Book, Love, Life and Friendship

Minggu, 08 April 2018

Ditipu - part 1

Beberapa hari belakangan, temlen penuh dengan threads drama. Iya, drama. Dari yang pacaran dengan orang yang entah ada wujudnya entah enggak, threads serem, info soal depresi, info obat, dan masih banyak lagi. Dan itu membuat naluri bercerita gue pun terusik. #tsaaaah. Tapi gue nggak akan buat thread di temlen ah. Gue akan nulis di sini aja, blog sendiri. #prinsip nggak usah protes.

 
Cerita ini adalah kisah cukup lama. Kalau mungkin ada beberapa hal yang nggak terlalu detail atau nggak pas ceritanya, ya mohon diterima dengan lapang dada saja ya. #maksa

Saat itu gue masih mahasiswa baru, sekitar tahun 2008. Awal bulan sudah pasti ditunggu sama anak kos lah ya, menunggu transferan. Gue adalah mahasiswa di sebuah universitas negeri di Surakarta/Solo. Tapi nggak ngerti gimana, ternyata rekening yang biasa buat transfer bermasalah. Alhasil, transferan nggak terkirim juga. Akhirnya gue memutuskan untuk memblokir rekening lama dan berniat buka rekening baru.

Nah yang namanya anak baru, belum banyak ngerti daerah-daerah Solo kan, jadi gue buat rekening baru lewat kantor pos. Berhubung stok benar-benar sudah menipis, gue pun pinjem uang ke temen untuk buka rekening. Rencananya sih nanti setelah ditransfer, uang akan segera gue kembalikan.

Dari depan kampus, gue naik bis menuju kantor pos. Nggak lama, ada bapak-bapak yang juga naik dan duduk di sebelah gue. Saat itu posisi gue di kursi yang deket pintu bis. Awalnya si bapak Cuma tanya-tanya gue kuliah di mana. Saat tahu tempat kuliah gue, si bapak bilang kalau anaknya juga kuliah di sana. Setelah obrolan sana sini, eh si bapak cerita kalau saat ini anaknya lagi sakit dan butuh uang. Saat itu dia di Solo buat ngerawat anaknya (ngakunya rumahnya Jawa Timur, gue lupa nama daerahnya). Dia nunjukin buku tabungannya juga (nggak gue perhatikan valid atau nggaknya). Nah dia menarik simpati gue, karena gue satu kampus sama anaknya.

Dan di sana, terbitlah rasa kasihan gue. Cuma masalahnya, gue lagi nggak pegang uang. Di dompet Cuma ada selembar seratus ribuan (buat buka rekening) dan dua lembar lima ribuan (buat naik bis). Dengan halus, gue coba menolak dan minta maaf karena nggak bisa bantu. Tapi nih ya, si bapak ini kok lama-lama kayak maksa gitu. Terganggu banget kan ya? Karena udah bener-bener nggak nyaman, akhirnya gue ngacir turun meski masih agak jauh dari kantor pos tujuan gue. Dan gue pun akhirnya harus jalan kaki sampai kantor pos tujuan.

Kejadian itu sudah gue lupain. Nggak pernah gue pikirkan lagi. Ya, lagian kan udah lama. Dan meski ngerasa bersalah karena nggak bisa bantu, gue bisa apa. Cuma anak kos.

Cerita selesai? Belum. Justru ceritanya baru dimulai.

Beberapa bulan setelahnya, gue naik bis lagi. Kalau nggak salah, dari terminal balik ke kos di belakang kampus. Bis yang sama dengan bis yang pernah gue naiki waktu mau ke kantor pos di cerita di atas. Bis lumayan ramai waktu itu. Nah dua kursi di belakang kursi seberang, kok gue kayak lihat si bapak yang pernah minta uang ke gue? Kan aneh. Di sebelahnya ada mas-mas, nggak tahu siapa.

Penasaran, gue berkali-kali ngeliat ke arah si bapak tadi. Tapi kayaknya bapak itu nggak tahu. Dan karena bis ramai, gue nggak bisa denger apa yang dia omongin sama si mas. Tapi waktu dia ngeluarin buku tabungan, gue langsung ... melotot. Ya ampun, kok sama kayak gue waktu itu ya?

Dari sana gue langsung ngerti, kalau ternyata si bapak ini punya modus tersembunyi, buat mendapatkan uang dari mahasiswa. Duh pak, nggak ngerti apa kalau mahasiswa itu kere. Kesel banget gue. Rasanya udah hampir mendidih ini kepala. Berkali-kali gue mengumpat dalam hati. Ingin rasanya seisi kebun binatang gue absen semua.

Gue pengen bangun terus deketin tu bapak dan teriakin ‘penipu’. Gue juga khawatir sama si mas-mas tadi. Cuma sayangnya, bis benar-benar ramai. Jadi berdiri aja susah. Dan lagi kos gue udah deket. Sebelum sampai depan kos, eh bis berhenti. Waktu gue tengok, ternyata si mas-mas tadi turun. Begitupula si bapak. Nggak tahu gimana kelanjutannya, karena bis jalan lagi. Gue nggak tahu apa si bapak ini berhasil atau nggak, menipu si mas tadi. Dari depan kos, gue coba liatin arah tadi si mas turun, tapi nggak keliatan apapun. #duhMas

Sayangnya, gue Cuma bisa kesel dalam hati melihat semua itu. Gue berharap banget si mas-mas yang tadi duduk di sebelah bapaknya nggak kena tipu deh.

Setelah yang kedua itu, gue nggak pernah lagi lihat si bapak ini. Dan lagi bis yang biasanya lewat belakang kampus pun udah pindah trayek. Gue nggak tahu gimana nasib si mas yang tadi duduk di sebelah si bapak penipu itu. Gue juga nggak tahu gimana nasib si bapak ini. Yang jelas, gue kesel banget kalau ada orang yang memanfaatkan rasa kasihan ini untuk melakukan penipuan kayak si bapak.

Oh ya, kembali sama gue. Untung pas gue pertama ketemu sama si bapak, duit di dompet gue benar-benar terbatas. Jadi gue nggak ngasih apapun sama si bapak. Gue masih inget banget, waktu gue turun dari bis, sebelum kantor pos, gue denger si bapak ngomel-ngomel dan bilang kalau gue nggak punya hati karena nggak mau nolong orang. Suer ya, saat itu rasanya sakit banget. Gue nggak bantu karena nggak bisa, bukan nggak mau. Tapi setelahnya gue bersyukur, karena itu artinya gue nggak ditipu sama bapaknya.

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.