Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 07 Oktober 2017

Jalan-Jalan – Hutan Mangrove Pantai Kadilangu

Harusnya ini postingan beberapa bulan silam. Ya, ya mau ngambek juga boleh kok. Jadi, seperti tahun lalu (jalan-jalan ke keraton Ratu Boko, Klaten), jadwal sehari sebelum Lebaran adalah jalan-jalan. Awalnya sih Cuma pengen ke kota aja, agak bosen di gunung terus. Itung-itung memanfaatkan sinyal 4G yang melimpah dan berburu clorot (makanan khas Purworejo), eh malah nyasar sampai ke timur.

Berbekal gps ponsel, akhirnya sampai juga di perbatasan Purworejo-Yogya. Pantaii lagi? Nggak apa lah, kan kali ini nuansanya beda. Kalau pantai Congot atau Glagah udah biasa, kali ini nyasarlah ke pantai Kadilangu.

Area pantai Kadilangu terletak di perbatasan kab.Purworejo dengan kodya Yogya, dan sudah masuk area Yogya. Pantai ini bisa dijangkau dari arah Yogya, lewat jalur pantai selatan atau jalan Daendels, tepat setelah jembatan perbatasan belok kiri. Masuk jalan kampung sekitar 800m-1km. Nggak jauh kan ya? Nggak usah takut nyasar, karena di sini sudah ada banyak petunjuk arahnya yang gede-gede banget. Ya kalau nyasar, penduduk juga nggak akan keberatan ditanya soal tempat ini. Tempat ini juga bisa dijangkau sekitar 30-45 menit dari pusat kota Purworejo. Ke arah timur, lalu belok ke arah Purwodadi dan ikuti jalan menuju jalur pantai selatan.

Untuk masuknya murah meriah, euy. Cuma 5000k saja dan parkir 2000k untuk motor, 3000k untuk mobil. Tempat parkirnya nggak terlalu jauh kok dari pantai, meski waktu saya datang, tempat parkirnya belum wah banget sih, tapi aman karena selalu ada penjaganya. Dii dekat tempat parkir juga sudah ada toilet serta mushola kecil yang bisa digunakan. (btw, yang pada dateng kebanyakan anak muda, pasangan huehehehe)

Dari tempat parkir, area pantai dicapai dengan melewati jalan setapak alias jalan kaki. Di sebelah kiri dan kanannya ada tambak garam dan juga kolam ikan. Kalau yang pengen ke area pantai, bisa jalan terus sekitar 100-150 m lagi ke arah laut. Tapi kali ini, saya Cuma pengen jalan-jalan di area mangrove-nya saja, jadi belok deh.

 
Memasuki area mangrove atau hutan bakau, saya disambut oleh jembatan dari bambu yang dibuat keren. Nggak Cuma bawahnya saja, tetapi juga dibuat bagian atasnya seperti menara. Duh, udah makin nggak sabar buat foto-foto. Habis jembatan, saya disambut dengan petunjuk arah. Ada dua area utama mangrove ini, ke kanan dan ke kiri. Kali ini saya memutuskan untuk ke sebelah kanan dulu alias bagian barat.

 
Perjalanan ke bagian barat makin seru lewat jembatan dari bambu. Nggak usah takut, karena ada pengaman di kanan dan kirinya. Nah yang paling keren, ada jembatan yang berada tepat di bawah area mangrove. Nggak Cuma keren tapi juga sejuk. Ehe ... saatnya ambil gambar dong.

Setelah lewat area bawah mangrove, akhirnya tiba di spot foto-foto nih. Seperti penunjuk arah di awal, ada beberapa spot foto keren yang bisa dijadikan tempat foto yang instagramable banget. Bisa dipakai sendirian maupun pasangan.

 
Ada tempat duduk dengan latar belakang love (ini cocok buat pasangan). Nah favorit saya di sini adalah sebuah jembatan berbentuk love dengan ukuran besar. Pengen foto lengkap kelihatan keseluruhan jembatan? Jangan khawatir. Di sisi jembatan love ini ada semacam gardu tinggi yang bisa digunakan untuk naik dan mengambil gambar. Jadi, gambar love-nya lengkap dong ya. (sayang Cuma sendirian, uhukkk)

 
Puas jalan-jalan di area barat, saya beranjak ke area timur. Nggak kalah keren dengan area barat, di area timur juga ada beberapa spot foto menarik. Dari kerang, sarang burung, love terbalik sampai doraemon. Sebenernya saya juga pengen foto-foto di sini. 
 
 
Cuma, karena saya datang siang hari, lebih tepatnya hampir tengah hari, jadi foto yang didapat nggak bagus-bagus amat. Ya udah deh, foto spot-nya aja ya.

 

Selain keempat obyek tadi, ada juga obyek berbentuk sayap burung. Nah ini nih, salah satu spot favorit kaum cowok. Iye kaaaaan, berasa kayak lagi di anime gitu. Tips foto di sayap ini, ambil foto dari jarak dekat supaya bagian bawahnya nggak kelihatan. Dan taraaaaa ... bisa dapat efek seperti terbang.

Oh ya, kalau yang bosen jalan-jalan, bisa juga naik perahu dan berkeliling area mangrove serta pantai. Buat yang pengen rehat atau makan-makan, juga ada tempat cem aula yang cukup luas buat kumpul. Asyik nih, bisa rapat sambil refreshing #bilangBOS. Kebersihan tempat ini juga terawat, karena disediakan bak sampah di tiap belokan jembatan bambu. Toilet? Nggak mungkin di atas air kan? iya, buat yang mau ke toilet, balik lagi ke arah jalan masuk area mangrove tadi atau dekat penanda arah. Tuh ada di sebelahnya.

 

Capek? Capek tapi seneng. Berhubung sudah terlalu terik dan lagi masih bulan puasa serta masih harus perjalanan balik ke gunung 2 jam, akhirnya saya pun pulang. Eits, tapi nggak lupa dong narsis dulu di salah satu spot tertinggi di area mangrove ini.

 
Ada cem menara tinggi yang dibuat mirip dengan menara Eiffel di Paris. Asyiiiiiik. Selain narsis ria, dari menara ini juga bisa melihat area mangrove yang lebih luas. Puas? Puaskan hatimu dulu!

Kali ini beneran pulang.

Ehm ... besok kemana lagi ya?

(semua foto dalam postingan ini adalah koleksi pribadi. mohon maaf dengan kulitasnya yang masih ... ehm banget)

(ini tulisan kok kaku banget ya? Duh, efek lama nggak nulis, jadi gini deh)

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.