Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 14 Maret 2018

Kalau Cinta, Nggak Maksa

Coklat yang terlalu banyak akan menjadi pahit dan hilang manisnya. Gula yang terlalu banyak juga akan jadi pahit dan yang lebih parah jadi penyakit. Begitu pula dengan cinta. Sebuah pengingat untuk diri sendiri, jangan mencintai terlalu banyak. Itu akan sakit dan rumit.

 
Kadang, lebih baik melepaskannya daripada menahannya tapi hanya akan menyakitinya. Begitu juga dengan rasa cinta. Rasa cinta yang berlebihan tidak selalu berefek sebanding. Ada kalanya justru berefek sebaliknya, menyakiti yang dicintai. Jika rasa cinta itu terlalu besar dan pada akhirnya justru memaksakan kehendak, maka rasa cinta yang manis itu akan berubah menjadi pahit. Pemaksaan kehendak justru bisa memicu perasaan ‘terganggu’ dan pada akhirnya menumbuhkan rasa benci. Nggak ingin seperti itu kan?

Jika memberikan terlalu banyak rasa cinta justru menyakiti, bukankah lebih baik melepaskannya dengan lega? Hal ini yang akhirnya menjadi sebuah pelajaran berharga. Karena melepaskannya, membiarkannya memilih kisah cintanya sendiri hingga melihatnya bahagia, itu jauh lebih baik. Kalau memang benar cinta itu tidak menyakiti, lebih baik seperti ini kan?

Berhentilah memaksakan sebuah cinta. Meski bagimu, cinta itu begitu besar dan tulus. Hanya karena dia yang di sana, tidak menginginkan cinta itu. Karena cinta yang terpaksa hanya akan menorehkan rasa sakit yang berulang.

Waktu memang tidak bisa menghapuskan cinta. Karena otak manusia didesain hanya punya recycle bin tapi tidak bisa menghapusnya dengan sempurna. Tapi waktu akan membuatnya menjadi terbiasa. Terbiasa melepaskan. Terbiasa mencinta tanpa memaksakan kehendak. Terbiasa melihatnya bahagia, meski tidak jadi milik sang pecinta. Dan pada akhirnya, waktu pula yang akan membuatnya bisa membuka hati yang baru untuk cinta baru.

Sakit? Jelas. Sulit? Pasti. Tapi bukan berarti tidak bisa kan? Jangan minta untuk menghapus cinta itu, karena hanya akan menyisakan benci. Tapi, mintalah agar terbiasa dengan rasa sakitnya. Hingga suatu saat nanti, rasa sakit itu tak lagi menjadi sumber resah. Hingga suatu hari, akhirnya bisa menertawakan rasa sakit itu.

Karena cinta (sesungguhnya) tidaklah menyakiti.

4 komentar:

  1. Duh...kalau cinta enggak dipaksa, bang satohnya bisa pindah ke dimensi lain :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas sato balik lagi jd anak SMA, hahahaha

      Hapus
    2. hehe...jd nostalgia zmn bang satoh jd anak sma yg jg butler yg urakan

      Hapus
    3. dg style rambut ala singa yang saat itu tu keren banget, kkkkk

      Hapus

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.