias keturunan itu harus jelas. Jadi, bisa dibedakan mana mahrom dan mana bukan mahrom. Mana yang boleh dinikahi dan mana yang tidak boleh dinikahi. Sebatas itu. Karena kalau di masyarakat, soal ‘trah’ bukan Cuma soal mahrom-bukan mahrom. Tapi hal yang lebih rumit lagi. Apalagi kalau bukan soal ‘status sosial’ dan ‘harta’ atau ‘warisan’.

Ada satu istilah unik yang gue denger dari emak, ‘Turunan Mas’. Ini digunakan untuk menyebut anak-pinak yang berasal dari keluarga terpandang di kampung. Ini saja status sosialnya sudah dianggap tinggi dan penting dalam stratifikasi sosial masyarakat masa itu. Bayangkan saja, kalau sampai pada embel-embel ‘Raden Mas’ atau Raden Ajeng’ ataupun ‘Raden Ayu’. Tentu mereka punya status berbeda lagi.

Apa komentar elo? Unik, rumit atau ...

Obrolan dan cerita dari masa lalu ini dimulai dari kumpulan uang logam lama yang masih gue simpan. Kata bapak, itu punya simbah. Uang logam dengan satuan sen dan dipatri sehingga berbentuk kancing baju. Bentar ya, gue inget-inget masa lalu bukan karena baper atau ogah move on lho ya. Gue Cuma pengen belajar tentang apa yang ada di masa lalu. Dan ternyata itu berhubungan dengan masa sekarang. Karena cerita soal ‘trah’ alias keturunan dan warisan, nggak akan pernah hilang dari peradaban manusia. Sejarah akan terjadi lagi dan terulang lagi, di masa yang berbeda, dengan tema yang sama dan detail yang berbeda saja.

Semoga kalau gue nikah besok, emak bapak gue nggak ribet harus ngitung tanggal-weton dan sebagainya yang ribet dan ogah gue mengerti itu deh, amin. Karena semua hari pada dasarnya baik. Hmmmm ...


3 komentar:

  1. He he...iya juga sih, kdng ribet dgn bibit bobot bebetny.
    Tp kykny g cm orng jawa sih yg gt, krn temen Aku yg suku lain jg dipusingin hal begituan

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang sih, memperhatikan hal-hal seperti itu salah satu cara tetap mempertahankan budaya dan identitas bangsa
      tapi ya ... nggak harus kaku banget kan ya?
      hehe

      Hapus
    2. Seperti nya satu pemahaman nana and Hira coz bekas mertua wi juga begitu, mereka tidak menggap Kita yang tidak sederajat

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.