Book, Love, Life and Friendship

Senin, 26 Februari 2018

Pasti Lulus Dong

“Yang penting ikut UN kan, Bu. Udah pasti lulus kan.”

Kira-kira begitu ucapan anak berseragam putih abu-abu itu. Kemudian saya mikir, emang gitu ya? Hmmmm ...

(moon maaf ya, kalau murid yang curhat soal gurunya itu udah biasa kan ya. Sekarang dibalik, guru yang curhat soal muridnya. Harap maklum!)

 
Nggak sih, saya juga males bahas soal kids zaman now yang selalu berhasil membuat saya berkomentar ‘uwoooo!’ karena ucapan maupun tingkah laku mereka. Itu udah dibahas di buku saya yang baru saja terbit. #iklan btw, yang pengen baca, silahkan cek di toko buku terdekat di kota Anda ya, Gramed atau Togamas lah

Saya nggak ngerti kenapa UN terlihat begitu mudah bagi si anak ini. hmmm ... soalnya saya menangkap kesan, kalau UN bisa diremehkan gitu aja. Iya sih, UN bukan segalanya. UN juga bukan penentu kelulusan. Kelulusan ditentukan sekolah dengan memertimbangkan nilai UN, nilai raport dan ... sikap. Ok, kayaknya ini juga perlu dicek lagi. Kalau saya keliru, silahkan diperbaiki.

Menurut juknis, komponen nilai kelulusan tidak hanya nilai saja, tapi juga ada nilai sikap. Dan syarat kelulusan nilai sikap minimal B. Jadi, kalau nilainya bagus tapi sikapnya bikin ubun-ubun panas dan dewan guru sepakat tidak memberikan nilai B, maka bisa dipastikan—mohon maaf—tidak bisa mengeluarkan status ‘lulus’.

Dan nilai sikap yang B ini, menjadi wewenang dewan guru. Apakah akan sepakat mengeluarkan B atau tidak. Dari mana dasarnya? Dari proses pembelajaran yang terjadi sehari-hari. Nggak ada guru yang pengen siswanya nggak lulus. Tapi kalau saat pelajaran suka nggak masuk kelas tanpa alasan yang jelas? Kalau pas pelajaran suka ngabur sendiri untuk tidur di sudut masjid? Atau ikut pelajaran tapi bikin rusuh di kelas? Tidur di kelas? Tidak memerhatikan pelajaran di kelas? Bersikap nggak sopan sama guru? Apalagi melakukan sikap-sikap lain yang tidak bisa ditoleransi lagi ... hmmm. Termasuk juga suka datang terlambat, males-malesan ikut pelajaran, nggak ngerjain tugas dari guru dan sederet catatan lainnya.

Nggak ada guru yang mau muridnya nggak lulus. Karenanya, jangan salahkan guru yang kemudian jadi baper, nggak ikhlas ngasih nilai B. Lantaran kelakuan absurd sang siswa tapi juga dituntut untuk memenuhi standar sistem, siswa harus lulus semua. Jadi serba salah kan? Karena ternyata ngaji alias ‘ngarang biji’ aja belum cukup. Kalau semua siswa diluluskan—termasuk yang kelakuannya super kreatif dan ajaib itu—tidak ada jaminan setelah di luar sana dia bisa berubah lebih baik. Pun sebaliknya, nggak ada jaminan yang baik akan tetap baik. Karena pada akhirnya label jelek pada anak dan siswa akan berasal dari ‘sekolahnya mana sih?’ oooo pantesan ya. Hal-hal seperti itulah.

Doakan saja, yang Cuma ikut UN sekedar ikut aja jadi nyadar diri, sekolah itu nggak gratis. Bukan soal uang, tapi soal masa depan. Sesuatu yang dipersiapkan dengan baik saja masih bisa gagal, apalagi yang nggak dipersiapkan sama sekali. Buat yang masih anggap UN gampang dan menggampangkan, semoga segera diberikan kesadaran, untuk berjuang sekuat tenaga sampai akhir, meski Cuma sebentar saja. Semoga guru-guru juga diberikan hati yang lapang dan sabar, sehingga bisa ikhlas memberikan nilai B untuk kasus ajaib seperti itu. Amiiiin

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.