Book, Love, Life and Friendship

Kamis, 21 Desember 2017

Be aware!

Beberapa hari ini, jalan-jalan ke twitter rasanya sesak. Bukan karena saya menganggap insiden pengambilan nyawa diri itu sebagai hal yang pantas dibully atau menganggap mereka yang menangis karena kehilangan idola atau bias-nya sebagai sesuatu yang lebay. Tidak sama sekali. Yang saya pikirkan dan rasakan ... hal-hal seperti itu nyatanya begitu dekat dengan sekeliling kita.

Benar, menurut agama yang saya anut, insiden menghilangkan nyawa diri sendiri bukan suatu perbuatan benar. Tapi saya memilih tidak ikut campur soal itu, apalagi memberikan penghakiman pada yang bersangkutan. Itu urusan dia dengan Tuhannya, dan saya tidak ikut campur. Kewajiban orang-orang di sekitarnyalah untuk mengantarkan hingga ke liang lahat, selesai. 
 


Lalu, apa pentingnya buat saya? Kan tadi saya bilang, saya tidak ikut campur? Ya, saya memang tidak ikut campur urusan si mati. Tapi saya ikut campur urusan orang-orang yang masih hidup.

Menurut beberapa sumber yang saya baca, insiden itu terjadi karena ‘depresi’. Well ... arti lengkapnya silahkan cek kamus sendiri. Ini berhubungan erat dengan kesehatan mental. Memang sih, insiden seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Tidak hanya di negeri ginseng sana, tapi juga di sekitar lingkungan saya juga pernah terjadi. Alasannya? Bermacam-macam. Tapi dari semua itu, semua mengarah pada ‘kesehatan mental’. Pada sesuatu yang tidak terlihat jelas di mata. Tetapi nyata adanya.

Sekali lagi, urusan saya Cuma dengan si hidup, bukan si mati. Dan bagi saya, ini jadi semacam tamparan keras. Sebuah pembelajaran hidup yang benar-benar ... nyesek. Kesehatan mental ternyata bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh begitu saja. Dalamnya laut bisa dengan mudah diukur. Tapi dalamnya isi hati dan isi kepala manusia ... tidak pernah ada yang tahu.

Apa yang perlu dipelajari dari insiden ini?

Pertama, hal-hal yang berhubungan dengan ‘kesehatan mental’ bukan Cuma sekedar ‘gila’ atau ‘bunuh diri’, tapi mencakup hal yang luas. Dan hal ini bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Bicarakanlah! Singkirkan gawai! Masalah ini akan tetap jadi masalah kalau tidak dibicarakan. Solusi tidak akan bisa didapatkan kalau tidak ada yang mau memulai bicara.

Kedua, urusan dengan si mati akan selesai saat liang lahat ditutup. Tapi urusan dengan si hidup masih panjang. Karenanya, menjadi kewajiban kita semua untuk ‘be aware’, lebih peka dan waspada dengan sekeliling. Kenapa? Agar hal-hal yang sebenarnya tidak baik ini, tidak akan terjadi lagi pada siapapun dan kapanpun oleh alasan apapun.

Ketiga, seperti saya bilang tadi, kesehatan mental itu mencakup hal yang luas. Jadi, perlu untuk belajar tentang hal ini. Cari tahu lagi dan pelajari lagi. Peka terhadap orang-orang di sekitar. Jika ternyata menemukan hal-hal yang mencurigakan, segera lakukan penangangan agar jangan sampai terjadi lagi insiden seperti ini. Jangan Cuma menganggap remeh tiap curhatan orang lain. Mungkin beberapa Cuma curhat hal remeh yang bisa hilang dengan mudah. Tapi yang lain, bisa jadi curhatan itu adalah awal mula masalah yang lain. Jadi, peka-lah dulu. Jangan langsung memberikan penghakiman apapun.

Keempat, merasa mengalami masalah ‘kesehatan mental’? Coba deh cari tahu lagi informasi yang benar. Temukan orang-orang terpercaya untuk diajak bicara. Cari solusi. Katakan! Ceritakan!

Memang sih, bagi orang-orang introvert seperti saya, bercerita pada orang lain adalah hal yang sulit dan berat. Sulit sekali untuk memulai cerita. Karenanya, saya memilih menulis. Inilah cara saya bercerita. Ini cara saya untuk membuat sesak di dada lebih ringan. Apakah ini juga berlaku untuk orang lain? Sebagian, iya. Tapi sebagian lagi belum tentu. Karena yang terjadi pada tiap orang berbeda jadi butuh penangangan berbeda pula.

Kelima, masalah kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja. Tidak hanya orang dewasa saja, tapi juga pada anak-anak. Siapapun itu, dan kapanpun itu ... semua bisa terjadi. Mungkin beberapa saat yang lalu, semua masih baik-baik saja. Tapi belum tentu kemarin, nanti ataupun besok. Jadi, be aware tiap saat. Peduli-lah dan peka terhadap orang-orang di sekitar. Kalau tahu, tapi tidak bisa membantu menyelesaikan masalahnya, ya minimal bisa cari bantuan lain-lah.

Mencegah memang lebih baik daripada mengobati. Mencegah agar ‘kesehatan mental’ tetap dalam keadaan baik memang lebih utama. Caranya? Silahkan cari sendiri. Tapi kalau sudah terlanjur mengalami masalah? Jangan berikan label ataupun penghakiman apapun, tetapi carikan solusi. Itu lebih tepat.

Btw, ini Cuma curhatan saya aja sih. Sepakat ya silahkan. Nggak sepakat juga boleh aja.

Kesimpulannya, saya tetap menganggap perbuatan mengambil nyawa sendiri bukan perbuatan benar. Tapi kalau sudah terlanjur terjadi, maka itu jadi urusan dia dengan Tuhannya. Saya tidak ikut campur. Urusan saya Cuma dengan yang masih hidup. Ini cem pengingatan buat diri sendiri juga untuk lebih waspada dan peduli soal kesehatan mental diri sendiri dan orang-orang sekitar. Buat apa? Agar hal seperti ini nggak perlu terjadi.


0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.