Book, Love, Life and Friendship

Jumat, 13 Oktober 2017

Jalan-jalan – Kemit Forest, Sidareja Cilacap

Yatta! Jalan-jalan lagi, #ehe. Habis pusing ngurus UTS, saatnya jalan-jalan. Ehm, lebih tepatnya sih rapat rutin bulanan, tapi tempatnya luar biasa. Kalau biasanya siang itu hujan, hari itu, Jumat ternyata cukup terang. Dan alhamdulillah-nya, terang sampai sore.

Jadi, sekitar jam setengah dua siang, mobil pun beranjak melaju di jalanan. Perjalanan diperkirakan setengah jam, eh molor jadi hampir satu jam. Ehm kali ini tujuannya adalah Kemit Forest atau hutan Kemit yang terletak di kecamatan Sidareja, kabupaten Cilacap. Lebih tepatnya, ada di jalur Karangpucung Sidareja. Jadi, kalau dari arah timur maupun arah barat, bisa ikut jalur utama selatan Jawa Tengah. Nah sampai di terminal Karangpucung, belok ke arah selatan atau masuk jalur Karangpucung-Sidareja, melewati hutan Jati. Perjalanan sekitar setengah jam sampai penanda Kemit Forest. Dari jalan raya, masuk sekitar 1,5 km ke dalam, sayangnya dengan jalan aspal yang sudah banyak rusak. Kalau selama perjalanan Karangpucung-Sidareja tadi disuguhi hutan Jati yang gersang, maka masuk kawasan Kemit forest akan disambut dengan rimbun, lebat dan sejuknya hutan pinus. Nggak sulit kok untuk sampai ke obyek ini, karena memang jalannya Cuma satu itu.

 

Sampai di area wisata, mobil diparkir di sebelah kiri jalan masuk. Tempat parkirnya sudah diberi batas tapi masih berupa tanah. Jadi hati-hati ya. Tiket masuknya pun murah meriah, cukup 3000k per orang. Parkir motor 1000k dan parkir mobil 3000k.

 
Turun dari mobil, disambut dengan pemandangan hutan pinus yang cukup sejuk tetapii masih lapang. Area ini awalnya memang hutan pinus. Tetapi karena tempatnya yang agak tinggi dengan pemandangan lumayan seru, makannya kemudian diubah menjadi tempat wisata. Masih banyak area lapang di bawah pohon pinus yang bisa dipilih dan digunakan buat duduk-duduk atau bahkan ngumpul. Dan karena kami datang bareng-bareng, maka terpal pun jadi tempat lapang untuk duduk santai menikmati suasana.

 
Selain bisa duduk santai, area wisata ini juga sudah dilengkapi sejumlah wahana yang sudah siap pakai maupun masih dalam proses pengembangan. 


Contohnya adalah area menembak? Ehm ... bahasanya gmana ya? Ya gitu deh. Jadi nanti bisa beli peluru dan belajar menembak ke sasaran yang ada di seberangnya. 

Di dekat area tembak juga ada area khusus anak-anak. Di area ini dibangun rumah-rumahan dari kayu lengkap dengan jembatan dan rumput sintetis. Jadi, anak-anak bisa bermain dengan bebas di sini dan aman. Orang tuanya? Boleh lah duduk santai di sebelah sambil mengamati anak-anak bermain perosotan dan berguling-guling di rumput. Di sebelahnya lagi sebenarnya ada juga area outbond berupa jembatan titian. Tapi sepertinya masih dalam proses penyelesaian, jadi belum dibuka.

 

Nah ini dia yang nggak kalah seru, sesi foto-foto. Trend festival payung rupanya diadaptasi juga oleh pengelola Kermit forest. Jadi, ada satu spot dengan banyak payung tergantung di atas. Bisa jadi salah satu latar belakang foto yang seru.

 
Selain area payung, ada juga spot foto berupa jembatan kayu. Bentuknya pun bermacam-macam. Salah satu yang paling banyak diminati yakni yang berbentuk love. Tapi dii sini, kami foto bareng-bareng #ehe. Sebenarnya ada beberapa spot serupa love ini. Ada love versi kecil dan juga jembatan yang cukup tinggi. Sayangnya, salah satu jembatan kayunya sudah rusak dan belum diperbaiki lagi.

 
Masih belum cukup? Boleh lah sesi foto dilanjut di tempat lain. Tidak jauh dari area payung juga ada kain yang dibentangkan di antara dua pohon. Daaaan ... spot yang lagi favorit akhir-akhir ini adalah ayunan terbang. Yup, ayunan ini dibuat agak tinggi di sisi area Kemit, persis di atas batas bukitnya. Jadi, kalau pinter2 ambil gambar, bisa dipastikan akan memberikan kesan terbang. Ecieeeeh

Sebenarnya ada satu wahana lagi, yakni sepeda di atas tali. Berhubung di wahana ini antri dan agenda rakor pun sudah memanggil, nggak bisa naik deh. Pun nggak bisa ambil gambar, ihikkkk

Jadi, bisa dipastikan ada banyak spot asyik yang bisa dijadikan latar belakang foto. Eits, tapi tetap harus hati-hati dan jaga diri ya. Jangan sampai lalai. Sakinga asyiknya foto sampai lupa keamanan diri.

Oh ya, area wisata ini masih dalam tahap proses penyempurnaan wahana. Jadi memang masih ada wahana yang belum selesai atau dalam proses perbaikan. Tips saat main ke sini, pastikan kalau kendaraan kamu kuat. Jalannya nggak nanjak2 banget sih. Cuma karena jalannya jelek, jadi harus hati-hati banget di 1,5 km terakhir menuju obyek. Tips kedua, bawa tissue basah soalnya fasilitas toilet di sini masih kurang representatif. Buat yang mau sholat, sudah disediakan mushola sih. Cuma memang tempatnya kecil, jadi antri. So, jangan lupa juga untuk bawa perlengkapan sholat sendiri. Terus, kalau perlu bawa bekal makanan sendiri dari rumah. Memang sih, sudah ada beberapa warung yang menyediakan makanan di sekitar obyek. Tapi jumlahnya masih terbatas dan belum beragam. Kalau bawa makanan sendiri, bisa lebih bebas milih kan ya? Pun lebih hemat. #ehe

 
Dan kegiatan terakhir sebelum pulang adalah ... menikmati sunset. (kalau kata teman kerja saya, sunslep atau matahari yang mingslep--tenggelam). Jangan lupa ambil foto keren berlatar matahari tenggelam. Cieeeee ...

Sampai jumpa di jalan-jalan lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.