Book, Love, Life and Friendship

Sabtu, 03 Februari 2018

Biar Cupu, Penting Mutu (Susahnya jadi Guru zaman Now)

Kali ini saya setuju dengan gaya eja, soal bikin panggung sendiri daripada ngerusuh di lapak orang.

Tulisan ini dimulai dari insiden yang terjadi dan viral beberapa hari belakangan. Ketika seorang guru yang ‘nyolek’ pipi muridnya dengan kuas lukis berakhir menjadi pesakitan dan kehilangan kesempatan melihat calon anaknya yang—bahkan—belum lahir.

Ada komentar menarik beredar di salah satu media sosial. Dan yang lebih menarik lagi, setiap orang bebas berkomentar apapun itu. Ah, saya ini Cuma apa sih, Cuma guru cupu. Karenanya, Saya lebih suka bikin panggung sendiri.

 
Si netizen ini mengkritiki guru yang menghukum siswa dengan mencolek pipi si siswa dengan kuas lukis dan cat. Katanya, dalam mendidik, kontak fisik ndak diperlukan. Lalu ada netizen lain yang mengatakan, ‘menepuk pundak anak sebagai tanpa penghargaan juga merupakan kontak fisik lho’, kemudian komentar berubah muter-muter. Si netizen ini mengatakan kalau, sebaiknya mendidik itu ndak perlu kontak fisik. Kalau si anak mengganggu di kelas, ya dihukum misal di ‘strap’ berdiri di depan kelas, atau dibiarkan saja tidur daripada ganggu teman-temannya di kelas. Ini katanya solusi daripada menggangu. Atau dikeluarkan dari kelas. Hmmmm ... ada netizen lain malah menawarkan, ‘gimana kalau situ nyoba ngajar di sekolah lama saya’. Nah si net ini berdalih, ndak berani. Wong situ saja mundur apalagi ‘saya’ yang Cuma random komentator. Sumpah ya, saya ngakak bagian satu ini. Kena kan lo! Apalagi katanya, lebih baik kalau hukumannya bersifat mempermalukan saja, tanpa kontak fisik. Catat ya, mempermalukan tanpa kontak fisik. Emang tidur di kelas itu bukan suatu hal yang memalukan ya? Emang ganggu pelajaran itu bukan suatu hal yang memalukan ya? Faktanya, semua hal itu sekarang sudah dianggap biasa saja. Hhhh ... tenang, jangan emosi dulu, tarik napas panjang.

Duh, rasanya tuh banyak banget hal yang pengen ditulis jadinya.

Pertama, anak zaman sekarang alias kids zaman now, berbeda dengan anak jaman dulu. Dihukum berdiri di depan kelas? Paling Cuma cengar cengir ndak jelas. Ndak ngerasa sebagai hukuman dan kemungkinan jera, kecil. Dibiarkan tidur di kelas? Ini penyakit menular, satu tidur yang lain akan ikut tidur. Dan lagi, enak banget ya, yang lain belajar, gurunya cuap2 di depan kelas, eh tidur seenaknya. Sebegitu merdunya kah suara sang guru hingga bisa buat tidur. Dikeluarkan dari kelas? Hahahaha... buat kids zaman now, ini namanya rezeki nomplok. Iya kan? Dikeluarkan dari kelas, ya ke kantin lah, nongkri cantik atau nyari tempat enak buat tidur. Jadi ... hukuman seperti ini masih cocok sama kids zaman now? Situ sehat?

Hukuman lain seperti lari keliling lapangan, dijemur sambil hormat dan berdiri di depan bendera, dihukum bersih-bersih WC atau hukuman fisik cem gini ... sekarang udah ndak laku. Udah ndak ada lagi takutnya. Justru kesempatan buat ngacir pergi. Duh dek ... situ sehat?

Kedua, guru menghukum atas dasar rasa sayang. Dan mbak mas netizen yang terhormat, dalam menghukum, guru juga punya rasa. Hukuman berbeda akan diberikan untuk pelanggaran berbeda. Tingkatan hukuman pun berbeda, sesuai pelanggaran ataupun kebutuhan. Bingung? Gini ya, saya jelaskan ... misal si anak tidur di kelas. Hukuman paling ringan, si guru akan menyuruh teman sebangku si anak untuk membangunkannya dan menyuruhnya cuci muka. Kalau tahap pertama ini ndak berhasil, guru akan mendekati meja si tidur dan menyuruh langsung. Kidz zaman old? Bangun, malu langsung cuci muka. Kidz zaman now, dengan entengnya bilang ‘ngantuk, Bu/Pak’ tanpa rasa bersalah. Duh dek, situ sehat? Nah kalau udah dua kali tahap masih belum mempan, apakah guru harus diam saja? Kalau didiemin, dianggap ndak becus ngajar, dianggap ndak bisa mengajarkan moral sama anak. Kalau ditegur agak berani, khawatir jadi masalah. Misal nih ya, si anak dilempar pakai kapur setelah dua teguran pertama, kira-kira masih wajar ndak? Udah tiga kali loh ya. Jadi yang keterlaluan itu gurunya atau anaknya?

Dalam kasus pak guru kesenian yang lagi viral itu, saya percaya banget, kalau peringatan cem contoh di atas sudah dilakukan. Jadi ndak tiba-tiba nyamperin meja si murid langsung tau-tau nyoret pipi pakai kuas. Atau ... pelanggaran sudah dilakukan berulang kali—tidur dan ganggu teman lain—, sudah ditegur ‘halus’ berkali-kali juga, tapi ndak mempan. Jadi, kalau sang guru kemudian maju dan Cuma ‘nyolekin’ kuas ke pipi, ini kira-kira yang kebangetan siapa, guru atau muridnya?

Okelah, paragraf di atas memang Cuma asumsi saya, Cuma kira-kira dari pengalaman saya. Tapi kira-kira ini ndak jauh beda dengan yang saya alami kan?

Ketiga, ndak ada pekerjaan tanpa resiko. Pun pekerjaan sebagai seorang guru. Kalau bahas soal gaji guru honorer, ndak bakalan selesai. Pokoknya, kalau bahas gaji manusia honorer—apapun pekerjaannya—ndak bakal ada endingnya. Akibat banyak banget insiden ‘pelaporan’ guru oleh orang tua alias kriminalisasi guru, maka peran guru pun bergeser. Bukan lagi mendidik dan mengajar, tapi Cuma jadi mengajar aja. Terserah mereka mau berangkat, masuk ke kelas atau ndak, ikut pelajaran atau ndak, asal guru ngajar dan bisa kasih nilai, ndak peduli soal moral lagi, daripada masuk bui. Mungkin itu isi hati sebagian guru. Lha iya kok, apa-apa sudah jadi kriminal. Dikit-dikit dilaporkan ke komnas perlindungan anak, tapi ndak ada komnas perlindungan guru. Ah, saya lelah. Gimana mau ngajarin moral kalau endingnya bui? Ogah saya juga.

Kalau muridnya bobrok moralnya, guru yang disalahkan. Dianggap ndak bisa mendidik. Tapi kalau memberikan pendidikan sedikiiiiiit aja, udah bui aja yang jadi tempat tidur barunya. Lah, serba salah jadinya. Terus mau apa?

Memang, ndak semua anak bobrok. Ndak semua anak hiperaktif apalagi super kreatif. Faktor pembentuk dan pendukung karakter anak banyak dan dari mana saja. Kalau kreativitas si anak tersalurkan dengan baik, ndak akan jadi masalah kan? Anak super kreatif, itu wajar. Kreativitas yang luar biasa, itu bagus. Asal di jalur yang benar, cocok dan sesuai. Ndak ngaco apalagi ngerusuh di lapak orang.

Benar banget, mendidik itu ada cara dan seninya. Bener banget, saat ini bukan lagi zaman militer yang menggunakan kekerasan fisik. Bener banget, mendidik kidz saman now jelas berbeda dengan kidz zaman old. Ndak bisa disamakan lagi. Dan berurusan dengan orang tua zaman old juga berbeda dengan orang tua zaman now. Catet yang ini juga ya. Guru zaman now ndak Cuma berurusan sama kids zaman now yang super kreatif, tapi juga orang tua zaman now yang super emejing.

Mendidik itu berarti mengajarkan ilmu dan moral, memberikan ‘reward’ untuk suatu hal baik dan memberikan ‘punishmen’—hukuman untuk suatu hal yang ndak baik. Ndak ada guru yang berniat menyakiti muridnya. Semua hukuman yang diberikan semata-mata untuk pendidikan. Sebisa mungkin guru juga memberikan hukuman yang paling ringan, seringan-ringannya. Tapi jika hukuman ringan ndak mempan, kira-kira wajar ndak kalau tingkat hukuman dinaikkan? Kalau hukuman model omongan dan pelototan mata udah ndak mempan, terus guru diam aja gitu? Kalau diem aja, batal dong mendidiknya. Bener, kekerasan dalam bentuk apapun ndak diperbolehkan dalam dunia pendidikan. Baik guru kepada siswa apalagi siswa kepada guru. Lha terus kalau nyolek pipi pakai kuas itu kekerasan ya? Kalau njewer telinga udah dianggap kekerasan juga? yowes, saya lelah nek gini. Lha kon piye coba.

Alasan beberapa orang tua anak-anak kreatif protes dengan hukuman guru, karena di rumah mereka tidak pernah memperlakukan itu pada anak mereka sendiri. Nah, sekarang pertanyaanya, apakah dengan cara ‘tanpa kekerasan’ itu, anak-anak panjenengan itu sudah bener semua? Nurut dan belajar dengan benar? Atau Cuma pembenaran saja? Silahkan jawab dulu pertanyaan ini, sebelum memberikan komentar lain.

Tapi nuwun sewu, nggik mbak mas netizen yang terhormat. Kalau ndak pernah punya pengalaman di sekolah, mbok ya ... agak direm itu komentarnya. Saya tantang deh, ngajar di sekolah dengan begitu banyak anak-anak super aktif, super kreatif hingga kreativitasnya kadang benar-benar melampaui batas. Lah saya ini apa, Cuma guru cupu yang ndak punya pengalaman banyak. Saya dididik oleh guru-guru saya dulu dengan penuh disiplin. Jeweran di telinga itu biasa, wajar. Dan itu kontak fisik.

Nanti kalau njenengan itu ngajar di sekolah, mbok saya diajari cara ngajar yang ndak perlu pakai kontak fisik seperti yang njenengan proteskan itu. Ajari kami-kami ini, guru cupu untuk memberikan hukuman yang efektif untuk siswa, tanpa kontak fisik. Ajari kami membuat ‘jinak’ anak-anak hiperaktif di kelas dengan kreativitas luar biasa itu. Dan tolong ajari kami juga, cara membuat anak-anak itu semangat belajar. Silahkan berikan kami contohnya. Lha kami ini Cuma guru cupu bin ndeso yang ndak punya banyak pengalaman, lulusan kampus yang Cuma tahu rumah sama kampus. Njenengan yang rajin dan ‘random’ komentar itu mungkin punya pengalaman lebih banyak dari kami, mbok silahkan dibagikan. Biar kami ini agak punya jalan terang dalam menghadapi kidz zaman now yang luar biasa ini.

Sungkem deh, buat mbak mas netijen yang bisa memberikan pencerahan pada kami, guru cupu ini.

Maaf, terlalu random curhatan ini. Hanya resah dan gelisah. Ya namanya juga guru honorer. Jadi mohon maaf deh, kalau kami-kami ini akhirnya jadi cupu dan kurang kreatif, hingga sering kehabisan cara ‘non fisik’ untuk menghukum siswa sangat luar biasa di kelas.

Saya tahu, saya ini Cuma guru cupu. Ndak punya banyak pengalaman. Dan ndak pantes komentar sepanjang ini. Wong ini bukan komentar apalagi kritik kok. Saya Cuma lagi ngomong sama diri sendiri, kebetulan aja ada yang baca. Saya Cuma sedang mengingatkan diri sendiri, kalau butuh guru yang luar biasa untuk bisa menghadapi kidz saman now dan orang tua zaman now. Saya Cuma sedang mengingatkan diri sendiri, kalau untuk menghadapi kreativitas kids zaman now yang emejing itu, maka saya perlu juga jadi guru greatif yang lebih emejing lagi.

Saya tahu, tulisan ini beresiko. Tapi, ini saatnya untuk bicara. Karena sudah lelah bin mbededeg nonton komentar ndak ngerti situasi. Maaf, kalau bahasa yang saya pilih kali ini agak kasar.


2 komentar:

  1. Saya tebak ini nulisnya ngga sampe setengah jam udah kelar, curhatan dalam soalnya :D

    BalasHapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.