Book, Love, Life and Friendship

Kamis, 01 Maret 2018

Behind The Scene buku ‘Guru Wow untuk Kids Zaman Now’

Postingan ini dibuat demi menjawab pertanyaan kawan-kawan mengenai buku baru saya ini, Guru Wow untuk Kids Zaman Now. Tapi sebelumnya, terimakasih saya ucapkan untuk kawan-kawan yang sudah borong bukunya, hehe. Ditunggu selpie cakep bareng bukunya dan juga review-nya di goodreads ataupun blog masing-masing ya. Serius ini! kalau sudah ada silahkan kirim link-nya ke saya. Boleh di komentar bawah postingan ini ataupun kirim ke email saya, bening.ip2389@gmail.com.

Kok jadi kayak film ya, ada BTS—behind the scene—juga? Hehehe. Nggak apa-apa kan ya? #maksa


Ok, jadi setelah buku Guru Wow untuk Kids Zaman Now ini terbit, beberapa pertanyaan dari kawan muncul. Gimana kamu nulis buku ini? Kok bisa nulis bareng-bareng gini, gimana ceritanya? Ketemu di mana dengan kawan-kawan penulis buku ini? Ya pertanyaan semacam itulah.

Nah, ini saatnya saya mencoba menjawab satu per satu pertanyaan tadi. Semoga bisa terwakili semuanya ya. Jadi begini ceritanya ...

Saya kenal dengan kawan-kawan yang namanya juga ada di sampul buku ini karena komunitas ‘Kampus Fiksi’. Yup, komunitas kampus fiksi ini adalah komunitas penulis, yang pertama kali bertemu—kebanyakan—pada event #KampusFiksi di Yogyakarta. Event ini sendiri pertama kali diselenggarakan oleh Penerbit Diva Press. Nah, dari hasil kumpul-kumpul inilah, yang membuat kami saling kenal. Saya sendiri adalah bagian #KampusFiksi angkatan 13. Dan hingga saat ini, kami sudah mencapai angkatan 20-an, dengan masing-masing angkatan terdiri dari 35-40 orang. Bisa dihitung sendiri kan, berapa jumlah kami. Ini latar belakang perkenalan kami berempat.

Lalu, soal tulisan. Semua berawal dari hal-hal yang viral dan jadi berita. Sering kan ya, denger berita soal guru yang seperti itu, murid yang seperti itu. Dari yang bener sampai yang nggak bener. Dari yang skandal di sekolah sampai masuk bui. Rupa-rupa kejadian ‘unik’ di sekolah yang terjadi Cuma di masa sekarang ini, alias zaman now. Kejadian yang ... kalau orang-orang dulu berkomentar, nggak masuk akal. Misalnya insiden siswa memukul guru hingga meninggal, guru yang dituntut hanya karena menyuruh muridnya sholat hingga beragam insiden yang sebenarnya bisa bikin kening berkerut. Kok gini sih sekarang? Kok kids zaman now kek gini ya? Kalau kids zaman now udah kek gini, bagaimana dengan guru zaman now?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang kemudian jadi alasan buku ini dibuat. Kalau murid yang curhat soal gurunya, itu sudah biasa. Nah sekarang giliran guru yang curhat soal muridnya. Cerita-cerita guru zaman sekarang harus menghadapi murid-murid zaman sekarang yang baik-baik—ada—dan juga yang luar biasa aktif serta kreatif—juga ada—. Maka kami berempat inilah yang diibaratkan berasal dari empat jenjang pendidikan yang berbeda, diminta untuk menulis kehidupan guru zaman now menghadapi murid zaman now. Dari jenjang SD yang masih imut-imut, SMP yang udah mulai gede, SMA yang makin kompleks hingga cerita unik di balik seragam SMK.

Sebenarnya nggak bisa dijadikan wakil persis ya, karena nggak semua jenjang benar-benar terwakili oleh kami saja. Anggap saja, kami ini adalah empat orang contoh kecil dari empat jenjang berbeda. Apa yang kami tuliskan adalah pengalaman selama mengajar di sekolah. Dari yang seneng, lucu, sedih, bikin malu, bikin senyum-senyum sendiri, mengharukan, bikin kesel, bikin bete, bikin pengen nampol, pengen lempar sendal—ups, gak boleh destruktif ya—. Intinya ini cerita tentang bagaimana guru zaman now menghadapi kids zaman now.

Kisah yang dituliskan di buku ini adalah cerita pengalaman nyata di sekolah. Jangan kaget dengan rupa-rupa kids zaman now yang luar biasa berbeda dengan zaman beberapa tahun silam. Jangan kaget kalau guru zaman now juga dipaksa harus berubah menyesuaikan diri menghadapi kids zaman now dan orang tua zaman now. Termasuk ironi dunia pendidikan yang masih jarang terkuak publik. Eits ... Nggak Cuma cerita soal pengalaman saja. Di buku ini kami berempat juga berbagai beberapa tips yang bisa dipraktikkan di sekolah untuk menghadapi kids zaman now.

Terakhir, buku ini menampung cerita dari empat sudut pandang berbeda untuk jenjang berbeda dan situasi sekolah serta lingkungan yang berbeda. Semoga apa yang ada di buku ini bisa jadi pengetahuan dan pembelajaran. Sekaligus pengingat bagi semua orang, bahwa tanggungjawab pendidikan bukan murni tanggung jawab guru saja. Tetapi merupakan tanggungjawab seluruh bagian dari sistem masyarakat.

Oh ya, bagi rekan-rekan pembaca yang ingin sharing lebih jauh soal buku ini, juga dipersilahkan. Email serta cara menghubungi kami berempat ada di profil yang ada di bagian belakang buku ini. Kritik, saran, dan juga sharing pengalaman, kami terima dengan hati terbuka. Kami berempat adalah guru yang dulu juga diajar oleh guru-guru kami yang luar biasa. Terimakasih untuk guru-guru kami yang luar biasa menginspirasi. Semoga kami juga bisa menjadi guru yang menginspirasi. Oooops, kalaupun tidak bisa, paling tidak minimal bisa jadi contoh yang baik untuk diri sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.