Book, Love, Life and Friendship

Rabu, 09 Mei 2018

Pada (suara)-nya Hatiku Tersenyum

Kekaguman nggak selalu harus melulu dibangun dari fisik dan penampilan. Kadang, kekaguman justru meruah hanya karena suara. Pernah mengalaminya? Aku pernah, dua kali bahkan. Dan ini secuil kisahnya.

 
Kekaguman yang pertama berasal dari seorang penyiar radio. Yang ternyata, juga seorang guru. Tadinya beliau ini bukan guru di SMA-ku. Tapi kemudian menjadi salah satu guru di SMA-ku. Sebenarnya tidak ada alasan khusus untuk selalu mendengarkan suaranya. Hanya saja, acara yang dipandunya di salah satu stasiun radio saat itu adalah acara favoritku. Acara yang menemaniku begadang berkencan dengan soal-soal matematika hingga lewat tengah malam.

Dan kebiasaan itu pun bergeser, tidak hanya acaranya saja yang kukagumi. Tapi suara penyiarnya yang ... membuat betah belajar hingga lupa waktu. Hingga setelahnya kami—para pendengar—pun dimanjakan dengan atensi yang selalu dibacakan di awal acara. Bonus lagu-lagu yang selalu diputarkan.

Dari suara seorang penyiar radio, kekaguman ini meruah. Dari sana pula, membuatku berpikir untuk belajar jadi pembaca acara. Menirunya adalah hal pertama yang kulakukan setelahnya. Tidak pernahku belajar secara khusus untuk bicara di depan forum. Tapi darinya, keberanian itu muncul. Dan setelahnya, kunikmati dunia kampusku dengan berkali tangan ini memegang mic di depan forum.

Terimakasih, Pak guru.

Kekaguman kedua ada di masa jas biru telor asin, kampus. Yang ini lebih parah. Karena aku bahkan tidak yakin tahu seperti apa wajahnya. Yang kutahu, hanya nama dan suaranya. Suara merdunya yang membuat jamaah tarawih betah mengikuti sebelas rakaat di malam-malam panjang Ramadhan.

Lucunya, aku hanya tahu nama dan suaranya. Tidak tahu seperti apa wajahnya. Tapi memang, tidak terpikir juga untuk mencari tahu wajahnya. Cukup saja kukagumi suaranya. Cukup saja, suara itu bisa membuat sujud panjang selama tarawih selalu terasa kurang. Cukup ... ah. Semoga hati ini tidak terkotori oleh motivasi lain selama ikut tarawih ya, #ehe

Sebentar lagi Ramadhan. Untuk yang masih sempat ikut tarawih di maskam, semoga bisa menikmati suara merdu sang imam ya. Nikmati dan syukuri saja. Kagumi saja, jangan sampai jatuh cinta apalagi ingin tahu wajah dan wujudnya. Nanti repot kau, Dek.

(menghitung hari menjelang Ramadhan)

0 komentar:

Posting Komentar

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Goodreads Challange

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 15 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.