Book, Love, Life and Friendship

Jumat, 22 Desember 2017

Kpoper atau Bukan, itu Soal Selera

Menjadi kpoper dan kdramalover memang punya cerita tersendiri. Dari dianggap alay hingga dikatakan ‘kejiwaannya labil’. Keren amat ya? Saya menganggapnya keren, karena ada yang memberikan label seperti itu. hmmm. Saya memang bukan tipe yang begitu mudah mengekspresikan diri sebagai seorang kpoper dan kdramalover. Tapi sekarang saya lebih berani. Bukan karena makin lebay, tapi karena makin dewasa.


Twitter sempat agak ramai kemarin, saat ada sebuah akun yang mengatakan ... kira-kira gini, kantornya nggak menerima dedek2 kpoper karena dianggap alay, labil kejiwaannya dan selalu bikin susah. Sumprit ya, saya ketawa. Apalagi postingan itu kemudian mendapatkan banyak komentar—yang kebanyakan berbentuk bully-an—pada si pemilik akun. Nggak, saya nggak mau ikutan komentar di sana apalagi ngebully. Makannya saya lebih suka pindah ke sini, ke panggung sendiri. Penasaran? Silahkan cek saja di twitter, pasti nemu kok. Soalnya banyak yang komentar.

Isi postingan itu kemudian bikin saya mikir, memangnya dulu se-alay apa sih saya ini? Atau ... apa sampai sekarang saya juga masih alay? Oh ya, saya juga sempat punya postingan di bulan Agustus yang lalu, judulnya ‘Dewasa Bersama’, yang isinya cerita soal kpoper juga dan bagaimana saya memandang diri sebagai fans dan juga idola. Di tulisan itu, saya bilang ‘fans dewasa bersama idolanya’ dan ‘masa alay sudah lewat’ tapi seorang kawan mengatakan, ‘dunia fangirl tidak mengenal usia’. Dan itu yang saya alami sampai sekarang.

Oh ya, balik ke status yang mengatakan kalau kpoper itu alay, lebay dan labil. Saya nggak memihak siapapun ya. Pertanyaannya, benarkah para kpoper itu alay dan lebay serta labil? Hmmm ... kalau menurut saya nih ya, kebanyakan kpoper dan kdramalover kan remaja, jadi wajar kan ya kalau alay dan masih labil? Yang namanya remaja, mau kpoper atau bukan—di zaman serba teknologi gini—tentu mengalami masa alay dan labil. Lebih tepatnya semua remaja mengalaminya—alay dan labil—meski kadarnya tiap remaja berbeda-beda. Dan bentuk ekspresinya juga beda. Jadi, saya nggak sepakat kalau yang alay dan labil Cuma para kpoper aja.

Kedua, labil kejiawaannya. Hmmm ... agak berat sih kalau yang satu ini. Emangnya yang disebut labil kejiwaannya tuh yang gimana sih? Ahli kejiwaan aja belum tentu bisa langsung nebak lho, seseorang labil atau nggak, tanpa ada pemeriksaan lebih lanjut. Lha ini kok sudah keren amat ya, bisa langsung nebak dan memberikan penilaian gitu? Ah ya, mungkin si pemilik akun ini memang sudah lebih ahli sih ya. Saya mah positip thinking aja. Saya mah apa atuh, Cuma kpoper level remah rengginang. #glek

Ketiga, saya Cuma senyum aja sih baca komentar atas postingan itu. Banyak kawan kpoper dan kdramalover yang kemudian bereaksi bermacam-macam. Beberapa dari mereka kemudian membuat pengakuan, dirinya tetap sukses dengan karya dan pekerjaan tanpa meninggalkan dunia kpop. Nggak sedikit profesional yang tetap sukses juga seorang kpoper. Banyak juga yang ngaku udah emak-emak, punya anak dan tetap jadi kpoper. Memangnya salah ya? Sampai ada kawan lain yang berkomentar, kpoper atau bukan itu Cuma masalah selera, seperti selera orang atas bakso atau mie ayam. Sebuah obrolan yang nggak akan ada habisnya.

Tulisan ini dibuat bukan berarti saya memihak pada para kpoper yang alay lho ya. Yakin deh, pasti ada kpoper yang alay dan lebay serta labil. Tapi lebih yakin lagi, kpoper yang lain juga ada yang dewasa. Seperti saya bilang, fans dewasa bersama idolanya. Soal mau jadi kpoper alay atau dewasa, itu terserah masing-masing personal. Dan nggak bisa dipaksakan juga. Mungkin saja para kpoper yang—saat ini masih—alay ini, di beberapa waktu nanti juga akan jadi kpoper yang lebih dewasa dan bertanggungjawab. Dunia itu berubah, dan perubahan itu abadi. Atau sebaliknya, yang sekarang dewasa mungkin besok atau lusa juga bisa berubah jadi alay bin lebay. Ya ... siapa yang bisa menjamin?

Jadi, sekali lagi, mau jadi kpoper atau bukan, itu terserah. Bebas aja. Kpoper atau bukan, Cuma soal selera. Toh menjadi seorang pecinta sinetron Indonesia atau pecinta serial India serta serial drama Turki, juga selera kan? Bukan sebuah kesalahan? Mau jadi kpoper alay atau kpoper dewasa, juga pilihan kan? Nggak bisa dipaksa. Mau bersikap biasa saja atau malah mendukung para kpoper, ya silahkan. Mau benci dan merasa jijik pada kpoper, ya sah-sah aja. Itu pilihan masing-masing orang. Yang penting, saling menghormati aja pilihan masing-masing. Toh saya juga nggak ributin, ikut campur apalagi menjelek-jelekkan selera situ, kenapa situ harus rese ngeributin selera saya?

Bagi saya, menjadi kpoper atau kdramalover, itu adalah sesuatu yang saya pilih sekarang. Pun ketika saya menyukai semua tentang jepang, menjadi jpoper atau jdramalover, masih saya lakoni sampai sekarang. Lah kenapa memangnya? Saya juga tetap bisa menjalani kehidupan nyata dengan normal, senormal orang lainnya. Bisa berkumpul dan nyambung dengan keluarga, bisa bekerja dan punya interaksi sosial yang normal dengan orang lain. Apapun itu, dinikmati aja lah.

Tu kan saya bilang, menjadi kpoper dan kdramalover selalu punya ceritanya sendiri. Apalagi jadi jpoper dan jdramalover, yang lebih berat tantangannya.

2 komentar:

  1. mungkin krn yg aktif banyakn ank abg jd yg lain sering kena imbasny.
    dr pengalaman pribadi dulu ikut d fandom, baru d kpop sy ngalamin fanwar &kejadian2 yg g bikin nyaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, krn yg udh gk abg lagi, biasanya udah rada males aktif, meski masih tetap ngefangirl, hehe

      fanwar itu yg paling bikin kesel
      makannya sy udah nggak pernah nengokin forum lagi, lha isinya orang2 ribut, bikin males dan bete

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.